AraDea

AraDea
Part 84 Suara Dasamuka


__ADS_3

Suara Ara yang keras, terdengar oleh Kemuning dan Bondan. Mereka pun saling berpandangan, dalam hati Kemuning saat itu, dia mengetahui kalau Ara sedang berbicara dengan Ayahnya. Sementara itu, Bondan tidak mengetahui hal itu sama sekali.


"Apa kamu dengar sesuatu sayang?" tanya Bondan pada Kemuning.


"Nggak Mas, aku nggak dengar apa-apa," jawab Kemuning berbohong.


"Masa kamu nggak dengar, padahal suaranya begitu keras loh."


"Habis gimana lagi, aku memang nggak denger apa-apa kok."


"Ya udah. Kau tunggulah di sini, biar kang Mas yang melihat kamar Ara," ujar Bondan seraya bergegas keluar dari kamar nya.


Melihat suaminya bergegas keluar kamar, Kemuning merasa tak tenang. Dia pun berniat untuk mengikuti suaminya dari belakang.


"Tunggu kang Mas, aku ikut denganmu?"


"Ayolah, kita lihat kamar Ara bersama-sama."


"Baik kang Mas," jawab Kemuning, seraya mengikuti langkah suaminya dari belakang.


Lalu mereka berdua pun, segera menuju kamar Ara. Karena Bondan begitu yakin, saat itu dia mendengar suara teriakan dari kamar tersebut.


"Benar kamu dengar sesuatu kang Mas?"


"Iya sayang, seperti suara teriakan Ara," jawab Bondan yang terus berjalan tanpa memperdulikan Kemuning di belakangnya.


Setibanya mereka di depan pintu kamar Ara, Bondan dan Kemuning tak Mendengar apa-apa lagi dari sana. Lalu Bondan langsung masuk ke kamar Ara, yang pintu nya tak pernah dikunci.


"Papa, Mama. ada apa? kenapa kalian datang ke sini?" tanya Ara heran.


"Tadi Papa mendengar suara jeritanmu Ara," jawab Kemuning, ketika Bondan belum sempat menjawab pertanyaan Ara.


"Benar sayang, sore hari begini kamu kenapa menjerit?"


"Pa, aku bukan menjerit. Aku tadi lagi latihan. Nanti kalau aku nggak latihan, guru di sekolah pasti marah kepadaku."


"Ooo, kamu lagi latihan ya?"


"Iya Pa, aku lagi latihan. Ada tugas dari sekolah."


"Tapi kamu lagi latihan apa nak?" tanya Bondan ingin tahu.


"Aku lagi latihan drama Pa. Dalam ceritanya, aku didatangi oleh seseorang. Padahal saat itu, aku sedang tertidur. Lalu aku terkejut dan menjerit ketakutan."


"Ooo, begitu ya. Ya sudah, lanjutkan dramamu. Papa mau kembali ke kamar," jawab Bondan seraya keluar dari kamar Ara.


Ketika Bondan pergi, Ara langsung mengedipkan matanya ke arah Kemuning, pertanda, kesepakatan rahasia mereka berdua, tidak terbongkar.

__ADS_1


Sembari berlalu meninggalkan kamar Ara, Kemuning pun tersenyum manis. Hatinya merasa senang, karena Ara dapat mengembalikan kepercayaan Bondan kepadanya.


Lalu Bondan dan Kemuning pun pergi meninggalkan kamar Ara. Di tengah perjalanan, Kemuning pun kembali menuju kamar putrinya tersebut.


"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Bondan ingin tahu."


"Aku memeriksa kamar Ara dulu, kang Mas?"


"O begitu, ya sudah. Kang Mas ke kamar dulu ya?"


"Iya kang Mas," jawab Kemuning seraya bergegas memasuki kamar Ara.


"Mama! kok Mama balik lagi?" tanya Ara heran.


"Nggak boleh, Mama balik lagi ke sini?"


"Bukan begitu Ma, tadi Mama kan udah pergi. Ara cuma nanya, kenapa Mama balik lagi?"


"Kamu jawab yang jujur ya nak, siapa sih yang datang? apakah Ayahmu yang datang?"


"Iya Ma, Ayah Dasamuka yang datang."


"Ngapain dia ke sini?"


"Ara nggak tahu Ma."


"Ingat Ara. Jika Ayah Danu datang, berusahalah untuk keluar dari kamar ini. Cari Mama atau Papa, jangan biarkan dia mendekatimu dan jangan biarkan dia memegang tanganmu."


