
Karena sikap Pak Rizal itulah, Ara merasa tersinggung dan langsung memukulkan tangannya kemeja, hingga meja itu pun patah dan terbelah menjadi dua bagian.
Pak Rizal terkejut begitu juga dengan seluruh anak-anak lainnya, Rizal benar-benar tak menduga kalau Ara yang sekecil itu bisa membuat meja sekuat itu patah dan pecah.
“Ya Allah, Ara? Kamu kenapa?” tanya Rizal terkejut.
Ara tak menjawab mesti terdengar oleh telinganya, tatapan mata Ara terlihat begitu tajam kearah Rizal. Saat Rizal membalas tatapannya, mata Ara berubah menjadi hitam legam, lalu kembali berubah menjadi seperti semula.
Rizal yang melihatnya, langsung mundur kebelakang beberapa depa, kemudian dia pun duduk di bangku dengan diam.
Karena Rizal diam, Ara pun kembali kebangkunya, dan berlaku seperti biasa. Setelah suasana kembali normal. Rizal langsung bergegas keluar untuk menuju kantor. Wajahnya terlihat begitu pucat,
Rizal duduk dengan diam di bangkunya.
Nuri yang melihat Rizal duduk diam dengan wajah pucat, diapun mencoba untuk bertanya dan menghampiri.
“Ada apa Pak Rizal?” tanya Nuri ingin tahu.
“Ibu percaya nggak, kalau aku berkata benar.”
“Maksud Bapak apa?”
“Tadi aku mengalami kejadian luar biasa seumur hidupku Bu.”
“Kejadian luar biasa? kejadian apa itu Pak?”
“Tadi di kelas Ara bertengkar dengan Yuni, kata Yuni Ara mencolek pinggangnya. Tapi saat kutanya, Ara sepertinya marah, dia tak mengakui perbuatannya itu.”
“Lalu?”
“Aku udah berusaha untuk menenangkan mereka, dengan cara melanjutkan kembali pelajaran. Namun Ara marah, dan memukul meja dengan tangannya yang kecil.”
“Berarti Ara melawan sama Bapak?”
“Kalau itu aku nggak ambil pusing, yang bikin aku terkejut itu, meja yang di pukul Ara langsung patah dan pecah berantakan.”
“Ya Allah, benarkah itu Pak?”
“Iya Bu. seperti itulah kenyataannya.”
“Gimana kalau hal ini kita beritahukan pada Mamanya saja Pak.”
“Terserah Ibu, Aku nggak mau mengajar anak itu lagi.”
“Kenapa?”
“Ibu tahu nggak, mata anak itu tiba-tiba saja berubah menjadi hitam legam saat dia menatap ku dengan amarah.”
“Benarkah itu Pak?” tanya Nuri setengah berbisik.
“Iya Bu,” jawab Pak Rizal.
Di saat mereka sedang bicara, lalu Kemuning melintas di depan kantor, Nuri yang melihat langsung menghampiri Kemuning.
“Hai, Bu,” sapa Nuri pada Kemuning.
“Hai juga,” jawab Kemuning sembari terus melangkah melewati kantor.
“Kenapa diam?” tanya Pak Rizal pada Nuri.
“Aku nggak berani bicara.”
__ADS_1
“Owalah, masa bicara seperti itu saja Ibu nggak berani.”
“Bapak bisa bicara seperti itu, kenapa nggak Bapak aja yang bicara sama Ibunya Ara, kan Bapak sendiri yang mengalami masalah itu.”
“Kalian itu kan sama-sama perempuan. Jadi, lebih leluasa bicaranya.”
“Itu kan menurut Bapak, kalau aku nggak berani ngomongnya Pak.
“Ya sudah, kalau begitu nggak usah di bicarakan lagi,” ujar Rizal.
Melihat Rizal sedikit kecewa, Nuri merasa tak senang, lalu dia pun keluar untuk mencari keberadaan Kemuning, setelah melihatnya, Nuri langsung menghampirinya.
“Bu, bisa saya bicara sebentar?”
“Oh, ada apa ya, Bu.”
“Sini, kita duduk sebentar!” ajak Nuri seraya memegang tangan Kemuning untuk menuju sebuah bangku tempat duduk.
“Begini, Bu, tadi di dalam kelas, ada sedikit kelakuan Ara yang membuat gurunya terkejut sekaligus heran.”
“Apa itu, Bu?” tanya Kemuning ingin tahu.
“Begini.”
