AraDea

AraDea
Part 88 Usaha Bondan untuk Bapaknya


__ADS_3

Bisa saya jumpa dengan Pak camat," ujar Bondan pada sekretaris nya.


"Silahkan mas, Bapak ada di dalam kok," jawab Silvi seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Tok, tok, tok!"


Mendengar suara pintu diketuk dari luar, pak camat langsung menyuruh orang tersebut untuk masuk. Maka Bondan pun segera masuk ke dalam. Ketika melihat wajah Bondan, Pak camat langsung mengerutkan dahinya.


"Ada apa Bondan?" tanya Pak camat ingin tahu.


"Saya ada sedikit keperluan Pak," jawab Bondan seraya mendekati Pak camat.


"Ada apa?" tanya Pak camat penasaran.


"Begini Pak, saat ini Bapakku, masuk rumah sakit. Aku tidak punya biaya sedikitpun untuknya, jadi tujuanku datang ke sini aku minta bantuan pada Bapak. Tolong pinjamkan aku uang 5 juta untuk biaya operasi Bapak yang saat ini berada di rumah sakit."


"Emangnya, Bapakmu sakit apa Bondan?"


"Semalam Bapak terkena serpihan kaca di kepalanya, kata dokter ada urat saraf yang telah rusak, itulah sebabnya Bapak harus dioperasi."


"Apa Bapak nggak salah dengar Bondan, bukankah selama ini hidupmu berkecukupan. Kau bahkan tidak kekurangan apapun, kenapa hari ini kau meminjam uang pada kantor?"


"Aku nggak mau cekcok Dengan istriku Pak. Biarlah aku usaha sendiri untuk Bapakku. Daripada nanti, kami bertengkar hanya gara-gara Aku, memakai uangnya untuk biaya pengobatan Bapak."


"Bukankah Bapakmu itu, orang tua istrimu juga?"


"Sebenarnya iya Pak, tapi istriku tidak terima. Dia tidak mau, uangnya dipakai untuk biaya operasi Bapak."


"Baiklah Bondan, saya akan pinjaman kau uang 5 juta. Tapi ingat bondan, ini uang kantor. Kau harus mengembalikannya tepat waktu. Jangan sampai terjadi kelalaian sewaktu kau membayarnya."


"Baik Pak. Saya akan usahakan membayarnya tepat waktu, kalau tidak Bapak boleh potong gaji saya sampai utang saya lunas."


"Baiklah Bondan, ini ada uang 5 juta. Manfaatkanlah sebaik-baiknya, untuk biaya operasi Bapakmu. Cara pembayarannya nanti, biar kami potong langsung dari gajimu per bulan. Agar kau nggak merasa keberatan untuk membayarnya."


"Baik Pak, terima kasih banyak atas pertolongan Bapak ini."


"Iya Bondan, sama-sama."


Setelah Bondan menerima uang dari kantor tempat dia bekerja, Bondan langsung menuju rumah sakit. Saat itu Bondan teringat pada Ibunya, yang ditinggalkan di rumah sakit semalaman.


"Ya Allah, pasti Ibu begitu cemas, menungguku di rumah sakit," gumam Bondan seraya bergegas menuju rumah sakit.


Setibanya di dalam, Bondan langsung menemui petugas jaga dan petugas tersebut mengantarkan Bondan ke ruang administrasi, untuk melakukan pembayaran biaya operasi Bapaknya.

__ADS_1


"Ada yang perlu saya bantu Pak?" tanya seorang petugas rumah sakit kepada Bondan.


"Iya dek, saya mau membayar uang operasi Bapak, yang semalam kepalanya tertusuk kaca."


"Ooo, atas nama Bapak Tito, ya Pak?"


"Iya dek," jawab Bondan seraya menyodorkan amplop berwarna putih, yang ada di tangannya kepada petugas tersebut.


"Lalu petugas tersebut mengambil uang itu dan menghitungnya. Setelah dia selesai menghitung, lalu petugas tersebut menyodorkan selebaran kertas formulir untuk diisi oleh Bondan.


"Uangnya sudah cukup Pak, nanti siang akan dilakukan operasi pada pasien yang bernama Pak Tito."


"Iya dek, terima kasih banyak."


"Sama-sama, Pak."


Karena telah berhasil membayar lunas operasi Bapaknya, Bondan merasa senang sekali. Dia pun datang menghampiri Ibunya yang sedang duduk di ruang tunggu.


