
Melihat Ibunya merasa senang dan bahagia, Pandan langsung keluar dari dalam kamar Ibunya. Namun setelah Pandan keluar, Yeni pun ikut keluar menyusul putrinya itu.
“Ibu mau kemana?” tanya Pandan heran.
“Ibu mau pulang aja nak, Ibu lapar, Ibu belum makan sedari pagi.”
“Ooo, Ibu lapar ya.”
“Iya sayang.”
“Dayang, Ibu ku mau makan, tolong layani dia dengan baik.”
“Baik yang Mulia ratu.”
“Ah nggak, Ibu nggak mau makan di sini.”
“Kenapa Bu?”
“Kamu tau nggak, ini kan alam lelembut, semua yang mereka makan, itu bukan nasi kita seperti yang di bumi sayang.”
“Ah, benarkah itu dayang?”
“Nggak Ibu ratu, kalau Ibu ratu mau makanannya berasal dari bumi, kami bersedia menghidangkannya kesini.”
“Gimana Bu, Ibu mau makan?”
“Nggak, nggak, nggak!”
“Kenapa? katanya lapar.”
“Ibu memang lapar sayang, tapi mereka itu mau mencuri makanan dari mana? mereka itu kan nggak punya uang, berarti Ibu makan, makanan haram dong.”
“Jadi mau Ibu gimana?”
“Kita kembali saja ke Bumi sayang, kita hidup dengan layak di sana.”
“Suami ku seorang raja di sini Ibu.”
“Kau bilang sama Ibu, kau menikah dengan pria yang kau kenal di dalam mimpi mu, tapi kau telah menipu Ibu nak.”
“Aku nggak menipu Ibu, aku berkata jujur apa adanya.”
“Suami mu itu, bukan manusia biasa nak, dia itu dedemit. Kamu tau nggak kalau dedemit itu makanannya tinja kering.”
“Nggak Bu, nggak semua makhluk halus itu makanannya tinja kering, Ibu mungkin salah.”
“Dulu sewaktu Ibu sekolah, guru Agama Ibu, bilang begitu ke Ibu.”
“Udah, Ibu nggak usah membahas itu lagi ya, di sini Ibu nggak usah merasa cemas, Ibu bisa makan makanan kesukaan Ibu di sini, seperti aku makan makanan manusia selama berada di bumi bersama Ibu dan Pandan.”
“Jadi, kamu selama ini, makan apa nak?” tanya Yeni ingin tahu.
__ADS_1
Askara tak menjawabnya, karena tak semuanya yang mesti di ketahui oleh manusia, kadang ada hal yang menjadi rahasia, yang harus di simpan untuk dirinya sendiri.
“Dayang, antarkan Ibu ku kekamarnya untuk istirahat, setelah itu beri Ibu ku makanan yang lezat.”
“Nggak, nggak sayang, Ibu nggak lapar.”
“Benar Ibu nggak lapar?”
“Iya, Ibu mau istirahat aja di kamar.”
“Benar Ibu mau istirahat?” tanya Pandan ingin tahu.
“Iya, sayang,” jawab Yeni sembari meninggalkan Pandan.
Setelah berpamitan dengan putri tercintanya, Yeni langsung masuk kedalam kamar, dia tampak sedih sekali.
“Seandainya saja jarak Bumi ke nirwana ini, hanya berjarak seratus meter, pasti aku udah berlari pulang kerumah,” ujar Yeni sembari meneteskan air matanya.
Ternyata satu tetes air mata Yeni membuat istana Prahiyangan bergetar seperti terjadi gempa. Bukan hanya Pandan yang kaget, Yeni sendiri juga merasa kaget dan ketakutan.
Yeni tampak berlari keluar kamar begitu juga dengan Pandan yang berlari seraya menggendong putrinya.
Sementara itu, Askara tampak terheran-heran melihat keduanya begitu panik. Askara sendiri juga merasa heran kenapa tiba-tiba saja Istananya berguncang.
“Apa yang terjadi? Kenapa istana berguncang?”
“Ampun yang Mulia, menurut sejarah dari leluhur kita dulu, istana ini akan terguncang jika ada manusia yang menangis karena sedih.”
“Ampunkan hamba yang Mulia, menurut sejarah, hanya itu yang menyebabkan istana kita berguncang yang Mulia.”
