AraDea

AraDea
Part 60 Kejadian yang menimpa Dina


__ADS_3

Dengan senang hati Dina langsung menuju ruang kepala sekolah. Setiba di depan ruangan tersebut Dina tak berani masuk ke dalam.


"Silakan masuk," ujar kepala sekolah dari dalam.


Mesti kepala sekolah, telah memberinya izin untuk masuk. Namun Dina tetap berdiri di depan ruangan tersebut.


Melihat Dina tak muncul-muncul, kepala sekolah langsung berdiri dan bergegas menuju pintu.


"Ada apa, kenapa kamu nggak mau masuk ke dalam?" tanya kepala sekolah ingin tahu.


"Aku takut Pak," jawab Dina pelan.


"Takut kenapa?"


Dina diam saja, sewaktu kepala sekolah bertanya tentang alasannya, tak mau masuk ke dalam ruangan kepala sekolah tersebut.


"Ayo!" ajak kepala sekolah seraya memegang tangan Dina.


Dengan perasaan takut, Dina pun mencoba melangkah masuk ke dalam. Dengan pelan, dia duduk di bangku, tepat di hadapan kepala sekolah.


"Ada apa nak, kenapa kamu nggak mau masuk ke dalam kelas?" tanya kepala sekolah ingin tahu.


"Aku nggak mau satu kelas dengan Ara Pak?"


"Pasti kamu punya alasan untuk itu. Karena nggak semua permintaan itu, yang bisa dipenuhi kalau tidak memiliki alasan yang tepat."


"Aku takut bersamanya, Pak!"


"Takut, maksudmu kau takut sama Ara?"


"Iya Pak," jawab Dina seraya menunduk.


"Namamu Dina, kan?"


"Iya Pak."


"Nah Dina, sekarang coba Dina jelaskan kepada Bapak, apa alasan Dina nggak mau satu kelas dengan Ara."


Lama Dina terdiam, dia tak mau menjawab pertanyaan dari kepala sekolah. Karena perasaan takut, saat itu sedang membelenggu jiwanya.


"Bicaralah nak, Bapak akan merahasiakan semua itu, jika kau mau berterus terang dan berkata jujur kepada Bapak," ujar kepala sekolah memberi jaminan kepada Dina.


"Pak, aku kenal dengan Ara. Kami memang nggak satu Desa dengannya. Tapi aku sudah lama kenal dengan Ara. Dia gadis yang aneh, mesti begitu aku tak pernah membuktikan keanehannya, selama ini."


"Terus!" ujar kepala sekolah penasaran.


"Di kelas, aku bersebelahan tempat duduk dengannya. Tadi, dia menatapku dengan tajam. Lama-lama, bola matanya yang indah dan bening, berubah menjadi warna hitam legam dan berputar-putar melirik ke arahku. Aku takut Pak, aku takut sekali."


Mendengar penjelasan dari Dina, kepala sekolah hanya manggut-manggut, lalu Kepsek memanggil guru fisika, yang saat itu masih berada di luar ruangan kantor.


"Ibu dipanggil Bapak," ujar Dina pelan.


"Benarkah?"


"Iya Bu."


Karena dipanggil kepala sekolah, Bu Diah langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk tepat di hadapan kepala sekolah.

__ADS_1


"Bapak memanggil saya?"


"Iya Bu. Nanti Dina, pindahkan aja ke kelas 1B tukar dengan murid yang bernama Jasman."


"Baik Pak," jawab Bu Diah dengan suara lembut.


"Lalu Bu Diah menggandeng tangan Dina, untuk menuju ke kelas 1B. untuk menggantikan Jasman yang akan dipindahkan ke kelas 1A.


"Kenapa saya harus dipindahkan Bu?" tanya jasman kepada Bu Diah."


"Ini perintah kepala sekolah," jawab Bu Diah singkat.


Jasman langsung menuruti perintah Bu Diah. Dia pun pindah ke lokal 1A, sementara itu Dina, pindah ke kelas 1B.


"Setelah Dina duduk, Pak Zaki langsung bertanya kenapa Dina, kenapa Dina minta dipindahkan ke kelas 1B.


"Pelajaran di kelas 1A, nggak sanggup saya cerna Pak," jawab Dina memberi alasan.


"Bukankah pelajaran antara kelas 1A dan 1B sama, Dina?"


"Berbeda Pak," jawab Dina berbohong.


sepertinya kau memberi alasan yang salah Dina," ujar Pak Zaki.


