AraDea

AraDea
Part 69 Kehilangan Ara


__ADS_3

"Ada tugas untukmu putriku!" ujar raja Dasamuka.


"Aku nggak mau, menjalankan tugas apapun darimu!"


"Ara kau nggak akan bisa membantahku!"


"Kenapa? apa karena kau lebih berkuasa, sehingga aku nggak sanggup membantah ucapanmu?"


"Dasar anak durhaka kau! saat ini kau sudah dewasa, sehingga kau bisa melawan orang tuamu sendiri."


"Emangnya kau siapa, yang bisa mengatur aku seenaknya. Aku Putri Kemuning dan Bondan bukan putrimu!" Teriak Ara dengan suara lantang.


"Apapun yang kau ucapkan, hasilnya tetap sama. Kau adalah putri raja Dasamuka. Tubuhmu berbulu lebat kau memiliki mata yang hitam dan taring yang panjang. Kau selalu haus akan darah kau suka makan daging mentah."


"Nggak! aku nggak mau jadi putrimu, kembalikan aku ke bumi!" bentak Ara.


"Mulai hari ini, kau takkan bisa turun ke bumi. Kau akan tinggal di istana Angkara dan akan menjadi prajurit di kerajaan Angkara ini."


"Nggak aku nggak mau menjadi prajuritmu, kau cari saja orang lain. Aku bukan putrimu!"


"Kau keras kepala Ara, kau pantas mendapat hukuman dariku!"


"Kau kira aku takut dengan hukumanmu. Kau salah Dasamuka, aku nggak takut dengan siapapun, termasuk kau." ujar Ara dengan suara lantang.


Ucapkan Ara, terasa begitu menyakitkan hati raja Dasamuka. Dengan berat hati, dia langsung menyuruh semua prajurit, untuk mengikat Ara dan memasukkannya ke ruang bawah tanah.


Ara pun menjerit dan meronta-ronta, minta dilepaskan ikatan tangan dan kakinya. Yang terbuat dari baja kuat dan sulit untuk dilepas.


Di ruang bawah tanah, Ara menjalani hukuman yang sangat berat. Selain dicambuk, Ara juga digantung dengan posisi tubuh terbalik. Setiap satu jam sekali, Ara diberi daging mentah dan segelas darah segar.


Di saat Ara sedang menjalani hukuman. Kemuning merasa begitu resah, karena Dea datang ke rumahnya, dengan membawa tas milik Ara, yang tertinggal di halaman sekolah.


"Emangnya, Ara ke mana nak?" tanya Kemuning pada Dea.


"Aku nggak tahu Bu, tadi pagi aku melihatnya di taman. Lalu tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Sampai jam pelajaran selesai, Ara tak juga kembali ke sekolah."


"Apakah kau tahu, bersama siapa Ara pergi nak?"


"Nggak tahu Bu, dia tiba-tiba saja menghilang tanpa ada siapa-siapa di sampingnya."


"Ya Tuhan, ke mana kamu Nak?"


"Aku yakin, Ara pergi ke tempat Ayahnya!"


"Maksudnya apa ya? ke rumah Ayahnya yang mana?" tanya Kemuning berpura-pura tak mengetahuinya.


Benar ibu nggak tahu, atau Ibu berpura-pura nggak tahu?"


Saat Dea bertanya seperti itu, Kemuning langsung melihat ke belakang. Siapa tahu, ada Bondan yang sedang menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


Ketika Kemuning tak melihat Bondan ada di dekatnya, lalu dia pun bergegas menarik tangan Dea, untuk menjauh dari tempat itu.


Tetapi ketika Kemuning memegang tangan Dea, tubuhnya terasa bergetar seperti terkena sengatan listrik.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Kemuning ingin tahu.


"Kenapa Ibu menarik tanganku?" tanya Dea heran.


"Aku ingin bicara denganmu, tapi bukan di tempat ini!" ajak Kemuning seraya memegang tangan Dea. Namun ketika tangan Dea dipegang, lagi-lagi Kemuning merasakan tangannya seperti disetrum oleh sengatan listrik.


"Ibu nggak akan bisa memegang tanganku."


"Kenapa?"


"Karena aku melihat, ada kabut hitam yang menutupi aura kecantikan ibu."


"Aura gimana maksudnya nak?" Tanya Kemuning semakin heran.


"Ibu pasti tahu sendiri, jawabannya bukan? apa perlu aku menjawab langsung pertanyaan ibu itu?"


"Baiklah, sekarang ibu berkata jujur padamu. Ara pasti pergi ke Kayangan menemui Ayahnya."


