
“Kau mau beri nama siapa putri mu yang Mulia?” tanya Pandan ingin tau.
“Kalau soal nama, cukup kamu saja yang memberinya sayang.”
“Kamu yakin aku yang memberi nama untuk anak kita yang Mulia?”
“Tentu sayang, kan selama ini kamulah yang selalu berkorban untuknya, merawat dan menjaga kandungan mu dengan baik.”
“Baiklah, aku hanya suka kalau nama anak kita singkat saja.”
“Siapa sayang?”
“Gadis cantik ku bernama Dea.”
“Dea?”
“Ya, di Desa ku tak ada orang yang bernama Dea, lagian aku senang dengan nama itu.”
“Ya sudah, kalau itu yang menurutmu cantik maka itulah nama putri kita.”
Seperti Ibunya Dea memiliki aroma tubuh sama dengan Pandan, tubuh Dea sangat wangi, sehingga banyak dayang-dayang Istana yang merasa senang menggendongnya.
Setelah itu mereka berdua langsung turun ke bumi, ketika Yeni pulang dari kebun betapa terkejutnya dia, karena saat itu Yeni melihat begitu banyak kain panjang dan pakaian bayi yang dijemur di halaman belakang.
Kain-kain itu sengaja di jemur oleh Pandan, agar Ibunya tak merasa curiga sama sekali pada putrinya itu.
“Ya Allah, apakah putri ku sudah melahirkan?” tanya Yeni pada dirinya sendiri.
Melihat begitu banyak kain yang dijemur di halaman belakang, lalu Yeni bergegas masuk kedalam. Benar saja dugaannya, ternyata Pandan telah berbaring di atas Kasur di temani oleh suaminya.
“Ya Allah, nak. Ternyata kamu udah melahirkan, kenapa nggak panggil Ibu ke kebun dulu?”
“Nggak apa-apa kok Bu, kan udah selesai. Lagian ada Bang Askara kok yang bantuin.”
“Terima kasih ya nak, atas semua kebaikan yang kau lakukan pada putri Ibu.”
“Sama-sama Bu, lagian ini semua sudah menjadi kewajiban ku untuk melakukan itu semua.”
Dengan senangnya, Yeni langsung menggendong tubuh cucu pertamanya itu. di saat dia menggendong cucunya itu, tiba-tiba saja Yeni meneteskan air mata.
“Ibu kenapa menangis?” tanya Pandan wangi heran.
“Ibu sedih nak, kenapa tubuh putri mu sama aromanya dengan tubuh mu?”
“Emangnya kena Bu, Ibu nggak suka?”
“Ini penyakit kutukan nak, semestinya penyakit ini nggak turun pada cucu Ibu.”
__ADS_1
“Ini bukan kutukan Ibu, ini semua adalah anugrah,” jawab Askara seraya memegang tangan Ibu mertuanya dengan lembut.
“Kalau memang ini bukan kutukan, lalu kenapa selama ini mereka memperlakukan Pandan seperti musuh mereka?”
“Itu semua karena mereka merasa iri dengan kelebihan yang di miliki Pandan Bu. coba Ibu perhatikan dengan baik, apakah selama ini Ibu pernah mencium aroma wangi dari tubuh seseorang? nggak kan. Yang ada hanya bau busuk.”
“Iya, juga sih, tapi kenapa Pandan mereka kucilkan?”
“Karena kehadiran Pandan membuat kaum Ibu-ibu merasa tersakiti, sebab suami mereka jadi lupa diri setelah mencium aroma wangi dari tubuh Pandan.
“Apakah benar itu yang menjadi penyebabnya selama ini?”
“Iya, Bu percayalah pada ku.”
“Kok kamu bisa tau nak?” tanya Yeni penasaran.
Di saat itu, Askara langsung menyuruh Ibu mertuanya untuk menutup mata, tanpa berfikir panjang Yeni langsung menuruti permintaan Askara.
“Nanti setelah mata Ibu terpejam, Ibu akan melihat sesuatu di sana, tapi Ibu harus ingat, bahwa apa saja yang Ibu lihat itu, memang benar adanya.”
