
"Apa buktinya?" tanya Pandan wangi dengan perasaan tenang.
"Buktinya, kami melihat sendiri dengan jelas."
Mendengar jawaban dari Pandan wangi, Ibu-ibu tersebut merasa sakit hati, mereka tak percaya dengan ucapan Pandan wangi.
"Udahlah Pak, gimana kalau kita geledah saja rumahnya. Siapa tahu makhluk gaib, yang selama ini menjadi pujaan Pandan wangi, saat ini sedang berada di dalam."
Mendengar ucapan para Ibu-ibu itu, Pak Kades merasa tak enak hati. Dia pun mencoba untuk mencegah para Ibu-ibu tersebut, untuk masuk ke dalam rumah Pandan wangi.
"Tadi Ibu sudah dengar sendiri bukan, kalau Pandan wangi tidak menyimpan makhluk apapun di dalam rumahnya," ujar Pak Kades.
"Aah...! dia itu sedang berbohong Pak Kades, mana ada maling yang mau mengaku. Kami semua melihatnya sendiri, dengan mata kepala kami. Kalau banyak laki-laki yang masuk ke dalam rumah ini."
"Ibu-ibu tenanglah, Pandan wangi nggak mungkin berbohong kepada kita. Kalau kalian melihat ada orang yang masuk ke dalam, ayo kita lihat ke dalam. Bolehkan Pandan wangi?" tanya Pak Kades.
"Tentu, silahkan dilihat ke dalam Pak Kades. Jika nanti kalian melihat sesuatu yang kalian tuduhkan, maka aku bersedia diusir dari bumi ini."
"Apa maksudmu Pandan wangi, jika kau diusir dari bumi ini, lalu kau akan pindah ke mana?"
"Di alam kubur Pak Kades."
Jawaban Pandan wangi, membuat Pak Kades tersenyum manis. Karena dalam situasi seperti itu, Pandan wangi masih bisa bercanda."
"Baiklah Ibu-ibu karena Pandan wangi telah mengizinkan kalian untuk masuk, maka masuklah ke dalam dan geledah rumahnya."
Mendengar perintah dari Pak Kades, Tuti beserta yang lainnya pun, segera masuk ke dalam rumah Pandan wangi. Namun setelah mereka tiba di dalam, mereka lupa dengan niat mereka masing-masing. Karena Askara telah memalingkan niat mereka.
"Cantik sekali rumah Pandan wangi ya, bersih dan rapi," ujar Dewi pada Ibu-ibu yang bersamanya saat itu.
Ketika mereka telah masuk ke dalam rumah Pandan wangi. Tujuan mereka untuk mencari makhluk halus, yang bersembunyi di rumah Pandan wangi, sirna seketika. Mereka terpaku dan terpesona melihat keindahan rumah Pandan wangi, yang bersih dan mewah.
Sementara itu, Pak Kades yang berada di luar, menunggu begitu lama. Sehingga dia merasa jenuh dan mencoba untuk memanggil para Ibu-ibu yang melihat ke dalam.
Mesti Pak Kades dan Pandan wangi sama-sama duduk diam, namun setiap kali, Pak Kades memperhatikan Pandan wangi. Selain aroma tubuhnya yang wangi, Pandan wangi juga memiliki wajah yang sangat cantik. Yang membuat kaum pria terpesona dan terpana ketika memandangnya.
Begitu juga yang dirasakan oleh Pak Kades saat itu. Dia tak kuasa menahan gejolak hasratnya, ketika melihat Pandan wangi, duduk diam di hadapannya.
__ADS_1
Untuk mengisi rasa tegang di sanubarinya, Pak Kades mencoba untuk bicara pada Pandan wangi, agar hasrat jahatnya bisa terkendalikan.
"Anakmu mana Pandan wangi?" tanya Pak Kades ingin tahu.
"Dia sedang sakit Pak Kades."
"Sakit, sakit apa?"
"Entahlah, tapi badannya membiru dan dia juga memuntahkan darah."
"Sudah berapa lama kejadian itu Pandan wangi?"
"Sudah dua hari, Pak Kades."
"Boleh saya lihat ke dalam?"
"Silahkan, di dalam ada beberapa orang dokter sedang mengobatinya. Tapi belum sembuh Pak Kades."
