AraDea

AraDea
Part 85 Rahasia tersembunyi


__ADS_3

"Kamu nggak perlu melakukannya lagi nak. Karena itu perbuatan syirik, Papa nggak mau putri Papa satu-satunya, melakukan perbuatan terkutuk seperti itu."


"Mas! kenapa kau melarang Putri mu, melakukan hal seperti itu. Bukankah selama ini, kami melakukannya! lagian, kau nggak pernah menegur kami kan."


"Sebenarnya sudah lama aku ingin menegur kalian, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan kalian. Kalian tahu, perbuatan kalian itu, adalah sesat dan menyesatkan."


"Menyesatkan gimana maksud Papa?" tanya Ara ingin tahu.


"Orang yang melakukan perbuatan seperti itu, amalnya nggak akan diterima oleh Allah nak. Dia itu sesat, Allah nggak suka ada hambanya yang memuja selain dirinya, itu perbuatan syirik namanya. Menyekutukan Allah, dengan menyembah yang lain selain dia."


"Tapi Ara nggak menyembah, siapa-siapa kok, Pa?"


"Kalau kau nggak menyembah siapa-siapa, lalu siapa yang kau sembah nak?" tanya Bondan ingin tahu.


"Ara menyembah sama, dengan yang Papa sembah."


"Emangnya kau tahu, apa yang Papa sembah selama ini?"


"Papa menyembah Allah kan, Ara juga menyembah Allah. Sama dengan Papa."


"Jika kau menyembah Allah, lalu kenapa kau melakukan semedi dan melaksanakan ritual, di balkon rumah nak?"


Mendengar pertanyaan Bondan, Kemuning dan Ara hanya diam menunduk. Karena tak ada jawaban yang bisa diucapkannya saat itu, selama ini mereka berdua menyembunyikannya dari Bondan.


"Coba kalian jawab pertanyaan Papa, kenapa kalian melakukan hal itu selama ini. Memakan kembang, melaksanakan ritual, melakukan semedi, apa itu nggak perbuatan syirik namanya!"


"Maafkan kami Pa. Tapi ada sesuatu yang harus kami lakukan, yang mungkin selama ini Papa nggak tahu."


"Apa itu sayang?" tanya Bondan ingin tahu.


Di saat Bondan kembali bertanya, Ara tak menjawab. Tapi matanya melirik ke arah Kemuning. Pertanyaan Bondan telah mengusik hatinya, Ara merasa bingung dengan pertanyaan tersebut.


Ketika mata Ara melirik ke arah Kemuning, Kemuning langsung menggelengkan kepala. Agar hal itu, tidak diberitahukan kepada Bondan Papanya.


"Bicaralah sayang, kenapa kalian melakukan ritual pemujaan itu, siapa yang kalian puja nak?"


"Maafkan Ara Pa, Ara nggak bisa memberitahukan hal ini kepada Papa. Karena hal ini, menjadi rahasia di hati Ara Pa."


"Baiklah, kalau Ara nggak mau berterus terang sama Papa, terserah Ara saja. Karena saat ini, Ara sudah dewasa. Ara bisa menimbang dan memilih, mana yang menurut Ara paling baik .Yang penting, Papa sudah menasehati Ara. Jika terjadi sesuatu nantinya, jangan kalian menyalahkan Papa lagi."


Mendengar ancaman dari Bondan, Ara dan Kemuning hanya bisa menundukkan kepala. Rasa takut membuatnya semakin resah. Namun, jika rahasia itu terbongkar, mungkin saja mereka berdua akan keluar dari rumah itu.

__ADS_1


Dengan rasa kecewa, Bondan pun pergi meninggalkan mereka berdua. Perasaan Bondan sangat sakit sekali, karena di antara mereka bertiga, ada rahasia yang tak ingin dibicarakan bersama.


Bondan sebenarnya, sudah lama mengetahui perbuatan keji mereka berdua. Tapi Bondan tak bisa mencegahnya, karena hal itu telah dilakukan oleh Kemuning sebelum Ara lahir ke dunia.


Selain itu, Bondan juga mengalami hal-hal aneh, selama Kemuning hamil dan melahirkan. Bukan berarti Bondan tidak mengetahuinya, namun Bondan tak kuasa untuk mencegah mereka berdua.


Malam itu, Bondan pergi ke rumah kedua orang tuanya. Saat itu Tito, Ayah Bondan sedang menganyam bambu, untuk membuat keranjang kecil.


