
Sejak saat itu, kepala sekolah begitu menyayangi Dea. Jika terjadi sesuatu di sekolah, pasti Dea selalu dipanggil.
Hal itulah yang membuat Ara, merasa sakit hati. Ara tak terima diperlakukan seperti itu.
Dua bulan setelah kejadian itu, Ara memerintahkan boneka darahnya, untuk menghabisi kepala sekolah, yang menurutnya bersikap tidak adil. memperlakukan antara dirinya dan Dea.
"Pergilah! habisi perempuan yang bernama, Juliana."
"Baik yang mulia Ratu, perintah akan segera saya laksanakan!" ujar makhluk yang bersemayam di dalam boneka darah milik Ara.
Setelah memerintahkan bonekanya untuk mencari mangsa, Ara pun masuk ke dalam kamarnya. Di dalam altar gaibnya, Ara mulai bersemedi. Dia melakukan pemujaan dan membaca mantra.
Sementara itu di luar kamarnya, Bondan telah menyediakan kembang yang biasa dipergunakan Ara untuk melakukan pemujaan.
Tidak menunggu lama, boneka darah itu pun kembali dan menghampiri Ara, serta menyuguhkan darah segar ke mulut tuannya.
"Hm..! segarnya. Rasain kamu, Juliana. Kau selalu saja membuat aku susah dan tersingkirkan di sekolah itu," gumam Ara dengan suara pelan.
Setelah selesai melakukan semedi, lalu Ara keluar dari kamarnya dengan berpakaian ala sinden. Seperti yang dilakukannya setiap malam purnama.
Mesti Bondan mengetahui, kalau perbuatan istri dan putrinya itu bertentangan dengan syariat Islam. Tapi Bondan tak kuasa untuk mencegahnya.
Padahal, begitu berat beban yang sedang ditanggung Bondan saat itu. Mesti dia sudah berulang kali menasehati istri dan putrinya, namun istri dan putrinya tetap pada pendirian mereka. Memuja dan melakukan penyembahan kepada jin.
Di tempat Bondan tinggal, orang mengira mereka selalu hidup rukun dan damai. Karena selama berada di rumah itu, tak sekalipun masyarakat mendengar keributan dan pertengkaran di antara mereka.
Itu semua sengaja dilakukan Bondan. Agar tak seorangpun masyarakat yang tahu, aktivitas apa yang dilakukan oleh istri dan Putri satu-satunya itu.
Selama ini, masyarakat selalu beranggapan, bahwa keluarga Bondan hidup rukun dan damai.
Suatu ketika, saat Kemuning bersama putrinya melakukan ritual pemujaan di atas balkon rumah mereka. Tak sengaja, Agus pemuda Desa itu, sedang melintas di depan rumah Bondan.
Sayup-sayup Agus mendengar suara iringan gamelan Jawa, mengalun dengan indah. Rasa penasaran Agus tiba-tiba saja muncul. Dengan mengendap-endap, Agus mencoba memperhatikan ke atas balkon rumah Bondan.
Agus tak melihat siapa-siapa di atas balkon tersebut. Namun, Agus melihat cahaya yang terang muncul di dari atas balkon itu.
"Cahaya apa itu, kenapa begitu terang ya?" tanya Agus pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tak cukup sampai di situ, Agus merasakan satu keganjilan dengan cahaya lampu yang berada di atas balkon tersebut. Dia mencoba untuk memanjat sebatang pohon yang ada di sekitar rumah Bondan.
Tak sampai memanjat terlalu tinggi, tiba-tiba saja kaki Agus ditarik dari bawah. Saat itu Agus merasakan sesuatu yang aneh, sedang menarik kakinya. Karena di bagian depan pergelangan kakinya terdapat beberapa tusukan seperti kuku yang panjang.
Saat Agus melihat ke bawah, dia begitu terkejut. Karena tak disangka sama sekali, ada makhluk yang sangat mengerikan menarik kakinya dari arah bawah.
Agus kaget, dia pun menjerit histeris, hingga terjatuh ke bawah tak sadarkan diri.
Lama Agus tak sadarkan diri. Namun ketika dia sadar, Agus melihat, beberapa makhluk yang mengerikan itu telah berada di dekatnya. Salah satu diantara mereka bertanya pada Agus.
