AraDea

AraDea
Part 31 Sahabat baik


__ADS_3

"Baiklah terserah mama aja. Ara pasti ikuti Mama kok," jawab Ara dengan tenang.


"Bagus, kalau begitu besok kita pindah sekolah saja, kita cari sekolah lebih baik dari ini."


"Baik Ma," jawab Ara Seraya berlari mengitari Kemuning.


Setelah mereka berdua sepakat, pagi itu juga kemuning membawa Ara keluar dari sekolah itu. Mereka berdua langsung mencari sekolah baru untuk Ara.


di atas mobil Yang dikendarai Kemuning tiba-tiba saja udahan Danu datang dan duduk di samping Kemuning.


"Ayah," sapa Ara Seraya tersenyum lebar.


"Kenapa harus pindah sekolah Kemuning?" tanya Danu pada Kemuning.


"Di sekolah itu sudah tak cocok lagi untuk Ara, Bang."


"Kenapa tak cocok?"


"Karena putrimu telah menunjukkan identitas aslinya semua orang sudah tahu kelebihan yang dimilikinya, aku takut nanti Ara akan menjadi bulan-bulanan mereka dan diejek oleh teman-temannya."


"Kalau itu menurutmu yang paling baik lakukanlah. Agar Putri kita mendapatkan pendidikan yang bagus."


Setelah Danu selesai bicara, lalu dia pun mencium wajah Putri kecilnya itu dan menghilang seketika dari pandangan keduanya. Kemuning yang sering melihat Danu datang dan pergi dia sudah merasa terbiasa dan tak lagi merasa terkejut.


Tak begitu jauh dari sekolah lama Ara, Kemuning menemukan sekolah yang lebih baik untuk putrinya. Setelah mendaftarkan putrinya di sekolah tersebut, Kemuning langsung pulang ke rumah bersama Ara.


Di minggu pertama bersekolah, Ara masih bersikap biasa-biasa saja. Namun, memasuki minggu kedua, Ara sudah menunjukkan kejahilannya kepada teman sebangkunya.


Ketika guru sedang menerangkan di depan kelas, Ara terlihat begitu asik memperhatikan Desi. Awal mulanya Desi tak menyadarinya, namun setelah begitu lama, Desi pun melihat wajah arah. Di saat itulah arah memperlihatkan perubahan matanya dan kedua taringnya kepada Desi.


Ketika melihat hal itu, Desi langsung terkejut dan dia pun tak sadarkan diri, diapun terjatuh dari bangku tempat duduknya hingga kepalanya membentur lantai.


Bu Kartika yang melihat langsung bergegas menghampiri Desi dan menolongnya. Namun Desi sudah tak sadarkan diri. Di saat semua orang membantu Desi Ara terlihat tenang dan biasa-biasa saja.


"Kenapa dengan Desi nak?' tanya Bu Kartika pada Ara.


"Nggak tahu Bu guru," jawab Ara dengan tenang.


"Oh, nggak tahu ya. Baiklah mari bantu ibu nak, mengangkat tubuh Desi ke ruang UKS," ajak Bu Kartika pada semua murid.


Mendengar perintah Bu Kartika, semua murid ikut membantu mengantarkan Desi ke ruang UKS, termasuk dengan Ara.


"Ada apa Bu?" tanya kepala sekolah pada Bu Kartika.


"Nggak tahu Pak, tiba-tiba saja Desi tak sadarkan diri, di saat saya sedang mengajar di depan kelas."

__ADS_1


"Apakah tubuhnya terasa panas?" tanya kepala sekolah lagi.


"Nggak Pak," jawab Kartika pelan.


Setelah Kartika selesai bicara, dia langsung membawa Desi ke ruang UKS. Saat itu, Kartika langsung memanggil perawat yang biasa bertugas di ruang UKS sekolah itu.


"Setelah Desi diperiksa, lalu perawat itu memberi resep obat kepada Kartika, pada kesempatan itulah Kartika bertanya kepada perawat tersebut, tentang penyakit yang dialami oleh Desi.


"Saya nggak melihat ada penyakit apapun yang bersarang di tubuh anak ini. Mungkin saja dia terlalu lelah dan butuh istirahat. Jadi saat ini saya hanya memberikan vitamin untuk konsumsi satu kali dalam satu hari."


"Baik sus, nanti kalau dia sudah sadar saya akan memberikan vitamin ini kepadanya. Terima kasih," ucap Kartika dengan suara lembut.


