
Mendengar ucapan dari Dea, seluruh prajurit dari Pura kembali ke kerajaan mereka dengan senang hati. Meski pada saat itu, mereka telah dikalahkan oleh pasukan dari Parahyangan.
"Kenapa yang mulia melepaskan mereka?" tanya salah seorang prajurit pada Dea.
"Haruskah kita membunuh, jika orang yang ingin kita bunuh tersebut. Memiliki keluarga yang harus dijaga dan dilindungi."
"Tapi ini perang yang mulia. Tak ada belas kasihan. Di sini hanya pedang dan tombak yang berbicara."
"Itu kalian! aku nggak sama dengan kalian. Aku masih punya pikiran dan punya hati nurani. Aku juga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk."
"Jika raja Askara tahu, kita telah melepaskan para tawanan itu, dia pasti marah yang mulia."
"Kalian takut, kalau yang mulia raja memarahi kalian?"
"Tentu yang mulia."
"Sebenarnya kalian nggak perlu takut. Siapa yang takut, berarti dia mengakui kalau dirinya sedang bersalah. Kalau kita benar, kenapa mesti takut!"
"Tapi yang mulia?"
"Sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Sekarang kita kembali ke istana, untuk menghadap ke prabu Askara. Katakan yang sebenarnya, jangan ada yang ditutup-tutupi. Kalian mengerti?"
"Mengerti yang mulia," jawab seluruh prajurit serentak.
Lalu mereka pun bersiap-siap, mengatur barisan untuk kembali ke istana. Perjalanan yang jauh mereka tempuh dengan tenang dan pelan. Sehingga tidak banyak menguras tenaga.
Sebenarnya, Dea bisa kembali dengan sekejap mata. Namun Dea tak mau meninggalkan para prajuritnya di belakang. Sementara dia telah duduk dengan tenang di singgasananya.
Kasih sayang yang dicurahkannya terhadap para prajuritnya, membuat seluruh prajurit itu menghormati Dea melebihi dari raja mereka sendiri.
Setelah menempuh perjalanan begitu lama, tibalah mereka kembali di istana. seluruh prajurit tampak lelah karena habis menempuh perjalanan jauh. Lalu Dea mengizinkan mereka semua beristirahat.
Setelah dipastikan seluruh prajurit kembali dengan selamat, Dea pun langsung menghadap prabu Askara, untuk melaporkan pertempuran yang telah terjadi.
"Ampun kan saya yang mulia, saat ini seluruh prajurit yang saya pimpin telah kembali ke alun-alun istana. mereka saat ini sedang beristirahat, karena telah menempuh perjalanan jauh. Untuk itu, saya sebagai jenderal melaporkan. Kalau saat ini, kemenangan masih berpihak pada kerajaan Parahyangan."
"Ternyata kau berhasil putriku! aku begitu bangga padamu, karena setiap tugas yang kuberikan, selalu kau laksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab."
"Terima kasih yang mulia!"
"Sekarang kembalilah ke bumi, jaga ibu dan nenekmu. Lindungi mereka dari gangguan Putri raja Dasamuka, yang selalu ingin berbuat jahat pada kalian bertiga."
__ADS_1
"Baik yang mulia, titah yang mulia akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya."
Setelah mendapat izin dari raja Askara. Dea pun kembali ke bumi. Ketika tiba di dalam kamarnya, Pandan wangi melihat dan mencium bau amis pada tubuh putrinya.
"Kau nggak sekolah hari ini, Dea?" tanya Pandan wangi ingin tahu.
"Nggak Ma, aku dipanggil ke Nirwana, untuk berperang melawan kerajaan pura."
"Kenapa kau yang selalu ditugaskan, untuk memimpin ribuan pasukan itu sayang?"
"Karena aku, jenderal perang mereka di Nirwana."
"Tapi kau masih kecil putriku, masa depanmu masih panjang. Jika terjadi sesuatu padamu, Mama pasti sedih dan merasa kehilangan."
"Mama nggak perlu kuatir, aku masih bisa jaga diri. Lagian, nggak semudah itu untuk bisa mengalahkan aku," jawab Dea.
"Kau jangan sombong putriku, di atas langit masih ada langit. Untuk itu, belajarlah agar selalu waspada. Jangan angkuh dengan apa yang telah kau miliki."
