
Mama terlambat, tadi di mobil Ara telah memperlihatkan kekuatannya kepadaku dan aku membalasnya. Ara menatapku dengan menggunakan ilmu batinnya, kalau nggak aku balas, maka mata ku akan hancur Ma."
"Berarti, kekuatanmu telah diketahui oleh Ara, putri raja Dasamuka tersebut."
"Sepertinya begitu Ma."
" Wah kacau, berarti kau dalam bahaya nak."
"Mama yang sabar, tenang Ma. Tak ada yang berada dalam bahaya, semuanya baik-baik saja kok."
"Gimana Mama bisa tenang nak, kalau kondisimu dalam bahaya."
"Mama nggak perlu cemas. Aku sanggup kok mengatasinya."
"Dea, Dea! kau selalu menganggap semuanya biasa-biasa saja. Mama sangat khawatir sekali denganmu.
Melihat Pandan wangi sedih, Dea hanya diam saja. Dea begitu mengerti perasaan Mamanya itu.
Seperti hari-hari biasanya, Ara melakukan ritual pemujaan di altar miliknya. Malam itu, boneka darah miliknya kembali beraksi mencari mangsa.
Mangsa yang dituju adalah Dea, gadis yang telah membuat Ara sakit hati. Awal mulanya, boneka itu bergerak mengitari rumah Dea. Namun lama-kelamaan, boneka itu menyusup masuk lewat terali rumah.
Pertama sekali, boneka itu menyasar kamar Dea. Berulang kali boneka itu, mengitari ruang kamar tersebut. Namun boneka itu selalu gagal dan berulang kali pula dia terjatuh.
Lalu, boneka itu berusaha mengetuk pintu kamar Dea dari luar. Saat itu Dea merasakan sesuatu yang ganjil. Karena selama ini, setiap kali Mama, Papa dan Neneknya masuk kamar, mereka tak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu. Bahkan mereka bertiga langsung masuk ke dalam.
"Siapa di luar?" tanya Dea ingin tahu.
Mesti suara Dea terdengar segitu jelas dan lantang, namun tak ada jawaban sama sekali dari luar. Dea pun memusatkan pikirannya, di saat itu dia melihat boneka darah ada di depan pintu kamarnya."
"Hmm..! ada yang ingin mencariku ternyata," ujar Dea sembari membuka pintu kamarnya.
Di saat pintu itu terbuka. Bonek darah milik Ara langsung masuk dan menyerang Dea. Tak sekalipun boneka itu memberi kesempatan pada Dea, untuk membalas ataupun mengelakkan serangan darinya.
Mesti Dea kuat, namun dia tampak kewalahan menghadapi boneka tersebut. Boneka itu, berulang kali berusaha menggigit leher Dea.
"Kurang ajar! kau ingin membunuhku," jawab Dea seraya membanting boneka itu ke lantai.
Saat boneka itu terjatuh, Dea berencana untuk menginjaknya. Namun boneka itu lebih cepat dari yang dibayangkan oleh Dea. Boneka itu, berusaha untuk menggigit kaki Dea. Beruntung gadis itu dengan cepat menghindar dan boneka itu terpental keluar.
__ADS_1
"Celaka, boneka itu bisa mengancam Mama dan Nenek," ujar Dea, seraya berlari ke pintu.
Benar saja dugaan Dea, boneka yang tadinya berhasrat penuh untuk menggigitnya, ternyata menghilang. Dea berusaha mencari keberadaannya, lalu Dea bergegas menuju kamar Mamanya.
Dugaan Dea tak salah, boneka itu memang sedang menyasar Mamanya yang sedang melaksanakan salat. Dari balik pintu, Dea terus memperhatikan boneka itu. Yang terus terpental, ketika dia hendak menyentuh Pandan wangi.
"Ternyata boneka itu, takut mendengar ayat suci Alquran. Baiklah," ujar Dea seraya bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Seraya membawa kitab suci Alquran, Dea mulai duduk dengan sopan di ruang tengah. Tanpa berpikir panjang, gadis kecil itu, langsung membaca surat Al-ikhlas, Al Falaq dan An-nas serta ayat Kursi secara bergantian.
Ketika ayat itu dibacakan oleh Dea, boneka itupun tampak menjauh dan keluar dari balik terali jendela ruangan tamu.
"Ada apa sayang? tadi Mama mendengar erangan seseorang, dekat telinga Mama?" tanya Pandan wangi heran.
