
“Ya udah kalau begitu kita pergi aja yuk, nanti kalau sampai ketahuan pasti panjang urusannya,” jawab Tesa, seraya menarik tangan Tuti untuk menjauhi tempat itu.
Tak ingin kepergok oleh Pandan, Tesa dan Tuti langsung bergegas untuk keluar dari rumah mewah itu.
“Pantasan keluarga mereka tiba-tiba saja mendadak kaya, ternyata Pandan melakukan pesugihan dengan syetan,” ujar Tuti yang merasa tak pernah senang dengan Pandan wangi.
“Ah, kamu jangan bicara seperti itu dulu pada orang-orang, belum tentu kan, Pandan melakukan pesugihan dengan jin.”
“Kenapa belum tentu sih, kamu kan udah lihat sendiri, kalau tadi itu Pandan sedang bicara dengan jin.”
“Ssst…! jangan keras-keras ngomongnya kenapa sih.”
“Kenapa! takut kalau Pandan mendengarnya, kita lihat sendirikan, kalau tadi itu Pandan sedang bicara dengan jin,” ujar Tuti dengan suara lantang.
Mendengar suara Tuti yang kuat dan lantang itu, Edi langsung keluar dari kamarnya, dia datang menghampiri Tesa dan Tuti yang sedang asik membahas masalah Pandan.
“Kalian sedang membahas apa sih?” tanya Edi ingn tahu.
“Membahas masalah Pandan, Bang.”
“Emangnya ada apa dengan Pandan?”
“Abang tahu nggak, ternyata selama ini Pandan dan Ibunya melakukan pesugihan,” jawab Tuti.
“Ah, masa sih?”
“Jadi Abang nggak percaya, kalau perempuan yang Abang sukai itu ternyata bersekutu dengan jin?”
“Ah masa!”
“Kalau Abang nggak percaya, tanya aja pada Tesa.”
“Benar itu Sa?"
“Iya, Bang. Kami lihat sendiri kok, kalau Pandan bicara sendiri tanpa ada orang yang berada di hadapannya.”
“Mungkin kalian nggak melihatnya kali!”
“Ya jelas kami nggak melihatnya Bang, karena saat itu Pandan bicara dengan Jin yang menjadi suaminya.”
“Tapi aku kok nggak percaya ya.”
“Kalau Abang nggak percaya, ya udah. Abang bisa lihat aja sendiri nantinya.”
“Baik, Abang akan lihat sendiri kesana,” jawab Edi seraya melangkah menuju rumah Pandan sendirian.
Melihat suaminya pergi sendirian kerumah Pandan, Tuti merasa sakit hati, dengan cepat di tariknya tangan suaminya yang sedikit telah menjauh.
“Ada apa ni?” tanya Edi pada istrinya.
“Abang mau kemana?”
“Tapi katamu Abang akan melihat sendiri kesana!"
“Enak aja, sejak kapan pula aku ngasih izin Abang pergi kerumah perempuan itu.”
__ADS_1
“Kenapa, kamu cemburu?”
“Nggak level lah ya!”
“Benar nggak level.”
“Apa Abang nggak tahu, kalau Pandan itu bukan level ku.”
“Jelas lah kalau dia itu bukan level mu, karena Pandan lebih baik dari mu,” jawab Edi sembari kembali masuk kedalam.
“Kurang ajar, kau telah melecehkan aku Bang. Kau tarik kembali ucapan mu itu!” bentak Tuti dengan suara lantang.
“Ucapan apa yang mesti ku tarik!”
“Ucapan mu yang membuat aku merasa tersakiti.”
“Aku nggak pernah menyakiti mu.”
“Kau memang nggak pernah menyakiti ku, tapi ucapan mu itu sangat menyakitkan sekali.”
“Kalau kau nggak ingin di sakiti, jangan pernah menyakiti hati orang lain.”
“Kapan aku menyakiti hati orang lain!” jawab Tuti yang terus mengikuti suaminya sampai kedalam kamar.
Sementara itu Nunik yang melihat Papa dan Mamanya selalu bertengkar karena Pandan, dia merasa begitu kesal sekali dengan Mamanya itu.
“Mama! Kenapa sih, selalu bertengkar?”
“Papa mu itu, dia telah menyakiti hati Mama!”
“Kok kamu nyalahin Mama sih!”
“Karena Mama itu memang salah.”
“Maksud mu apa sih, Nik?”
