
“Tapi Bapak sama Ibu nggak kemana-mana kok nak Bondan.”
“Ah, Bapak jangan bercanda lah.”
“Bapak serius nak Bondan, kami semalam nggak kemana-mana kok.”
“Jadi yang tadi malam datang kerumah saya itu siapa Pak?”
“Ya, Bapak nggak tau.”
Mendengar jawaban dari Pak kades, Bondan jadi berpikir ulang, karena dia benar-benar melihat Pak Kades bersama istrinya tadi malam.
“Jadi kalau bukan Pak kades, lalu mereka semua itu siapa ya?” tanya Bondan pada dirinya sendiri.
Merasa tak habis pikir, Bondan pun mohon diri untuk pamit pada Pak kades, tapi kali itu dia nggak langsung ke kantor, melainkan kembali pulang kerumahnya untuk menemui Kemuning.
Mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah, semua pembantu Kemuning menghilang secara tiba-tiba, Bondan pun masuk kedalam.
“Lhoh, Mas, kamu nggak kerja?” tanya Kemuning heran.
“Kerja sayang, tapi Mas mau ngasih kabar pada mu.”
“Ngasih kabar apa Mas?” tanya Kemuning penasaran.
“Ternyata yang datang ke rumah kita tadi malam itu bukan Pak kades dan Bu kades.”
“Kalau bukan mereka yang datang lalu siapa yang datang tadi malam itu Mas?” tanya Kemuning berpura-pura nggak tau.
“Entahlah sayang, kenapa ya, akhir-akhir ini banyak sekali yang aneh terjadi di rumah kita ini?”
“Ah, aku nggak merasakan hal itu kok Mas,” jawab Kemuning.
“Benar kamu nggak merasakannya?”
“Iya Mas, untuk apa aku berbohong.”
“Ya udah, kalau begitu Mas pergi dulu kekantor, tolong jaga anak kita dengan baik.”
“Tentu Mas, aku akan menjaganya dengan nyawaku.”
“Makasih sayang.”
“sama-sama Mas, hati-hati di jalan.”
“Baik.”
Lalu Bondan pun pergi meninggalkan Kemuning dan putrinya Ara, yang saat itu tampak tersenyum melepas kepergian Papanya.
Setelah beberapa meter dari rumah, Tono yang saat itu hendak pergi kekabun melihat Bondan pergi ke kantor bersama seseorang yang duduk di bangku mobilnya paling belakang.
Saat itu Tono menegur Bondan, sehingga mobil Bondan melaju dengan kecepatan rendah. Akan tetapi, ketika Tono mengangkat tangan kananya, lalu pria yang di belakangnya juga mengangkat tangannya. Melihat wajah pria yang duduk di belakang Bondan Tono langsung pingsan.
Bondan terkejut saat melihat Tono pingsan setelah menegurnya, Bondan merasa kalau Tono tersenggol oleh mobilnya, itu sebabnya Bondan langsung berhenti untuk menolong Tono.
“Tono, ton, bangun Ton, ada apa? kenapa kamu pingsan?” tanya Bondan heran.
__ADS_1
Melihat Tono tak membuka matanya, lalu Bondan berteriak minta tolong pada warga yang ada di sekitar tempat itu.
“Ada apa nak Bondan?” tanya Yusuf ingin tau.
“Aku nggak tau Pak, tapi aku melihat Dia pingsan setelah menegur ku tadi.”
“Apakah dia kesenggol mobil mu?”
“Sepertinya nggak, soalnya dia nggak mengalami luka sedikit pun, yang menandakan mobil saya nggak menyenggolnya tadi.”
“Kalau begitu, ayo kita bawa dia kerumah sakit,” ujar Yusuf.
Lalu beberapa orang warga ikut membantu Bondan, mengantarkan Tono kerumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa tubuh Tono. Namun dokter tak menemukan bekas luka atau bekas penganiayaan di tubuh Tono.
“Gimana keadaan teman saya itu dok?” tanya Bondan ingin tahu.
“Teman saudara hanya kecapean barang kali.”
“Apakah ada penyakit dalam yang di derita teman saya itu dok?”
“Sepertinya, teman saudara itu nggak punya penyakit dalam sama sekali.”
“Lalu apa penyebab dia pingsan dok?”
