
"Ya, semoga saja begitu."
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu."
"Ya silakan," jawab kepala sekolah seraya merasakan sensasi wangi dari tubuh Pandan.
"Nah sayang, sekarang Mama pulang dulu, kamu hati-hati sekolah di sini. Ingat, jangan nakal, jangan cari gara-gara."
"Baik Ma, aku akan jaga nasehat dari Mama."
"Terimakasih sayang, semoga kau tetap jadi anak yang amanah."
Setelah mereka selesai bicara, Pandan wangi meninggalkan Dea di sekolah barunya. Setelah pandan pergi, Ara datang menghampiri Dea.
"Hai!" sapa Ara pada Dea yang saat itu sedang duduk di depan ruang majelis guru.
"Hai juga!" jawab Dea, seraya mengulurkan tangannya di hadapan Ara.
Lalu mereka pun saling berjabat tangan, namun ada hal aneh dari jabatan tangan keduanya. pegangan erat kedua tangan itu mengeluarkan asap yang berubah-ubah. Kadang berwarna hitam, kadang berwarna putih.
"Jadi kamu sekolah di sini?" tanya Ara pada Dea.
"Jadi dong, kenapa?"
"Nggak ah, yang penting selama kamu sekolah di sini, tolong kamu jaga sikapmu," ujar Ara.
"Kenapa! apa aku terlihat suka berbuat onar?"
"Nggak juga sih. Tapi terlihat dari kesombonganmu, kau sepertinya suka memamerkan ilmumu kepada Ara."
"O ya, apa aku nggak salah dengar tuh, aku tahu, sejak awal kita bertemu, kau sudah usil kepadaku. Kau selalu membanggakan kepandaianmu kepadaku."
"Itu karena Ara, nggak suka padamu."
"Siapa juga yang memaksamu suka padaku, aku nggak pernah memaksamu untuk menyukaiku. Lagian, kita nggak sama. Kakak kelas dua, aku kelas satu," jawab Dea ketus.
Mendengar jawaban Dea, Ara langsung pergi. Tak sepatah kata pun yang terucap. Namun, ketika Ara pergi Dea mengikutinya dari belakang. Dea mengiringi terus ke mana kaki Ara melangkah.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Ara heran.
"Nggak boleh ya?"
"Ya nggaklah, kau kan kelas satu sementara aku kelas dua, kita nggak punya urusan apa-apa kan," ujar Ara membalas nya.
"Tapi kamu itu kan kakak kelasku, wajar kan kalau aku belajar banyak darimu."
"Belajar tentang apa?" tanya Ara ingin tahu.
"Belajar tentang kerajaan kita," bisik Dea pelan.
Mendengar ucapan Dea, Ara langsung diam. Karena ada perasaan gentar waktu itu. Sebab Ara tahu, mesti Dea kecil, tapi dia tangguh dan kuat.
"Kau ingin membahas masalah kerajaanmu di sini," jawab Ara.
"Iya, kenapa emangnya. Kau takut?"
__ADS_1
"Aku nggak takut, bahkan aku nggak perlu takut dengan gadis kecil sepertimu," bisik Ara ke telinga Dea.
"Hmm...!"
"Kenapa kau mengejekku?"
"Siapa juga yang mengejekmu?"
"Dasar gadis aneh!" ujar Ara.
"Kau yang aneh," balas Dea.
Setelah melakukan perdebatan kecil, lalu keduanya kembali ke kelas masing-masing. Tak berapa lama kemudian, bel sekolah berdering dan seluruh murid berkumpul di halaman sekolah.
Saat itu kepala sekolah memberi sedikit arahan kepada seluruh murid, semuanya tampak mendengarkan apa yang dikatakan oleh kepala sekolah.
Namun Ara dan Dea, justru mereka berdua saling adu kekuatan di belakang para murid-murid berbaris.
Tina yang melihat kelakuan mereka berdua, langsung melaporkan hal itu ke guru-guru yang berada di dekatnya.
"Ada apa Tina?" tanya Bu Yola ingin tahu.
"Lihat Bu, Ara lagi ngapain bersama murid baru itu?" tanya Tina heran.
"Iya ya, lagi ngapain mereka itu?"
"Kelihatannya mereka sedang bertengkar Bu."
"Bertengkar, bertengkar gimana maksudmu?"
"Coba Ibu lihat, Ara mengeluarkan begitu banyak keringat. Pasti mereka sedang bertengkar, Bu."