"Baik Ma, aku akan selalu ingat pesan Mama."
"Sekarang tidurlah, hari sudah larut malam. Apakah kau telah mengerjakan shalat?"
"Belum. Aku mau mengerjakannya sebentar lagi."
"Baik Ma," jawab Dea pelan.
Setelah Pandan wangi pergi, Dea langsung mengambil air wudhu, untuk melaksanakan shalat. Setelah selesai, Dea langsung tidur. Karena esok hari harus kembali bersekolah.
Sebenarnya, tubuh Dea terasa begitu lelah sekali. Karena banyak tugas, yang begitu berat yang mesti dia kerjakan.
Tapi sebagai seorang anak, keturunan dari seorang raja. Tugasnya adalah, membela kerajaannya. Mesti Dea merasa tak sanggup, namun itu tetap harus dilakukannya.
Malam itu, ketika Dea sedang tidur. Tiba-tiba, Dea melihat wajah Ara di dekatnya. Awalnya Dea tak percaya, kalau Ara datang menghampirinya saat itu.
"Kau!" ucap Dea kaget.
Belum hilang Rasa kaget di pikiran Dea, Ara langsung saja menyerang, tanpa memberi Dea kesempatan sama sekali. Matanya yang berwarna hitam dan kedua taring yang muncul di kedua sisi mulutnya, membuat Dea harus hati-hati menghadapi Ara.
"Kau kenapa hah!" bentak Dea seraya terus menangkis serangan yang dilancarkan oleh Ara kepadanya.
Kamar Dea yang tertata dengan rapi, saat itu langsung berantakan. Serangan dan perlawanan, selalu silih berganti terjadi di antara mereka berdua.
__ADS_1
Pandan wangi yang saat itu, sudah mulai tertidur lelap. Terbangun karena mendengar suara benda berjatuhan dari kamar Dea.
Begitu juga dengan Yeni, Neneknya. Ketika Yeni hendak memejamkan matanya, Dea juga mendengarkan hal yang sama, dengan Pandan wangi.
Lalu, mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kamar dan datang menghampiri kamar Dea.
Ada apa Pandan?" tanya Yeni kepada putrinya.
"Entahlah Bu, tadi aku mendengar ada benda jatuh dari kamar Dea. Aku hanya ingin memastikan, apakah Dea saat ini, baik-baik saja atau nggak."
"Iya sayang. Kalau begitu, biar Ibu ikut menemanimu ke kamar Dea."
"Baik Bu," jawab Pandan dengan suara lembut.
Setelah kesepakatan mereka buat, lalu Yeni bersama Pandan wangi bergegas menghampiri kamar Dea.
Setelah begitu dekat. Dugaan Yeni dan Pandan wangi memang benar, kalau di kamar Dea saat itu, telah terjadi sesuatu.
Seperti biasa. Pandan wangi langsung masuk ke kamar Dea, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka berdua, karena saat itu mereka melihat ada seorang gadis, yang memiliki taring yang begitu panjang.
Pandan langsung menjerit histeris dan akhirnya, pingsan tergeletak di lantai.
Melihat hal itu, Dea langsung menghentikan pertengkarannya bersama Ara. Mesti saat itu mereka sedang bertengkar, namun saat mereka melihat orang tua Dea tergeletak pingsan, mereka berdua langsung menolong dan mengangkat tubuh Pandan wangi ke atas kasur.
Yeni yang saat itu belum sempat melihat wajah Ara, dia merasa heran kenapa tiba-tiba saja Pandan wangi pingsan.
"Kamu siapa?" tanya Yeni pada Ara."
"Dia temanku Nek!" jawab Dea dengan suara lembut.
"Kapan datangnya nak?"
"Tadi sore Nek," jawab Ara berbohong.
Ketika melihat Pandan wangi tergeletak pingsan, Ara merasa sedih dan dia langsung mengurungkan niatnya, untuk menjadikan keluarga Dea sebagai tumbalnya, malam itu.
"Kalau begitu, aku kembali dulu pulang Dea," ujar Ara bermulut manis.
"Ya, silakan Ara! biar ku antar kau ke depan," ujar Dea seraya menggandeng tangan Ara, untuk segera meninggalkan kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*