AraDea

AraDea
Part 80 Kembali ke bumi


__ADS_3

"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tanya Dea seraya menyimpan pedang naga miliknya.


Raja Dasamuka tak menjawab. Dia hanya diam saja, tapi bukan berarti dia tak mengizinkan Dea duduk di sampingnya. Tangannya yang kekar, menepuk gundukan batu yang berada di sampingnya. pertanda raja Dasamuka memberi izin kepada Dea.


"Sebenarnya, aku lelah sekali."


"Aku juga," balas Dea.


Seraya senderan di atas tumpukan batu yang begitu banyak, Dea menatap ke ruangan hampa.


"Kamu sedang melihat apa bocah?" tanya Dasamuka ingin tahu.


"Aku sedang menatap masa depanku, yang hampa. Seperti ruangan itu," tunjuk Dea ke arah langit yang kosong.


"Apakah kau tak memiliki masa depan, bocah?"


"Saat ini aku tidak punya masa depan, aku hanya pion, yang ditugaskan untuk membela kerajaan."


"Aku tahu, kau berat menerimanya kan, bocah?"


"Tentu berat. Tapi itu kewajiban, yang harus aku jalankan."


"Apakah kau masih sanggup bertempur, denganku bocah?"


"Apa menurut, pertempuran dapat menyelesaikan masalah?"


"Tentu, masalah selesai jika salah seorang diantara kita mati."


"Itulah beda kau dengan manusia. Manusia berusaha menghindarkan peperangan, agar orang-orang yang dikasihi dan dicintai terlindungi. Mereka tidak kehilangan ayah, ayah tidak kehilangan anak. Ibu tidak kehilangan suami. Mereka saling memikirkan masa depan orang yang dikasihinya."


"Kau pintar bocah, kok gadis yang luar biasa. Jika saja putriku mempunyai jiwa sebaik kamu, tentu dia tidak ku hukum!"


"Apakah putrimu, telah membangkang pada rajanya?"


"Ya. Dia tidak terima, kalau aku adalah Ayahnya!"


"Apakah itu sebab, kau menyiksanya?"


"Iya. Agar dia tahu, dari mana dia berasal dan dari keturunan siapakah dia yang sebenarnya."

__ADS_1


"Aku sangat paham sekali, apa yang dirasakan oleh putrimu, sama dengan yang kurasakan saat ini. Aku juga tidak ingin punya Ayah seorang raja di Nirwana. yang berasal dari bangsa jin. Sama dengan putrimu, dia juga tidak menginginkan seorang Ayah di kerajaan Kayangan yang berasal dari bangsa genderuwo."


"Tapi kau, menerima kenyataannya dengan ikhlas. Kau mengakui raja Askara adalah Ayahmu bukan?"


"Tentu, karena aku adalah bagian dari hidupnya."


"Tidak dengan putriku bocah. Dia tidak terima kalau aku adalah Ayahnya. Seorang genderuwo yang buruk rupa, seperti yang kau katakan. Jangankan marah, tersenyum pun kau tidak mau melihatku."


mendengar perkataan genderuwo itu, hati Dea terasa sedih sekali, di saat itu, Dea langsung memohon maaf kepada Dasamuka.


"Maafkan aku yang mulia, aku telah menghinamu. itu hanyalah kata-kata amarah dariku saat bertempur denganmu. Jika tiba waktunya, kita bersenda gurau dan duduk bersama, kata-kata itu takkan pernah keluar dari mulutku."


"Kau gadis yang baik bocah, tapi kerajaanku dengan kerajaan Ayahmu selalu bertentangan. Selama ini kami menjadi musuh bebuyutan, yang takkan pernah baik untuk selama-lamanya."


"Itu menurutmu Dasamuka! jika kalian melaksanakan musyawarah dan sepakat untuk meniadakan perang, maka perang pun, tak akan pernah terjadi lagi di antara kalian."


"Tidak bocah, parang tetap akan dilakukan. Karena itu adalah perjanjian, antara kerajaan Parahyangan dan kerajaan Angkara."


"Sebenarnya hatiku terasa terhenyuh, ketika melihat begitu banyak korban yang bergelimpangan. Meregang nyawa di medan pertempuran. Tapi aku hanyalah sebagai seorang prajurit, tugasku adalah membela kerajaanku."


"Bocah, kenapa kau menculik putriku, dari penjara bawah tanah?"


Agar aku bersedia melepaskan putrinya, dari penjara dan siksaan yang kau berikan kepadanya."


