AraDea

AraDea
Part 52 Kelakuan Ara


__ADS_3

Lalu, mereka berdua memasuki sebuah ruangan ritual. Di dalam ruangan itu, terdapat begitu banyak makanan. Daging- daging mentah, darah segar dan berbagai macam minuman yang berbau busuk dan amis.


"Apa ini Ayah?" tanya Ara ingin tahu."


"Ini makanan yang harus kau makan, agar tubuhmu bisa lebih kuat."


"Apakah aku sanggup memakannya Ayah?"


"Duduklah, Ayah akan turunkan kekuatan Ayah kepadamu."


"Baiklah," jawab Ara, seraya duduk bersila di hadapan makanan yang telah terhidang di depannya.


Saat Ara melihat makanan yang begitu banyak, timbul rasa lapar di perutnya, daging mentah yang dilihatnya saat itu sangat menggiurkan sekali. Ditambah lagi dengan darah segar yang terletak di dalam sebuah bejana, membuat Ara ingin melahapnya segera.


Di saat Ayah nya sedang menyalurkan ilmu kebatinannya kepada Ara. gadis itu tak kuasa menahan seleranya, dia langsung melahap daging mentah yang terletak di hadapannya dan darah sekarang yang berada di dalam bejana.


Satu persatu daging itu dimakan tanpa merasa jijik sama sekali, begitu juga dengan darah segar yang terletak di dalam sebuah bejana, habis diminum oleh Ara. Ditambah lagi minuman-minuman yang berbau amis dan busuk bagi Ara sangat wangi.


Dasamuka yang melihat putrinya menyantap hidangan itu, hatinya senang sekali, karena memang itulah makanan, yang selama ini dimakan di kerajaan mereka.


Setelah Ara selesai menyantap hidangan itu, tak terasa tubuhnya semakin beranjak besar dan mengembang, serta ditumbuhi bulu-bulu tebal di sekujur tubuhnya.


"Sekarang kau lihat putriku, perubahan apa yang telah kau alami saat ini?"


"Hah aku sudah berubah, oh tidak! Aku nggak mau tubuh ini Ayah, aku nggak mau tubuh ini!" teriak Ara ketakutan.


"Tenang sayang, ini hanya ada di Kayangan. Di bumi, tubuhmu akan kembali mengecil seperti biasa. Bulumu yang lebat ini nggak akan tumbuh di bumi. Hanya di Kahyangan ini, kau bisa merubah wujudmu."


"Nggak Ayah, aku nggak mau tubuh ini. Aku nggak mau Ayah!" jerit Ara dengan kuat sekali.


"Kau nggak bisa menghindar putriku, karena kau adalah keturunanku. Seorang genderuwo yang perkasa, yang menguasai kawasan Angkara, serta memiliki kerajaan yang penuh dengan kegelapan."


"Tapi aku nggak mau tubuh ini Ayah! aku malu," rintih Ara dengan sedih.


"Kau harus bisa menerimanya putriku. Karena mesti bagaimanapun, kau adalah keturunanku, yang kutitipkan pada ibumu Kemuning di bumi. Jadi kau nggak akan bisa mengelak."


Mendengar ucapan Ayahnya, Ara tampak menangis sedih. Karena Ara tak terima kalau dirinya yang cantik, berubah menjadi seorang genderuwo yang berbulu tebal dan berwajah mengerikan.


"Coba kau lihat putriku, semua hidangan yang ada di hadapanmu tadi, semuanya telah habis kau makan, itu pertanda kau memang keturunanku dan kau tak bisa mengelak dari itu."

__ADS_1


"Maafkan Aku Ayah, aku telah mengingkari asal usul ku. Aku berjanji akan berusaha untuk menerimanya," jawab Ara dengan suara lirih.


"Terima kasih sayang. Apapun itu, kau jangan beritahu siapapun di bumi, termasuk kedua orang tuamu. Karena mereka tidak tahu, siapa kau sebenarnya. terutama Papamu Bondan.


"Baik Ayah aku akan mengingat pesan Ayah."


"Sekarang ikutlah bersama Ayah, kita akan turun ke bumi."


"Baik Ayah," jawab Ara tanpa banyak bertanya.


Di perjalanan menuju bumi, tubuh Ara yang besar dan berbulu lebat tiba-tiba berubah menjadi kecil seperti semula. Mesti saat itu, arah senang. Tapi, Ara belum bisa menerima perubahan tubuhnya saat berada di Kahyangan.