"Ada boneka yang dikirim oleh seseorang, untuk menghisap darah kita," jawab Dea dengan tenang.
"Boneka! siapa yang telah mengirimnya sayang?"
"Entahlah Ma, tapi aku yakin, boneka tersebut pernah kulihat di dalam mimpi waktu itu."
"Kalau memang boneka itu adalah kiriman seseorang, berarti ada yang menyuruhnya sayang."
"Tentu Ma, aku yakin seseorang telah menyuruhnya dan itu adalah putri dari raja Dasamuka. Karena pagi itu, aku bertemu dengannya."
"Tadi, ketika kami sedang adu kekuatan, aku melihat mata Ara berwarna hitam legam dan dari kedua sisi mulutnya mengeluarkan taring yang cukup panjang."
"Benarkah itu sayang?"
"Benar Ma, aku melihatnya sendiri. Ara mengira aku takut melihat wajahnya itu, padahal aku sudah tahu siapa dia sebenarnya."
"Udahlah sayang, sebaiknya kita tidur saja. Karena hari sudah malam, besok kita akan pergi mendaftar di sekolah barumu."
"Baik ma," jawab Dea seraya kembali ke kamarnya.
"Setibanya dia di dalam kamar, Dea bukannya tidur, dia justru melakukan latihan fisik sendirian. Latihan itu sengaja dia lakukan, untuk terus mengasah kekuatan yang dia miliki.
Di saat dia terus berlatih, lalu tiba-tiba saja Dea mendengar suara bisikan gaib di telinganya.
Datanglah ke Nirwana sayang, ada yang mesti kita bahas!" bisik Askara di telinga putrinya.
__ADS_1
"Baik paduka raja, saya akan segala ke sana," jawab Dea seraya mengucapkan sesuatu, hingga akhirnya dia menghilang.
Setibanya di Nirwana, Dea langsung menghadap pada junjungannya, prabu Askara. Yang saat itu sedang duduk di singgasana kerajaan.
"Ampun yang mulia raja, saya datang agak terlambat, mohon maaf karena saya," ucap Dea seraya bersimpuh di hadapan Papanya.
"Putriku, Dea Chandra Maya. Hari ini, aku akan menempa tubuhmu menjadi seorang gadis dewasa. Karena sebentar lagi, perang besar-besaran akan terjadi di jagat raya ini.
"Baik yang mulia, apapun yang mulia titahkan kepada saya, saya akan menerimanya dengan senang hati.
"Sekarang masuklah kamu ke dalam ruang pembersihan. Bersihkan tubuhmu dengan air kembang tujuh rupa yang berasal dari tujuh taman bunga yang ada di alam semesta, serta air sumur yang berasal dari tujuh sumur keramat di bumi.
"Baik paduka raja, saya segera menuju ruangan tersebut.
Lalu beberapa orang Dayang, membawa Dea ke sebuah ruangan yang sangat bersih. Di sanalah Dea dimandikan oleh sepuluh orang dayang yang sangat cantik.
Dea dibersihkan, dengan air kembang yang sangat wangi. Setelah itu, Dea disuruh menunggu di sebuah kamar yang suhunya lebih panas dari kamar yang lain.
"Duduklah di sini. Sebentar lagi, yang mulia raja Askara akan segera datang.
"Baik, terima kasih."
"Sama-sama," jawab dayang cantik itu, seraya meninggalkan Dea sendirian.
Tak berapa lama kemudian, Askara pun muncul di tempat Dea berada.
"Putriku Dea chandra maya, hari ini aku melakukan penempaan pada tubuhmu. tapi penempaan itu hanya berlaku di Nirwana saja. jika kau kembali ke bumi, maka tubuhmu akan kembali seperti semula."
"Baik yang mulia, lakukanlah apa yang mulia inginkan," jawab Dea dengan tenang.
Lalu, raja Askara, mengambil satu timba air yang telah berisi kembang yang sangat wangi. Dengan membaca mantra, kembang itu langsung disiramkan ke kepala Dea.
Gadis cantik itu tampak menutup kedua matanya, ketika air kembang telah membasahi sebagian wajahnya.
Sekarang bersiap-siaplah, aku akan melakukan sesuatu padamu."
"Baik yang mulia," jawab Dea dengan tenang.
Kemudian mereka berdua duduk saling berhadapan. Kedua telapak tangan raja Askara menyatu dengan kedua telapak tangan Dea.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*