"Dia itu genderuwo bocah, sampai kapanpun dia akan tetap menjadi genderuwo. Tapi dia tidak terima jika tubuhnya berubah menjadi genderuwo."


"Maafkan aku yang mulia, bukan karena aku ikut campur dengan urusan kerajaanmu. Jika saja kau bersikap tenang dan tidak emosi kepada putrimu, Ara pasti akan menerimanya suatu saat nanti. Dia pasti menerima siapa dia yang sebenarnya."


Ketika Dea bicara, raja Dasamuka hanya diam saja. Dia sadar, kalau seandainya saat itu, dia mampu menghadapi Ara, dengan sedikit tenang dan tak emosi, pasti putrinya akan mau menerima kenyataan. Bahwa dia adalah keturunan genderuwo.


"Kau benar bocah, saat itu aku benar-benar emosi dan aku telah menghukum putriku sendiri, menyiksanya di ruang bawah tanah."


"Datanglah kau ke bumi Paduka raja, akan aku pertemukan kau dengan Ara, bagaimanapun gadis cantik itu tetap Putri."


"Aku lelah bocah, Aku lelah sekali!" ujar Dasamuka seraya berdiri dan meninggalkan Dea sendirian.


Saat genderuwo itu pergi meninggalkannya. Dea juga langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dea kembali ke Nirwana menemui orang tuanya di sana.


Setibanya Dea di alun-alun kerajaan, tubuhnya yang penuh bercak darah langsung dibersihkan oleh dayang istana dan diganti dengan pakaian kebesaran kerajaan.

__ADS_1


Mesti Dea seorang perempuan, tapi tubuhnya sangat kekar. Latihan fisik yang terus dia lakukan setiap saat, membuat tubuhnya mengeluarkan otot.


Di saat Dea memasuki alun-alun istana, puluhan pemuka kerajaan langsung memberi hormat kepada Dea, dengan cara membungkukkan kepalanya. Karena Dea tidak mau, menerima para petinggi kerajaan itu, bersujud di hadapannya.


"Ayolah putriku, antarkan Mama ada Nenekmu ke bumi," ujar Pandan wangi pada putrinya.


"Kenapa begitu keras hati Pandan wangi, di bumi jiwamu sedang terancam, kenapa kau mesti harus ke bumi juga?"


"Karena bumilah, tempat kelahiran hamba yang mulia."


"Tidak bisakah kau bersama denganku, semalam saja ratuku?"


"Maafkan aku yang mulia, datanglah ke bumi jika Yang Mulia menginginkan aku," jawaban Pandan wangi dengan suara lembut.


"Baiklah, sekarang antarkanlah orang tuamu ke bumi putriku!"


"Baik yang mulia, titah yang muliakan segera hamba laksanakan."


Sesuai perintah raja Askara. Dea langsung membawa Mama dan Neneknya ke bumi. Hanya sekejap mata mereka pun tiba di bumi. Dengan dikawal oleh beberapa prajurit kerajaan.


"Wahai prajuritku! mulai hari ini, tugas kalian melindungi rumahku. Agar Mama dan Nenekku aman dan selamat. Jika terjadi sesuatu yang akan membahayakan jiwa mereka, maka cepat kalian bawa mereka ke Nirwana!" perintah Dea pada puluhan prajurit yang mengiringinya.


"Baik yang mulia," jawab seluruh prajurit itu serentak.


Karena mendapat pengawalan dari Nirwana, hati Pandan wangi menjadi sedikit tenang. Karena jika terjadi sesuatu pada dirinya dan ibunya, maka prajurit tersebut akan langsung melindungi dan menyelamatkannya sesuai dengan perintah Dea putrinya.


Setelah Mama dan Neneknya selamat, Dea langsung melakukan semedi, melihat keberadaan Ara yang saat itu berada di rumah Kemuning.


Ilmu penerawangan milik Dea, saat itu sedang tertuju kepada Ara, yang duduk di kamarnya."


"Hm..! ternyata dia baik-baik saja, syukurlah semoga raja Dasamuka tak murka lagi kepadanya."


"Apa yang kau lakukan putriku? tanya Pandan wangi, ketika melihat Dea sedang bersemedi.


"Aku sedang memantau keberadaan Ara, Ma. Tapi setelah kulihat, ternyata dia dalam keadaan baik-baik saja."


"Oh syukurlah putriku, semoga urusanmu dengan raja Dasamuka akan segera berakhir."


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2