AraDea

AraDea
Part 77 Menyusuri hutan larangan


__ADS_3

Baik yang mulia, terima kasih atas izin yang diberikan. Semoga kebaikan yang mulia mendapat tempat di sisi Allah," ujar Dea, seraya menghilang dari pandangan raja Askara.


Saat Dea menghilang, raja Askara hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia salut dengan kebaikan hati putrinya. Dea rela berkorban jiwa dan raga demi membela orang-orang yang disayanginya, yang saat itu berada di sekelilingnya.


"Kau memang gadis yang baik Dea, Papa bangga padamu. Jadilah kau selalu, anak yang taat dan patuh," gumam raja Askara pelan.


Sementara itu, di tengah hutan larangan yang sunyi dan sepi. Membuat bulu kuduk merinding, karena suasana dingin menyelimuti hutan itu.


Tampak Dea berjalan sendiri, dengan dua pedang naga bersandar di punggungnya. Matanya yang tajam dan telinganya yang nyaring, mendengar serta menatap, apa saja yang bergerak melintas di depannya.


Setelah terus menelusuri hutan larangan, Dea bertemu dengan sekelompok makhluk yang tak kasat mata. Mereka mencoba mempermainkan Dea di tengah hutan tersebut.


"Hm...! ternyata kalian ingin bermain-main denganku. Baiklah, muncullah akan aku selesaikan semuanya dengan mudah," ujar Dea seraya tersenyum.


Benar saja dugaan Dea, puluhan makhluk halus itu tiba-tiba saja muncul dan mengelilingi Dea yang saat itu sendirian. Sepertinya semua makhluk itu bengis dan kejam. Untuk itu, Dea sangat berhati-hati menghadapinya.


Tak satupun di antara mereka, yang tidak memiliki senjata. Ada yang membawa gada besi, ada yang membawa cambuk dan pedang. Mereka semuanya terlihat ganas dan menyeramkan.


Meski demikian Dea, mencoba untuk tetap tenang. Agar musuh tak melihat kalau dirinya saat itu sedang sendirian.


"Kau mau apa bocah mencoba untuk masuk ke dalam hutan larangan ini?" tanya makhluk itu.


Dea hanya diam saja, dia tampak duduk santai di bawah sebuah pohon yang rimbun.


Makhluk itu heran, kenapa Dea tidak merasa takut sama sekali kepadanya. Padahal makhluk di hutan itu semuanya, sangar dan menakutkan.


"Hai bocah, kau mau ke mana dan apa urusanmu, masuk ke dalam hutan larangan ini?" tanya makhluk itu.


"Apa perlu, aku menjawab semua pertanyaan mu itu dan jika aku menjawabnya, apakah kau sanggup memenuhi semua permintaanku," ujar Dea dengan suara lantang.


"Kau sepertinya bukan bocah sembarangan. Dilihat dari kedua pedang yang berada di punggungmu, sepertinya kau seorang satria kecil. Hm..hm..hm."


"Apakah kau pernah, melihat seorang bocah menjadi satria?"

__ADS_1


"Ya saat ini, aku melihat sendiri seorang bocah menjadi satria."


"Bagus. Kalau begitu, apakah kau mau menantang ku?" tanya Dea seraya memasang kuda-kuda di hadapan makhluk-makhluk itu."


Melihat Dea seperti hendak bertarung dengannya, lalu makhluk-makhluk itu berusaha mengelilingi Dea. Agar konsentrasi gadis kecil itu buyar.


Namun hal itu, tidak membuat Dea merasa hilang berkonsentrasi nya. Sebelum makhluk maklum itu mengitari nya, lebih cepat lagi. Dea telah menyerang mereka terlebih dahulu.


"Hiaaat...!"


Satu demi satu serangan yang dilancarkan Dea langsung mengenai mereka. Makhluk-makhluk itu sangat kuat sekali, sehingga Dea merasa sedikit kewalahan.


Meski demikian, Dea a tak berputus asa. Dia terus menyerang dan melancarkan serangan di luar dugaan makhluk itu.


Pertarungan pun tak dapat dihindarkan lagi. Adu kekuatan dan adu pedang terjadi saat itu. Mesti satu lawan sepuluh, namun Dea tak gentar sedikitpun.


