AraDea

AraDea
Part 50 Gagal mendapat tumbal darah


__ADS_3

Dalam masa penempaan itu, tampak dengan jelas sedikit demi sedikit tubuh Dea menjadi besar. Perubahan itu jelas terlihat oleh banyak dayang istana.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun selesai melakukan penempaan diri. Tanpa disadari oleh Dea sama sekali. Kalau tubuhnya sudah berubah menjadi seorang gadis remaja.


"Nah, sekarang buka matamu putriku. saat ini tubuhmu telah menjadi gadis remaja," jelas prabu Askara pada Putri tunggalnya itu.


Lalu dengan pelan, Dea membuka kelopak matanya. Benar saja apa yang dikatakan oleh Papanya, kalau saat itu tubuhnya telah berubah menjadi remaja.


"Wow, aku telah berubah!" teriak Dea seraya melompat-lompat kegirangan.


Dengan senang hati, Dea langsung memeluk raja Askara yang tak lain adalah Papanya sendiri. Dea terlihat senang, karena perubahan tubuhnya saat itu telah menjadi gadis remaja.


Hal itu, hanya berlaku di kerajaan Nirwana saja, putriku. Ketika kau kembali ke bumi, tubuhmu akan kembali seperti semula. Satu hal lagi, Mamamu tak perlu tahu tentang hal ini.


"Baik yang mulia raja, saya akan merahasiakan hal ini pada Mama."


Setelah penempaan selesai, raja Askara dan putrinya Dea Candra Maya kembali ke singgasana kerajaan. Kehadiran mereka berdua, disambut meriah oleh para petinggi kerajaan Parahyangan.


Begitu juga dengan seluruh prajurit perang Parahyangan. Mereka bersorak-sorai menyambut jenderal perang mereka, yang cantik dan tangguh.


Di saat kebahagiaan mewarnai Dea Chandra Maya, raja Askara, langsung memerintahkan putrinya itu untuk kembali ke bumi.


"Kembalilah kau ke bumi putriku, tetaplah berlaku seperti biasa. Karena dua hari lagi kau akan kembali ke medan perang."


"Baik yang mulia raja, saya akan kembali ke bumi. Tapi izinkan saya untuk memberitahukan sesuatu hal kepada yang mulia raja."


"Tentang apa itu, putriku?"


"Selama berada di bumi, saya sudah mencari keberadaan Putri raja Dasamuka dan saya sudah mengenalnya. Ternyata Putri raja Dasamuka, mencari kekuatan dengan menghisap darah manusia. Semua itu dia lakukan lewat boneka suruhannya."


"Apakah kamu tahu, kapan ritual pemujaan itu dia lakukan?"


"Setiap malam bulan purnama yang mulia raja."


"Baiklah, mulai besok, kau tetap selidiki apa saja yang telah dilakukan oleh putri raja Dasamuka tersebut di bumi."


"Baik yang mulia raja, titah yang mulia akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya."

__ADS_1


"Segeralah kau kembali ke bumi!"


"Baik yang mulia," jawab Dea, seraya mohon pamit untuk undur diri.


Hanya sekejap mata, Dea sudah kembali ke rumahnya. Tubuhnya yang tadinya berubah menjadi gadis remaja, saat itu kembali menjadi seorang gadis kecil, kesayangan Pandan wangi.


Rasa senangnya malam itu, tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Dengan tenang dia mulai memejamkan matanya, menanti hari esok yang akan datang menjemputnya.


"Dea, apakah kau sudah tidur sayang?" tanya Pandan wangi dari luar kamarnya.


"Segera, Ma."


"Jangan lupa baca do'a, agar tidurmu terlindungi dari mimpi buruk."


"Baik Ma, terima kasih atas sarannya."


Seperti perintah Pandan wangi, Dea pun langsung memejamkan matanya. Niatnya untuk pindah ke sekolah baru telah direncanakannya dan esok pagi akan segera terwujud.


Sementara itu, boneka darah milik Ara, yang malam itu tidak menemukan targetnya, kembali ke rumah dalam keadaan lemah. Ara yang saat itu masih melakukan ritual di dalam kamar gaibnya, terkejut melihat bonekanya tergeletak lemah di atas lantai.


"Oh celaka, siapa gadis itu sebenarnya? kenapa bonekaku tak sanggup menghisap darahnya?"