"Sama-sama Bu," jawab Luna Seraya meninggalkan ruang UKS tersebut.


Tak berapa lama setelah itu, Desi pun sadar dari pingsannya. Dia melihat ada Kartika di sampingnya yang sedang asyik bermain ponsel.


Setelah Desi duduk, Kartika baru melihat Kalau Desi sudah sadar dan dia pun langsung bergegas menghampiri Desi.


"Kamu kenapa sayang, kok bisa pingsan?" tanya Kartika pelan.


"Murid yang berada di sampingku, yang bernama Ara, matanya hitam Bu. Dia juga punya gigi yang panjang," jawab Desi gemetar.


"Ara kan, yang kamu maksud?"


"Iya Bu, mata Ara bisa berubah menjadi hitam dan Ara juga mempunyai gigi yang panjang Bu."


"Tapi aku lihat sendiri kok Bu, mata Ara berwarna hitam dan dia memiliki gigi yang panjang."


Mendengar penjelasan Desi, Kartika jadi termenung sejenak. Dia pun berpikir panjang, apakah benar ucapan Desi atau tidak. Sebab selama satu minggu bersekolah, Ara tak pernah memperlihatkan sikap anehnya di kelas.


"Kamu yakin sayang, kalau mata Ara bisa berubah dan memiliki dua taring yang panjang."


"Iya Bu, aku lihat itu tadi."


"Baiklah, kalau Desi benar-benar melihatnya, mari ikut Ibu menghadap kepala sekolah. Kita akan bicarakan hal ini di kantor" ujar Bu Kartika pada Desi.


"Tapi aku takut Bu, nanti Ara marah dan nggak mau berteman dengan aku."


"Nggak sayang, Ara nggak bakalan marah sama kamu. Karena semua yang dimiliki Ara tersebut, merupakan kelebihan yang sangat luar biasa yang tidak dimiliki oleh setiap anak."


"Benar Ara nggak marah Bu, nanti kalau Ara marah gimana?"


"Jadi mau gimana sayang kita temui Ara atau kita menghadap ke kepala sekolah?"


"Sebaiknya kita temui Ara saja Bu."

__ADS_1


"Kenapa menurutmu, lebih baik menemui Ara?"


"Aku takut Bu, nanti Ara marah padaku."


"Baiklah, kalau kamu nggak mau, kita kembali aja ke kelas. Kita lanjutkan pelajaran."


"Baik bu," jawab Desi pelan.


"Tapi ingat Desi, jangan beritahukan hal ini kepada yang lainnya. Nanti teman-temanmu akan ketakutan melihat Ara. Cukup kita berdua saja yang mengetahuinya."


"Baik Bu."


Setelah mereka berdua sepakat lalu Kartika dan Desi kembali ke kelas, untuk melanjutkan kembali pelajaran Yang telah tertinggal.


Setelah tiba di dalam kelas seperti biasa Desi kembali duduk di samping Ara. Dia tersenyum manis menatap wajah Ara.


"Kamu udah sadar?" tanya Ara pada Desi.


"Udah," jawab Desi pelan.


"Kenapa kamu kembali ke bangku ini? kamu nggak takut sama aku?" tanya Ara ingin tahu.


"Nggak, kita kan teman," jawab Desi pelan.


"Benar, kamu nggak takut?"


"Aku nggak takut kok, kata Bu Kartika, kamu punya kelebihan yang luar biasa, yang nggak dimiliki oleh anak-anak lainnya."


"Benarkah, Bu Kartika bilang begitu?"


"Iya Ara, tadi di ruang UKS aku menceritakan semuanya pada Bu Kartika. Lalu Bu Kartika bilang begitu, katanya Ara mempunyai kelebihan yang luar biasa. Dapat merubah matanya menjadi berwarna hitam dan gigi yang panjang."


"Kenapa kau menceritakan semuanya pada Bu Kartika?"


"Tadi Bu Kartika bertanya padaku, lalu aku menjawabnya sesuai dengan apa yang kulihat. Kamu nggak suka ya, satu bangku dengan aku?" tanya Desi dengan suara pelan.


"Aku suka kok," jawab Ara tenang.


"Kalau begitu, kita akan jadi teman untuk selama-lamanya."


"Benarkah?"


"Iya," jawab Desi seraya tersenyum lebar.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2