"Ya benar. Aku yakin, Ara pasti ke Kayangan menemui Ayahnya."


"Tapi, kenapa nggak ada kabar berita tentangnya. Jika dia pergi ke Kayangan, pasti dia mengabarkannya kepada Ibu terlebih dahulu."


"Bersabarlah Bu, kalau dia nggak datang biar aku yang akan menemuinya ke sana," jawab Dea.


"Iya, tapi dengan satu catatan. Ibu harus beritahu aku terlebih dahulu, siapa Ara sebenarnya."


Mendengar pertanyaan dari Dea, Kemuning langsung mengajak Dea duduk, di bawah pohon di depan rumahnya.


Ayah Dea berasal dari khayangan. Dia hanya akan datang apabila Ara mengharapkan pertemuan dengan Ayahnya tersebut.


"Jadi, Papa Ara bukan Pak Bondan, Bu?" tanya Dea ingin tahu.


"Iya nak. Papanya Ara adalah raja Dasamuka."


"Ya aku sudah tahu itu. Karena aku juga putri raja Askara dari Nirwana."


"Hah...! kau seorang putri raja juga?"


"Iya Bu, aku juga seorang putri raja. Ibuku bernama Pandan wangi, Ayahku bernama Askara Dan Dia berada di Nirwana di kerajaan Parahyangan."


"Kalau Ibu nggak salah, kerajaan Dasamuka bernama kerajaan Angkara."


"Aku kembali dulu ke rumah. Nanti, kalau Ara tidak kembali, aku akan mencarinya ke Kayangan."


"Tapi bagaimana caranya, Ibu bisa menemui mu nak?"

__ADS_1


"Ibu nggak perlu menemuiku, biar aku yang mencari keberadaan Ara nantinya."


"Apa kau mengetahui, jika Ara tidak pulang nantinya nak?"


"Iya Bu. Ibu nggak perlu cemas, tunggulah di sini. Setelah aku kembali dari kayangan, aku akan mengabarkan kepada Ibu, apa yang terjadi di sana nantinya.


"Baiklah nak. semoga kau berhasil menemui keberadaan Ara, Putri Ibu satu-satunya sayang."


"Iya Bu. kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah Dea pergi, Kemuning hanya bisa menatapnya dari belakang. Perasaan cemas, telah membuat hatinya resah dan gelisah. Di saat itu Bondan pun keluar dan ikut mencemaskan keberadaan Ara, yang hingga sore itu belum juga kembali.


"Gimana ini mas, Putri kita belum juga pulang ke rumah."


"Apa kata temannya tadi, sayang?"


"Ara, katanya hilang secara tiba-tiba. Aku nggak tahu ke mana Ara saat ini."


Karena merasa tak tenang, Bondan langsung mengambil kunci mobilnya dan mengeluarkan mobil itu dari garasi.


"Kau mau ke mana Mas?" tanya Kemuning ingin tahu.


"Aku akan mencari keberadaan Ara!"


"Kau mau cari ke mana Mas?"


"Entahlah. Siapa tahu, ada teman-temannya yang mengetahui keberadaannya atau mungkin guru di sekolah, yang melihat ke mana Ara pergi."


"Tapi Mas, hari sudah sore kita mau cari ke mana?" tanya Kemuning dengan linangan air mata.


"Kamu yang sabar sayang, kita pasti menemukannya nanti."


"Iya Mas," jawab Kemuning pelan.


Setelah Bondan pergi, Kemuning langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia bersemedi, memanggil nama Danu secara berulang-ulang kali.


Sementara itu, Danu yang mendengar panggilan dari Kemuning, dia pun langsung tergerak hatinya untuk turun ke bumi dan menghampiri istrinya tersebut.


"Ada apa sayang, kenapa kau memanggilku?" tanya Dasamuka heran.


"Kau bertanya kepadaku, semestinya aku yang bertanya kepadamu. Mana putriku Ara? yang kau culik dan kau sembunyikan di istanamu.


"Aku nggak ada menculik putrimu, untuk apa aku menculiknya. Nggak ada gunanya kan, karena dia juga putriku sendiri!" ujar Dasamuka berbohong.


"Aku nggak percaya dengan ucapanmu. Dari dulu, kau selalu menginginkan Putri ku, cepat kembalikan dia padaku. Karena dia adalah harta satu-satunya milikku."


"Tapi aku nggak menyembunyikan putrimu, tak ada gunanya Kemuning," jawab Danu terus berbohong.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2