“Baiklah,” jawab Yeni dengan suara pelan.
Setelah mata Yeni tertutup rapat, lalu Askara mengusapkan telapak tangannya ke wajah Yeni. Di saat itu Yeni melihat sebuah istana yang cukup megah dengan begitu banyak dayang-dayang yang cantik jelita.
“Sekarang bukalah mata Ibu,” perintah Askara pelan.
“Allahu Akbar. Apakah Ibu nggak salah lihat nak?” tanya Yeni tak percaya.
“Nggak Bu, apa yang Ibu lihat, itulah aku yang sebenarnya.”
“Jadi kau seorang raja?”
“Iya, Bu.”
“Raja di mana?” tanya Yeni ingi tau.
Mendengar pertanyaan Yeni, Askara tak langsung menjawabnya, dia memegang tangan istri dan Ibu mertuanya sekaligus, hanya sekejap mata saja, lalu mereka semua sudah berada di sebuah Istana yang cukup megah dan indah.
“Ah, Ibu berada di mana ini nak?” tanya Yeni heran.
“Ibu berada di dalam istana yang Ibu lihat tadi.”
“Ah, yang benar kamu Pandan, jangan bercanda.”
“Benar Bu, saat ini Ibu berada di Nirwana, istana ku berdiri di atas awan Bu,” jawab Askara dengan suara lembut.
“Ah, jangan bercanda kalian sama Ibu,” ujar Yeni tak percaya.
__ADS_1
“Baiklah, kesini. Biar aku tunjukan sesuatu pada Ibu.”
Lalu Askara memegang tangan Ibu mertuanya itu, dia menarik tangan Ibunya untuk menunjukan sesuatu.
“Ada apa nak, kenapa kamu narik tangan Ibu?”
“Lihat kesana Bu!” ujar Askara seraya menunjuk ke suatu arah.
“Ya Allah, kamu benar nak, ternyata Ibu berada di atas awan. Oh, Ibu takut sekali nak, Ibu nggak berani melihat kebawah.”
“Tenang Bu, kalau pun Ibu nanti terjatuh, lihatlah kebawah, puluhan ribu prajurit ku akan membantu Ibu dan menyelamatkannya.”
“Oh, Ibu nggak berani dekat-dekat tebing itu, Ibu begitu takut sekali,” ujar Yeni seraya berpegangan pada sebuah tiang.
“Ibu, di sini tempatnya sangat aman, percayalah pada ku, Ibu nggak bakalan jatuh kebawah.”
“Kenapa kamu bisa yakin kalau istana ini kuat nak?”
“Karena istana ini telah berdiri dengan kokoh, dari ratusan tahun yang lalu.”
“Ah, kamu serius?”
“Iya Bu.”
“Kenapa Ibu nggak pernah melihatnya?”
“Ini alam ghaib Bu, nggak semua orang yang bisa melihatnya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat kami.”
“Termasuk nak Pandan dan Ibu?”
Askara tak menjawab, dia hanya tersenyum manis pada Ibu mertuanya itu. Yeni hanya terdiam berdiri di tiang istana sembari berpegangan dengan kuat.
Lalu Askara memetik jarinya dan puluhan dayang datang menyambangi Yeni yang tampak berdiri kebingungan.
“Kalian semua, layani Ibu mertua ku dengan baik, jangan kalian sakiti dia, karena dia tamu agung di istana ku!”
“Baik yang Mulia!” ucap semua dayang itu serentak.
“Ayo Bu, kita masuk kedalam kamar saja.”
“Nggak, Ibu biar disini aja!” ujar Yeni bersikukuh tak mau bergerak dari tempat itu.
Melihat Ibunya ketakutan, Pandan menghampiri Ibunya, dengan lembut, dipegangnya tangan Yeni dan dibawanya masuk kedalam kamar.
Setibanya di dalam kamar yang sangat indah itu, Yeni langsung senang. Rasa takutnya hilang seketika, melihat barang-barang antik tersusun rapi di kamar tersebut.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*