AraDea

AraDea
Part 23 Makan kembang


__ADS_3

Mendengar penjelasan Pandan wangi, Pak kades dan yang lainnya hanya bisa diam saja, karena ucapan Tesa tak bisa di jadikan pedoman untuk membantah ucapan Pandan.


“Nah, kalian dengar sendiri kan, kalau suami Pandan bukan makhluk halus, dia itu sama dengan kita semua. Jadi saya harap kalian semua harus bubar, karena tuntutan kalian tak memiliki landasan sama sekali.”


“Huuuu…!” suara riuh warga terdengar dengan jelas sebagai ungkapan kekecewaannya pada Tesa. Mesti demikian hati sebagian dari kaum Bapak merasa sedikit lega, pasalnya Pandan yang sudah bertahun tak keluar dari rumah, sore itu menampakkan dirinya.


Mendengar penjelasan dari Pak kades, sebagian dari mereka langsung membubarkan diri untuk kembali kerumah masing-masing. Selama di perjalanan mereka semua menceritakan Pandan wangi.


“Waah, Pandan masih tampak cantik ya!” ujar Widodo.


“Benar sekali, kecantikan dan wangi tubuhnya tetap semerbak bunga kesturi.”


“Ssst, sadar! Kalian itu udah punya istri dan anak!” ujar Tino.


“Emangnya kalau udah punya istri dan anak kenapa? Nggak boleh memuji wanita lain.”


“Ya jelas nggak boleh! karena istri dan anak mu bisa ngamuk nanti,” jawab Tino pelan.


“Coba saja dulu, kita nggak kejam pada Pandan dan keluarganya, pasti kita bisa memandangi wajah cantik Pandan setiap hari,” ujar Niki setengah berbisik.


“Tapi kan lumayan, hari ini kita bisa melihat wajah cantiknya,” jawab Widodo.


“Iya juga sih, bagi ku, hari ini merupakan hari keberuntungan kita semua.”


“Hahaha…!” semuanya tertawa senang, karena bisa bercerita dengan lepas.


Di saat semua warga mengusik ketenangan keluarga Pandan, bersamaan dengan Itu, keluarga Kemuning sedang menikmati kekayaan yang di berikan Danu kepadanya.


Apa saja yang di minta oleh Kemuning semua selalu tersedia, tanpa harus merengek dulu pada Bondan suaminya. Namun lain dengan Bondan, kekayaan yang selama ini mereka nikmati menjadi beban tersendiri di hatinya.


Mesti Bondan tidak mempertanyakan hal itu pada istrinya, namun Bondan selalu saja merasa tertekan berada di rumah itu. bahkan hampir tiap hari Bondan selalu makan di rumah orang tuanya.


Walau Kemuning tahu, suaminya jarang makan di rumah, namun Kemuning diam saja. Dia tak pernah bertanya pada suaminya, kenapa jarang makan di rumah.


Bukan hanya Bondan yang merasa risih, para tetangga dan warga lainnya pun merasa heran, kenapa kehidupan Kemuning semakin jaya.


Bukan hanya itu saja, di dalam kamar Kemuning bahkan di sediakan sebuah altar untuk pemujaan.


Awalnya Bondan merasa heran, namun dia tak mau bertanya pada istrinya.


Siang itu sewaktu Bondan membeli kembang di rumah mak Rodiah, perempuan tua itu bertanya pada Bondan.


“Mak, perhatikan, semenjak istri mu hamil hingga saat ini, dia nggak pernah berhenti makan kembang, apa istrimu nggak pernah lapar Bondan?”


“Sat ini bukan hanya istri ku sendiri yang makan kembang Mak, putri ku juga makan kembang.”

__ADS_1


“Semenjak kapan putri mu makan kembang, Bondan?”


“Semenjak dia berusia tiga tahun Mak.”


“Berarti, putri mu udah dua tahun lebih dong makan kembang.”


“Benar Mak.”


“Kenapa kamu diam saja Bondan?”


“Aku mau bilang apa lagi Mak.”


“Di tanya dong, kenapa mesti makan kembang, sementara kita manusia itu kan makanannya nasi.”


“Aku udah pernah nanya kok Mak?”


“Lalu apa jawaban putri mu.”


“Katanya makan kembang, dapat membuat pencernaannya menjadi sehat dan lancar.”