Atas izin Pandan wangi, Pak Kades pun melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Diiringi oleh Pandan wangi yang berjalan tepat di belakangnya. Mesti berjalan mendahului Pandan wangi, tapi aroma perempuan itu membuat konsentrasi Pak Kades menjadi buyar.
Ketika Pandan wangi menunjukkan kamar putrinya Dea, Pak Kades justru terpana melihat wajah Pandan wangi, yang sangat cantik dan mempesona.
Saat Pandan wangi bertanya, Pak Kades langsung gelagapan. Untung saja dia punya ide yang sangat cemerlang, sehingga dia tak terlihat seperti sedang menaruh perasaan pada Pandan wangi.
"Oh, anu..oh.. anu..! kamu itu sebaya dengan putri ku."
"Pak Kades punya seorang putri?"
"Iya Pandan wangi, dia sebaya denganmu."
"O, begitu. Ya sudah! silakan masuk Pak Kades!" ujar Pandan wangi, seraya membuka pintu kamar putrinya.
Melihat ada Pak Kades masuk ke dalam, Askara bersama beberapa orang dokter, melihat keluar dan tersenyum saat Pak Kades mencoba masuk ke dalam.
"Eh ada Pak Kades rupanya, silakan masuk Pak!" ujar Askara seraya menarik sebuah bangku untuk Pak Kades.
Pak Kades tak langsung duduk, mesti Askara telah menyediakan bangku untuknya. Namun pria itu menghampiri Dea yang terbaring di atas ranjang.
__ADS_1
Saat Pak Kades menghampiri Dea, Askara dan Pandan wangi hanya bisa saling pandang. Mereka menjawab setiap pertanyaan Pak Kades, dengan tepat dan benar.
"Sudah berapa hari putrimu sakit, Pandan wangi?"
"Sudah dua hari, Pak Kades."
"Kenapa dia begitu pucat dan kurus?"
"Mungkin karena dia terlalu banyak mengeluarkan darah, Pak Kades."
"Sepertinya putrimu mengalami luka dalam Pandan wangi, tubuhnya tampak membiru. Apakah putrimu suka bertengkar dengan orang lain."
"Nggak Pak Kades, putriku pendiam. Dia nggak pernah bertengkar dengan siapapun termasuk dengan warga di Desa ini."
"Kenapa nggak dibawa saja ke rumah sakit Pandan wangi, di sana peralatannya sangat lengkap."
"Di sini saja Pak Kades. Lagian aku sudah memanggil lima orang dokter spesialis penyakit dalam, untuk putriku. Aku yakin, sebentar lagi putriku pasti sembuh."
Bukan hanya Pandan wangi, yang memiliki aroma tubuh sangat wangi. Tapi putrinya Dea juga memiliki hal yang sama. Mesti dalam keadaan sakit sekalipun, Dea tampak sangat cantik, wajah mirip dengan Pandan wangi Ibunya.
"Silahkan duduk Pak Kades, kata Pandan wangi membuyarkan lamunan pria tua itu.
"Oh iya, terima kasih," jawab Pak Kades, seraya duduk di kursi yang sudah disediakan.
Setelah beberapa saat duduk, dia pun langsung minta izin untuk keluar. Di saat Pak Kades sudah keluar, para Ibu-ibu yang tadinya masuk, ke dalam rumah Pandan wangi, belum juga keluar.
Pak Kades merasa heran, karena sudah hampir setengah jam Pak Kades menunggu di luar.
"Kemana perginya Ibu-ibu tadi ya? apakah mereka sudah keluar, atau masih berada di dalam?" tanya Pak Kades pada dirinya sendiri.
Karena masih dalam keraguan, Pak Kades mencoba menunggu sesaat. Siapa tahu kelima Ibu-ibu itu, akan segera muncul keluar rumah.
Namun setelah ditunggu beberapa saat, kelima Ibu-ibu itu belum juga muncul. Pak Kades semakin penasaran dan heran, ke mana perginya kelima perempuan itu.
Keraguan yang dirasakan Pak Kades, terjawab sudah. Ternyata kelima Ibu-ibu itu, sedang menikmati keindahan rumah Pandan wangi. Mereka bukan saja menikmati, tapi mereka dibuat sesat oleh Askara. Sehingga mereka berlima, tak ingat lagi jalan keluar dari rumah itu.
Selain asyik menikmati keindahan rumah Pandan wangi, mereka dibuat berputar-putar di sekitar tempat itu. Sehingga mereka bingung, tidak tahu jalan keluar.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*