
Tak tanggung-tanggung, Dea terus berlari, menyusuri hutan larangan secepat mungkin.
Pedangnya yang selalu siap siaga, memakan begitu banyak korban di hutan larangan. Namun sebanyak apa Dea membunuh mereka, sebanyak itu pula yang datang menyerang Dea secara tiba-tiba.
Diperjalanan Dea bertemu dengan pasukan telik sandi istana. Mereka saat itu sedang bertarung melawan puluhan makhluk yang ganas dan mengerikan.
Saat itu, Dea terus menggempur dan melawan mereka semua, dengan sekuat tenaga.
"Yang mulia!" ujar salah seorang telik sandi kerajaan parahyangan.
"Aku ke sini untuk menolong kalian. Kalian jangan takut, karena kalian tidak sendiri. Ada aku bersama kalian. Ingat, makhluk ini tak bisa dibunuh dengan mudah, untuk itu berusahalah kalian mencari titik kelemahannya.
"Baik yang mulia," jawab telik sandi itu serentak.
"Sekarang berhati-hatilah kalian, karena makhluk ini bisa lebih ganas dari sebelumnya, jika kita telah membunuhnya sekali."
Mendengar informasi dari Dea, seluruh telik sandi istana merasa hati-hati dan waspada, karena apa yang dikatakan oleh Dea itu,benar adanya.
Pertempuran yang sengit pun terjadi diantara mereka. Dentingan suara pedang, berkecamuk di dalam hutan larangan. Sayup -sayup, suara itu terdengar oleh Pandan wangi dan Ibunya, yang saat itu sedang di sekap di tengah hutan.
"Aku mendengarkan suara dentingan pedang Bu," ujar Pandan wangi pada Ibunya.
"Iya nak, Ibu juga mendengarkan hal yang sama. Pasti putri mu datang menolong kita nak," jawab Yeni pada putrinya.
Dengan senang hati, Pandan wangi dan Ibunya menunggu dengan sabar kedatangan putrinya, untuk menyelamatkan nya dari cengkraman prabu Dasamuka.
Disaat kegembiraan sedang menyelubungi hati Pandan wangi. Tiba-tiba saja, dia mendengar sebuah bisikan gaib di telinganya
"Istriku Pandan wangi, sebentar lagi putrimu Dea chandra maya, akan datang menyelamatkan mu."
"Kenapa bukan kau sendiri yang menyelamatkan aku yang mulia? bukankah aku ini istrimu? kau tega melihat aku ditahan oleh musuh mu di dalam hutan belantara ini?"
"Istriku Pandan wangi, bukannya aku tega melihat mu disekap didalam hutan. Tapi aku ingin menguji keberanian dan sikap satria putrimu, bukankah dia itu seorang jenderal kerajaan parahyangan.
__ADS_1
"Kau tega menjadikan putri mu sebagai senjata mu untuk membasmi seluruh musuh-musuh mu yang mulia."
"Kau salah istriku Pandan wangi. Putri mu bukan manusia biasa, aku sengaja melatih kekuatan dan kesatrian nya agar dia tetap menjadi orang baik."
"Ingat yang mulia, jika sesuatu terjadi pada putriku, maka kaulah yang akan aku salah kan."
"Tak perlu mengancam Pandan wangi, sebentar lagi putri mu akan tiba di tempat kau di sikap. Tunggulah dengan tenang di situ."
Mendengar ucapan raja Askara, Pandan wangi hanya diam saja. Hatinya sedikit teriris oleh perilaku suaminya. Yang tega mengorbankan putrinya untuk menjadi pembunuh.
Sementara itu, Dea dan pasukan telik sandi istana, sebentar lagi akan tiba di tempat Pandan wangi di sekap.
Pertempuran demi pertempuran dilakukan oleh Dea dengan semangat. Demi menyelamatkan orang-orang yang disayangi nya.
"Teruslah bertempur wahai prajurit ku, sebentar lagi kita akan tiba di tempat ratu dan ibu suri berada. Tetaplah semangat, tunjukkan bakti mu pada kerajaan Parahyangan.
"Baik yang mulia!' jawab prajurit serentak.
