
Bukan hanya itu saja, Dasamuka juga meneror warga yang berbicara dengan Bondan dan Kemuning. Sepertinya prajurit Dasamuka melarang Bondan dan Kemuning bicara pada warga, apa lagi yang berhubungan dengan mereka berdua.
Setelah usia Ara mencapai tujuh tahun, Bondan dan Kemuning mengantarkan putrinya itu ke sekolah, seperti anak-anak lainnya Kemuning juga menginginkan putrinya mengenyam Pendidikan.
Awal sekolah, terlihat Ara punya banyak teman, dia bermain dan berlari bersama yang lainnya. Kemuning merasa senang sekali, karena Ara dengan cepat bisa menyesuaikan diri bersama teman barunya.
Saking senangnya, Ara bahkan selalu ingin datang lebih cepat dari yang lain, karena jika dia datang terlebih dahulu, Ara bisa membuat kejutan untuk semua teman barunya.
Setelah Ara turun dari mobil, dia langsung berlari menuju kelasnya, dari balik pintu kelas tersebut, Ara bersembunyi untuk mengagetkan temannya yang baru datang.
Setelah menunggu begitu lama, ternyata tak seorang temanpun yang melihat Ara bersembunyi di belakang pintu. Semua teman-temannya tampak berlari memasuki ruang kelas dengan bergembira.
Ara yang bersembunyi di belakang pintu, merasa begitu sedih, karena semua temannya tak seorang pun yang melihat keberadaannya. Merasa tak ada yang merespon, Ara pun menangis sedih.
Mada guru kelas satu yang baru masuk langsung mengambil absen para muridnya, saat memanggil nama setiap murid tersebut, Mada tak melihat Ara di bangku tempat duduknya.
“Ara Pramudya?”
“Nggak datang Bu!”
“Ada yang tau kemana dia, sayang?”
“Nggak Bu!” jawab semua murid serentak.”
Karena tak ada yang mengetahui kemana Ara pergi, lalu Bu Mada langsung melanjutkan untuk memanggil nama muridnya yang lain.
Kemuning yang saat itu berada di dekat pintu merasa heran, kenapa Mada tak melihat Ara yang sedang berada di dalam kelasnya.
“Maaf Bu, padahal tadi putri saya udah masuk lho, kenapa nggak ada ya?”
“Benarkah?”
“Iya, Bu sebelum semua murid datang putri saya telah masuk terlebih dahulu.”
“Tapi, kenapa kami semua nggak melihatnya, Bu.”
Seperti Mada, kemuning juga tak melihat keberadaan putrinya. Saat itu Kemuning begitu panik sekali, dia pun langsung berlari kebelakang sekolah untuk mencari putri kesayangannya itu.
“Ara! Ara! Ara! Kamu kemana sayang!” ujar Kemuning seraya menangis.
Karena panik kehilangan Ara, Kemuning langsung menghubungi suaminya di alam kayangan. Dalam bisikan ghaib, Kemuning mendengar suara yang mengatakan kalau Ara berada di belakang pintu kelas sedang bersembunyi.
“Maksudnya apa sih Bang?”
“Kemuning, putrimu bermaksud hendak bersembunyi, agar semua teman-teman melihat keberadaannya, namun karena semua teman tak melihatnya, saat ini Ara menjadi sedih. Masuklah kedalam kelas beritahu gurunya tentang hal ini.”
“Baik, Bang,” jawab Kemuning yang langsung bergegas masuk kedalam kelas Ara.
__ADS_1
“Permisi Bu,” ujar Kemuning yang saat itu langsung masuk kedalam.
“Iya, silahkan Bu.”
“Aku bermaksud hendak memberi tahu Ibu, bahwa Ara saat ini sedang bersembunyi di balik pintu, dia pingin semua teman mengetahui keberadaannya.”
“Ooo, begitu, baiklah,” jawab Mada, seraya berbisik pada setiap anak muridnya yang lain.
“Baik Bu,” jawab mereka serentak.
Seperti yang di perintahkan oleh Bu Mada, semua murid bergegas untuk keluar dan memanggil-manggil nama Ara yang hilang dari pandangan mereka semua.
Rencana yang paling jitu, semua murid memanggil-manggil nama Ara, ada yang berlakon sedih, ada yang sedang berlakon menangis, ada pula yang berlakon memanggil-manggil nama Ara dan berpura-pura mencari keberadaannya.
