
Melihat hal itu, pihak rumah sakit tak langsung menemui Ara. Namun mereka memanggil orang tua Ara, yang waktu itu menitipkan putrinya di rumah sakit.
Menerima surat panggilan dari rumah sakit, Kemuning dan Bondan langsung menemui pihak rumah sakit.
"Ada apa ya pak, kami dipanggil?" tanya Bondan ingin tahu.
"Maaf Pak, ada kejadian aneh yang dilakukan oleh putri Bapak semalam, di rumah sakit. Kami nggak tahu, entah benar dia yang melakukannya atau nggak. Akan tetapi, seluruh bukti menjurus kepadanya."
"Emangnya, apa yang dilakukan Putri ku di rumah sakit ini?" tanya Bondan ingin tahu.
"Putri Bapak, mencuri beberapa kantong darah dan menghabisinya."
"Ah kamu serius!" ujar Bondan tak percaya.
"Bukan hanya aku sendiri yang melihat dan menyaksikan kejadian itu. Tapi, hampir seluruh karyawan dan perawat rumah sakit ini, melihat ada bekas darah antara labor dengan kamar Putri Bapak."
"Bekas darah apa ya, saya jadi nggak ngerti?"
"Itulah yang membuat Kami curiga Pak! apakah selama ini Putri bapak meminum darah segar?" tanya pihak rumah sakit.
"Bapak Yang benar saja, masa putri saya minum darah. Emangnya putri saya drakula, apa?"
"Sekarang begini saja, kalau Bapak nggak percaya, Bapak boleh cek sendiri ke kamarnya. Apakah kami berkata jujur atau mengada-ada.
"Baiklah. Kalau begitu, kami langsung melihat nya, ke ruangan rumah sakit."
"Baik Pak. Silakan, mari ikut kami!" ujar petugas itu, seraya melangkah terlebih dahulu di depan Kemuning dan Bondan.
Ketika mereka semua tiba di depan kamar Ara, mereka semua tak melihat bercak darah, di sekitar kamar tersebut. Termasuk bekas telapak kaki milik Ara, yang mengarah ke kamarnya.
Padahal, waktu itu pihak rumah sakit, sengaja menugaskan seorang satpam. Mereka disuruh untuk memperhatikan, apakah ada orang lain, yang menghapus bekas telapak kaki tersebut.
Melihat bekas telapak kaki Ara menghilang, pihak rumah sakit langsung mencari satpam itu. Namun dia tidak ditemukan.
"Lho, katanya banyak darah di sekitar kamar putri saya, tapi nyatanya nggak ada apa-apa!" ujar Bondan menjelaskannya kepada pihak rumah sakit.
"Kami nggak bohong Pak. Tadi pagi darah itu masih ada di sini. Tapi kenapa bisa hilang ya? apa ada office boy kita yang membersihkannya?" tanya kepala rumah sakit.
Karena tidak menemukan bukti yang sesuai, dengan yang dituduhkan pihak rumah sakit kepada keluarga Bondan. Lalu kedua orang tua Ara, langsung masuk ke dalam dan menghampiri putrinya.
"Ara, apa yang terjadi sayang?" tanya Kemuning ingin tahu.
__ADS_1
"Maksud Mama apa ya, aku nggak ngerti," jawab Ara, seolah-olah dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Mamanya.
"Tadi pihak rumah sakit melaporkan kepada Papamu, bahwa tadi malam telah terjadi sesuatu di luar dugaan mereka. Katanya, kau mencuri beberapa kantong darah di rumah sakit ini dan langsung meminumnya."
"Ah, Mama serius, masa sih aku mau minum darah?" bantah Ara saat itu.
"Papamu juga sudah menjelaskannya kok. Kalau begitu, sebaiknya kita pulang saja ke rumah. Jika lama-lama berada di rumah sakit ini, mereka akan menuduhmu melakukan hal yang bukan bukan."
"Baik Ma, kalau begitu aku pulang saja," jawab Ara dengan suara pelan.
Tanpa melakukan penolakan sedikitpun, Ara langsung mengikuti kedua orang tuanya, untuk kembali pulang ke rumah mereka.