Ketika Bu Yola datang menghampiri mereka, Ara dan Dea langsung menghentikan pertikaian mereka berdua. Ara yang saat itu mandi keringat langsung menghapus keringatnya.
"Lagi ngapain kalian?" tanya Bu Yola pengen tahu.
"Kami nggak ngapa-ngapain kok Bu," jawab Ara berkilah.
"Bener kalian nggak lagi, ngapa-ngapain?"
"Benar Bu."
"Jangan coba-coba berbohong ya sama Ibu. Ibu lihat sendiri kok, tadi kalian berdua sedang melakukan sesuatu."
"Kenapa sih, ibu selalu ikut campur urusan orang!" bentak Ara dengan suara sedikit ditekan.
"Ikut campur gimana maksudmu? udah jelas-jelas, kalian berbuat sesuatu di saat kepala sekolah sedang memberi pengarahan. Kau bilang Ibu ikut campur urusanmu?"
"Tapi kami nggak lagi ngapa-ngapain kok Bu. Ibu pasti salah lihat kali," bantah Ara di saat Bu Yola semakin mencurigainya.
"Kalau begitu, kalian berdua ikut Ibu ke kantor, kita selesaikan nanti di sana!"ujar Bu Yola, seraya menarik tangan Ara dan Dea.
"Dea tak marah ketika tangannya ditarik oleh Bu Yola. Namun Ara tak mau terima, ketika Bu Yola memaksa ikut bersamanya.
"Kamu kenapa Ara, kau melawan ya sama ibu!" bentak Bu Yola dengan nada kesal.
__ADS_1
"Aku nggak melawan kok, Bu."
"Lalu, kenapa kamu nggak mau Ibu ajak ke kantor?"
"Ibu tahu sendiri kan, aku nggak lagi ngerjain apa-apa!"
"Coba Ibu periksa!" ujar Bu Yola seraya menggeledah tubuh Ara.
Di saat itu, Ara mempergunakan kesempatannya untuk menyakiti Bu Yola. Seperti terkena sengatan listrik, tubuh Bu Yola tampak kejang dan membiru.
Dea yang melihat hal itu menatap Ara dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa! kau nggak terima aku memperlakukan perempuan ini seperti yang kuinginkan?"
"Iya, aku nggak terima," balas Dea, seraya menyentuh kaki Bu Yola.
"Ketika tangan Dea hendak menyentuh kaki Bu Yola, Ara datang dan menginjak tangan Dea. Semua murid yang melihat kejadian itu, langsung bubar dan berlarian.
Kepala sekolah yang saat itu masih berada di lapangan, berusaha menenangkan seluruh murid termasuk para guru-guru yang berada di tempat itu.
"Ada apa ini?" tanya Bu kepsek heran.
Mendengar pertanyaan itu, Ara dan Dea hanya diam saja. amun tubuh Bu Yola telah kejang dan membiru.
"Apa yang terjadi, ada apa dengan Bu Yola?" tanya Bu kepsek.
"Nggak tahu Bu," jawab Ara dengan tegas.
"Benar kalian nggak tahu?" tanya Bu kepsek dengan suara lantang.
"Benar Bu!"
"Ara berbohong Bu!" jawab Dea dengan polos.
"Maksud kamu apa nak?"
"Ara yang melakukan nya, tapi aku bisa menyembuhkan Bu Yola. Ibu mau Bu Yola aku sembuhkan?"
"Tentu sayang, tentu! apa kamu bisa menyembuhkan Bu Yola?"
"Bisa Bu," jawab Dea dengan suara lembut.
"Hm, sombong kamu Dea," gerutu Ara pelan.
"Mesti Ara bicara dengan pelan, tapi Dea masih saja bisa mendengarnya. Namun Dea tak memperdulikan ucapan Ara tersebut. Seraya menyentuh ujung jemari Bu Yola, Dea pun membaca sesuatu dan perempuan itu kembali normal.
"Jika Ibu sudah sadar, Ibu nggak usah bicara apa-apa," bisik Dea ke telinga Bu Yola.
"Baiklah," jawab Bu Yola pelan.
Setelah itu. Semua murid kembali ke kelas masing-masing. Bu kepsek mengucapkan terima kasih kepada Dea.
"Terimakasih banyak sayang, Ibu nggak nyangka kamu punya bakat yang sangat luar biasa, sehingga dapat mengobati orang yang sedang sakit."
"Terima kasih Bu," jawab Dea pelan.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*