
Mesti mereka saling bergandeng tangan, namun, ilmu batin yang mereka miliki, mereka adu seketika. Dari kedua telapak tangan mereka keluar asap yang berubah-ubah, kadang berwarna putih dan terkadang berwarna hitam.
Ketika keduanya belum sampai pintu, Ara kelihatan mandi keringat. Sementara Dea terlihat sedikit pucat. Ilmu kebatinan yang mereka miliki, ditambah lagi tenaga dalam yang cukup sempurna, membuat kekuatan mereka semakin dahsyat jika disatukan.
"Enyah kau dari rumahku dan jangan pernah berpikir, untuk datang sebagai pemangsa ke rumah ini."
"Ini belum berakhir Dea, ini baru permulaannya dan aku akan terus menghantui keluargamu, kapan dan di mana saja mereka berada."
"Coba saja kalau kau berani. Sehelai rambut Mamaku yang kau sentuh, aku akan membuat satu jari tanganmu patah."
"Benarkah?"
"Kita buktikan nanti, kalau kau memang berniat ingin mengganggu keluargaku."
Ketika keduanya hendak mencapai pintu, Ara tampak lemah, tubuhnya sedikit terhuyung hingga menyentuh dinding.
"Kau kenapa?" tanya Dea ingin tahu.
"Apa pedulimu," jawab Ara ketus.
"Sini biar aku bantu, kalau kau merasa lemah, duduklah terlebih dahulu. Biar ku ambilkan kau air," ucap Dea pelan.
Setelah Ara duduk di bangku Dea, Dea pun langsung berlari menuju dapur, untuk mengambilkan segelas air putih. Agar Ara dapat minum dan rasa pusingnya sedikit berkurang.
"Aku nggak apa - apa kok, sebentar lagi juga baikan!" jawab arah.
"Tapi minumlah sedikit, agar rasa pusingnya menghilang."
"Nggak usah Dea, aku hanya butuh darah bukan air putih," jawab Ara seraya melotot tajam ke arah Dea.
"Di sini nggak ada darah Ara, kalau kau butuh darah, cari hewan ternak. Ayam kek apa saja yang kau suka. Asalkan jangan manusia. Berarti kau telah membunuh banyak manusia di dunia ini, demi ilmu yang kau miliki."
"Aku hanya butuh darah, darah! aku haus, bukan air putih yang ku butuhkan!" teriak Ara dengan suara yang lantang.
"Sekarang kembalilah ke rumahmu, jika kau berlama-lama di sini aku bisa menghabisimu nantinya."
"Baik, aku akan pergi!' jawab Ara seraya meninggalkan Dea.
Baru saja kakinya melangkah, Ara langsung menghilang dari pandangan Dea. Mesti demikian, Dea tak mempermasalahkannya. Karena saat itu, Ara pasti menggunakan ilmu peringan tubuh untuk bisa berlari kencang.
Setelah Ara pergi, Dea langsung kembali ke kamarnya, untuk melihat kondisi Mamanya yang pingsan. Ketika tiba di dalam kamar, Ara mendapatkan Mamanya sudah siuman.
"Mana temanmu tadi nak?" tanya Yuni ingin tahu.
"Dia sudah pulang Nek," jawab Dea pelan.
__ADS_1
"Bilang sama Mama nak, siapa temanmu itu?" tanya Pandan wangi ingin tahu."
"Dia itu yang bernama Ara, Ma. Putri raja Dasamuka, yang selalu menginginkan kematianku."
"Kapan dia datang?"
"Ketika aku hendak tidur Ma, tiba-tiba saja dia sudah berada di dekatku."
"Apa yang dia inginkan darimu nak?" tanya Yeni ingin tahu.
"Darah!"
"Darah, maksudnya apa ya?"
"Putri raja Dasamuka tersebut, selalu minum darah untuk kesempurnaan hidupnya. Jika dia tidak mendapatkan darah, maka tubuhnya akan terasa lemah. Untuk itu, dia selalu mencari darah."
"Apakah kedua orang tuanya mengetahui hal itu?"
"Aku rasa nggak Ma," jawab Dea.
"Tapi kenapa wajahnya, begitu mengerikan nak?" tanya Pandan wangi.
