
Sekarang lupakanlah nak, tak perlu hal itu kau ingat-ingat. Mama janji, ini akan menjadi rahasia kita berdua.
Mendengar perkataan Kemuning, Ara hanya diam saja. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena Mamanya tak mau membicarakan masalah siapa Ayah Ara sebenarnya.
"Tidurlah nak, hari sudah larut malam. Besok kamu sekolah bukan?"
"Iya Ma," jawab Ara sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Seraya menunggu Ara tertidur, Kemuning bersenandung di dekat telinga putrinya. Tanpa disadari, Ara pun tertidur dengan lelap.
Keesokan harinya, saat mentari mulai menyentuh tanah. Ara pun terbangun dari tidurnya. Namun, pagi itu Ara merasakan tubuhnya agak sedikit aneh.
Ara merasakan begitu haus sekali, lalu dia bergegas menuju dapur untuk minum air putih. Tidak tanggung-tanggung, Ara minum begitu banyak sekali.
Bondan yang menyaksikan kelakuan putrinya pagi itu, dia merasa heran sekali.
"Kamu kenapa sayang? kok pagi-pagi udah minum?" tanya Bondan ingin tahu.
"Entahlah Pa, kok pagi ini aku pengen minum aja, rasa haus ini nggak pernah hilang dari tenggorokanku."
"Emangnya kau habis makan apa semalam?"
"Entah Pa, tapi perasaan aku nggak ada makan apa-apa?"
"Barangkali kau mengalami panas dalam nak," ujar Bondan pada putrinya itu.
"Mungkin juga Pa, sebab nggak biasanya aku seperti ini."
"Ya udah, nanti kita ke rumah sakit ya nak," ujar Kemuning pada putrinya.
"Nggak perlu Ma, ntar lagi Ara juga sembuh kok."
"Benar kamu nggak mau, Mama bawa ke rumah sakit?"
"Benar Ma, lagian sakit Ara nggak parah kok, jadi Papa sama Mama nggak perlu kuatir. Ara baik-baik aja kok."
"Kalau kamu nggak mau dibawa ke rumah sakit, ayo sini makan sama Mama!" ajak Kemuning pada putrinya.
"Baik Ma," jawab Ara, seraya menarik kursi yang berada di sebelah Kemuning.
__ADS_1
Saat itu Kemuning membakar seekor ayam, sebagai lauknya untuk makan pagi itu.
Melihat ayam terletak di atas sebuah piring, mata Ara semakin tak kuat melihatnya. Diam-diam, ditariknya separuh daging ayam yang terletak di atas meja itu dan langsung di lahapnya sendiri, tanpa mempedulikan kedua orang tuanya.
"Kamu yang tenang makannya nak, jangan keburu-buru gitu!" ujar Kemuning pada putrinya Ara.
"Tapi ini udah tenang loh Ma, daging ayam ini terasa begitu enak sekali, membuat air liur Ara menetes. Mama nggak keberatan kan, kalau daging ayam ini Ara makan semuanya?"
Nggak sayang, Mama nggak marah kok. Tapi sisain separuh untuk Mama dan Papa. Kalau kau habiskan, Mama sama Papa mau makan apa pagi ini?"
"Mama sama Papa, kan bisa beli lagi di kedai nasi. Banyak kok orang yang menjual ayam bakar, enak dan selezat ini."
"Ayam ini bukan Mama beli nak, tapi Mama panggang sendiri. Kalau kamu menghabiskannya, berarti hari ini Mama nggak akan bisa makan lagi."
"Mama yang sabar ya, nanti akan Ara berikan Mama sepotong ayam untuk dimakan."
"Lalu bagaimana dengan Papamu, apa dia juga nggak akan makan ayam panggang hari ini?"
"Kalau ayam panggang ini ikut kubagikan sama Papa, pasti Ara kekurangan Ma."
"Kamu kok bisa gitu sih Ara, nggak biasanya kan kamu makan daging sebanyak ini? apa kamu nggak takut, nanti sakit perut."
"Nggak Pa, justru kalau Ara nggak memakannya, Ara bakal sakit perut."
