
Lalu dengan pelan, pintu pun dibuka dari dalam. Saat itu juga, kepsek sedikit terkesima. Selain aroma tubuh Pandan wangi yang harum, Pandan wangi juga berwajah cantik.
"Cari siapa ya?" tanya Pandan wangi pada ketiga orang guru tersebut.
"Benarkah ini rumah Dea?" tanya Bu Sinta.
"Saya sendiri Mamanya, ada apa ya?"
"Boleh kami masuk?"
"Kalian siapa?"
"Kami guru, Dea."
"Oh, guru Dea ya. Kalau begitu baiklah, silakan masuk," ujar Pandan wangi, seraya membukakan pintu lebar-lebar.
"Dea nya ada Bu?"
"Ada, barangkali di kamar."
"Bisa Ibu panggilkan dia?"
"Baik Bu, tunggulah sebentar," jawab Pandan wangi seraya meninggalkan ketiga orang guru tersebut.
Setelah Pandan wangi pergi, kepala sekolah bersama dua orang guru tersebut, merasakan suasana yang nyaman, saat berada di dalam rumah Pandan wangi. Aroma tubuh Pandan wangi yang sangat harum, membuat mereka ingin berlama-lama di rumah itu.
"Ternyata dia orang kaya, ya Pak?”
"Benar Bu, tapi kalau kita lihat dari pergaulan dan cara berpakaiannya sehari-hari, gadis itu tidak memperlihatkan kalau dia seorang gadis kaya raya."
"Benar Pak, saya juga menduga seperti itu. Saya kira dia berasal dari keluarga biasa-biasa saja."
"Eh, Ibu tahu nggak. Dea itu dia nggak pernah makan nasi lho."
"Maksud Ibu, dia nggak makan nasi?" tanya Bu Zubaidah ingin tahu
"Benar Bu. Dia nggak pernah makan nasi, dia mengkonsumsi kembang setiap hari."
"Ah Ibu serius?" tanya kepala sekolah tak percaya.
"Iya Pak, aku dengar sendiri dari Mita gadis yang biasa menemani dia, pergi ke taman di belakang sekolah."
"Jadi, dia itu makan kembang?"
"Iya Pak, Dea sama Ara mereka berdua sama-sama makan kembang."
"Kenapa saya bisa nggak tahu ya, apakah sudah begitu banyak rahasia di sekolah itu, sehingga saya bisa nggak tahu."
"Nggak sih Pak, aku pun baru mendapatkan informasi itu, kemarin sore dari Mita."
__ADS_1
Mendengar informasi dari Bu Sinta, kepala sekolah hanya menganggukkan kepala. Di hati kepsek itu, dia ingin membuktikan sendiri, apa benar kedua murid nya itu mengkonsumsi kembang setiap harinya.
Berita yang disampaikan oleh Bu Sinta, membuat kepala sekolah menjadi penasaran.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, Dea pun keluar dari kamarnya.
"Ibu, Bapak? kenapa datang ke sini?" tanya Dea heran.
"Pak kepala sekolah, ingin menanyakan masalah kepergianmu semalam Dea."
"Tapi kenapa Bapak dan Ibu datang ke sini? bukankah besok aku pergi ke sekolah."
"Iya Dea. Tapi Bapak ingin memastikan hal itu sekarang."
"Apa yang ingin Bapak pastikan?"
"Kenapa semalam kau kembali ke sekolah, dalam keadaan penuh bercak darah di pakaianmu?"
"Aku nggak bisa menceritakannya Pak."
"Kenapa? bukankah setiap anak yang Bapak tanya, harus menjawab dengan jujur. Tidak boleh berbohong dan tidak boleh berbelit-belit dalam bicara."
"Tapi ini masalah pribadiku Pak," jawab Dea dengan polos.
"Apapun itu yang menjadi alasanmu, Bapak ingin tahu kebenaran nya, darimu sekarang juga."
"Tentu nak, tentu. Bapak sangat percaya sekali, jika kau mau berkata jujur kepada Bapak.
"Baiklah, ketika aku dan Ara menghilang sewaktu kami belajar di perpustakaan, kami diperintahkan untuk berperang."
"Ha...! jawaban ini yang Bapak nggak mengerti."
"Kenapa Bapak nggak mengerti, bukankah tadi sudah aku katakan, kalau kami berdua pergi berperang."
