AraDea

AraDea
Part 54 Sekolah baru untuk Dea


__ADS_3

Kalau Ara nggak ditemukan di rumah, lalu siapa yang telah merusak semua perabotan rumah?" tanya Kemuning pada dirinya sendiri.


Merasa tak senang. Lalu Kemuning menemui Bondan, yang saat itu juga kebingungan, melihat kondisi rumahnya yang berantakan.


"Menurut mu, siapa ya kira-kira yang telah merusak rumah kita ini Mas?" tanya Kemuning ingin tahu.


"Entahlah sayang, semuanya berantakan. Seperti ada yang lagi kesal."


"Ara, Ara, Ara!" teriak Kemuning memanggil nama putrinya. Berulang kali Kemuning memanggil nama putrinya, namun Ara tak juga terlihat.


"Aneh, pergi ke mana kamu sayang?" tanya Kemuning yang saat itu merasa kebingungan.


Beberapa saat kemudian, di saat keduanya sedang sibuk mencari keberadaan anaknya. Ara langsung datang menemui mereka.


Ara begitu heran, melihat Papa dan Mamanya menangis di depan pintu.


"Papa dan Mama, kenapa menangis?" tanya Ara heran.


"Ara, kamu sudah kembali nak!"


"Kembali, kembali dari mana Ma?"


"Tadi, kamu kan pergi dari rumah!" ujar Kemuning menjelaskan.


"Ara nggak kemana-mana kok Ma, baru saja Ara bangun. Kayaknya udah terlambat nih pergi sekolah."


"Jadi, Ara baru bangun sayang?"


"Iya Ma, Ara baru bangun. Emangnya ada apa sih. Kok Papa sama Mama, kelihatan panik dan sedih?"


Benar ini kamu sayang?" tanya Bondan tak percaya.


"Iya Pa, ini Ara. Kok Papa nanyanya, kayak gitu sih?"


"Sebab, baru saja Ara menyantap semua makanan yang ada di atas meja dan menyakiti Mama," jelas Bondan pada Ara.


"Ah, masa Ara seperti itu."


Mendengar jawaban dari putrinya, Bondan dan Kemuning saling beradu pandang. Keduanya merasa bingung, dengan apa yang telah terjadi pagi itu. Seperti sebuah kenyataan.


Tak ingin memperpanjang masalah. Bondan langsung menarik tangan putrinya, untuk duduk di atas sofa di ruang tamu.


"Benar, Ara baru bangun sayang?"


"Benar Pa, buat apa Ara berbohong. Selama ini, Ara nggak pernah bohongin Papa kan?"


"Ya udah. Syukurlah, kalau Ara sehat-sehat aja hari ini."

__ADS_1


"Emangnya apa yang terjadi sih, Pa?" tanya Ara ingin tahu.


"Nggak ada apa-apa. Perasaan Papa dan Mama, kamu itu udah bangun. Eh nyatanya belum," jawab Bondan berbohong.


"Ya udah sayang, sekarang kamu mandi sana gih. Nanti, biar Mama yang akan mengantarkan kamu ke sekolah."


"Apa menurut Mama, Ara nggak terlambat kesekolah?"


"Nggak sayang, nanti biar Mama yang bilangin sama gurumu, kalau Ara pagi ini agak sedikit terlambat."


"Baik Ma, kalau gitu Ara mandi dulu ya."


"Iya sayang," jawab Kemuning seraya menarik nafas panjang.


Kejadian pagi itu, membuat mereka berdua seperti berada di alam mimpi. Rasanya, hal itu benar-benar telah terjadi. Namun nyatanya, Ara yang mereka sangka telah berubah, ternyata masih seperti Ara yang lama. Putri kecil yang lucu dan manja.


Setelah Ara selesai mandi dan sarapan pagi, Kemuning langsung mengantarkan putrinya ke sekolah.


Ketika Ara hendak memasuki gerbang sekolah, tanpa sengaja Ara melihat Dea bersama Mamanya berada di pintu gerbang.


Wangi kedua perempuan itu, membuat Kemuning merasa pusing dan sakit kepala.


"Mama kenapa?" tanya Ara ketika melihat Mamanya lemah.


"Entahlah sayang, sepertinya kedua perempuan itu, memiliki aroma tubuh yang sangat wangi sekali."


"Aku tahu itu Ma, yang kecil itu bernama Dea. dia bukan gadis biasa Ma, dia punya kekuatan yang sangat luar biasa," jawab Ara pada Mamanya.


"Kami pernah sama-sama, melakukan aduh kekuatan batin di dalam mobil ini."