Mendengar guru bahasa Indonesia itu bicara, Dina hanya diam saja. Karena kebohongannya, terungkap langsung oleh Pak Zaki.


"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan pelajaran kita hari ini.


Sementara itu, jasman yang telah berada di ruang kelas 1A, membuat semua teman menjadi heran.


Mesti demikian, jasman hanya diam saja. Dia duduk diam, di bangku tempat Dina duduk.


Pelajaran pun segera dimulai, hingga jam istirahat. Semua siswa, tampak mendengarkan keterangan dari Bu Diah, guru fisika mereka.


Setelah bel istirahat berdering, Dea langsung menghampiri jasman, yang saat itu masih mencatat pelajaran fisika, yang tertinggal.


"Dina mana jas?" tanya Dea ingin tahu.


"Dia pindah ke kelas 1B, Dea."


"Kenapa pindah?"


"Aku nggak tahu, karena Bu Diah nggak memberi alasan apapun kepadaku dan murid kelas 1B.


"Aneh. Kenapa ya, tiba-tiba saja Dina ingin pindah ke kelas 1B."


Merasa penasaran dengan perbuatan Dina, Dea langsung pergi ke kelas 1B untuk menghampiri Dina, yang saat itu berada di dalam kelas tersebut.


Saat kemunculan Dea di depan pintu kelas 1B, Dina langsung menyusulnya dan menggandeng tangan Dea untuk duduk bersamanya di bangku kelas.


"Kamu kenapa kok pindah kelas?" tanya Dea ingin tahu.


"Maafkan aku Dea, aku nggak bisa bicara. Karena ini, berhubungan dengan Ara."


"Aku tahu, apa yang dilakukan Ara padamu."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya."


"Kau tahu dari mana?"


"Bukan hanya itu, aku juga tahu apa penyebab, kau pindah ke kelas ini?"


"Benarkah itu. Jadi kau tahu apa alasanku pindah ke kelas ini?"


"Iya, aku tahu semuanya. Aku bisa membaca pikiranmu dan pikiran teman-teman di kelas. Aku tahu, apa yang dilakukan Ara kepadamu, mesti kau menyembunyikannya dariku."


"Coba katakan kepadaku, apa yang telah dilakukan Ara padaku?"


"Ara telah memperlihatkan matanya, kepadamu bukan?"


"Iya Dea. Aku melihatnya sendiri, mata Ara yang bening, berubah menjadi hitam legam dan berputar-putar, membuat aku takut Dea."


"Mesti kau mengetahuinya, kau harus ingat satu hal. Tetaplah kau menegur Ara, bersikaplah seperti tak terjadi apa-apa kepadanya. Jika kau tetap memusuhinya, maka kau akan menjadi korban berikutnya."


"Apa maksudmu Dea?" tanya Dina tak mengerti.


"Ara sengaja melakukan hal itu, agar orang yang mereka takuti akan menjadi korban berikutnya."


"Korban apa?"


"Korban boneka darah, yang dia miliki."


"Apa, boneka darah!" ujar Dina kaget.


"Sssst...! jangan keras-keras, kamu mau didengar oleh Ara.


"Ya Allah, benarkah itu Dea?"


Dea tak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Pertanda pertanyaan yang diajukan oleh Dina benar adanya.


"Sejak kapan Ara melakukan itu Dea?"


"Sejak dia berumur tujuh tahun."


"Sebenarnya, aku kenal dengannya Dea. Karena, kami bersebelahan Desa. Memang banyak desas-desus yang menceritakan perihal keluarganya. Tapi aku belum mempercayainya, karena selama ini aku belum cukup bukti untuk itu."


"Sekarang kau sudah paham bukan?"


"Ya, aku sudah tahu sekarang, siapa Ara sebenarnya."


"Untuk itu, bersikaplah biasa-biasa saja. jangan sampai terjadi hal-hal yang membuat dia sakit hati kepadamu."


"Baik Dea, terima kasih atas saranmu."


"Iya, sama-sama," jawab Dea, seraya menepuk pundak Dina dengan lembut.


Setelah Dea pergi, Dina langsung keluar kelas. Matanya yang jeli melirik ke setiap penjuru sekolah. Tepat di bawah sebatang pohon rindang, yang berada di tengah sekolah. Dina melihat Ara sedang duduk diam di sana.


Dina langsung menghampirinya. dia berlaku seolah-olah tak terjadi apa-apa, seperti yang diajarkan Dea kepadanya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2