"Kalau soal berperang Bapak mengerti, cuma, berperangnya ini, di mana?" tanya kepala sekolah ingin tahu.
"Bukankah semalam, sudah aku katakan kepada Ibu Sinta. Kalau kami berperang di perbatasan kerajaan Parahyangan."
"Nah, itu dia. Kerajaan Parahyangan ini di mana?"
"Kalau aku ceritakan dengan jujur, apa Bapak mau mengerti dan memahami ucapanku."
"Bicaralah dengan jelas, Bapak pusing mendengar setiap ucapan kalian berdua. Kalian seperti sedang berkhayal, berhalusinasi, kalian menceritakan sebuah kerajaan yang terletak di Nirwana. Mana pernah selama ini, ada kerajaan di Nirwana dan di Kahyangan."
"Ya sudah, kalau Bapak nggak percaya, aku nggak akan melanjutkan cerita ini lagi. Karena hal itu percuma, hanya menambah beban pikiran Bapak nantinya."
"Hal itu, nggak akan menambah beban pikiran Bapak, ceritakanlah yang sebenarnya."
Mendengar pertanyaan dari kepala sekolah, Dea semakin pusing. Sebab, semakin dijelaskan, justru kepala sekolah semakin tak mengerti. Bahkan kepala sekolah menuduh Dea sedang berhalusinasi.
__ADS_1
Di saat itu, Dea mendengar sebuah bisikan gaib di telinganya. Bisikan itu berasal dari Nirwana, dari kerajaan Parahyangan yang dipimpin oleh Papanya sendiri, raja Askara.
"Putriku Dea, putriku Dea!"
"Di saat bisikan itu terdengar di telinga Dea, gadis itu hanya diam terpaku, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu sedang memikirkan apa nak?" tanya kepala sekolah ingin tahu."
"Apakah hal ini, harus aku ceritakan juga kepada Bapak?"
"Kenapa? kau merasa keberatan untuk menceritakannya?"
"Nggak, aku nggak keberatan. Hanya saja, apa yang akan ku ceritakan nanti, Bapak tetap takkan percaya."
Sekarang, begini saja nak Dea. Ceritakanlah yang sebenarnya, biar kepala sekolah dan kami para guru-guru, menjadi senang dengan ceritamu itu."
"Putriku Dea, putriku Dea Chandra Maya. kau dengarkan aku bicara?"
Mesti Dea mendengar jelas, kalau raja Askara sedang memanggilnya. Namun Dea terlanjur sakit hati. Karena pedang naga miliknya, ditarik oleh raja Askara, atas hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya.
Karena tak mendapat jawaban, raja Askara langsung turun ke bumi. Dia menemui ketiga orang guru Dea, yang saat itu ingin mendengarkan dengan jelas cerita Dea.
"Oh, ada guru Dea rupanya!" ujar Askara seraya duduk di sebelah kepala sekolah.
Mereka pun saling bersalaman satu sama lainnya, seraya tersenyum lebar.
"Bapak orang tuanya, Dea?"
"Iya Pak, saya orang tuanya Dea. Tadi saya ada di kebun, jadi saya nggak tahu kalau ada tamu di rumah rupanya."
"Maaf Pak, kami sudah mengganggu waktu Bapak dan Ibu di rumah ini. Tapi kami selaku kepala sekolah dan guru, ingin penjelasan yang pasti dari murid kami Dea, atas kehilangannya kemarin siang saat belajar."
"Dea menghilang, Pak?"
"Benar Pak. Dea menghilang, saat dia belajar. Dea pergi entah kemana, bersama teman sebangkunya Ara."
"Benarkah itu Dea?" tanya raja Askara dengan berpura-pura."
Saat itu Dea tak menjawab, Dea hanya menundukkan kepalanya, mesti rasa sakit hatinya sedang meluap-luap, dengan pertanyaan raja Askara kepadanya. Namun dia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Dea, kau dengar Papa bicara nak!" bentak Askara pada putrinya.
Mesti suara Askara saat itu, terdengar keras menyakiti telinganya. Namun Dea masih saja diam, Dea tak memandang sedikitpun wajah Papanya, yang saat itu memberi kesan amarah yang meluap-luap kepada dirinya.
"Sudah Pak, sudah. Nggak usah dimarahi. Dea mungkin sedang tidak sehat saat ini, sehingga dia berhalusinasi saat bicara," jawab kepala sekolah dengan suara lembut.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1