Dari kejauhan, Suminah melihat Bondan datang tergesa-gesa menghampirinya. Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan menyusul putranya Bondan, yang berjalan mendekat.


"Ibu," ujar Bondan seraya memegang tangan Ibunya.


"Kenapa begitu lama sekali nak? Ibu sangat cemas, Ibu kira kau akan meninggalkan Ibu di rumah sakit ini bersama Bapakmu."


"Kau mencari uang ke mana, Le?"


"Aku terpaksa meminjam uang kantor Bu?"


"Kenapa mesti uang kantor Le? bukankah kalian orang kaya?"


"Itu hartanya Kemuning Bu, aku nggak punya apa-apa di rumah itu."


Mendengar ucapan seperti itu, Suminah langsung menarik tangan putranya. Untuk duduk di dekatnya.


"Le, boleh Ibu ngomong sesuatu padamu?" tanya Suminah dengan sedikit rasa takut, kalau-kalau Bondan marah kepadanya.


"Bicaralah Bu, Ibu mau bicara apa?"


"Maafkan Ibu Le, bukan maksud Ibu ikut campur urusan rumah tanggamu. Tapi Ibu punya firasat buruk tentang nasibmu."


"Maksud Ibu apa ya? aku nggak ngerti Bu."


"Le, sebenarnya istrimu itu kerjanya apa sih?"

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu Bu. Tapi setiap kali ku tanya, dia bilang dia punya bisnis yang menggiurkan, sehingga dia mendapat keuntungan besar dari bisnis yang sedang dia jalani."


"Kok kamu nggak tahu Le, kerjaan istrimu itu?"


"Gimana aku bisa tahu Bu, orang aku, seharian di kantor. Pergi Pagi, pulang sore."


"Jadi kau nggak mengetahui sama sekali, bisnis apa yang dilakukan oleh istrimu?"


"Iya Bu, aku nggak tahu bisnis apa yang dilakukan Kemuning selama ini."


"Apakah selama ini, ada hal aneh yang kau rasakan, selamat tinggal di rumah itu?"


"Kalau soal yang aneh-aneh, aku sudah sering merasakannya Bu, bukan sekali bahkan berulang-ulang kali."


"Nah, kalau Ibu boleh menyarankan, Ibu ingin kau meninggalkan Kemuning dan putrimu itu. Karena menurut Ibu, mereka itu telah bersekutu dengan iblis."


"Ibu tahu dari mana, dia bersekutu dengan iblis?"


"Dari ucapanmu itu Le, kau sendiri curiga dengan istrimu, apalagi Ibu. Ibu ini udah tua Le, Ibu tahu sekali ciri-ciri orang yang melakukan pesugihan, atau berhubungan dengan makhluk gaib."


"Emangnya, apa sih ciri-cirinya Bu?"


"Orang yang melakukan pesugihan hartanya meningkat secara pesat. Makhluk yang selalu dia puja, biasanya selalu berada di belakang, di samping dan mana saja dia berada."


"Berarti istriku itu, melakukan pesugihan ya Bu?"


"Bisa jadi, atau mungkin juga dia telah tidur dengan iblis."


"Ssst...! Ibu, kita nggak usah membahas masalah itu lagi ya Bu, sepertinya makhluk itu marah pada kita. Aku yakin pasti dia yang telah melempar rumah kita tadi malam."


"Ah, kamu serius Le?"


"Iya Bu, ketika aku menceritakan makhluk itu bersama Bapak, rumah kita mulai dilempar pakai batu. Setelah berhenti, kami ulangi menceritakan makhluk itu kembali dan lagi-lagi rumah kita lempar dengan batu."


Berarti, makhluk itu yang membuat Bapakmu celaka Le?"


"Bisa jadi Bu. Dia memang berencana untuk membunuh Bapak. Untuk itu, kita harus menjaga Bapak dengan baik. Setelah Bapak selesai operasi, kita nggak usah bahas masalah itu lagi, ya Bu."


"Baik Le," jawab Suminah mematuhi perkataan Bondan putranya.


Di saat mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba saja Pak Tito keluar dari ruang UGD, untuk dibawa ke ruang operasi. Di depan pintu masuk ruang operasi, Bondan dan Suminah melepas kepergian Pak Tito dengan do'a.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2