AraDea

AraDea
Part 59 Perang yang diakhiri


__ADS_3

"Kenapa harus dihentikan?" tanya Dea heran.


"Kalau pertempuran ini dilanjutkan, maka seluruh jagat raya ini akan hancur berantakan. Kalian mau!"


"Itu bukan urusan kami, kau harusnya berpikir sebagai seorang raja. Bukankah ini semua terjadi, karena keserakahanmu sebagai seorang raja!"


Mendengar pertanyaan Dea, raja Dasamuka tak menjawab sama sekali. Dia pun menarik mundur seluruh pasukannya. Sementara itu, Ara yang terlanjur emosi membuang pedangnya di tengah pertempuran.


Di saat semua musuh telah pergi. Dea bersama pasukannya, hanya bisa diam di atas tumpukan jasad-jasad, yang telah menjadi korban, pertempuran mereka hari itu.


"Semua pasukan. Kita kembali ke kerajaan Parahyangan!" teriak Dea dengan suara lantang.


Mendengar perintah jenderal perang mereka, para prajurit Parahyangan, segera menyusun barisan untuk kembali ke kerajaan mereka.


Setibanya mereka di kerajaan Parahyangan, seluruh prajurit terlihat lelah dan letih. Mereka pun beristirahat untuk mengembalikan kebugaran fisik mereka.


"Ada apa putriku Dea Chandra Maya?" tanya raja Angkara, Di saat Dea menghadap.


"Perang kami diakhiri oleh raja dari Angkara yang mulia!"


"Kamu tahu apa alasannya, kenapa perang dihentikan?"


"Menurut raja dari Angkara, jika perang terus dilanjutkan maka seluruh jagat raya akan hancur oleh kekuatan kami berdua."


"Aku sudah mengetahuinya, jauh-jauh hari putriku. Tapi raja Dasamuka begitu serakah, dia selalu ingin merebut tanah kekuasaan kita."


"Kalau begitu, tugas saya hari ini berakhir yang mulia. Saya akan kembali ke bumi."


"Silakan putriku, tetaplah kau menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuamu."


"Terima kasih yang mulia, semoga aku tetap menjadi putri yang amanah."


Di saat Dea telah berpamitan dengan Ayahnya, maka Dea pun segera turun ke bumi.


Begitulah seterusnya, perang yang berkecamuk itu, selalu saja dihentikan. Jika tidak dihentikan, maka jagat raya akan hancur. Korban akan berjatuhan di bumi, akibat keganasan kekuatan mereka berdua.


Lama mereka tak berperang, tak ada aktivitas yang menonjol yang terjadi di kedua kerajaan tersebut. Tak terasa, baik Ara maupun Dea mereka mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.


Hari-hari mereka jalani, layaknya seorang manusia biasa di bumi. Hanya saja perilaku Dea dan Ara selalu berlawanan dan bersebelahan.


Ketika kepala sekolah mereka, yang waktu itu telah meninggal dunia. Dea memutuskan untuk pindah sekolah. Dea bersekolah yang letaknya jauh dari sekolah Ara. Namun setelah mereka beranjak remaja, di SMA Cendana mereka kembali bertemu.

__ADS_1


Namun saat itu, Ara dan Dea berada satu kelas. Dea tak pernah bertanya kenapa Ara bisa satu tingkat dengannya, padahal sewaktu sekolah SD mereka berbeda satu tingkat.


Di sekolah, Ara sering menunjukkan perilaku aneh di hadapan teman-teman.


Pagi itu, di saat guru fisika sedang menerangkan pelajaran. Ara menatap tajam teman sebelahnya. Awal mulanya, tatapan Ara biasa-biasa saja. Namun setelah itu, seluruh matanya berubah warna menjadi hitam legam.


Dina kaget dan dia langsung terjungkal jatuh tak sadarkan diri. Dea yang melihat kejadian itu langsung marah kepada Ara.


"Apa yang telah kau lakukan?" tanya Dea pada Ara.


"Kenapa, kau nggak terima, aku memperlakukan dia semauku."


"Ingat Ara, sudah enam tahun kita tidak pernah bertengkar, tapi hari ini keusilan mu membuat aku bangkit dan geram."