Mendengar jawaban dari penasehat kerajaannya, Askara langsung menghampiri Ibu mertuanya.
“Maafkan aku, Bu. Aku telah membuat Ibu sedih.”
“Ibu nggak marah padamu, Ibu hanya ingin pulang ke bumi, hanya itu saja nak.”
“Baiklah, kalau Ibu mau pulang ke bumi, maka saat ini juga akan aku hantarkan Ibu pulang ke rumah.”
“Benarkah nak, kau akan mengantarkan Ibu pulang ke bumi?”
“Iya, sekarang pejamkan mata Ibu,” ujar Askara seraya mengembalikan Ibu mertuanya pulang kembali kerumahnya.
Hanya sekali mengedipkan mata saja, Yeni langsung tiba di bumi. Saat itu dia sedang terbaring di atas ranjang.
“Alhamdulillah, aku udah kembali ke alam ku,” gumam Yeni pelan.
Merasa telah berada di alamnya, Yeni kembali beraktifitas seperti biasa, namun hati kecilnya merasa sedih, karena selama ini, putri tunggalnya menikah dengan makhluk ghaib. Perasaan kecewanya, mulai diungkapkannya dengan isak tangis.
Bagi Pandan yang sedari kecil tinggal bersama Ibunya, dia merasakan kesedihan itu, malam itu juga Pandan minta pada suaminya agar segera di hantarkan ke Bumi.
“Kenapa ingin pulang ke Bumi sayang?” tanya Askara ingin tau.
__ADS_1
“Kami ini manusia yang Mulia, kami nggak biasa hidup di alam lain.”
“Bukankah di sini kamu selalu di layani dengan baik?”
“Itu benar yang Mulia dan nggak ada kesalahan sama sekali dengan pelayan dari mereka semua.”
“Lalu apa yang salah sayang?”
“Aku hanya ingin membesarkan dan mendidik putri kita di bumi, agar di tau bagai mana cara hidup dan bergaul dengan manusia di bumi.”
“Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, maka aku akan mendirikan sebuah istana di bumi, agar kalian bisa menikmati kekayaan kerajaan ku.”
“Itu terserah yang Mulia, kami sekeluarga pasti akan mendukungnya dengan senang hati.”
“Terima kasih sayang,” ujar Askara seraya mendekap erat tubuh istrinya dengan lembut.
Mesti berbeda alam, namun mereka saling melengkapi satu sama lainnya, sesua dengan ucapan Askara mereka bertiga pun kembali ke Bumi. Bersama manusia di Bumi Askara mulai menyatukan diri.
Mesti demikian, satu kelemahan Askara selama berada di Bumi, karena keberadaannya tak pernah di lihat oleh manusia, hanya saat-saat tertentu saja Askara bisa memperlihatkan wajah tampannya pada orang yang berada di sekitarnya.
Sesuai dengan janji Askara, dia pun membangun semua rumah yang sangat megah di bumi dan mengutus banyak dayang untuk mengurus mereka.
Suatu hari, seorang tetangga datang menghampiri rumah Pandan yang berdiri kokoh dan megah, ketika dia hendak mengetuk pintu rumah Pandan, tiba-tiba saja dia terhenti melangkah, dia berdiri terpana kearah dalam.
“Tuti yang melihat wanita itu berdiri, dia pun langsung menghampirinya. Tuti yang selalu memiliki perasaan ingin tahu, dia langsung menoleh kearah dalam.
“Ada apa Tesa, kenapa bingung?” tanya Tuti penasaran.
“Coba kau lihat kedalam sana, Ti,” ujar Tesa seraya menunjuk ke dalam rumah Pandan.
Betapa terkejutnya Tuti saat itu, ketika dia melihat Pandan bicara dan tertawa dengan bahagia. Namun Tuti tak melihat siapapun di sana selain Pandan sendiri.
“Dia bicara dengan siapa?” tanya Tuti heran.
“Sepertinya, dia sedang berbicara dengan seseorang.”
“Tapi kita nggak melihat siapa-siapa di sana selain dia.”
“Iya, sepertinya suami Pandan itu bukan manusia deh.”
“Maksud mu suami Pandan itu hantu.”
“Mungkin, karena hanya hantu yang nggak bisa di lihat oleh manusia.”
“Kata siapa hantu nggak bisa di lihat oleh manusia?”
“Kan, barusan aku yang ngomong.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1