AraDea

AraDea
Part 118 Hukuman yang di jatuhkan Raja


__ADS_3

Mesti demikian, Dea merasa puas. Karena telah menolong mereka, hingga selamat sampai ke istana Parahyangan. Kedatangan Dea dan seluruh tawanan kerajaan Buana, disambut baik oleh seluruh anggota kerajaan termasuk raja Askara dan para menteri-menterinya yang lain.


Mereka semua dijamu dengan makanan dan mendapat perawatan yang khusus dari kerajaan.


Hati Dea sangat senang saat itu, karena para penduduk yang telah kembali dari kerajaan Buana, mendapatkan perawatan yang maksimal di kerajaan Parahyangan.


Setelah mereka beristirahat dengan cukup, lalu Raja Askara, keluar untuk melihat kondisi mereka semua.


"Wahai prajuritku, kenapa kalian keluar dari kawasan istana secara diam-diam?"


"Ampunkan kami yang mulia, Raja Buana telah merayu kami, dengan memberikan kami hadiah sebidang tanah dan harta yang cukup. Sehingga kami terpengaruh, oleh rayuannya itu."


"Lalu setelah kalian sampai ke kerajaan Buana, apa yang telah kalian dapat selama di sana?"


"kami tidak mendapatkan apa-apa yang mulia, kami dikurung di dalam sebuah aula yang gelap."


"Setelah kalian dikurung apa tugas yang diberikan Raja Buana kepada kalian?"


"Kami disuruh menyembah Raja Buana, menyediakan sesajen dan melakukan ritual."


"lalu, selain itu apalagi tugas yang diberikan Raja Buana kepada kalian?"


"Tidak ada yang mulia, kami hanya dikurung dan tidak boleh keluar."


"Apakah sebidang tanah dan harta yang cukup, yang pernah dijanjikan oleh Raja Buana telah kalian dapat?"


"Tidak yang mulia, Raja Buana hanya mengiming-imingi saja, sementara dia tidak memberikan harta dan tanah itu kepada kami."


"Jelas bukan, siapa yang telah menipu kalian?"


"Jelas yang mulia, Raja Buana telah menipu kami semua."


"Aku heran, kenapa kalian terpedaya oleh bujukan Raja Buana tersebut. Bukankah selama di sini, kalian hidup tenang berkecukupan dan tidak merasa kekurangan sama sekali."


"Benar yang mulia, maafkan kami."


"Coba kalian katakan, alasan apa yang telah membuat kalian ingin pindah ke kerajaan Buana."


"Di sana, Raja Buana menjanjikan kami sebidang tanah dan harta yang cukup, untuk mengolah kebun dan hidup dengan layak."

__ADS_1


"Bukankah di sini, kalian juga mendapatkan sebidang tanah. Makanan yang lengkap dan harta yang cukup. Lalu kenapa kalian begitu berambisi, ingin pindah ke kerajaan Buana?"


Mendengar ucapan raja Askara, seluruh rakyat hanya diam tertunduk. Ingin sekali mereka membuka rahasia para menteri, namun dia tak berani. Karena takut, akan ancaman yang datang kepada keluarganya.


Di saat semuanya diam, Dea yang berdiri di sudut tiang istana, langsung bergerak menghampiri Raja Askara.


"Aku tahu, apa alasan mereka pindah ke kerajaan Buana!"


"Apa putriku?" tanya Raja Askara ingin tahu.


"Karena para menteri, yang ada di kerajaan Parahyangan ini, mereka telah merebut tanah rakyat dan memungut pajak yang begitu tinggi kepada rakyat Parahyangan. Itu sebabnya, rakyat dan prajurit Parahyangan termakan oleh bujuk rayu raja Buana."


"Apa maksudmu, putriku?"


"Pejabat yang selama ini berada di sekeliling Papa, mereka itu tugasnya hanya menindas rakyat. Mereka memungut pajak yang besar, merebut harta rakyat. Begitu juga dengan hasil panen mereka."


"Mendengar penjelasan Dea, raja Askara langsung terperanjat. Dia terkejut alang kepalang. Tak disangka sama sekali, para menteri, ternyata telah menikungnya dari belakang.


"Benarkah, apa yang telah kau katakan itu putriku?"


"Ampunkan hamba yang mulia, tak mungkin kan hamba berbohong kepada yang mulia."