“Mama selalu saja, menuduh Papa menyukai Pandan, padahal Papa nggak pernah berselingkuh dengan perempuan mana pun. Apa lagi kak Pandan.
“Kamu kok jadi membela perempuan ular itu sih nak?”
“Aku nggak membela siapa-siapa Ma, tapi aku tahu, kalau yang salah itu Mama!”
Mendengar ucapan dari putrinya, hati Tuti merasa sakit sekali, karena putrinya bukan membela Mamanya, melainkan membela orang lain.
“Kau ini! nggak Papa, nggak anak sama saja!” bentak Tuti dengan suara kesal.
Mendengar ucapan Mamanya, Nunik hanya diam saja, dia nggak mau menjawab ucapan Mamanya itu, setelah Tuti pergi Nunik pun langsung masuk kedalam kamarnya.
Mesti kesal pada keluarganya, bukan berarti Tuti akan tinggal diam, dia pergi secara diam-diam keluar rumah untuk menghampiri para tetangga yang biasa nongkrong di pondok ronda.
“Eh, ada Bu Tuti, pasti bawa gosip baru nih!” pancing ningsih seraya mengedipkan matanya kearah Nur.
Tuti yang merasa di tunggu oleh tetangga, karena selalu membawa kabar baru, dia merasa senang dan bergegas untuk menghampiri Ningsih dengan berlenggang- lenggok.
“Gimana Ti, ada gossip hangat apa ya hari ini?” tanya Ningsih yang nggak sabaran mendengar informasi dari Tuti.
__ADS_1
“Ya ada dong!” jawab Tuti yang tampak tersenyum manis.
“Emangnya kabar apa yang akan kau sampaikan Ti?” tanya Bu Ida penasaran.
“Eh, Ibu-Ibu ingin tahu nggak, kalau selama ini Pandan Itu uk…uk!”
“Ada apa Ti, kenapa nggak di lanjutkan?” tanya Bu Ida heran.
“Ak…ak…ak!”
Tiba-tiba saja saat itu mulut Tuti terkunci, dia tak bisa membuka mulutnya yang bawel itu, melihat Tuti seperti itu semua tetangga berusaha untuk menolong Tuti yang terlihat seperti orang tercekik sesuatu.
“Kamu kenapa Ti, kok tiba-tiba saja nggak bisa bicara?” tanya Leha heran.
“Kesambet kali!” jawab Nur dengan tenang.
“Ih, kamu ini Nur! Kalau ngomong ya di jaga dikit napa sih!” ujar Ida, seraya memijat punggung Tuti.
“Itu makanya, kalau jadi orang itu jangan suka menceritakan aib orang lain, itu akibatnya, kesambet kan,” jawab Nur pelan.
Di saat Tuti tak bisa bicara, Nur langsung pergi. Nur bukannya pulang kerumahnya, melainkan dia pergi kerumah Tuti. Hal itu sengaja dia lakukan untuk mengabari kejadian itu pada suaminya Edi. Yang saat itu yang sedang membaca majalah di depan rumahnya.
“Assalamu’alaikum, Bang.”
“Wa’alaikum salam. Eh ada Nur, mau cari mpok Tuti?” tanya Edi seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Nggak Bang.”
“Ooo, jadi kamu mau cari siapa?” tanya Edi lagi.
“Aku mau kabari, kalau mpok Tuti sekarang sedang berada di pondok ronda Bang.”
“Ngapain dia disana,Nur?”
“Hmm..!”
“Kenapa diam Nur, pasti mpok mu lagi nyakitin hati orang lain ya?”
“Sebenarnya begitu Bang, tapi.”
“Tapi apa Nur?” tanya Edi ingin tahu.
“Tapi mpok..!” di saat Nur belum selesai bicara, tiba-tiba Ningsih dan Ida datang seraya memapah tubuh Tuti yang tampak lemah sekali. Ningsih dan Ida terlihat begitu cemas ketika mengantar Tuti pulang kerumahnya.
“Ada apa ini?” tanya Edi ingin tahu.
“Istrimu nggak bisa bicara, Di,” jawab Ningsih pelan.
“Kenapa dia nggak bisa bicara, Sih?”
“Kami nggak tahu, tiba-tiba saja dia nggak bisa bicara ketika dia hendak membahas masalah Pandan ke kami.”
“Aku udah yakin, pasti itu masalahnya,” jawab Edi sembari menarik tangan Tuti untuk masuk kedalam rumahnya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*