Tak butuh waktu lama, tibalah mereka berdua di bumi dan Ara selalu bersikap menerima apapun yang telah ditetapkan Ayahnya itu.


"Sekarang tidurlah putriku. Jangan pernah kau memikirkan hal itu lagi. Ingat pesan Ayah, jangan kau beritakan hal ini kepada Mama dan Papamu, karena ini rahasia kerajaan kita."


"Baik Ayah," jawab Ara pelan.


Setelah Danu pergi, Ara tampak menangis sedih di kamarnya. Dia tidak terima tubuhnya yang cantik, berubah seperti itu. Saat Ara menangis, Kemuning mendengar sayup-sayup suara tangisan gadis kecilnya dan dia pun datang menghampiri kamar putrinya itu.


"Ara, ada apa sayang? kenapa kamu menangis nak?" tanya Kemuning ingin tahu.


Mesti terdengar jelas di telinganya, namun Ara tak mau menjawab,? dia terus saja menangis menyesali dirinya yang berasal dari keturunan genderuwo.


Karena suara pintu tak henti-hentinya diketuk dari luar, Ara akhirnya bergegas membuka pintu itu.


"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Kemuning penasaran.


"Mama, boleh aku tanya sesuatu pada Mama?"


"Boleh, silakan bertanya, ada apa sayang?"


"Mama. Jawab dengan jujur, sebenarnya aku ini siapa Ma?" tanya Ara ingin tahu.


"Kenapa kau menanyakan hal itu sayang?"


"Mama nggak usah menanyakan itu lagi padaku, sekarang jawab dengan jujur pertanyaanku, Ma."


"Pertanyaan apa yang mesti Mama jawab nak. Kau sudah lihat sendiri kan, selama ini kau mengalami perubahan. Mama sendiri jadi takut sayang?"

__ADS_1


"Jadi, Mama takut melihat perubahan tubuhku?"


"Kau lihat di kaca wajahmu nak, semakin hari, wajah yang cantik ini berubah sayang," jawab Kemuning seraya menangis.


"Apanya yang berubah, Ma?"


"Jika kau marah, dari mulutmu keluar taring yang panjang. Matamu yang bening dan indah berubah menjadi hitam legam. Apalagi sesudah ini sayang, Mama nggak tahu perubahan apalagi?"


Melihat Kemuning menangis, Ara pun merasa sedih, dengan lembut dipeluknya tubuh Mamanya itu.


"Aku hanya ingin satu jawaban dari Mama. Siapa aku ini sebenarnya mah," ucap Ara dengan suara lirih.


"Entahlah nak, Mama juga nggak tahu kau keturunan siapa?"


"Kenapa aku mesti punya, dua orang ayah Ma?"


"Yang mana sebenarnya Ayahku. Bondan kah atau Danu?"


"Mendengar pertanyaan putrinya itu, Kemuning tak bisa lagi mengelak. Dengan jujur, dia terpaksa harus menjawabnya.


"Ayahmu adalah Danu nak."


"Kenapa Danu Ayahku Ma, bukankah selama ini Ayahku Bondan."


"Kau bukan keturunan Bondan sayang, kau keturunan Danu."


"Apa maksud semua ini Ma?"


"Mama nggak bisa menjelaskan sekarang nak, karena kau masih kecil. Kelak jika kau telah dewasa, Mama janji, Mama akan menceritakan semuanya kepadamu dan nggak ada yang Mama tutup-tutupi dari mu sayang."


"Aku nggak perlu Ma, aku nggak perlu kejujuran dari Mama sekarang. Aku sudah tahu siapa aku sebenarnya, aku sudah lihat tubuhku Ma."


"Maksudmu apa sayang?" tanya Kemuning heran.


Saat itu, Ara sadar akan pesan Ayahnya, untuk tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya siapa dirinya yang sesungguhnya.


Mesti Kemuning mengetahui kalau Danu itu bukan seorang manusia, tapi dia tidak tahu kalau suatu saat Ara akan berubah menjadi genderuwo. Karena selama ini, Danu selalu datang dalam paras wajah yang tampan.


Bukan hanya itu, tubuh Danu mengeluarkan aroma yang sangat wangi, yang membuat hati Kemuning menjadi terpikat.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2