Tampak dalam pertarungan itu, baik Dea maupun makhluk tersebut. Mereka sama-sama mengeluarkan, jurus demi jurus dan terlihat lihai dalam bermain pedang.


"Ya ampun, mereka ternyata tangguh dan kuat. Pantasan mereka hidup di hutan larangan ini, sebagai penunggu dan pelindung hutan ini."


"Dea putriku, Dea putriku! apakah kau mendengar suaraku?"


"Iya, aku mendengarnya yang mulia."


"Makhluk itu, begitu sulit untuk dimusnahkan. Oleh sebab itu, kau cari titik lemahnya."


"Titik lemah, di mana titik kelemahan mereka yang mulia?"


"Titik kelemahannya, pasti ada disekitar tubuhnya. Kau uji satu persatu, mana bagian tubuh mereka yang merasa sakit, lalu kau tusuk lah, tepat disaat mereka lengah."


" Ooo, begitu. Baiklah yang mulia."


Mendengar petunjuk dari raja Askara, Dea langsung memancing mereka satu persatu ke dalam hutan. Sebab, jika mereka dipisahkan, akan lebih leluasa bagi Dea untuk membunuhnya.

__ADS_1


Setelah mereka semua berpencar, lalu Dea berputar-putar, mencari celah untuk menemukan kelemahan makhluk tersebut.


Setiap bagian tubuh makhluk itu, ditusuk dengan menggunakan pedang. Lalu Dea pun menghilang dan muncul di tempat yang berbeda dan kembali, menusuk kan pedangnya ke tubuh makhluk itu.


Setelah beberapa kali dicoba oleh Dea, dengan kecerdasan yang dimilikinya, akhirnya Dea pun berhasil mendapat titik lemah makhluk itu. Dengan cepat pula Dea menusukan pedangnya tepat di pusar makhluk itu.


Disaat pedang Dea di tusukan tepat di bagian pusar, lalu makhluk itu langsung menghilang, seperti ditelan hutan larangan. Hanya saja, saat itu Dea mendengarkan jeritan makhluk tersebut.


Setelah mendapatkan kelemahan makhluk itu, Dea merasa senang dan diapun, menyusuri hutan larangan itu, dengan semangat.


Namun kesenangan Dea saat itu terhenti. Karena tidak semua makhluk itu, bisa menghilang, jika ditusuk di bagian pusar nya. Sebagian dari mereka itu tampak kebal, ketika pedang Dea ditusuk di pusar makhluk tersebut.


"Aneh, ternyata mereka tidak memiliki kelemahan yang sama. Kalau begitu, aku terpaksa harus menggunakan pedang naga. agar aku segera dapat menyelamatkan Mama dan Nenek," ujar Dea, seraya mengeluarkan pedang naga dari sarangnya.


Ketika pedang itu dikeluarkan dari sarangnya, lalu Dea memutarkan pedang itu di atas kepalanya. Saat itu, keluarlah percikan api dari padang tersebut.


Raja Askara yang melihat kejadian itu, dia langsung menegur Dea putrinya.


"Dea putri, jangan kau gunakan pedang naga mu untuk membunuh mereka. Karena percikan api yang keluar dari padamu, dapat membakar hutan larangan. Kau ingat Mama dan Nenekmu, berada di dalamnya. Mereka akan hangus terbakar jika kau melakukan hal itu."


"Ya allah, hampir saja," ujar Dea, seraya menyembunyikan kembali pedang naga miliknya.


Tampaknya, kali ini kau sedang diuji dengan kekuatan mereka putriku. Tetaplah berhati-hati, meski mereka telah kau bunuh. Namun tetap kau cari kelemahannya, agar mereka tak bangkit lagi dan menyerang kalian semua."


"Baik yang mulia, saya akan lakukan apa saja demi menyelamatkan Mama dan Nenek. Begitu juga dengan telik sandi kita."


"Sekarang lanjutkan perjalananmu, karena tidak jauh lagi kau akan menemukan pasukan telik sandi istana."


"Baik yang mulia," jawab Dea, seraya terus berlari secepat kilat.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2