AraDea

AraDea
Part 109 Menuju hutan larangan


__ADS_3

Kenapa Ma, kenapa aku nggak boleh pergi ke hutan larangan. Bukankah itu masih berada dalam kawasan kerajaan Angkara?"


"Mama nggak mau, mengambil resiko yang besar Ara. Jika sesuatu terjadi padamu nantinya, Mama nggak bisa memaafkan diri Mama sendiri."


"Tugas Mama hanya memanggil Ayah Danu. Katakan kepadanya, kalau putrinya Ara akan ke Kayangan, saat ini juga."


"Mama nggak mau Ara, jangan paksa Mama."


"Baiklah, kalau Mama nggak setuju dengan permintaanku. Aku akan pergi ke tempat Papa dan nggak akan pernah kembali lagi ke sini."


"Apa maksudmu Ara? kau mau mengancam Mama ya?"


"Aku nggak ngancam Mama, tapi jika Mama nggak mau menuruti kehendak ku, aku akan pergi dari rumah ini dan tinggal bersama Papa di rumah Nenek."


"Baiklah, Mama akan menghubungi Ayahmu. Tapi ingat, jika Ayahmu melarang mu pergi ke hutan larangan, kau jangan bersikeras untuk pergi ke sana."


Mendengar ucapan Mamanya, Ara hanya diam saja. Dia tak bicara banyak, yang terpenting, niatnya untuk pergi ke hutan larangan, tercapai saat itu.


Lalu Kemuning duduk, untuk melakukan semedi. Dia memanggil suaminya Danu, untuk segera datang ke bumi.


Tak berapa lama kemudian, Danu pun turun ke bumi. Dia berdiri, tepat di hadapan Kemuning.


"Ada apa sayang, kenapa kau memanggilku?" tanya Danu ingin tahu.


"Putrimu Ara, ingin pergi ke hutan larangan."


"Apa maksudmu? siapa yang ingin ke hutan larangan?"


Saat pertanyaan itu, diajukan Dasamuka kepada Kemuning, Ara langsung menyambutnya.


"Aku yang ingin ke hutan larangan," jawab Ara dengan suara ketus.


"Ngapain ke hutan larangan sayang? hutan itu sangat berbahaya untuk orang sepertimu. Karena di sana, makhluknya sangat brutal, mereka akan mengganggu dan menyakiti siapa saja, yang datang menghampiri hutan itu."


"Tak masalah bagiku, yang penting kau mengizinkan aku ke hutan larangan, saat ini juga."


"Ara! jaga ucapanmu. Kenapa kau bicara seperti itu pada Ayahmu!" ujar Kemuning, seraya menasehati putrinya.


"Kenapa Ma, kenapa aku nggak boleh bicara kasar padanya. Bukankah dia juga pernah menyiksa dan menyakiti aku?"


"Ara, aku ini Ayahmu. Sekaligus raja di kerajaan Angkara. Saat kau bicara kasar, di hadapan para petinggi kerajaan, Ayah sangat tersinggung dan menjadi malu. Kau tak menghargai Ayah sama sekali, di hadapan mereka. Itu sebabnya, Ayah menghukum mu."


"Terserah, apapun alasan yang Ayah berikan. Prinsip ku jelas, aku akan ke hutan larangan sekarang juga."


"Kau mau cari apa ke hutan larangan Ara?" tanya Dasamuka pada putrinya.


"Aku mau menemui Ratu kupu-kupu."

__ADS_1


"Ratu kupu-kupu, kenapa kau mencari Ratu kupu-kupu?"


"Karena ratu kupu-kupu, telah menyakiti sahabatku Dea."


"Maksudmu apa Ara?"


"Ratu kupu-kupu telah menyerang sahabatku Dea, ketika kami hendak pergi ke sekolah bersama. dia membuat Dea terkapar, dengan tubuh membiru dan memuntahkan darah. Ratu kupu-kupu telah membokong sahabatku Dea, sehingga dia mengalami luka dalam yang sangat parah."


"Lalu, apa urusannya denganmu?"


"Dia itu sahabatku Ayah, dia sangat baik kepadaku."


"Ooo, sekarang Ayah baru sadar. Ternyata Dea yang kau maksud adalah, gadis yang telah menyelamatkanmu, sewaktu kau dalam penjara bawah tanah di kerajaan Angkara."


"Iya. Dialah yang telah menyelamatkan aku, dari siksaan raja Angkara, yaitu Ayahku sendiri."


"Ayah nggak akan mengizinkanmu, pergi ke hutan larangan. Karena hutan itu sangat berbahaya untuk gadis sepertimu."


