AraDea

AraDea
Part 45 Penyelidikan


__ADS_3

"Ooo, begitu. Nanti saja Om, aku akan kembali lagi ke sini, karena saat ini aku sedang keburu."


"O, baiklah. Kalau Ara udah bangun, akan Om kabari padanya."


"Makasih Om," jawab Dea.


Ketika Bondan hendak berbalik, tiba-tiba saja Dea menghilang. Karena merasakan sesuatu yang aneh, Bondan pun kembali menoleh keluar, namun dia tidak melihat siapa-siapa di luar.


"Aneh, perasaan anak itu tadi di sini, tapi ke mana perginya ya? nggak mungkin kan dia berjalan terlalu cepat menuju pintu gerbang?"


Merasakan hal aneh, Bondan pun segera menutup pintu rumahnya dan masuk ke dalam kamar Ara, untuk melihat putrinya yang masih tertidur.


Ketika Bondan membuka pintu, dia melihat ada boneka Ara tergeletak di lantai, lalu Bondan memungutnya dan menaruhnya di atas meja.


"Sayang, Kamu nggak sekolah pagi ini?" tanya Bondan seraya mengecup kening putrinya.


"Papa!" ucap Ara sembari menggeliat kan tubuhnya.


"Ayo bangun, tuh lihat hari sudah pagi. Nanti terlambat loh, Bu guru pasti marah pada Ara."


"Mana berani Bu guru marah Pa," jawab Ara polos.


"Kok nggak berani, Bu guru marah sama Ara?"


"Bu guru, takut Pa!"


"Takut kenapa?"


"Takut kalau...!"


"Kalau apa sayang?" tanya Kemuning yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


"Mama!"


"Kamu nggak sekolah, lihat tuh udah siang loh. Nanti terlambat Bu guru mu pasti marah."


"Baiklah, aku akan segera bangun," jawab Ara, seraya meninggalkan tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi.


"Jangan lupa gosok gigi sayang, cuci rambutnya sampai bersih. Kalau nggak ingin dihinggapi oleh kutu!" seru Kemuning dari dalam kamar Ara.


"Baik Ma!"


Sembari menunggu Ara selesai mandi, Kemuning pun mempersiapkan alat sekolah yang akan dibawa Ara nantinya.


"Kamu nggak kerja mas?" tanya Kemuning pada Bondan.


"Kerja sayang," jawab Bondan.


"Kenapa nggak bersiap?"

__ADS_1


"Ntar lagi, kan hari masih pagi sayang."


"Ya udah. Kalau gitu, aku mempersiapkan Ara terlebih dahulu. Nanti kalau dia selesai makan, biar aku yang ngantarnya ke sekolah," ujar Kemuning.


"Baiklah, biar aku mandi dulu."


Setelah Ara selesai mandi, dia pun langsung sarapan dan berangkat ke sekolah, bersama Kemuning. Ketika hendak keluar dari rumah, Dea yang saat itu berada jauh dari rumah Ara telinganya mendengar sesuatu.


" Hmm...! aku mendengar sesuatu!" ujar Dea, seraya menempelkan telinganya ke tanah. "Ada suara mobil," bisik nya pelan.


Ketika mendengar deru mobil semakin menjauh dari Dea, gadis kecil itu langsung berkonsentrasi penuh mengikuti ke mana arah mobil itu pergi. Mata batinnya yang gitu begitu tajam, melihat dengan jelas, mobil itu bergerak menuju ke suatu tempat.


Di saat Dea sedang berkonsentrasi penuh, seorang perempuan datang menghampirinya, yang saat itu Dea sedang duduk di bawah sebatang pohon yang rindang.


"Kamu lagi ngapain nak?" tanya perempuan tua itu, seraya menyentuh tangan Dea.


"Oh Ibu!" jawab Dea dengan tenang.


"Kamu kenapa memegang kening, lagi sakit ya?" tanya perempuan itu sembari duduk di samping Dea.


"Iya Bu, kepalaku sedikit pusing," jawab Dea, seraya menyembunyikan sesuatu pada perempuan itu.


"Kalau kamu sakit, ayo kita ke rumah sakit!" ajak perempuan tua itu.


"Nggak usah Bu, sebentar lagi juga sembuh kok."


"Kok kamu tahu sebentar lagi sembuh, emangnya kamu udah sering sakit kepala?"


"Mana orang tuamu, kenapa dia nggak ada di sini?"


