AraDea

AraDea
Part 98 Penasaran


__ADS_3

"Aku nggak kenapa-napa kok Bu, aku berkata jujur."


Tak ingin menambah masalah pada muridnya itu, Bu Sinta langsung menggandeng tangan Dea, menuju rumahnya.


Melihat Bu Sinta menggandeng tangannya, Dea merasa heran dan Dea mencoba untuk menarik tangannya dari Bu Sinta.


"Kenapa kau menarik tanganmu Dea, bukankah niatmu ingin pulang ke rumah saat ini?"


"Benar Bu, tapi bukan bersama Ibu. Aku akan pulang sendiri!" bantah Dea pada Sinta.


"Kenapa kau nggak mau, Ibu antarkan pulang?"


"Nggak usah, sebaiknya Ibu tunggu Ara saja, siapa tahu dia butuh bantuan Ibu. Karena saat ini, Ara juga mengalami hal yang sama denganku."


"Sebenarnya, ada apa dengan kalian ini. Ibu pusing, Ibu nggak mengerti."


"Aku nggak kenapa-napa Bu, sebaiknya Ibu tunggu Ara di sekolah," jawab Dea seraya terus berlari, sehingga Bu Sinta merasa kewalahan untuk mengejarnya.


"Gimana Bu, apa dia sudah memberitahukan masalahnya pada Ibu?"


"Nggak Pak, Dea nggak mau menceritakan apa-apa pada kita, tentang masalah yang sedang dialaminya. Justru, dia mengatakan hal di luar nalar. Aku nggak ngerti Pak, apa yang telah terjadi pada anak itu."


"Ya sudah Bu, kalau dia nggak mau menceritakannya kepada kita, lebih baik kita kembali ke sekolah. Kita ceritakan semuanya, kepada kepala sekolah, siapa tahu kepala sekolah punya solusi untuk itu."


"Baik Pak, ayo kita kembali ke sekolah!" ajak Bu Sinta.


"Gimana Bu Sinta, apa kita nggak jadi mengejar Dea?" tanya Bu Zubaidah.


"Nggak Bu. Percuma saja, dia nggak mau menceritakannya kepada kita. Sebaiknya, kita kembali aja ke sekolah, karena menurut Dea, Ara juga mengalami hal yang sama dengan dia."


"Ooo, gitu ya. Baiklah, mari kita kembali ke sekolah."


Setelah mereka sepakat, mereka pun kembali ke sekolah. Menunggu kedatangan Ara, yang saat itu masih menghilang.


Seperti yang dikatakan oleh Dea, tak berapa lama kemudian, Ara pun kembali ke sekolah dengan kondisi tubuh yang sehat dan bersih.


"Ara, kamu kah itu nak?" tanya Bu Zubaidah, yang saat itu telah menunggunya begitu lama.


"Iya Bu," jawab Ara pelan.


"Ke mana saja kau nak, kenapa pergi diam-diam. Pihak sekolah panik mencari keberadaanmu."


"Apakah Dea telah kembali Bu?"


"Iya, Dea telah kembali, tapi kondisinya sangat memprihatinkan."


"Maksud Ibu, Dea terluka?"


"Nggak nak, tapi seluruh tubuhnya penuh dengan bercak darah."


"Bercak darah?"

__ADS_1


"Iya nak, tubuhnya penuh dengan bercak darah. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kalian berdua, kenapa kalian tiba-tiba saja menghilang dari sekolah?"


Mendengar pertanyaan Bu Zubaidah, Ara hanya bisa diam, karena tak sepatah kata pun yang bisa dijawabnya.


"Kenapa kamu diam Ara, beritahu Ibu, apa yang telah terjadi dengan kalian?"


"Jika pun kami beritahukan kepada Ibu, apakah Ibu dapat mengerti, aku yakin Ibu mengatakan kami sedang berkhayal. untuk itu lebih baik kami diam."


"Jadi benar, kamu nggak akan mau menceritakannya kepada kami, apa yang telah kalian alami?"


"Iya Bu, saya permisi," jawab Ara, seraya meninggalkan Bu Zubaidah menuju ruangan perpustakaan.


Setelah Ara mengambil tasnya di perpustakaan, dia pun langsung pergi menuju rumahnya.


"Gimana Bu, apa dapat informasi dari Ara?" tanya Bu Sinta.


"Sama dengan Dea, Ara juga nggak mau menceritakannya kepada kita, apa yang telah mereka berdua alami."