Mendengar Nuri hendak menerangkan sesuatu, Kemuning terpaksa harus diam, agar cerita Nuri terdengar jelas di telinganya.
“Tadi, di dalam kelas, Ara memukul meja hingga meja itu pecah dan hancur.
Emangnya Ara sering bertingkah laku aneh di rumah Bu?”
“Nggak, dia nggak pernah bertingkah laku aneh dirumah.”
“Yang membuat kami terkejut itu, Ara sanggup memecahkan meja yang begitu kuat.”
“Iya.”
Mendengar penjelasan Nuri, Kemuning hanya bisa diam saja, agar semua orang tak mencurigai Ara dengan perilaku anehnya itu, Kemuning segera meminta maaf pada Nuri dan seluruh pihak sekolah yang telah dirugikan.
Sambil berdiri, Kemuning mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dan di berikan pada Nuri.
“Apa ini Bu?” tanya Nuri ingin tahu.
“Ini ada sedikit uang ganti rugi dari saya untuk sekolah, semoga uang ini cukup untuk mengganti meja yang pecah dan hancur.”
“Ini terlalu banyak sekali Bu.”
“Kalau berlebih, ambil saja, tapi saya mohon agar Ibu jangan memberitahukan hal ini ke pihak sekolah.”
“Baik Bu,” jawab Nuri seraya mengambil lembaran uang kertas itu dari tangan Kemuning.
Setelah Kemuning berlalu meninggalkannya, Nuri langsung bergegas menuju ruang majelis guru dan menghampiri Rizal yang masih termenung.
Ketika melihat Nuri masuk kedalam, Rizal langsung mengangkat kepalanya dan menghampiri Nuri dari dekat.
“Gimana, apa kata Ibu itu?”
“Kata siapa? Aku nggak ngomong sama Ibu itu kok,” jawab Nuri berbohong.
“Jadi kau yang keluar tadi, bukannya bicara dengan Ibunya Ara ya?”
“Nggak, tadi aku hanya menegurnya saja.”
__ADS_1
“O ya, tapi aku lihat sendiri tadi kau bicara dengan orang tuanya Ara di depan kelas.”
“Ooo, yang tadi itu, aku hanya sekedar menegurnya saja, nggak ngomongin yang lain kok.”
“Ya sudah,” jawab Rizal seraya keluar dari kantor majelis guru dan bergegas menuju ruang kepala sekolah.
“Tok, tok, tok!”
Mendengar suara pintu di ketuk dari luar, kepala sekolah langsung mengizinkannya masuk kedalam.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” silahkan masuk.
“Permisi Pak.”
“Oh, Pak Rizal, ada apa Pak?”
“Saya mau melaporkan sesuatu Pak.”
“Melaporkan apa?”
“Tadi di dalam kelas telah terjadi sesuatu di luar dugaan saya Pak.”
“Kejadian di luar dugaan?”
“Benar Pak.”
“Apa itu Pak Rizal?”
“Sebenarnya untuk ukuran anak sebesar Ara, tentu kita tidak yakin kalau dia itu bisa memecahkan meja hingga patah dan hancur.”
“Maksud Bapak apa ya?”
“Tadi di dalam kelas Ara bertengkar dengan Yuni, tapi karena pertengkaran itu telah menyakitkan Ara, lalu gadis kecil itu memukul meja dengan tangannya hingga pecah.”
“Bapak serius hal itu terjadi?”
“Iya, Pak, saya berkata dengan jujur.”
“Kalau begitu bawa Ara kesini, saya ingin bertemu dengannya.”
“Baik Pak,” jawab Rizal seraya meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Lalu Rizal mendatangi ruang kelas Ara, yang saat itu pelajaran Bahasa Indonesia sedang berlangsung, Kemuning yang berdiri di luar pintu merasa heran dengan kedatangan Pak Rizal yang menghampiri guru Bahasa Indonesia tersebut.
“Silahkan Pak!” jawab guru Bahasa Indonesia itu dengan pelan.
“Baik, terimakasih Bu. Ayo Ara, ikut Bapak sebentar.”
Ara tak menjawab, dia hanya diam saja dan mengikuti Pak Rizal dari belakang. Kemuning merasa heran ketika Ara di bawa Pak Rizal keluar dari kelasnya.
“Maaf Pak, Ara mau di bawa kemana ya?”
“Dia di panggil kepala sekolah Bu.”
“Kenapa kepala sekolah memanggilnya?”
“Nggak tahu Bu, tapi ini permintaan kepala sekolah.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*