"Pergilah! cari mangsa yang lain, aku butuh darah malam ini. Kalau kau tidak mendapatkan sasaranmu, aku akan kehilangan kekuatan."


Sesuai perintah majikannya, boneka itu langsung keluar mencari sasaran berikutnya, untuk mendapatkan tumbal darah. Agar majikannya tetap selamat.


Ketika boneka itu keluar dari kamar Ara, Dea kembali mengalami mimpi buruk. Dea melihat jelas boneka itu bergerak menuju ke suatu tempat. Saat itulah, Dea menggunakan kekuatannya untuk menghalangi boneka itu mencari korban berikutnya.


Ketika boneka itu hendak menggigit mangsanya, lalu Dea datang, dengan kekuatan gaibnya. Dea mencoba mengusir boneka itu, agar tidak menggigit seorang bayi, yang saat itu sedang tidur di dalam ayunan.


"Hiaaat...!" tiba-tiba saja tendangan kaki Dea, telah membuat boneka itu terlempar dari hadapan bayi tersebut.


Namun boneka itu, tetap berusaha untuk menggigit bayi tersebut.


"Aku nggak akan membiarkanmu mendapatkan korban malam ini, enyah kau boneka terkutuk! pergilah dari hadapan bayi ini. Kalau tidak, akan kubuat kau menderita!" ancam Dea pada boneka tersebut.


Merasa mendapat tantangan dari Dea, boneka itu langsung bicara.

__ADS_1


"Kau selalu saja menghalangi kerjaku, akan ku laporkan kejadian ini pada raja Dasamuka,"ujar boneka itu dengan suara bergetar.


"Hmm...! ternyata raja dasamuka lah yang telah memerintahkanmu!"


"Itu bukan urusanmu," jawab boneka tersebut.


"Itu urusanku, karena setiap yang kau lakukan di bumi ini dan melanggar aturan yang ada, maka akan kupastikan kau kembali ke asalmu dalam keadaan menderita."


"Kau kira aku takut dengan ancamanmu! kau harus tahu, kalau aku adalah prajurit pilihan, dari Angkara dan tak sembarang orang yang bisa melenyapkan aku, termasuk kau!"


"Aku tahu kau hebat dan kau adalah prajurit pilihan dari raja Dasamuka. Namun kau harus tahu, bumi adalah tempat kelahiranku. Jika kau merusak tatanannya aku akan menghancurkanmu dan mengirim jasadmu ke Angkara."


"Hahaha...! siapa kau anak kecil, yang mencoba untuk mengancamku?"


"Kau nggak perlu tahu siapa aku. Sekarang pergilah, kembali kau ke tuanmu atau akan kupatahkan lehermu!" bentak Dea dengan suara keras.


Mesti mendapat ancaman dari Dea. Namun boneka itu tidak gentar sama sekali, dia tetap berusaha untuk menghisap darah bayi tersebut. Tapi Dea tak pernah tinggal diam. Niat jahat yang terselubung dari pemilik boneka itu, akan dibasmi oleh Dea.


Merasa tak mendapat apa yang dia inginkan, boneka itu pun langsung keluar dan mencari sasaran berikutnya. Lagi-lagi Dea datang untuk menghalanginya. Sehingga boneka itu, gagal mendapatkan tumbal darah malam itu.


"Ara yang melakukan semedi di altar pemujaannya, dia menangis histeris dan mengadukan semua itu kepada Ayahanda nya, raja Dasamuka di kerajaan Angkara.


"Ayah bantu aku, ada seorang gadis kecil yang selalu menghalangi niatku untuk mencari tumbal."


"Siapa dia putriku?" tanya Dasamuka ingin tahu.


"Aku tak mengenalnya Ayah, tapi gadis itu selalu saja menghalangi niatku untuk mencari tumbal."


"Apa yang dia lakukan, sehingga kau gagal mencari tumbal?"


"Dia berusaha menghalang-halangi bonekaku, dalam mencari darah manusia."


"Kalau begitu carilah darah dari tempat yang cukup jauh, dari rumah gadis itu. agar dia tidak bisa mengirimkan ilmu kekuatannya untuk menghalangi bonekamu.


"Tidak yang mulia, sejauh apapun bonekaku pergi, dia tetap menghalanginya dengan menggunakan ilmu kebatinan yang dia miliki."


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2