"Mama lagi beli obat Bu, sebentar lagi dia juga datang kok," jawab Dea.


Dengan ilmu yang dimiliki Dea, gadis kecil itu bisa merubah sebatang pohon menjadi seorang perempuan cantik.


"Ini sayang obatnya, cepat diminum biar kepalamu nggak sakit lagi," ujar wanita itu kepada Dea.


"Ibu, Mamanya anak ini?" tanya perempuan tua itu.


"Iya Bu, tadi putri saya sakit kepala, jadi saya membelikan obat untuknya."


"Oh kalau begitu, saya pergi dulu. Tadi saya mengira, kalau Putri Ibu sendirian di sini. Saya kasihan padanya dan saya menemaninya."


"Makasih Bu, atas kebaikannya," jawab wanita itu.


"Sama-sama," jawab perempuan tua itu.


Ketika perempuan itu melangkah dia merasa heran, karena di tempat itu, tak ada warung sama sekali hanya hutan karet yang sudah berumur puluhan tahun.


Lalu perempuan tua itu pun, menoleh ke belakang. ketika dia melihat tak seorangpun yang duduk di bawah pohon itu lagi. Keduanya sudah pergi entah ke mana.

__ADS_1


Sementara perempuan yang mengaku sebagai Mamanya Dea, kembali berubah menjadi sebatang pohon yang tumbuh di dekat Dea duduk. Setelah itu, Dea pun langsung berangkat menuju sekolahnya.


"Kamu kenapa terlambat Dea?" tanya Mela yang sudah menunggu begitu lama.


"Maaf, ada pekerjaan yang belum ku selesaikan tadi."


"Kamu udah selesai membuat PR Dea?"


"Udah Mel, udah aku kerjakan tadi malam."


"Boleh aku melihatnya, soalnya PR ku belum selesai dikerjakan."


"Silakan aja, aku nggak marah kok," jawab Dea.


Sebelum bel sekolah berbunyi, Mela menyalin semua jawaban, dari tugas rumahnya kepada Dea.


Bukan hanya Mela yang menyalin isi jawaban PR Dea, tapi hampir semua anak-anak di kelas itu ikut menyalin jawabannya dari Dea.


Mesti semua anak-anak memanfaatkan kepintaran yang dimiliki Dea. Tapi Dea, tidak marah sama sekali. Dia justru senang bahwa hampir semua anak-anak memanfaatkan kepintaran yang dimiliki nya.


Setelah bel sekolah berdering, seluruh murid-murid langsung masuk ke dalam kelas masing-masing. Diikuti oleh guru matematika.


"Assalamualaikum," ujar Bu Suri menyapa seluruh siswa.


"Waalaikumsalam!" jawab seluruh murid serentak.


"Gimana anak-anak, apa kalian sudah mengerjakan PR?" tanya Bu Suri pada seluruh muridnya.


"Sudah Bu," jawab seluruh murid serentak.


"Kalau sudah selesai, kalian taruh di atas meja Ibu.


Mendengar perintah dari Bu Suri, seluruh murid langsung mengumpulkan tugas rumahnya di atas meja dan mereka pun kembali ke bangku masing-masing.


Satu persatu PR mereka diperiksa, namun Bu suri melihat keanehan dari PR mereka itu. semuanya terlihat sama tak ada yang berbeda sedikitpun dari ke dua puluh orang siswa yang berada di dalam kelas itu.


"Ibu melihat semua PR kalian sama, dari siapa kalian meniru dan siapa mengizinkan kalian mengerjakan tugas bersama-sama di dalam kelas?" tanya Bu Suri ingin tahu.


Di saat pertanyaan itu diajukan kepada seluruh murid, tak seorangpun yang berani menjawab. Mereka semua tampak tutup mulut karena takut Bu Suri akan memarahinya.


Melihat temannya ketakutan Dea langsung angkat bicara.


"Mesti jawabannya sama, kan belum tentu kami mengerjakannya bersama-sama. Bukankah Ibu menginginkan jawaban yang betul apa salahnya jika kami memiliki jawaban yang sama asalkan betul.


"Tapi, ini jawabannya semuanya persis dan sama Dea. Pasti kalian sudah bekerja sama menyelesaikannya.


"Coba Ibu perhatikan baik-baik, jawaban yang telah ditulis oleh seluruh siswa. Pasti nggak sama. Mungkin Ibu kurang teliti, sehingga Ibu nggak memperhatikan di mana kekurangan dan kelebihannya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2