"Ara adalah keturunan genderuwo. Dia mengambil Kemuning sebagai istrinya. Sementara Kemuning, sudah memiliki suami yang bernama Bondan."
"Ya ampun, apakah Bondan tidak mengetahui, kalau istrinya itu menjadi istri dari genderuwo tersebut."
"Jadi, benar apa yang Mama lihat tadi. Kalau gadis itu memiliki bola mata yang berwarna hitam dan memiliki dua taring yang panjang?"
"Benar Ma."
"Apakah di desa gadis itu, tidak ada yang merasa curiga dengan keluarga Ara?"
"Nggak Ma, mereka nggak ada yang curiga pada keluarga Ara. Karena Bondan Ayah Ara, sangat baik dan suka bergaul dengan masyarakat desa tersebut."
"Kau harus berhati-hati padanya nak. Kalau memang dia selalu mengincar nyawamu."
"Tenanglah Ma, nggak akan terjadi apa-apa denganku!"
"Kau selalu jawab seperti itu. Tapi Mamamu cemas Dea."
"Maafkan aku Ma. Aku janji, aku akan selalu jaga diri. Mama nggak perlu kuatir, lagian ada Papa yang selalu menjaga aku."
"Mama percaya nak, mesti demikian kita harus selalu waspada. Karena kelalaian yang kita lakukan, dapat mengakibatkan hal buruk terjadi pada diri kita."
"Mama benar, aku akan selalu dengar dan ingat nasehat Mama."
__ADS_1
"Terima kasih sayang, kalau begitu kembalilah kau tidur. Mama akan ke kamar dulu."
"Iya Ma," jawab dia singkat.
Malam itu, seperti biasanya Dea tidur dengan lelap sekali. Begitu juga dengan Mama dan Neneknya. Malam itu, suasana sangat tenang dan nyaman.
Pagi hari, ketika selesai melaksanakan salat subuh. Dea langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Karena sekolah, sangat jauh dari rumahnya.
Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang dia miliki, Dea berkelebat berlari kencang, meliuk-liuk di antara perumahan di desa tempat tinggalnya.
Di saat dia tiba di gerbang sekolah, gadis manis itu melihat Ara, yang saat itu sedang duduk sendirian di taman depan sekolah.
Dari kejauhan, Dea melihat sikap aneh yang dilakukan oleh Ara saat itu. Setelah diperhatikan betul, Ara pun langsung menghilang.
"Pergi ke mana dia itu?" tanya Dea pada dirinya sendiri.
Di saat dia hendak melangkah menghampiri sekolah, bel pertanda masuk pun berdering. Dea langsung masuk ke dalam kelasnya.
Ketika itu, Dea tak melihat Ara yang tadinya menghilang.
"Hm..!" kenapa ya, dia belum kembali juga. Apakah ada urusan penting yang dia lakukan di Angkara?"
Tak berapa lama kemudian, guru pun masuk ke dalam kelas dan mengambil absen. Seluruh siswa yang saat itu sedang hadir tampak tenang mendengarkan namanya di panggil
Ketika nama Ara dipanggil, gadis itu tak kunjung muncul. Sehingga dia dinyatakan Alfa oleh guru bahasa Indonesia.
"Kamu tahu Dea, kemana perginya Ara?"
"Nggak Bu, tadi aku sempat melihatnya. Habis itu, tiba-tiba saja dia menghilang entah pergi ke mana."
"Apakah kalian ada tahu ke mana Ara pergi?"
"Nggak Bu," jawab murid serentak.
Ara memang menghilang saat itu, karena ada tugas dari kerajaan Angkara untuk dirinya. Padahal, waktu itu Ara tak mau pergi ke Kayangan, namun dua orang prajurit dari Angkara datang memaksa dan membawa Ara pergi bersamanya.
"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Ara yang saat itu telah tiba di kerajaan Angkara.
"Ada apa denganmu Ara?' tanya prabu Dasamuka.
"Mesti Ara mendengar ucapan dari Ayahnya, namun dia tidak mau menjawab. Hati Ara sangat sakit, karena raja Dasamuka tak mau menemuinya dan mengembalikan boneka darah miliknya.
"Kenapa aku dipanggil, Aku nggak ingin ke Kayangan. Karena jika aku ke Kayangan, tubuhku berubah menjadi buruk," jawab Ara ketus.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*