"Baiklah, jika Ayah nggak mengizinkan aku ke hutan larangan, maka Ayah harus perintahkan Ratu kupu-kupu, untuk turun ke bumi dan mengobati sahabatku Dea."


"Itu nggak pernah dilakukan, oleh seorang raja Ara!"


"Kenapa, apakah Ayah takut?"


"Ayah nggak akan takut sama siapapun Ara. Tapi dia itu adalah, Ratu kupu-kupu dari hutan larangan."


Dia nggak punya masalah apapun, dengan kerajaan Angkara!"


"Lalu kenapa Ayah takut menghadapinya? bukankah Ratu kupu-kupu, hidup di wilayah kerajaan Angkara?"


Mendengar pertanyaan putrinya, Dasamuka semakin pusing. Karena Ara, begitu keras dan tak mau mengalah sedikitpun.


"Baiklah, jika kau bersikeras untuk pergi ke hutan larangan, akan Ayah antar kau ke sana. Tapi kau harus berjanji satu hal pada Ayah."


"Berjanji, berjanji Apa?"


"Tetaplah kau menjadi panglima perang, kerajaan Angkara."


"Aku nggak keberatan, untuk menjadi panglima perang kerajaanmu. Tapi ingat satu hal, bahwa aku akan menjadi panglima perang mu, jika kau mengembalikan boneka darah milikku."


"Makhluk itu, dia nggak mau lagi bersamamu. Bukankah selama ini kau telah mengusirnya dari boneka itu?"


"Itu benar. Karena saat itu, dia nggak mampu menghisap darah Dea dan keluarganya."


"Tentu saja dia nggak mampu putriku, karena Dea memiliki ilmu yang sangat tinggi. Sedangkan, prajuritku yang berada di dalam boneka itu, hanyalah prajurit rendahan. Dia nggak memiliki ilmu yang tinggi seperti dirimu."


"Itu sebabnya, aku menginginkan boneka itu lagi."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu," jawab raja Dasamuka.


Setelah mereka berdua membuat kesepakatan. Lalu Ara bersama Ayahnya, pergi menuju hutan larangan. Yang berada di kawasan kerajaan Angkara.


Ketika mereka berdua tiba di perbatasan hutan larangan, Ara memanggil Ratu kupu-kupu untuk menemuinya."


"Ratu kupu-kupu, ratu kupu-kupu, datanglah menghadap kepadaku!"


Tak berapa lama kemudian, Ratu kupu-kupu pun datang menghampiri Ara dan raja Dasamuka.


"Ampun beribu-ribu kali ampun yang Mulia raja Dasamuka, apa gerangan Paduka memanggil hamba menghadap, di luar kawasan hutan larangan ini!" ujar Ratu kupu-kupu, seraya bersujud dihadapan raja Dasamuka.


"Aku yang memanggilmu Ratu kupu-kupu. Bukan raja Dasamuka."


"Kau siapa! lancang sekali kau memanggil ku, hingga keluar dari hutan larangan ini."


"Hm...! ternyata kau belum mengetahui siapa aku sebenarnya?"


"Emangnya siapa kau gadis lancang!" bentak Ratu kupu-kupu pada Ara.


Melihat Ratu kupu-kupu membentak putrinya, raja Dasamuka langsung menarik selembar sayap kupu-kupu tersebut.


"Aaaaw...! kenapa Paduka menarik sayap hamba?" tanya Ratu kupu-kupu heran.


"Bagaimana rasanya Ratu? apa kau merasakan sakit, ketika aku mencabut sehelai bulu di sayapmu."


"Tentu yang mulia. Aku merasakan sakit sekali, saat sehelai bulu di sayapku engkau cabut dengan kuat."


"Begitu juga dengan yang kurasakan saat ini, Ratu kupu-kupu."


"Apa maksud Paduka, hamba tak mengerti sama sekali?"


"Apakah kau tidak mengetahui, siapa gadis yang berada di hadapanmu ini?"


"Tidak yang mulia. Setahuku dia itu, hanyalah gadis lancang, yang berani memanggilku dan menyuruhku keluar dari hutan larangan ini."


"Dia ini adalah putriku Ratu kupu-kupu, dia ini adalah Ara Pramudya, panglima perang di kerajaan Angkara. Yang akan membelamu dan seluruh makhluk yang berada di hutan larangan ini."


"Kenapa dia berbeda dengan seluruh makhluk khayangan?"


"Putriku lahir dari seorang perempuan yang sangat cantik jelita, yang berasal dari bumi. Dia bernama Kemuning."


"Ampunkan hamba yang mulia, hamba tidak mengetahuinya."


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2