AraDea

AraDea
Part 27 Diteror


__ADS_3

Setelah selesai mereka berbincang-bincang, Pak kades mohon izin untuk kembali pulang kerumahnya. Di perjalanan Pak kades tanpa sengaja melihat sekelebat bayangan melintas di hadapannya.


Pria paruh baya itu sangat terkejut sekali, karena sudah begitu lama dia tinggal di desa itu, baru kali itulah dia menemukan hal tersebut.


“Ya Allah, bayangan apa itu?” tanya Pak kades pada dirinya sendiri.


Hanya beberapa langkah saja, lalu bayangan hitam itu telah berdiri di hadapannya dan menghadang langkah kaki Pak kades.


“Hah! Siapa kamu!” teriak Pak kades kaget.


“Aku yang akan mengakhiri hidup mu Pak tua.”


Karena takut, Pak kades berusaha untuk mundur kebelakang, namun makhluk itu terus saja menghampiri Pak kades.


“Kenapa kau menginginkan kematian ku?” tanya Pak kades pada makhluk itu.


“Kau terlalu banyak ikut campur urusan majikan ku.”


“Majikan mu? aku nggak tahu siapa nama majikan mu, lagian aku nggak pernah mengetahui siapa majikan mu di desa ku,” jawab Pak kades dengan suara lantang.


Setelah mendengar jawaban dari Pak kades, makhluk itu langsung menghilang dari hadapan Pak kades.


“Oh!” ujar Pak kades sedikit lega.


Setelah merasa aman, lalu Pak kades langsung bergegas untuk meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.


Setibanya di depan rumah, Pak kades tak langsung masuk kedalam. Dia memperhatikan di sekitar rumah tersebut apakah makhluk yang mengerikan itu masih mengikutinya atau sudah pergi menghilang.


Setelah yakin dia dalam posisi aman, lalu Pak kades langsung masuk kedalam rumahnya. Lidia yang saat itu melihat suaminya terlihat pucat, langsung bertanya seraya menghampirinya.


“Ada apa Pak? kenapa terlihat begitu cemas?”


“Tadi Bapak di ikuti oleh makhluk yang mengerikan Bu, dia menghadang jalan Bapak, ketika hendak kembali pulang kerumah ini.”


“Lalu, mana makhluk itu Pak?”


“Dia menghilang Bu.”


“Menghilang gimana?”


“Tadinya dia mengancam Bapak, karena Bapak telah banyak ikut campur urusan majikannya,” jelas Pak kades pada istrinya.


“Jadi, makhluk itu punya majikan ya Pak.”


“katanya begitu, karena makhluk itu melarang Bapak terlalu jauh ikut campur urusan majikannya.”


“Emangnya Bapak tahu, siapa nama majikannya itu?”


“Nggak Bu, lagian Bapak nggak mau ikut campur urusan yang seperti itu.”


“Ibu mengerti Pak,” jawab Lidia pelan.

__ADS_1


Setelah Pak kades selesai bicara dengan istrinya, dia pun langsung masuk kedalam kamar, menyusul pula sesudah itu Lidia yang tampak sedikit cemas.


Di saat keduanya sedang beristirahat dengan tenang, tiba-tiba saja Pak kades mendengar suara dengusan dari luar jendela kamarnya, saat itu Pak kades tak mau membangunkan istrinya, diam-diam dia pun bangkit dan berjalan pelan menuju jendela.


Sembari menahan nafasnya, Pak kades membuka kain gorden jendela kamarnya dengan pelan, di luar Pak kades melihat makhluk yang mengikutinya hilir mudik di depan jendela kamarnya. Suara dengus nafasnya membuat Pak kades merinding takut.


Di saat Pak kades hendak menghampiri ranjang tempat tidurnya, tiba-tiba saja Lidia terbangun dari tidurnya.


“Ada apa Pak?” tanya Lidia heran.


“Makhluk yang mengikuti Bapak tadi saat ini sedang berada di luar Bu.”


“Benarkah Pak?” tanya Lidia setengah berbisik.


“Ibu mau melihatnya?” tanya Pak kades pada istrinya.


“Iya,” bisik Lidia pelan.


Dengan langkah yang tenang Lidia bersama suaminya menghampiri pintu jendela kamar itu.


“Itu dia Bu,” ujar Pak kades memberi tahu istrinya.