"Ada apa dengan kamu nak?" tanya Kemuning heran.
"Mama Kok nanyanya, kayak gitu sih!"
"Nggak biasanya kan, kamu berperilaku seperti ini persis seperti binatang."
Mendengar ucapan Kemuning, Ara merasa tersinggung lalu dia membanting piring yang ada di hadapannya hingga pecah berantakan. Mulutnya yang masih mengunyah daging disemburkan kehadapan Kemuning, hingga Kemuning jatuh terjungkal ke belakang.
Kemuning pun menjerit seraya menangis histeris, Bondan yang melihat kejadian itu, segera menolong istrinya dari amukan putrinya sendiri.
"Ya Allah, ada apa ini nak?" tanya Bondan ingin tahu.
"Mama sih, cari gara-gara. Bikin Ara kesal tahu," jawab Ara seraya menampar meja.
Setelah Ara pergi, Kemuning tak bisa lagi membendung air matanya di pangkuan Bondan Kemuning menangis histeris.
__ADS_1
"Ada apa dengan Putri kita Mas, kenapa dia sampai berbuat seperti itu. Apa yang telah terjadi dengannya Mas," rintih Kemuning dengan suara lirih.
"Entahlah sayang, kang Mas juga nggak tahu. Kenapa dia tiba-tiba saja berubah, padahal semalam dia masih baik-baik saja."
Mendengar ucapan suaminya, Kemuning teringat dengan pertanyaan yang diajukan Ara semalam kepadanya. Ara sepertinya sedih karena dia ingin tahu siapa Ayah kandung dia yang sesungguhnya.
"Berdirilah sayang, mari kita bersihkan semuanya, kita nggak perlu memarahi dia. Biarlah kejadian ini, kita anggap sebagai pelajaran buat kita berdua."
"Baik Mas," jawab Kemuning dengan deraian air mata.
kesedihan hati Kemuning membuat air matanya tak henti-hentinya mengalir. Sementara itu, Ara telah pergi menjauh entah ke mana. ketika Bondan memeriksa kamarnya, Ara sudah tak berada lagi di dalam kamarnya tersebut.
"Ke mana dia sayang?" tanya Bondan pada istrinya.
"Siapa kang Mas?"
"Ara. Dia tak berada di kamarnya saat ini!"
"Aduh, pergi ke mana dia!"
"Sepertinya dia tersinggung, saat kau mengatakan dia seperti binatang."
"Maafkan Mama nak, Mama nggak sengaja bicara seperti itu. Mama takut sekali melihat sikapmu yang semakin hari semakin berubah. Kau tak lagi seperti manusia layaknya," gumam Kemuning pelan.
"Kalau begitu, mari kita cari ke mana perginya dia saat ini."
"Ayo Mas, nanti dia keburu hilang, kita juga yang repot dibuatnya."
Lalu Bondan dan Kemuning pergi mencari keberadaan Ara, yang tiba-tiba saja menghilang dari kamarnya. Setelah sekian lama mengelilingi Desa. Ara tak juga dapat ditemukan. Perasaan Kemuning, saat itu sedang berkecamuk, antara takut dan sedih.
Dalam hati kecilnya, Kemuning tak ingin kehilangan Ara. Namun sebaliknya, melihat tingkah laku Ara yang jauh berubah, Kemuning jadi takut. Jika suatu saat, Bondan mencurigai putrinya itu.
Setelah berputar-putar mencari keberadaan Ara, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah. Betapa terkejutnya Kemuning dan Bondan, Ketika dilihatnya rumah mereka berantakan dan banyak barang-barang antik miliknya yang jatuh dan pecah.
"Oh ya Allah, ada apa ini? kenapa semua barang-barangku berantakan seperti ini!" teriak Kemuning sembari berlari menuju kamar Ara.
"Ini semua pasti gara-gara Ara, dia telah membuat aku susah!" teriak Kemuning sembari membuka pintu kamar putrinya.
"Di dalam kamar Kemuning tak menemukan siapa-siapa. Begitu juga di kamar mandi, semuanya kosong. Bahkan Kemuning memeriksa seluruh ruangan, alhasil Ara tetap tak ditemukan.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*