Mendengar semua orang sibuk mencari dirinya, Ara langsung keluar dari persembunyiannya, dia tampak tersenyum manis dan senang.
“Oh, Ara sayang, kemana saja kamu nak, semua temanmu begitu sibuk mencari keberadaanmu nak?”
“Ara nggak kemana-mana Bu guru.”
“benarkah?”
“Iya Bu guru, Ara hanya bersembunyi di balik pintu itu.”
“Oh, sayang! kami semua telah sedih, karena tak seorang pun teman mu yang mengetahui keberadaanmu sayang.”
“Benar nak.”
“Tapi Ara nggak melihat kesedihan itu pada diri kalian!”
“Lho, kamu bisa melihat nya nak?”
“Ara tahu, kalau kalian semua sedang berpura-pura. Tapi nggak apa-apa, Ara nggak marah kok, setidaknya Ibu dan teman-teman telah berusaha untuk menghibur Ara.
Karena kepalsuan mereka terbongkar oleh Ara, lalu Meda menghampiri Kemuning yang sedang tersenyum senang, karena putrinya terlihat senang dan bahagia.
“Kenapa Ara bisa mengetahui, kalau kita sedang bersandiwara padanya, Bu?”
“Itu cuma kebetulan saja Bu Mada.”
“Lagi pula, saat dia bersembunyi tadi, semua teman-teman tak ada yang melihatnya.”
“Ah masa, buktinya saya mengetahuinya kok,” bantah Kemuning pada Mada.
Karena Kemuning sudah terlihat sedikit emosi, lalu Mada pun kembali kedepan kelas dan kembali mengabsen semua siswanya.
“Nah, anak-anak, karena Ara sudah kembali bersama kita, maka pagi ini, pelajaran akan kita lanjutkan kembali.”
__ADS_1
“Baik Bu,” jawab semua murid serentak.
Bukan hanya hari itu saja, Ara membuat semua teman-temannya tampak heran, Pagi itu Ara juga membuat semua teman dan gurunya tercengang heran melihat perbuatannya.
Pagi itu saat Pak Rizal sedang mengajar di depan kelas, tiba-tiba saja Ara berbuat usil pada seorang temannya. Diam-diam Ara mencolek tubuh Yuni dari belakang.
Yuni langsung marah ketika Ara mencoleknya dari belakang. Karena terdengar suara ribut di bangku Yuni, lalu Pak Rizal langsung menghampiri Yuni.
“Ada apa Yuni?” tanya Pak Rizal heran.
“Itu Pak, Ara usil,’ jawab Yuni sembari menoleh kearah Ara.
“Kok aku sih, yang salah?” tanya Ara tak terima.
“Kalau bukan kamu lalu siapa lagi?” Yuni pun balik bertanya.
“Kenapa nggak kau tuduh saja yang lainnya?”
“Karena saat ini hanya kau yang dekat dengan ku,” jawab Yuni.
“Benar kamu telah mengganggu Yuni, Ara?”
“Nggak Pak.”
“Dia itu bohong Pak,” bantah Yuni sedikit kesal.
“Ara nggak melakukan itu kok Pak.”
“Ya sudah, kalau kamu nggak mau mengakuinya, nggak apa-apa, tapi lain kali kamu jangan melakukannya lagi ya.”
“Kenapa sih, Bapak nggak percaya!” ujar Ara dengan suara lantang.
“Ara, kamu nggak perlu membentak Bapak sayang, kan Bapak sudah bilang, kalau Ara nggak mau mengakuinya, ya nggak apa-apa, tapi lain kali Ara jangan lakukan itu lagi pada teman-teman.”
“Ara nggak melakukannya!” jerit Ara kesal.
“Ya sudah, terserah Ara saja,” jawab Pak Rizal sembari kembali ketempat duduknya.
Mesti Rizal sudah menganggap semua kejadian itu tak ada, namun Ara tetap merasa kalau Pak Rizal telah menuduhnya berbuat jahat. Itu sebabnya Ara berdiri dan tak mau kembali duduk di bangkunya.
“Silahkan Ara duduk nak, pelajaran akan kita mulai kembali ya sayang,” ujar Rizal pada Ara.
Mesti Rizal telah menyuruhnya duduk, namun Ara tetap saja berdiri seraya mengepal kedua tangannya.
Karena Ara pramudya, tak mau kembali duduk, Pak Rizal pun tak memperdulikannya, dia tetap melanjutkan pelajarannya kembali.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*