
"Rumah itu, memang nggak pernah dilindungi oleh rajah apapun yang mulia. Tapi rumah itu, dilindungi oleh rajah pemiliknya yang taat pada Agama."
"Kalau mereka taat pada agama, kenapa kau masih takut?"
"Justru itulah yang mulia, aku tak sanggup masuk ke dalamnya. Jika aku paksakan, tubuhku akan hangus terbakar. semua bulu-bulu ku akan hilang. Jika seperti itu, raja Angkara pasti marah kepadaku dan mengusirku dari kerajaannya."
"Kau merasa takut, jika Ayah nggak mau menerimamu lagi?"
"Iya yang Mulia."
"Bagaimana kalau aku, juga nggak mau menerimamu?"
"Itu urusan yang mulia. Jika yang mulia, tidak berkenan lagi menerima pengabdian hamba, maka hamba akan pergi ke Kayangan, untuk menghadap prabu Dasamuka. Yang selama ini menjadi junjungan hamba."
"Dasar bodoh! apa sih untungnya kau mengabdi pada raja Dasamuka?"
"Dia itu junjungan hamba, yang mulia!"
"Lalu aku ini siapa? bukankah aku juga junjunganmu?"
"Pengabdian yang tulus, hanya bisa diberikan kepada prabu Dasamuka, yang mulia."
Mendengar jawaban dari boneka darah miliknya, darah Ara terasa mendidih. Emosinya langsung meluap, tangannya yang kasar menarik paksa boneka itu dan membantingnya ke pintu.
"Kalau memang kau lebih memilih raja Dasamuka sebagai junjunganmu. Maka enyahlah dari hadapanku. Kembalilah kau ke Angkara dan mengabdilah kepada prabu Dasamuka!" bentak Ara dengan suara lantang.
Saat itu juga, makhluk yang mengisi boneka darah, milik Ara, langsung keluar dan menghilang dari pandangan mata Ara. Sementara itu, boneka tersebut tampak tergeletak begitu saja di lantai.
Untuk memastikan kalau boneka itu tidak ada penghuninya, maka Ara langsung mengangkat boneka tersebut.
"Kau sudah pergi kah?" tanya Ara pada boneka tersebut.
Seperti yang dilihat oleh Ara, boneka itu memang tak berpenghuni lagi. Karena telik sandi kepercayaan prabu Dasamuka telah kembali ke Angkara.
Di saat itu, Ara merasa sedih, karena dia tak memiliki orang kepercayaan lagi. Yang bisa menjalankan tugasnya, untuk mencari tumbal darah seperti yang diinginkannya.
Malam hari, ketika suasana telah sunyi, Ara tampak bersemedi, Ara berusaha memanggil Ayahnya yang sedang berada di Kahyangan. Setelah sekian lama Ara melakukan pemujaan, namun Ara tak melihat kalau Dasamuka akan datang menemuinya.
__ADS_1
"Kenapa Ayah tak mau menemuiku?" tanya Ara pada dirinya sendiri.
Setelah sekian lama menunggu, raja Dasamuka tak juga muncul menemui putrinya. Hingga malam itu, Ara tertidur dengan lelap.
Keesokan harinya, di saat cahaya mentari mulai menyentuh bumi. Ara terbangun dari tidurnya, saat itu dia merasakan kalau tubuhnya semakin lemah, karena sudah dua kali purnama Ara tak mendapatkan tumbal lagi.
Wajah Ara terlihat begitu pucat sekali, tubuhnya lemah seperti tak bertenaga. Ara hanya berdiam diri di kamar, menunggu kalau Ayahnya mengembalikan telik sandi yang pernah dia usir.
"Kamu kenapa sayang, kok wajahmu terlihat begitu pucat, apa kau sedang sakit nak?" tanya Kemuning pada putrinya.
"Nggak Ma, Ara nggak sakit. Hanya saja tubuh Ara terasa lemah tak bertenaga, kepala Ara terasa pusing.
"Apa perlu, Mama membawamu ke rumah sakit?"
"Kenapa ke rumah sakit Ma?"
"Siapa tahu kau mengalami penyakit kurang darah. Di rumah sakit, banyak terdapat darah hasil dari donor."
"Benarkah itu Ma?"
"Iya sayang."
Itu sebabnya, Ara bersedia pergi ke rumah sakit bersama Mamanya untuk berobat. Benar saja, menurut dokter Ara mengalami kurang darah, untuk itu akan dilakukan rawat nginap untuk Ara.
