AraDea

AraDea
Part 91 Ketenangan hati Suminah


__ADS_3

"Dasar nggak berguna!" bentak Bondan, seraya menendang tubuh Rusli yang sudah tak berdaya.


Setelah merasa puas, Bondan langsung pergi meninggalkan Rusli yang tergeletak di pinggir jalan, dengan rasa puas. Bondan pun kembali ke rumah sakit menemui Ibunya dan Dina.


Ketika Bondan tiba di rumah sakit, hari sudah larut malam. Suminah dan Dina tampak tertidur di atas bangku, di ruang tunggu.


"Ibu," panggil Bondan seraya mengguncangkan tubuh Ibunya.


"Kamu Le. Kenapa lama sekali, Ibu sangat cemas menunggu kedatanganmu."


"Banyak tugas menumpuk di kantor Bu, jadi aku agak terlambat datang."


"Apa kata pimpinanmu Le?"


"Dia nggak bilang apa-apa Bu," jawab Bondan dengan tenang.


"Lalu, bagaimana caranya kau akan membayar hutangmu di kantor Le?"


"Ibu tenang saja nggak usah dipikirkan masalah uang, nanti aku akan bayar setiap bulannya, potong gaji."


"Kalau istrimu marah gimana Le? dia pasti menyalahkan Ibu dan Bapakmu nantinya."


"Ibu nggak usah cemas, soal Kemuning aku yang urus. Sekarang tugas Ibu, rawat dan jaga Bapak baik-baik. Agar dia segara sembuh dan kita bisa pulang ke rumah, berkumpul bersama seperti dahulu lagi."


"Benar itu Le?"


"Benar Bu. mulai saat ini aku janji nggak bakalan meninggalkan Ibu dan Bapak lagi. Kalian berdua adalah tanggung jawabku dan aku akan mengurus kalian sampai tua nanti."


"Terima kasih Le. Ibu sangat senang mendengarnya, Ibu lega karena kami nggak akan pernah memikirkan hari tua ini lagi."


"Iya Bu. Di hari tua Ibu, hanya bertugas beribadah kepada Allah. Jangan pikirkan dunia, kalian berdua cukup dengan memikirkan akhirat saja."


"Terima kasih, semoga kalian berdua akan tetap menjadi anak Ibu, yang berbakti."


"Sama-sama, Bu."


"Lalu bagaimana dengan rumah tanggamu. Kemuning dan Ara pasti marah, karena kau nggak pernah pulang lagi ke rumah."


"Mereka itu urusanku Bu, Ibu nggak usah memikirkannya."


"Tapi Ibu takut Le, nanti Ibu sama Bapakmu, yang disalahkannya."


Mendengar ucapan Ibunya, Bondan jadi berpikir dua kali. Ibunya berkata benar, jika Bondan tidak lagi pulang ke rumah, Kemuning pasti marah. Begitu juga dengan Ara putrinya.


Namun tekadnya sudah bulat, untuk meninggalkan rumah itu. Biarlah Kemuning beserta putrinya saja, yang tinggal di rumah itu. Sementara dirinya, akan keluar dan tinggal bersama orang tuanya.


Malam itu, ketika Bondan sedang tidur di ruang tunggu. Tiba-tiba saja, dia didatangi oleh Ara.


"Ara!" ujar Bondan seraya memeluk putrinya.


"Papa, kenapa nggak pulang ke rumah?" tanya Ara ingin tahu.


Di saat Ara bertanya kepada Bondan, Bondan tak langsung menjawab pertanyaan putrinya tersebut. Matanya melirik ke arah luar dan kembali menatap ke arah, Ara.

__ADS_1


"Kau datang bersama siapa sayang?" tanya Bondan heran.


"Sendiri Pa," jawab Ara sembari duduk di samping Papanya.


"Sendiri? ah yang bener kamu!"


"Iya Pa. Ara datang sendiri, tanpa sepengetahuan Mama."


"Malam-malam begini, Ara berani datang ke sini sendiri? padahal rumah sakit ini jauh loh, dari rumah."


Mendengar ucapan Bondan, Ara tak bisa menjawabnya. Tapi kedatangan Ara ke rumah sakit, membuat Bondan bingung sekali.


Merasa tak tenang, dengan kehadiran Ara di rumah sakit. Bondan langsung keluar seraya menarik tangan putrinya tersebut.


"Papa mau ke mana?"tanya Ara heran.