“Kamu yakin, kalau makan kembang dapat membuat pencernaan kita menjadi sehat dan lancar?”


“Entahlah Mak, aku nggak tahu.”


“Baik Mak terimakasih,” jawab Bondan seraya meraih kantong yang telah berisi kembang itu dari tangan Mak Rodiah.


Setibanya di rumah, Kemuning langsung mengambil kembang itu dari tangan Bondan. Lalu mereka berdua berebut memakannya, seperti orang yang sedang kelaparan, Bondan hanya memperhatikannya saja dari tempat duduknya.


“Pa, kenapa makanannya sedikit Papa belikan?” tanya Ara pada Papanya.


“Kenapa nak, apakah kembangnya kurang?”


“Iya Pa, Mama terlalu banyak memakannya, Ara hanya disisakan sedikit sama Mama.”


“Kenapa makan kembang sih, sayang? kan ada nasi, yang bikin perut kenyang.”


“Nggak, Ara nggak mau, Papa pelit!” ujar Ara dengan nada kesal.


“Ya udah, nanti Papa ajak Ara ke toko kembang, biar Ara dapat memakan kembang dengan puas di sana.”


“Benar Pa, Papa mau bawa Ara ke toko kembang?”


“Iya sayang,” jawab Bondan seraya mengangguk kan kepalanya.


Hati Ara merasa senang sekali, karena Bondan berencana mau mengajaknya pergi ke toko kembang bersama dengan nya.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Ara pun bersiap-siap untuk ke toko kembang bersama dengan Papanya. Saat itu Ara merasa senang sekali, pasalnya sampai berusia enam tahun, Kemuning belum mengizinkan Ara untuk keluar rumah, mesti bersama Papanya.


“Kau mau kemana nak?” tanya Kemuning ingin tahu.


“Ara mau pergi bersama Papa, Ma.”


“Ah, nggak! kamu nggak boleh kemana-mana nak!” tegas Kemuning pada Ara.


“Kenapa emangnya Ma, lagian Ara kan udah besar, masa pergi ke toko kembang aja nggak boleh.”


“Jangan membantah Ara, mesti bersama dengan Papa mu pun. Mama nggak mengizinkannya.”


“Kenapa Kemuning, kamu nggak bisa gitu dong, kasih izin dia, karena dia hidup di lingkungannya.”


“Nggak kang Mas, aku nggak ngizinin dia kemana-mana.”


“Tentu kamu punya alasannya kan, sayang?”


“Ara nggak boleh bergaul dengan sembarangan orang kang Mas.”


“Maksud mu, sembarangan orang gimana?”


“Kang Mas, tahu sendiri kan, kalau putri kita anak orang kaya, jadi wajarkan kalau dia nggak bisa bergaul dengan sembarang orang.”


“Kau berlebihan Kemuning! Ara hanya pergi bersama dengan Papanya membeli kembang, sebentar lagi kami juga kembali ke rumah ini.”


“Iya, Ma, Ara cuma sebentar kok Ma, nanti Ara akan pulang secepatnya.”


Mendengar permintaan putrinya, akhirnya Kemuning sedikit melemah, dan akhirnya dia pun memberi kesempatan pada Bonda untuk membawa putrinya keluar rumah, untuk membeli kembang.


“Ya udah. Kalau kamu mau keluar rumah Mama akan kasih izin, tapi ingat, kamu harus menutup wajah mu dari mereka semua.”


“Kenapa seperti itu sih, Ma?”


“Agar orang lain nggak melihat wajah cantik mu nduk,” jelas Kemuning sembari memakaikan penutup kepala pada putrinya, sehingga hanya mata Ara saja yang terlihat dari luar.


Lalu Ara di gendong oleh Kemuning memasuki mobil. Sebenarnya Kemuning merasa keberatan sekali melepas putrinya perge keluar rumah bersama suaminya, karena Kemuning takut makhluk yang selalu mengincar Ara akan datang lagi.


Bagi Kemuning Ara adalah harta yang paling berharga sekali, karena Kemuning telah bersumpah pada Raja Dasamuka, untuk melindungi Ara dengan nyawanya sendiri.


Mesti demikian, Kemuning tak bisa bersikap egois pada putrinya itu, sebab suatu saat nanti Ara akan tumbuh sama dengan anak yang lainnya, bermain dan mengenyam pendidikan di sekolah.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2