"Aku nggak melakukan apapun padanya. Lalu kenapa kau marah?"


"Kau selalu usil pada orang, pasti ada salah satu yang kau tunjukkan kepadanya, sehingga dia nggak sadarkan diri. Kalau nggak mereka nggak akan pingsan melihatmu.


"Aku nggak melakukan apa-apa! kenapa kau nggak percaya!"


"Sudah, sudah! Dea, Ara kembali ke bangku kalian. Ibu nggak mau kalian memperdebatkan masalah ini. Sekarang bantu teman kalian ini, bawa dia ke ruang UKS. Barangkali dia kurang enak badan."


"Baik bu," jawab anak-anak serentak.


"Kenapa ingin pindah kelas?" tanya Bu Diah heran.


"Aku nggak mau, satu kelas dengan Ara Bu."


"Kenapa, apa ada masalah antara kau dengannya?"


"Nggak Bu, tapi aku nggak mau satu kelas dengannya."


"Nggak bisa gitu dong, kamu harus bisa memberikan keteranganmu terlebih dahulu. Sebelum kau minta dipindahkan ke kelas lain."


"Pokoknya, aku nggak mau di kelas itu lagi. Jika Ibu tetap memaksa, aku akan berhenti dari sekolah ini," ancam Dina.


"Baiklah, akan Ibu laporkan dulu hal ini ke kepala sekolah dan berceritalah kau kepadanya, berikan alasan yang tepat untuk pindah ke kelas lain. Karena kepala sekolah, tak akan memberimu izin kalau kau tidak memberikan alasan yang tepat untuk itu."


Mendengar perkataan Bu Diah, Dina hanya diam saja. Namun tekadnya sudah bulat, jika kepala sekolah tak memberinya izin pindah kelas, maka Dina akan keluar dari sekolah tersebut.


Siang itu Dina tak mau kembali ke kelas, mesti Bu Diah telah memaksanya.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya ini, kenapa kamu bersikeras nggak mau masuk ke kelas?"


"Aku mau pindah kelas Bu. Aku mau pindah kelas! aku nggak mau satu kelas dengan Ara, lagi."


"Baiklah, kalau kamu tetap bersikeras untuk pindah kelas. Duduklah di sini, biar ibu yang bicara dengan kepala sekolah," ujar Bu Diah.


Mendengar ucapan Bu Diah, Dina hanya diam saja. dia tetap duduk diam di depan kantor majelis guru. Keinginannya tak akan dirubahnya lagi. Sementara itu, Bu Diah sudah tiba di depan ruang kepala sekolah.


"tok tok tok!"


Mendengar suara pintu diketuk dari luar, Pak Hasan langsung bergegas untuk membukanya.


"Assalamualaikum, Pak," ujar Bu Diah, memberi salam kepada kepala sekolah.


"Waalaikumsalam. Bu Diah, ada apa?"


"Ada yang perlu saya bicarakan Pak."


"Ooo, baiklah. Silakan masuk," ujar kepala sekolah memberi Bu Diah izin.


Setelah Bu Diah duduk, kepala sekolah langsung bertanya kepada Bu Diah, perihal tujuannya menghadap ke kepala sekolah.


"Begini Pak, sebenarnya saya ingin memberitahukan sesuatu tentang murid kita yang bernama Dina. Tadi dia di kelas mengalami pingsan. Setelah dia sadar dia bersekukuh untuk pindah ke kelas lain. Sementara, dia tak mau memberikan alasan yang tepat untuk pindah dari kelas itu.


"Mana murid itu, Bu?"


"Ada Pak, di luar."


"Tolong ibu panggil dia!"


"Baik Pak," jawab Bu Diah, seraya berlalu meninggalkan ruangan kepala sekolah.


Melihat kemunculan Bu Diah, Dina langsung berdiri dan menyusulnya. Dengan rasa tak sabar, Dina bertanya kepada Bu Diah.


"Gimana Bu, apa kata kepala sekolah?" tanya Dina ingin tahu.


"Kepala sekolah menyuruhmu menghadap. Bersikaplah yang sopan, ceritakan semuanya kepada kepala sekolah. Apa yang menjadi alasan untukmu pindah kelas."


"Baik Bu," jawab Dina pelan.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2