Setelah Bu Zubaidah dan Bu Sinta melihat kepergian Ara, mereka berdua langsung menuju kantor kepala sekolah dan melaporkan tentang kejadian yang baru mereka alami.


"Jadi keduanya sudah kembali Bu?" tanya kepala sekolah ingin tahu.


"Sudah Pak, hanya saja mereka datang dengan kondisi yang berbeda."


"Maksud Ibu?"


"Ara datang dengan pakaian bersih, sementara Dea, datang dengan tubuh yang penuh bercak darah."


"Penuh bercak darah?" tanya kepala sekolah tak mengerti.


"Apa kata Dea pada Ibu?"


"Katanya, dia selesai perang?"


"Perang apanya Bu?"


"Itulah yang saya nggak mengerti Pak. Dia juga menyebutkan nama kerajaan, di tempat mereka berperang."


"Kerajaan, kerajaan apa Bu?" tanya kepala sekolah penasaran.


"Saya nggak ingat nama kerajaannya Pak, tapi kerajaan itu berada di atas kayangan."


"Sepertinya gadis itu dalam kondisi tidak sehat, sebaiknya kita datang ke rumahnya untuk melihat. Apakah dia sedang sakit, atau sedang mengalami gangguan pada mentalnya."


"Baik Pak," jawab Bu Sinta dan Bu Zubaidah serentak.


Setelah pertemuannya dengan kepala sekolah, kedua guru tersebut langsung mendatangi rumah Dea, yang berdiri kokoh mewah di sebuah desa.


"Benar ini rumahnya?" tanya kepala sekolah.


"Sepertinya benar pak," jawab Bu Zubaidah.

__ADS_1


"Mewah sekali rumahnya, belum pernah saya melihat rumah semewah ini di kota besar," kata kepala sekolah pelan.


"Apa kita nggak salah Pak, kalau saya lihat dari pakaian Dea setiap hari ke sekolah, sepertinya dia bukan orang kaya."


"Iya juga sih, tapi gimana kalau kita bertanya dulu kepada pemilik rumah ini, apa benar dia orang tua Dea atau bukan."


Saat mereka sedang di ambang keraguan, lalu Bu Zubaidah melihat seorang perempuan, yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Dea.


Melihat perempuan itu, Bu Zubaidah langsung menghampirinya. Dia berencana hendak bertanya kepada perempuan itu, tentang siapa pemilik rumah mewah itu sebenarnya.


"Maaf Bu, apa boleh saya bertanya?"


"Huuh..Huuh..!" jawab perempuan itu seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh maaf, Ibu nggak bisa ngomong ya," ujar Bu Zubaidah pada Tuti.


Saat bersamaan, suami Tuti pun keluar dan Bu Zubaidah, langsung bertanya kepada Edi.


"Maaf Pak, saya mau nanya boleh?"


"Ya silakan Bu."


"Apa benar rumah yang berada di samping rumah Bapak ini, adalah rumah Dea?"


"Benar Bu, itu rumah Dea, Ibunya bernama Pandan wangi."


Di saat Edi menyebut nama Pandan wangi, Tuti langsung menatap tajam ke arah suaminya. Tuti marah, ketika nama Pandan wangi diucapkan oleh suaminya.


"Oh maaf, saya mengganggu. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Bu Zubaidah.


"Ya silakan," jawab Edi, seraya tersenyum lebar.


Setelah mendapat informasi dari Edi, Bu Zubaidah langsung menuju rumah Dea. Dari belakang tampak Tuti mengendap-ngendap, menguping pembicaraan mereka.


Melihat Tuti mengendap-ngendap, Bu Sinta jadi heran, dia menatap Tuti dengan pandangan yang aneh. Namun Tuti tak menggubrisnya sama sekali.


"Kenapa dengan Ibu itu?"tanya Bu Sinta pada Bu Zubaidah.


"Nggak tahu, tapi dia itu bisu."


"Oh bisu, ya udah. Ayo Pak, kita ke rumahnya.


"Ayo," jawab kepala sekolah, seraya mendahului mereka berdua.


"Dengan tenang kepala sekolah, langsung mengetuk pintu rumah Dea dari luar.


"tok, tok, tok!"


Mendengar suara pintu diketuk dari luar, pandan wangi, langsung bergegas untuk membukanya. Sebelum pintu dibuka, aroma tubuh Pandan wangi telah tercium oleh para guru-guru tersebut.


Hm... wangi sekali tubuh orang tua Dea, sama dengan putrinya, wangi sekali."

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2