"Ya sudah, kalau kau mau belajar, belajarlah. Sebentar lagi hari mau magrib."


"Baik Ma," jawab Ara pelan.


"Ya sudah, Mama kembali dulu ke kamar. Jangan lupa tutup pintu."


"Baik Ma," jawab Ara yang langsung berdiri dari tempat tidurnya.


Belum sempat Kemuning keluar dari kamar Ara, tiba-tiba saja Danu datang dan memegang tangan Kemuning dengan eratnya.


Merasa tangannya dipegang oleh seseorang, Kemuning langsung membalikkan tubuhnya. Akan tetapi, betapa kagetnya dia ketika yang memegang tangannya, adalah Danu.


"Bang Danu!" ujar Kemuning kaget.


"Kenapa, kau terkejut melihat kedatanganku, Kemuning?"


"Ngapain kau datang ke sini, sejak Kau menculik putriku. Kau bukan siapa-siapa lagi, di rumah ini."


"Jaga ucapanmu Kemuning, kau tak pantas bicara seperti itu pada suamimu!"

__ADS_1


"Kau bukan suamiku, suamiku yang sah adalah Bondan."


"Dasar manusia, kau dan anakmu sama saja. Kalian tidak pernah menghargai orang lain, sedikitpun."


"Kata siapa, aku nggak pernah menghargai orang lain. Justru kalianlah, yang nggak pernah menghargai kami."


"Jaga ucapanmu Kemuning, kau tahu kenapa aku menyiksa putrimu Ara? karena dia tak menghargai aku dan menghardik ku di hadapan kaumku. Aku sebagai seorang raja, tidak terima diperlakukan seperti itu, Kemuning."


"Itu sebabnya, kau menghukum dan menyiksa Putri kita?"


"Iya Kemuning, dia itu bukan gadis sembarangan Kemuning. Dia kuat, tidak seperti manusia pada umumnya. Putrimu itu, memiliki kekuatan puluhan kali lipat kekuatan manusia," jawab Dasamuka.


"Apapun alasanmu, aku nggak mau putriku dihukum dan disiksa di penjara bawah tanah mu."


"Itulah hukuman yang pantas, untuk seorang pembangkang Kemuning. Kalau kau menjawab juga ucapanku, kau pun akan ku hukum sesuai undang-undang hukum kami di Kahyangan.


"Kau bukan tinggal di kayangan Dasamuka. Aku kenal kau dan aku tahu siapa kau yang sebenarnya."


"Hahaha, hahaha, hahaha...!"


Suara Dasamuka yang kuat dan keras, mengguncangkan rumah Kemuning. Bondan yang saat itu sedang tertidur, terkejut dan langsung berlari keluar rumah. Begitu juga dengan Kemuning dan Ara, mereka menjerit histeris berlarian keluar rumah.


Mesti Dasamuka melihat, istri dan putrinya ketakutan. Namun dia tetap tertawa begitu keras.


"Ya Allah! ada apa ini, gempa kah? tapi kenapa semua penduduk tak ada yang keluar rumah?" tanya Bondan heran.


"Ini bukan gempa Pa, dari kamar, aku mendengar suara seseorang tertawa begitu keras sekali,"


"Kau mendengar seseorang tertawa?"


"Iya Pa."


"Siapa yang tertawa, nak?"


"Entahlah apa, Ara nggak tahu."


Ketika suara ketawa Dasamuka berhenti, lalu suasana pun kembali normal. Tak ada lagi goncangan, yang membuat isi rumah Ara, berhamburan kemana-mana.


Di saat itu, Bondan merasa curiga. Kenapa tiba-tiba saja, mereka berdua mendengar suara orang tertawa. Sementara dia sendiri tidak mendengarnya.


"Di saat Kemuning dan Ara sibuk mengumpulkan barang-barang yang berserakan, Bondan duduk termenung di atas sofa.


"Kenapa kamu nggak mau bantuin kang Mas?" tanya Kemuning ingin tahu.


"Aku nggak habis pikir sayang, kenapa tiba-tiba saja ada makhluk yang tertawa begitu kuat dan mengguncangkan rumah kita, sebenarnya ada apa ini. kalian jawablah dengan jujur, jangan ada yang ditutup-tutupi."


"Sebenarnya ada yang marah Pa, karena Ara nggak pernah lagi melakukan pemujaan di balkon rumah. Biasanya setiap bulan purnama, Ara selalu melakukan pemujaan di sana. Namun setelah dua kali bulan purnama, Ara tak pernah melakukannya lagi. Makanya makhluk itu, marah pada Ara.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2