Dengan semangat yang masih tersisa, seluruh prajurit itu berjuang mati-matian, demi menyelamatkan ratu dan Ibu suri kerajaan.
Hutan yang angker dan mengerikan itu, ternyata menelan mayat-mayat yang bergelimpangan. Itu sebabnya, hutan itu terlihat hidup dan tumbuh dengan subur.
Setelah mereka terus berjuang, menyerang dan merangsak masuk ke dalam hutan, akhirnya mereka pun bertemu dengan ratu dan Ibu suri kerajaan, yang saat itu sedang di tawan oleh prajurit raja Dasamuka.
"Putriku Dea!" teriak Pandan wangi ketika melihat putrinya datang.
Tenanglah Ma, jangan bergerak. Tetaplah duduk ditempat, biar aku selesaikan semuanya. Setelah itu, kita akan kembali ke Parahyangan.
"Baik sayang," jawab Pandan wangi seraya tersenyum lebar.
Dengan semangat yang menggebu, Dea berusaha melawan seluruh pasukan Dasamuka, yang saat itu berusaha menawan keluarganya.
Bagaikan singa yang lapar, Dea menerjang dan menghantam semua yang berada di dekatnya. Dea melawan mereka dengan membagi buta, sekali-kali Dea berteriak dan menjerit menahan emosi di dalam dadanya.
__ADS_1
Pandan wangi dan Yeni, yang melihat putrinya berjibaku untuk menyelamatkan nya. Hati mereka merasa begitu bangga, karena putri yang selama ini terlihat lembut, ternyata tampak ganas di medan perang.
"Hati-hati sayang, jangan terlalu membabi buta. Karena, lawan lebih senang melihat kita lengah nak!" teriak Pandan wangi dengan suara lantang.
"Baik Ma," jawab Dea, seraya merubah sistem pertempuran nya, menjadi sedikit tentang dan melihat lawan, dari sudut pandang yang lain.
Mesti Dea hebat dan kuat, namun dia tak egois. Dea selalu mendengarkan nasehat kedua orang tuanya, walaupun hal itu, bertentangan dengan hati nuraninya. Keberanian dan semangat bertempur nya, hanya dilakukan demi menyelamatkan orang yang disayangi. Hal itu tak perlu diragukan lagi.
Sedangkan raja Askara yang saat itu, sedang melihat mereka, di bola kristal istana. Hanya tersenyum bangga, karena putri kesayangannya telah berhasil menyelamatkan orang yang dicintai.
"Selamat nak, kau pantas menyandang gelar jenderal. Karena jiwamu yang satria dan kebaikan budi mu, untuk menyelamatkan orang di sekitarmu saat ini mendapat acungan jempol dari Papa.
Ketika Dea terus bertempur melawan para musuh, beberapa orang telik sandi diperintahkan untuk melepaskan keluarganya yang di sikap, oleh makhluk kejam tersebut.
Setelah keduanya selamat, lalu Dea pun meninggalkan hutan itu bersama prajurit nya. Mesti mereka tetap mengejar, namun mereka tak mampu menghadang kecepatan Dea dalam berlari.
"Kita mesti bawah Ibu ratu dan Ibu suri kemana yang mulia?" tanya salah seorang prajurit pada Dea.
"Mereka kita bawa ke Nirwana, karena disana mereka aman bersama raja Askara.
"Tidak putriku, Mama nggak mau kesana. Karena disana, Mama tidak tenang nak," ujar Pandan wangi dengan suara lembut.
"Iya sayang, Mamamu benar. Nenek juga nggak tenang tinggal di kerajaanmu. Karena kita semua, tidak sama dengan mereka nak," timpal Yeni saat itu.
"Meski Mama dan Nenek tidak senang tinggal di kerajaan parahyangan. Namun itulah tempat hunian yang cocok untuk kalian berdua. Karena di bumi mereka akan datang kapan saja mereka inginkan."
"Tapi sayang, makanan kita tidak sama dengan mereka nak?"
"Aku yang akan mencarikan makanan untuk Mama dan Nenek.
"Nggak sayang, Mama nggak mau tinggal di Nirwana. Mama mau pulang ke bumi, karena bumi lah tempat kelahiran kita."
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*