Karena itulah pekerjaan Tito, selama dia tak mampu lagi menggarap sawahnya. Mesti Bondan dan Kemuning hidup bergelimang harta, namun mereka tak pernah memberi orang tuanya nafkah sama sekali.


Bondan sepertinya telah lupa diri, menikmati harta bersama istri dan anaknya. Tanpa membaginya kepada orang tua mereka.


Ketika Tito melihat Bondan berjalan menuju rumahnya, sebenarnya hati Tito merasa sakit. Karena selama ini, Bondan telah lupa diri dan tak pernah melihat Bapak dan Ibunya lagi. Namun, Tito mencoba untuk bersabar.


"Assalamu'alaikum," ucap pak Bondan, ketika dia hendak memasuki rumah Bapak nya.


"Eh, Le. Mau ke mana kamu?" tanya Tito pada putranya itu.


"Nggak ada Pak. Aku hanya ingin ke sini melihat Bapak dan Ibu."


"Kau masih ingat sama kami nak?"


"Kami kira kau sudah lupa dengan kami sekeluarga."


"Kok Bapak ngomongnya gitu sih."


"Kau ingatkan Bondan, ketika Bapak datang ke rumahmu, meminjam uang untuk berobat ibumu. Kau malah marah dan mengusir Bapak. Begitu juga dengan istrimu Kemuning, kalian kasar dan kejam sama Bapak.


"Bapak serius, Bapak pernah datang ke rumah?" tanya Bondan heran.


"Iya nak, Bapak pernah datang ke rumahmu, menangis meminjam uang untuk berobat Ibumu. Tapi kalian mengusir Bapak seperti binatang.


"Masya Allah Pak, demi Allah, aku nggak pernah melakukan hal itu sama Bapak dan Ibu. Aku bersumpah, aku nggak pernah melakukan hal itu Pak!" tegas Bondan saat itu.


"Kalau bukan kalian berdua, lalu siapa yang telah mengusir Bapak waktu itu?"


"Aku nggak pernah melakukan hal sekeji itu Pak. Aku tahu, harta di rumah itu bukan milikku. Semuanya hasil dari usaha Kemuning. Tapi aku nggak sekejam itu Pak, apalagi terhadap Ibu yang sedang sakit."


"Kemuning maksudmu, harta Kemuning gimana maksudmu?"


"Aku ini hanya pegawai rendahan di kecamatan Pak. Gaji ku nggak seberapa, aku nggak akan sanggup membangun rumah semewah itu dan membeli mobil.

__ADS_1


"Lalu siapa yang membeli rumah dan mobil itu, Bondan."


"Itu penghasilan kemuning Pak," jawab Bondan dengan jujur.


"Penghasilan dari Kemuning, emangnya istrimu kerja apa Bondan?"


"Itu dia Pak, yang selama ini membuat aku bingung."


"Bingung gimana maksudmu, Le?"


"Selama ini, istri dan putriku selalu melakukan pemujaan, di atas balkon rumah. Mereka menari dan membakar kemenyan, menaburkan kembang dan melakukan ritual sesat."


"Kamu serius Le?"


"Iya Pak. Aku serius, aku sudah lama mengetahuinya, tapi aku nggak bisa mencegahnya Pak. Mulutku terasa berat untuk bicara."


"Berarti istrimu, telah bersekutu dengan iblis, Le. Kau harus segera menyadarkannya, kalau tidak, hidupnya akan semakin jauh dari agama dan tersesat nak."


"Jadi aku mesti gimana Pak, aku sudah pernah bertanya kepadanya. Tapi dia nggak mau berterus terang Pak. Mereka berdua, sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu padaku."


"Sekarang bicarakanlah masalah ini dengan Ibumu, siapa tahu Ibumu, punya solusi untuk melepaskan istri dan anakmu dari jeratan iblis ini."


"Baik Pak. Ibu ada di mana sekarang Pak?"


"Ada, di dalam Le. Barangkali dia sedang shalat."


"Baiklah, biar aku menunggu Ibu, di sini saja Pak."


"Ya terserahmu Le," ujar Tito, sembari terus menganyam bambu yang ada di tangannya.


"O iya, Dina ke mana Pak?" tanya Bondan ketika melihat suasana rumah sepi.


"Dina sudah menikah Le."


"Dina menikah, Dina menikah dengan siapa Pak? kenapa aku nggak diberi tahu?"


"Itu dia masalahnya Le. Bapak dan Ibumu sudah berulang kali datang ke rumahmu, tapi selalu saja kalian usir."


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2