
"Maafkan Ara Pa, kelebihan yang Ara miliki itu datang sendiri Pa, nggak ada yang mengajarinya."
"Benar nggak ada yang mengajarinya?"
"Benar Pa."
"Coba tunjukkan kepada Papa, apa saja kelebihan yang Ara punya sayang."
Mendengar permintaan Bondan, timbul rasa takut di hati Kemuning. Kemuning tidak ingin rahasia perselingkuhan mereka diketahui oleh Bondan. Karena, jika Bondan tahu Ara memiliki taring, pasti dia menyangka kalau Ara bukanlah darah dagingnya.
Untuk itu, dari arah belakang Bondan. Kemuning berusaha memberi isyarat kepada Ara, agar dia tak menceritakan kelebihannya kepada Bondan.
Kedipan mata dan gelengan kepala Kemuning, membuat Ara mengerti isyarat yang diberikan Kemuning. Ara pun teringat pesan Mamanya, agar menyembunyikan semua kelebihan nya kepada Bondan.
Ketika dilihatnya Ara terdiam, Bondan berusaha membujuk Ara, agar mau menceritakan kelebihannya tersebut.
Mesti terdengar jelas di telinga Ara permintaan Papanya Itu, namun dia berpura-pura tidak mendengarkannya. Ara tampak asik bermain boneka tanpa menghiraukan pertanyaan dari papanya.
"Ya udah, kalau Ara nggak mau menceritakannya kepada Papa, nggak apa-apa. Papa nggak marah kok, sekarang sebaiknya kita tidur saja. karena hari sudah larut malam.
Di malam itu, ketiganya langsung tertidur dengan pulas. Hingga pagi menjelang, barulah Bondan terbangun. sementara itu, Kemuning bergegas mempersiapkan sarapan pagi untuk keduanya.
Setelah mengantarkan Ara ke sekolah, Kemuning kembali ke rumah. Karena mobil akan dipakai oleh Bondan pergi bekerja. Sedangkan Ara, yang saat itu sudah berada di dalam kelas, baru mendengar informasi dari teman sebangkunya kalau ada anak dari SD. 03 meninggal dunia dan darahnya dihisap.
"Kamu tahu dari mana Des, kabar itu?" tanya Ara ingin tahu.
"Dari Mama, karena kemarin malam, Mama pergi ke Desa Cempaka, mengantarkan anak bibi yang bersekolah di sana."
"Anak bibimu bersekolah di sana ya?"
"Iya, dia duduk di kelas tiga, sebelumnya dia sekolah di sini, tapi karena bibi pindah ke rumah baru, makanya dia juga pindah ke sana.
"Oh gitu ya," jawab Ara singkat.
"Dulu, kau pernah bersekolah di sana kan Ara?" tanya Desi.
"Iya, hanya sebentar."
__ADS_1
"Kenapa mesti pindah dari sana Ara, bukankah sekolah itu sekolah favorit khusus tempat orang kaya aja."
"Mama yang menginginkan pindah. Karena sekolah itu terlalu jauh dari rumah. Untuk itu, Mama mencari tempat yang lebih dekat aja."
"O iya Ara, kau kan orang kaya, kenapa nggak punya supir sendiri, lebih aman dan lebih cepat sampai ke sekolah."
"Mama nggak ngizinin, kata Mama lebih aman pergi sekolah diantar oleh orang tua."
"Iya juga sih tapi kalau mama mu sibuk, kan lebih baik disetir oleh supir pribadi."
"O iya Des, apakah Mamamu tahu, siapa nama anak yang meninggal itu?"
"Aku lupa menanyakannya Ara, kenapa? kau mengenalinya?"
Karena Desi tidak mengetahui siapa yang telah meninggal, lalu Ara memejamkan kedua matanya dan menerawang ke Desa Cempaka. Menurut penglihatan Ara saat itu, kalau yang meninggal adalah Yuni, teman yang pernah dia jahili.
"Oh celaka, jangan-jangan boneka darah itu telah menghisap darah Yuni," ucap Ara dalam hatinya.
"Kau kenapa Ara, apakah kau melihat sesuatu?"
"Apakah, kau mengenalinya?"
"Iya Des, gadis itu duduk di depan bangku Ara. Kami berdua satu kelas."