"Lalu?" tanya Kemuning penasaran.


"Lalu mobil langsung berhenti dan Papa menoleh ke belakang. Saat itu, kami berhenti melakukan adu kekuatan kami berdua."


"Kenapa gadis itu, ada di dalam mobil ini sayang?" tanya Kemuning.


"Waktu itu, tanpa sengaja Papa menyerempet dia. Ketika dia sedang berjalan kaki. Lalu dia melempar mobil kita, hingga kaca belakang ini pecah, Ma."


"Terus, Papa nggak marah?"


"Justru saat itu, Papa memberi tumpangan kepadanya dan di sanalah awal pertemuan kami Ma. Tapi sayang, dia selalu menyakiti hatiku."


"Maksudmu apa? Mama nggak ngerti?"


"Aku nggak bisa menceritakan ya, Ma. Karena Ayah melarangku untuk bercerita lebih, kepada Mama."


"Ayah mu, bilang begitu?"

__ADS_1


"Iya, Ma."


"Kenapa Ayah melarangmu bercerita lebih kepada Mama?"


"Karena menurut Ayah, Mama nggak perlu tahu, urusan kerajaan Angkara. Karena Mama nggak akan kuat menerimanya."


"Menerima apa sayang, Mama semakin nggak ngerti deh?"


"Sudahlah Ma, aku masuk kelas dulu. Nanti kita lanjutkan lagi ceritanya."


"Baiklah, hati-hati sayang. Jangan nakal, jangan bikin guru kesal dan jangan suka jahil sama teman."


"Baik Ma," jawab Ara patuh.


Setelah mohon pamit kepada Mamanya, Ara langsung menuju kelas. Di dalam kelas, dia langsung menaruh tasnya dan kembali berlari keluar. Ara berjalan sendiri menuju kantor, di sana dia melihat Dea bersama Mamanya, sedang duduk di ruang majelis guru.


"Semua guru merasa terhipnotis waktu itu, ketika mencium aroma kedua perempuan itu."


Namun Ara, berusaha mengendalikan pikiran mereka kembali.


Sementara itu, Pandan wangi merasa resah karena semua mata tertuju kepadanya. Dia langsung mengajak putrinya untuk keluar."


"Tenanglah Ma. Jika aku keluar, berarti aku gagal sekolah di sini," jawab Dea saat itu.


"Kau lihatkan sayang, semua mata memandangi kita berdua. Mama takut, sekali."


"Mama yang tenang, ada aku kok. Mama nggak perlu kuatir."


"Kita melamar sekolahnya, besok aja ya sayang. Biar nenek yang mengantarkan, seperti sekolahmu sebelumnya."


"Nggak perlu Ma, hari ini cukup Mama yang mengantarkan aku ke sekolah. Besok, biar aku sendiri yang datang ke sini. Mama nggak perlu kuatir, nggak kan ada orang yang berbuat jahat kepada Mama."


"Kau benar sayang, tapi Mama nggak biasa menghadapi orang sebanyak ini," jawab Pandan wangi ketakutan.


Melihat Mamanya ketakutan dan gemetar, Dea berusaha untuk menghiburnya. Agar rasa takut itu tidak menggorogoti jiwa Mamanya. Lewat sentuhan tangan nya yang lembut, Dea menyalurkan kekuatan gaibnya kepada Pandan wangi.


Semua itu sengaja dilakukan Dea, agar Pandan wangi merasa kuat dan tidak kalah mental jika melihat orang banyak. Benar saja, setelah hawa murni itu disalurkan Dea ke tubuh Mamanya, Pandan terlihat sedikit kuat dan tegar.


"Dihadapan kepala sekolah, Pandan begitu lancar bicara, seperti tak ada rasa takut sedikitpun di hatinya.


"Baiklah Bu, besok Putri Ibu sudah bisa sekolah di sini. Tapi ingat, selama bersekolah di sini, Putri Ibu tidak bisa berbuat sesuka hatinya. Karena ada peraturan yang telah menuntun mereka semua," jelas kepala sekolah kepada Pandan wangi.


"Baik Bu. Insya Allah, peraturan sekolah ini, akan diikuti dan dijalani oleh putri saya dengan sebaik-baiknya."


"Terima kasih atas kerjasama ibu dengan pihak sekolah, semoga kehadiran Dea dapat membawa dampak baik bagi kemajuan sekolah kita ini."


"Insya Allah Bu, semoga putri saya dapat memberikan contoh yang baik kepada teman-teman nya."

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2