“Ya itu tadi, barangkali teman saudara itu kecapean, jadi kami akan beri resep vitamin, suruh dia memakannya satu kali sehari.”
“Baik dok, terimakasih banyak atas pertolongan dokter.”
“Sama-sama.”
“Gimana keadaanmu Ton?” tanya Bondan ingin tau.
“Alhamdulillah, udah baikan kok.”
“Sebenarnya kenapa kamu Ton? Kok tiba-tiba aja pingsan?”
“Maaf, nanti kalau aku ngomong, kau bisa tersinggung,” jawab Tono dengan suara pelan.
“Hei, maksud mu, aku tersinggung dengan jawaban yang akan kau katakan?”
“Iya, Bondan.”
“Apakah kau nggak kenal siapa aku, Ton?”
“Justru itu. Aku begitu takut untuk bicara. Sebab, jika aku bicara pasti terasa begitu menyakitkan bagi mu.”
“Maksud mu apa ya, aku jadi nggak ngerti.”
Tak ingin membuat Bondan berpikir yang bukan-bukan, akhirnya Tono pun bicara.
“Berjanjilah, agar kau nggak marah saat aku bicara.”
“Iya, aku janji.”
“Apakah selama ini kau melakukan pesugihan, Bondan?”
__ADS_1
“Pesugihan? Maksudnya apa ya?”
“Tadi itu, yang membuat aku pingsan, aku melihat makhluk berbulu tebal di bangku belakang mobil mu.”
“Apa! makhluk berbulu tebal?”
“Iya Bondan.”
“Tapi aku nggak melakukan pesugihan apa pun Ton, aku sangat percaya pada Allah yang telah menciptakan kita semua. Untuk apa melakukan pesugihan, itu sama artinya aku menyekutukan Allah, dan aku nggak pernah melakukan hal itu.”
“Lalu, makhluk apa yang berada di belakang mobil mu itu?”
“Entahlah, hiiii..! aku jadi merinding.”
“Kau hanya merinding, sementara aku, pingsan di buatnya.”
“Sebenarnya, semenjak Kemuning hamil, aku sering mengalami hal yang aneh-aneh.”
“Maksud mu, hal yang aneh apa?”
“kau tau nggak di malam jum’at kemaren, putri ku menangis semalaman, kami berdua sampai kehabisan akal untuk mendiaminya, lalu tiba-tiba saja Pak kades dan beberapa orang warga datang kerumah untuk mendiami putri ku.”
“Terus, putrimu bisa diam?”
“Ya, putri ku diam di tangan Bu kades. Aku merasa senang sekali malam itu. Apa lagi semua warga merasa simpatik dengan keadaan kami,” jawab Bondan dengan suara lirih.
“Oh, syukurlah, kalau emang semua warga merasa simpatik pada keluargamu Bondan, mestinya kau senang kan, kok kau terlihat sedih?”
“Kau tau Tono, ternyata yang datang ke rumahku malam itu, bukan Pak kades dan warga kampung.”
“Lalu, siapa yang datang malam itu, Bondan?”
“Aku nggak tau Ton, tapi wajah mereka mirip sekali dengan semua warga yang ada di Desa ku.”
“Ya ampun! jangan-jangan, makhluk yang ada di dalam mobil mu, sama dengan tamu yang datang ke rumahmu malam itu.”
“Tapi dia begitu mirip sekali dengan orang-orang yang berada di Desa ku, sehingga aku begitu sulit untuk membedakan mereka semua.”
“O iya, Bondan. Aku punya ide untuk mu.”
“Ide, ide apa?” tanya Bondan ingin tahu.
“Gimana kalau rumah mu di sirami air do’a, dari Pak Ustad, siapa tau dengan cara itu, makhluk jahat tak lagi bisa masuk kedalam rumahmu.”
“Idemu bagus juga. Baiklah, nanti sore aku akan kerumah Pak Ustad untuk minta obat.”
“Ya, lebih cepat, itu lebih baik.”
Sesuai dengan rencana yang telah di atur oleh mereka berdua, sore itu setelah Bondan pulang dari kantor, dia menyempatkan diri mampir di rumah Ustad Zakir.
“Assalamu’alaikum, Pak Ustad.”
“Wa’alaikum salam, nak Bondan?”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*