Benar saja apa yang telah dilihat oleh Ara, gadis yang meninggal di Desa Cempaka itu. Dia adalah Yuni, teman yang pernah dijahili Ara waktu itu.
Pagi itu, di kediaman Yuni sudah ramai dengan pelayat yang berdatangan, Maria tampak duduk di sisi kepala Yuni, wanita muda itu tak henti-hentinya menangis meratapi jenazah putrinya yang meninggal, karena kehabisan darah.
Begitu juga dengan suaminya Imron, dia tampak lemah, karena Putri semata wayangnya telah pergi meninggalkan mereka semua.
"Gimana sih kejadiannya Bu, kok bisa darah Yuni dihisap oleh makhluk halus?" tanya Lina pada Maria.
"Kami juga nggak ada yang tahu Bu, Kami mengira kalau Yuni sedang tidur di kamarnya. Malam itu, sekitar pukul sepuluh, Aku hendak membangunkan dia, karena Yuni bukan dari sore itu.Ternyata Yuni telah meninggal dengan wajah yang sangat pucat sekali dan ada bekas gigitan di lehernya."
"Bekas gigitan, boleh aku melihatnya Bu?" tanya Lina ingin tahu.
"Boleh," jawab Maria, seraya membuka penutup wajah Yuni.
__ADS_1
"Ini seperti gigitan binatang buas Bu?"
"Benarkah?"
"Iya, kenapa Yuni nggak ibu otopsi aja ke rumah sakit, siapa tahu dengan cara melakukan otopsi kita dapat mengetahui apa penyebab Yuni meninggal."
"Bu Lina benar, kalau begitu kami akan membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Siapa tahu dengan cara seperti itu, kita mengetahui siapa yang telah membunuhnya."
Setelah Maria minta pendapat pada suaminya, mereka berdua pun akhirnya setuju untuk membawa jenazah Yuni ke rumah sakit guna dilakukan otopsi.
Namun, pihak rumah sakit juga tidak mengetahui, apa penyebab kematian Yuni. Karena dari bekas gigitan yang diperiksa, tak ada terlihat tanda-tanda bekas gigitan binatang buas.
Setelah gagal mendapatkan jawaban dari otopsi yang dilakukan rumah sakit. Jenazah Yuni akhirnya dibawa pulang kembali dan dikuburkan secara layak oleh keluarganya.
Isak tangis pun mewarnai pemakaman Yuni, semua tampak sedih dan bertanya-tanya di dalam hati mereka masing-masing. Apa penyebab kematian Yuni itu.
Setelah pemakaman Yuni berhasil dilaksanakan, lalu Pak Kades mendatangi rumah orang tuanya.
"Jadi ibu dan Bapak nggak tahu, apa penyebab meninggalnya Yuni?"
"Nggak Pak Kades, kami nggak ada yang tahu. Kami mengira, kalau Yuni sedang tidur di kamarnya. Padahal masih sore loh, Pak Kades dan kami nggak menyangka hal itu menimpa dirinya."
"Hal ini harus diusut tuntas, kalau nggak, akan banyak anak-anak Desa kita, yang akan menjadi korban berikutnya," ucap Pak Kades.
"Aku setuju dengan Pak Kades, kalau hal ini harus diusut tuntas. Agar tak ada lagi anak-anak yang meninggal dunia karena kehabisan darah mereka," jawab Imron.
Lalu siang itu, juga Pak Kades bersama Imron, pergi melaporkan hal itu ke polisi. mereka merasa tak tenang, takut korban-korban, akan berjatuhan sesudah itu. Anak-anak yang tak berdosa, meninggal karena kehabisan darah mereka yang dihisap oleh makhluk yang tak kasat mata.
Namun hal itu, ditanggapi dingin oleh pihak kepolisian. Karena menurutnya, laporan keluarga Imron, tak memiliki bukti yang akurat untuk dilakukan pemeriksaan.
"Jadi Bapak butuh korban lagi, agar laporan kami ini bisa diselidiki?" tanya Pak Kades ingin tahu.
"Bukan itu maksud kami Pak, semestinya Bapak melaporkan hal ini sebelum putri Bapak dikuburkan. Jadi, kami bisa melihat dan memeriksanya, apakah perlu dilakukan otopsi atau tidak," jawab pihak kepolisian.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1