"Apa yang telah kau lihat!"
"Maksudnya apa?" tanya Agus heran.
Makhluk itu pun kembali bertanya kepada Agus, tentang pertanyaan yang sama.
"Apa yang telah kau lihat!"
"Aku nggak melihat apa-apa," jawab Agus dengan jujur.
"Sumpah, aku nggak melihat apa-apa. Aku hanya melihat cahaya terang di atas balkon itu!"
"Bohong! kau pasti telah melihat sesuatu?"
"Sungguh, aku nggak bohong. Aku benar-benar tak melihat apa-apa!"
"Kejujuran Agus saat itu, tak dipedulikan oleh makhluk tersebut. Dia terus mengancam Agus, dengan mencekiknya. Agus tak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya terasa begitu berat sekali, ketika makhluk mengerikan itu berada di dekatnya.
Bau busuk dan amis dari aroma tubuh makhluk itu, membuat Agus merasa sesak dan sulit untuk bernapas.
Ingin rasanya Agus berteriak, untuk minta tolong kepada warga. Namun suaranya tak bisa dikeluarkan.
Karena makhluk itu, tak yakin kalau Agus berkata jujur, lalu Agus pun dibunuh dan tubuhnya digantung di pohon besar tersebut.
Pagi hari, ketika salah seorang warga pergi ke kebun. Dia melihat tubuh Agus tergantung di pohon tersebut dengan menggunakan akar kayu.
"Tolong! tolong! ada orang bunuh diri!" teriak Munah, ketika dia melihat tubuh Agus bergelantung di pohon tersebut.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Yudi ingin tahu.
"Ada mayat Agus, tergantung di pohon di depan rumah Pak Bondan!" teriak Munah. Seraya berlari, melaporkan kejadian itu pada Pak Kades.
Mendengar teriakan Munah, semua warga langsung bergegas menuju rumah Bondan. Betapa terkejutnya semua warga, karena Agus selama ini yang mereka kenal, adalah orang baik dan tak pernah bermasalah sedikitpun, di desa tersebut.
"Aneh, kenapa Agus melakukan bunuh diri ya? padahal setahu kita, dia nggak pernah bermasalah."
"Bener ya, padahal Agus orang baik lho, dia taat shalat dan rajin ibadah," jawab Siti.
"Lalu apa ya, yang membuat dia bunuh diri?" tanya Dewi.
"Entahlah, mungkin bertengkar barangkali, dengan istrinya," jawab Lina.
"O iya, mari kita laporkan kejadian ini pada istrinya. Barangkali dia belum tahu, kalau suaminya bunuh diri," ujar Dewi seraya memerintahkan seseorang untuk menjemput istri Agus.
Beberapa saat, setelah istri Agus melihat suaminya bunuh diri. Dia pun menjerit histeris. Dia menangis dan memohon agar tubuh suaminya diturunkan dari pohon tersebut.
"Kenapa kau melakukan semua itu Bang, bukankah semalam kau bicara, kau akan pergi ke warung untuk membeli rokok. Tapi kenapa kau lakukan bunuh diri, apa yang membuatmu seperti ini bang!"
Tangis Lena, tak henti-hentinya meratapi jasad Agus yang telah membiru. Lena tak tahu sama sekali, kalau Agus suaminya sampai senekat Itu. Padahal menurut pengakuan Lena, keluarga mereka tak pernah bermasalah sama sekali.
"Apa kalian bertengkar semalam?" tanya Pak Kades pada Lena.
"Nggak Pak Kades, kami nggak pernah bertengkar. Bang Agus semalam berniat ingin membeli rokok ke warung Bu Dewi. Hanya itu Pak Kades, Bang Agus nggak pernah bicara yang lain kepadaku selama ini.
"Barangkali, dia punya masalah yang tidak bisa diselesaikannya bersamamu. Itu makanya, Agus melakukan jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya."
"Aku nggak yakin Pak Kades, suamiku tahu bahwa bunuh diri tak akan menyelesaikan masalah. Bunuh diri merupakan dosa besar yang tak dapat diampuni oleh Allah."
"Lalu kenapa suamimu bunuh diri?"
"Pasti ada seseorang yang telah melakukannya, Pak Kades," jawab Lena pelan.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1