"Gimana sayang, kamu mau dirawat di sini?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Mendengar ucapan Mamanya, Ara langsung menganggukkan kepala. Yang berarti dia menyetujui, kalau akan dirawat di rumah sakit tersebut.
Setelah mendapatkan transfusi darah, Ara kembali bugar. Tubuh yang tadinya lemah, sudah berangsur membaik.
Namun ketika pihak rumah sakit, hendak menyatakan, kalau Ara sudah diijinkan untuk kembali pulang, dengan secepatnya Ara menolak, untuk diajak pulang.
"Dokter telah mengizinkan Ara untuk pulang sayang," ujar kemuning.
"Ara nggak mau pulang Ma?" jawab Ara pada kemuning.
"Kenapa sayang, kan Ara sudah sembuh."
__ADS_1
"Tapi Ara, masih kepingin di sini Ma," jawab Ara dengan polos.
"Kenapa sayang, ini kan rumah sakit?"
"Ara tahu Ma, tapi di sini Ara bisa mendapatkan transfusi darah, seperti kemarin," jawab Ara.
"Transfusi darah, hanya diberikan kepada orang yang kekurangan darah sayang. Bukan untuk orang yang telah sembuh," jawab kemuning.
"Yang jelas Ara nggak mau pulang. Ara mau tetap di sini, bantah Ara pada kemuning.
Karena Ara gak mau diajak pulang, kemuning terpaksa harus menyewa kamar rumah sakit, untuk putrinya tinggal.
Jika hari sudah larut malam, Ara mulai keluar dari kamarnya. Dia berjalan di depan labor, dimana di sana Ara mencium wangi darah.
Malam itu, di saat perawat dan petugas jaga sedang tertidur, Ara keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang UGD yang berada di dekat labor. Ara berusaha membuka pintu labor, agar dia dapat untuk mengambil darah yang berada di dalamnya.
Saat itu Ara mengalami kendala, karena pintu labor dikunci dengan kuat dari luar. Sementara itu, dia tidak melihat penjaga yang berada di depan labor.
"Kacau! kalau begitu, di mana aku harus mencari kunci pintu ini. Sebab kalau pintu ini tidak bisa dibuka, berarti aku juga nggak bisa minum darah, malam ini," ujar Ara.
Setelah Ara berusaha untuk membuka pintu yang terkunci tersebut. Ara merasa kesal, karena pintu tak juga bisa dibuka. Sementara itu, tak seorangpun petugas penjaga labor, yang berada di tempatnya.
Lalu dia berusaha untuk mencari petugas labor dengan mengelilingi rumah sakit. Setelah sekian lama berputar-putar, akhirnya Ara menemukan petugas labor tersebut, sedang berada di kamar mandi.
Ketika petugas itu hendak keluar dari kamar mandi, Ara langsung muncul dengan bentuk tubuh yang mengerikan. Dari bola matanya keluar asap berwarna hitam. Sementara, gigi taringnya pun muncul di kedua sisi mulutnya.
Petugas itu kaget dan langsung pingsan ketika melihat Ara. Lalu dengan leluasa, Ara mengambil kunci yang terselip di pinggang petugas tersebut.
Kunci itu langsung dimanfaatkan Ara untuk membuka pintu labor. Setelah pintu labor terbuka, dengan cepat Ara masuk ke dalam dan meminum beberapa kantong darah yang berada di dalam ruangan pendingin.
Ketika Ara, keluar dan kembali ke kamarnya, bekas kaki Ara masih terlihat jelas di lantai labor.
Jejak kaki itu, langsung menuju ke kamar tempat Ara menginap. Pagi hari, setelah para petugas datang. Mereka begitu terkejut, saat melihat pintu labor terbuka dan banyak darah di ruang pendingin yang hilang.
Setelah mereka perhatikan, ternyata arah telapak kaki milik pencuri darah tersebut, mengarah ke kamar Ara. Yang saat itu, sedang tertidur pulas di atas kasur.
Bukan hanya bekas telapak kaki Ara yang tertinggal. Akan tetapi, bekas darah di mulut Ara masih berserakan di sekitar bibirnya. Begitu juga dengan pakaian rumah sakit yang dikenakannya, banyak darah yang tercecer, berserakan di baju tersebut.
__ADS_1
Bersambung...
*selamat membaca*