"Papa mau keluar, ayo ikut Papa!"


"Ngapain?"


"Papa nggak yakin, kalau Ara datang ke sini nggak bawa mobil."


"Benar Pa, Ara ke sini dengan berlari."


Tak habis pikir dengan ucapan putrinya, Bondan langsung pergi ke parkiran mobil. seraya terus menyeret putrinya hingga berkeliling rumah sakit.


"Papa nggak percaya ya. Kalau Ara ke sini nggak naik mobil."


"Ara berlari Pa dan hal itu, sering Ara lakukan ketika Ara pergi ke sekolah bersama Dea.


"Dea, Dea temanmu itu?"


"Iya Pa."


Baiklah, Papa percaya padamu. Tapi malam ini kau nggak boleh kemana-mana. Besok pagi, Papa akan antar kau pulang ke rumah."


"Nggak perlu Pa, Ara akan pulang malam ini juga."


"Kenapa sayang?"


"Jika Mama tahu Ara ke sini, dia pasti marah Pa!"


"Baiklah, terserah kamu saja mau menunggu di sini atau pulang malam ini juga."


"Nah gitu dong. Kalau begitu, Ara boleh masuk ke dalam kan Pa. Ara mau menengok kakek yang sedang sakit."


"Baiklah ayo, kita ke dalam," ajak Bondan pada putrinya itu.


Ketika masuk ke dalam rumah sakit, mereka melintasi labor di dekat pintu. Ara mencium sesuatu dan dia tersenyum senang saat itu.


Bondan yang melihat putrinya tersenyum, merasa sangat kuatir sekali dan dia mencoba bertanya kepada putrinya.


"Kau kenapa sayang? dari tadi Papa lihat, kau tampak tersenyum-senyum sendiri."

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa Pa. O iya Pa, apakah di rumah sakit ini menyediakan stok darah?"


"Darah untuk apa?"


"Nggak ,Ara cuma nanya doang kok."


Di saat putrinya bertanya masalah darah, Bondan teringat ketika Ara dirawat di rumah sakit waktu itu. Dia meminum beberapa kantong darah, untung saja rumah sakit tak memiliki bukti, kalau Ara yang melakukannya.


"Ara, ayo kita pulang! Papa akan antarkan kau pulang malam ini juga."


"Nggak perlu Pa. Ara bisa pulang sendiri kok."


"Nggak, sayang. Papa harus pastikan kau pulang dengan selamat malam ini."


"Papa kenapa begitu cemas sih. Ara kan udah besar Pa, Ara bisa kok jaga diri."


"Apapun alasanmu Ara. Papa akan tetap mengantarkanmu pulang ke rumah. Ingat, jika hal ini diketahui oleh Mamamu, dia pasti marah padamu."


"Baiklah," jawab Ara dengan berat hati.


Merasa takut, kalau putrinya berbuat nekat di rumah sakit. Bondan segera menarik tangan Ara, untuk keluar dari rumah sakit tersebut.


"Papa kenapa kasar sih, pelan-pelan dong, tangan Ara jadi sakit nih."


"Kita harus cepat sampai ke rumah nak, nanti Mama mengetahui kepergianmu, dia pasti marah pada Papa."


"Ara tahu, itu pasti alasan Papa doang. Karena Papa tahu, Ara mau minum darah malam ini."


"Ssst...! jangan ngelantur kamu ah!"


"Ara serius Pa."


"Udah, udah! ayo naik, besok kalau sudah malam, Ara nggak usah datang ke rumah sakit lagi nak. Nanti Mamamu cemas di rumah.


"Mama nggak bakalan tahu Pa, kalau Ara keluar dari rumah. Papanya aja yang berlebihan."


"Kok Ara yakin, Mama nggak akan tahu tentang hal ini?"


"Karena Ara telah merubah bantal guling, menjadi Ara sendiri di rumah."


"Kamu serius nak?"


"Iya Pa, Ara serius."


"Mendengar penjelasan putrinya, Bondan semakin penasaran. dia ingin tahu siapa sebenarnya putrinya tersebut. Kenapa Ara memiliki keahlian yang tidak dipelajarinya dari siapapun, termasuk Bondan.


Ketika mereka berdua tiba di depan rumah, Ara langsung menggandeng tangan Papanya, untuk masuk rumah dengan cara mengendap-endap.


"Kenapa kau melakukan ini sayang?"tanya Bondan ingin tahu.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2