"Seperti biasa, jika berada di dalam mobil, Ara tak mau bicara. Dia hanya diam saja dan menatap ke arah luar.
Setibanya mereka di rumah, Ara langsung masuk ke dalam kamar, tanpa berbicara sepatah pun kepada kedua orang tuanya. Sementara itu, Bondan dan Kemuning hanya diam saja. Mereka berdua, tak mau membahas masalah yang belum pasti tersebut.
Sedangkan Ara sendiri. Mesti telah mendapatkan beberapa kantong darah untuk diminum, namun Ara masih saja merasa haus. Di dalam kamarnya Ara tampak duduk diam.
Kamu udah selesai berkemas nak?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Belum Ma, Ara masih capek sekali!"
"Baiklah kalau begitu, Ara bersiap-siap dulu. Mama tunggulah di luar, sebentar lagi Ara datang menyusul."
"Baiklah sayang, tapi jangan kelamaan ya nak. Nanti kau terlambat masuk sekolahnya."
"Baik Ma!" jawab Ara seraya mengikuti perintah Kemuning.
"Setelah Ara selesai berkemas, dia langsung menuju mobil. Karena Kemuning telah menunggunya di dalam mobil. Lalu dengan kecepatan sedang, mobil pun melaju di jalan raya
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka berdua di sekolah. Saat itu, kedatangan Ara telah ditunggu oleh Dea. Yang berdiri di gerbang sekolah.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Ara ingin tahu.
"Nungguin kamu Ara. Kenapa, nggak boleh ya?" tanya Dea dengan suara lembut.
"Kenapa harus menungguku?"
"Nggak boleh ya?" tanya Dea sekali lagi.
"Nggak perlu bermanis mulut Dea. Aku tahu kok, sebenarnya kau, hanya ingin mencari masalah denganku ."
__ADS_1
"Kok kau tahu, aku mau mencari masalah denganmu?"
"Dilihat dari gelagatmu yang tak biasanya.
"O ya. Kalau kau nggak keberatan sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu," ujar Dea saat itu.
"Apa itu?"
"Jadi. Semalam itu, benar kau telah mencuri darah di rumah sakit?"
"Dari mana kau tahu, kalau semalam aku mencuri darah di rumah sakit?" tanya Ara heran.
"Nggak perlu kau sembunyikan dariku. Aku tahu kok, apa saja yang kau lakukan di luar sana."
"Kurang ajar. Jadi selama ini kau memata-matai aku?"
"Buat apa, aku memata-matai mu. Nggak ada untungnya kan. Yang jelasnya, aku yang akan kau jadikan, sasaran korban berikutnya."
"Aku nggak pernah mencuri darah di rumah sakit dan aku juga nggak pernah menjadikan kau sasaran berikutnya."
"Terserah mu, tapi aku tahu semuanya."
Mendengar perkataan dari Dea, Ara sedikit heran. Kenapa Dea selalu tahu, apa yang dilakukan Ara di belakangnya. Padahal, jarak rumah mereka sangat jauh sekali.
"Jadi. Setiap hari, kau melakukan penerawangan ke rumahku?" tanya Ara pada Dea.
"Untuk apa aku melakukan itu Ara. Nggak bergerak saja kau, aku sudah tahu."
"Sombong kamu Dea, kau kira ilmu mu itu hebat ya?"
"Aku nggak merasa kok, kalau aku punya ilmu. Buktinya, aku nggak pernah mencari tumbal untuk ilmuku. untuk ilmu yang kau miliki, kau membunuh begitu banyak nyawa."
Belum selesai mereka bicara, bel sekolah pun berdering. Seperti biasa, pertengkaran pun segera dihentikan. Dea dan Ara langsung tersenyum dan kembali ke kelas, untuk mengikuti proses belajar mengajar, seperti biasanya.
Di dalam kelas, Ara berpikir. Bagaimana cara menghancurkan Dea. Yang selalu saja menjadi penghalang dalam hidupnya.
Apalagi, setelah guru menyatukan mereka berdua. Sehingga Ara, tak punya kesempatan untuk menyakiti Dea.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1