Mendengar jawaban Dea, Raja Askara langsung naik darah. Wajahnya tampak memerah. Dia berjalan tergesa-gesa, menuju singgasana dan mengumumkan, agar seluruh menteri dan pejabat tinggi kerajaan berkumpul di ruang rapat.


Mendengar pertanyaan raja Askara, semua para petinggi dan para menteri hanya bisa diam tertunduk. Mereka tak sanggup mengangkat kepala dan bicara jujur kepada sang raja. Atas apa yang telah mereka lakukan, di belakang rajanya sendiri.


"Angkat kepala kalian, bicara terus terang dan jangan berbelit-belit!" bentak raja Askara, seraya menampar meja yang ada di hadapannya.


"Ampunkan hamba yang mulia," jawab Dupa yang saat itu menjabat sebagai penasehat kerajaan.


"Dupa, tolong kau jelaskan kepadaku, apa yang telah dilakukan oleh para menteri terhadap rakyatku, yang tak berdaya di luar sana."


"Para pejabat dan para menteri mereka melakukan penindasan, terhadap rakyat Parahyangan, tampa sepengetahuan yang mulia raja. Mereka juga memungut pajak terlalu tinggi, merampas hasil panen rakyat, hasil ternak dan harta benda."


"Hah benarkah itu?"


"Iya, yang Mulia raja."


"Lalu apa tindakanmu, sebagai penasihat Raja, Dupa?"

__ADS_1


"Saat ini, aku telah memecat dua puluh pejabat sepuluh para menteri. Mereka sekarang menjadi seorang prajurit, untuk membela kerajaan Parahyangan."


"Tidak Dupa, mereka tak boleh menjadi seorang prajurit. Beri hukum pancung pada mereka, agar perbuatan mereka menjadi pelajaran bagi yang lainnya."


Mendengar hukuman, yang akan dijatuhkan kepada para menteri dan pejabat kerajaan, maka banyak di antara mereka yang membuat petisi. Agar yang mulia Raja mau mengampuni mereka."


"Ampunkan kami yang mulia, ampunkan kami yang mulia, ampunkan kami yang mulia," ujar para menteri dan pejabat tinggi kerajaan.


"Sekarang kalian baru minta ampun, selama ini kalian salah gunakan wewenang yang kuberikan. Kalian pejabat korup, tak pantas menjadi rakyat Parahyangan. Enyah kalian dari kerajaanku, jangan pernah mengabdi lagi di sini, hingga akhir hayat kalian."


Mendengar ucapan raja Askara, semua menteri yang telah turun pangkatnya menjadi prajurit, hanya bisa menangis. mereka menyesali seluruh perbuatannya di masa lalu.


Setelah rapat selesai, lalu mereka semua mendatangi Dea di ruang latihan, kerajaan Parahyangan.


"Tolong kami yang mulia, tolonglah kami yang mulia," ujar beberapa orang menteri dan para pejabat lainnya.


"Tolong, tolong apa?"


"Tolong kami yang mulia, raja mengusir kami dari istana. Dia tidak mau menerima petisi kami, apa yang mesti kami lakukan yang mulia."


"Kalau Raja telah membuat keputusan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah hal ini telah kau pikirkan sebelum melakukannya?"


"Kami khilaf yang mulia, kami lalai dan kami juga serakah. Tolonglah bantu kami, agar kami, tetap bertahan di kerajaan ini yang mulia."


"Bertahan, sebagai apa?"


"Terserah yang Mulia, yang penting kami diberi kesempatan untuk tetap tinggal di istana ini. Karena di luaran sana, kami tak sanggup tinggal bersama yang lainnya yang mulia."


"Maksudmu, kalian nggak sanggup bergabung dengan rakyat, di luar sana?"


"Iya yang Mulia, kami tidak terbiasa hidup menyatu dengan mereka. Apalagi putra-putri kami, dia tak biasa hidup miskin dan susah."


"Ooo, begitu ya. Putra-putri kalian, ternyata tak biasa hidup susah. Lalu bagaimana dengan rakyat, yang selama ini kalian buat hidupnya menderita?"


"Itu semua karena kelalaian kami, yang mulia. Itu sebabnya kami minta maaf. Izinkanlah, kami tinggal di istana ini, meskipun kami mendapat tugas yang lain."


"Baiklah, akan aku pertimbangkan nantinya. Sekarang kalian bubar dan kembali ke rumah kalian masing-masing."


"Baik yang mulia," jawab mereka serentak.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2