“Yang mana Pak?” tanya Lidia heran.


“Yang itu Bu, masa nggak kelihatan.”


“Iya Pak, Ibu nggak melihatnya sama sekali.”


“Entahlah, yang jelas Ibu nggak melihatnya sama sekali.”


“Berarti hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya Bu, ya udah kalau begitu kita kembali tidur aja, asalkan nggak mengganggu kita biarkan saja.”


“Baik Pak,” jawab Lidia pelan.


Setelah melihat makhluk itu, Pak kades dan istrinya kembali tidur, namun saat itu hati Pak kades tak tenang.


“Kenapa sih, Pak? tidurnya nggak tenang ya?”


“Iya, Bu. sepertinya pikiran Bapak selalu tertuju pada makhluk itu.”


“Saat ini apakah makhluk itu masih diluar nggak Pak?”


“Entahlah Bu, tapi Bapak nggak berani lagi melihatnya, biarkan saja dia di luar, asalkan dia nggak mengganggu kita.”


“Iya Pak,” jawab Lidia pada suaminya.


Malam itu, Pak kades bersama istrinya berusaha untuk tetap tidur, mesti terasa sulit sekali. Keesokan harinya, setelah cahaya matahari mulai muncul dari balik gunung yang menjulang tinggi, Pak kades bersama istrinya langsung terbangun.


Pria tua itu, bergegas menuju halaman belakang rumahnya, sementara Lidia hanya memperhatikannya saja dari dalam kamar.


“Lagi ngapain sih Pak?” tanya Lidia heran.

__ADS_1


“Bapak mau melihat jejak kaki makhluk itu Bu.”


“Apakah jejaknya ada, dia itu kan makhluk halus Pak?”


“Entahlah Bu, Bapak mau lihat dulu,” jawab suaminya sembari terus melihatnya keluar.


Setelah di periksa, Pak kades tak melihat sama sekali jejak kaki makhluk yang tadi malam berjalan hilir mudik di depan jendela kamarnya.


“Bapak menemukan jejak kakinya?” tanya Lidia pada suaminya.


“Nggak Bu, Bapak nggak melihat apa pun disini.”


“Kan tadi Ibu udah bilang, kalau yang tadi malam itu makhluk ghaib.”


“Wah, berati Bapak dalam bahaya saat ini ya, Bu?”


“Iya, Pak. tapi kalau menurut Ibu, sebaiknya Bapak jangan banyak ikut campur urusan majikan makhluk itu.”


“Majikannya siapa sih Bu, Bapak nggak mengetahuinya.”


“Bapak ingat dulu, dengan siapa Bapak pernah bicara.”


“Tadi malam, Bapak bertemu dengan Bondan di rumah orang tuanya, lalu di sana Bondan mengeluhkan sesuatu pada Bapak.”


“Bondan bilang apa pada Bapak?”


“Dia mencurigai…!”


Di saat Pak kades belum selesai bicara, tiba-tiba saja terdengar suara berantakan dari arah dapur, Pak kades dan istrinya langsung beradu pandang, lalu keduanya bergegas menuju dapur yang terdengar berantakan.


Benar saja, ternyata dari arah dapur, Pak kades dan istrinya melihat semua peralatan memasak mereka berhamburan ke bawah.


“Kenapa berjatuhan ya, Pak?”


“Entahlah Bu, kenapa bisa berjatuhan ya?”


“Atau jangan-jangan, Bondan adalah majikan makhluk itu.”


“Ssst, jangan di lanjutkan Bu, berarti makhluk itu saat ini masih berada di sekitar kita.”


Karena takut, Lidia tak lagi melanjutkan ucapannya, dia hanya diam sembari mengumpulkan barang-barang nya yang berjatuhan.


Sementara itu, makhluk yang selalu mengawasi gerak gerik Pak kades dan istrinya, dia terus memantau rumah Pak kades dari kejauhan, makhluk itu sengaja di perintahkan oleh raja Dasamuka untuk memantau keluarga itu.


Mesti semua prajurit Dasamuka bertebaran di Desa itu, namun Kemuning tak mengetahui sama sekali, yang dia tahu, hanya yang berada di dalam rumahnya saja, selebihnya Kemuning nggak mau tahu.


Sedangkan Dasamuka yang merasa telah mendapat tempat di Desa itu, dia begitu leluasa mendatangi Desa itu setiap saat.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2