
"Mau lari ke mana kalian hah! kalian kira, kalian bisa lari sesuka hati kalian dan kembali ke kerajaan Parahyangan!"
"Melihat beberapa orang prajurit, dari kerajaan Buana menghadang mereka. Dea langsung maju ke depan seluruh para rakyat dan prajurit kerajaan Parahyangan.
"Hm...! ternyata ada yang mau mengantar ajal, di hadapan kita ya?"
"Kalian semua yang akan mengantar ajal! kalian kira kalian bisa kembali ke Parahyangan dengan begitu mudahnya. Lihat di sekeliling kalian!" seru prajurit itu kepada seluruh tawanan yang berada di dekat Dea.
Melihat situasi yang sangat berbahaya, para wanita dan anak-anak disuruh menepi oleh Dea. Sementara yang laki-laki disuruh membantu Dea, dalam menghadang para prajurit kerajaan Buana. Agar tidak mendekati para wanita dan anak-anak.
Melihat mereka ketakutan, Dea segera mengeluarkan pedang naga miliknya.
"Wahai rakyatku, jika pedang naga milik ku sudah keluar, maka duduklah dengan menutup kedua telinga kalian."
"Baik yang mulia," jawab seluruh tawanan itu serentak.
Lalu Dea memutar-mutar pedang naga di atas kepalanya. Setiap putarannya, mengeluarkan percikan api yang menyambar setiap benda yang berada di sekitarnya.
"Ingat! jika kalian terus menghalangi kami, maka akan ku binasakan kerajaan Buana ini. Akan ku bumi hanguskan hutan ini dan kalian akan menjadi gelandangan untuk selamanya!"
Mendengar ancaman dari Dea, seluruh prajurit Buana langsung lari tunggang langgang. Sebab hutan di tempat tinggal mereka, sudah ada yang terbakar oleh pedang naga milik Dea.
Setelah para prajurit itu lari, lalu Dea segera membawa seluruh rakyat Parahyangan, melewati perbatasan kerajaan Buana.
Ketika perjalanan mereka sudah mencapai tiga km, dari perbatasan kerajaan Buana. Barulah mereka beristirahat. Dea memandangi para rakyatnya dengan rasa sedih.
"Kenapa kalian semua meninggalkan kerajaan Parahyangan? bukankah selama di kerajaan itu, kalian hidup aman rukun dan damai."
"Maafkan kami yang mulia, tapi Raja Buana telah merayu kami, dia berjanji akan memberi kami sebidang tanah dan harta yang cukup."
"Apakah di kerajaan Parahyangan, kalian tak mendapatkan tanah dan hidup yang layak?"
"Tidak yang mulia, para pejabat dan menteri kerajaan. Mereka semua telah menguasai seluruh tanah, di wilayah kami yang mulia."
"Benarkah apa yang kalian katakan?"
"Iya yang Mulia, mana mungkin kami berbohong. Selama ini para menteri dan para petinggi kerajaan lah, yang hidupnya mewah dan bergelimang harta."
__ADS_1
Di saat beberapa orang warga itu bicara, mata Dea langsung tertuju pada Donggala. Pria yang tampak duduk sedikit menjauh darinya, terlihat tertunduk.
Lalu Dea pun berdiri, ketika Dea berdiri, seluruh mata menatap ke arahnya, termasuk Donggala beserta keluarganya.
"Benarkah begitu Donggala?" tanya Dea dengan suara lantang.
"Tidak yang mulia, itu tidak benar. Kami para menteri tak pernah berbuat seperti itu. Walaupun kami punya harta dan kemewahan, itu semua dari hasil gaji kami, yang kami terima dari pemerintahan."
"Dia itu bohong yang mulia, Donggala beserta para menteri lainnya, selalu datang ke desa kami menagih pajak dan merampas tanah wilayah kami."
"Kau dengar sendiri kan Donggala, apa yang diucapkan warga kepadaku, tentang kekejaman para menteri selama ini.”
"Maafkan hamba yang mulia, hamba tak pernah seperti itu. harta dan tanah yang dapat itu, semua dari hasil keringat hamba sendiri."
"Baiklah Donggala, besok akan kita buktikan kebenaran dari ucapanmu itu. Apakah benar harta itu berasal dari usaha pribadimu, atau dari hak rakyat yang telah kau rampas."
"Baik yang mulia."
"Tapi ingat Donggala, jika ketahuan kau benar-benar berbohong, maka kerajaan Parahyangan akan memberimu hukuman pancung."
Mendengar ucapan Dea, Donggala menjadi cemas. Apalagi Dirga putra kesayangannya. Dirga merasa takut, jika apa yang dikatakan oleh Putri Dea benar dilakukannya, maka habislah Ayah yang selama ini dibelanya.
"Itu tidak benar nak. Harta yang Ayah dapat, murni dari hasil usaha Ayah sendiri."
"Akuilah Ayah, daripada hukuman Ayah semakin berat nantinya."
"Apa yang harus Ayah akui anakku. Harta itu benar-benar harta Ayah nak. Ayah nggak akan mungkin melakukan hal sekeji itu."
"Kau nggak sedang menyembunyikan sesuatu kan Bang?" tanya istri Donggala yang terlihat semakin cemas.
"Nggak sayang, semua itu bukan dari hasil kejahatan."
"Kalau kau tak mau mengakuinya, ya sudahlah. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, kenapa kau keluar dari Parahyangan. Bukankah jabatan mu, selama di kerajaan Parahyangan seorang menteri. Lalu apa yang membuatmu ingin keluar dari kedudukan mu sebagai seorang menteri."
"Itu urusan pribadi yang mulia, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ku, sebagai menteri."
"Coba kau jawab dengan jujur."
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Dea, Donggala menjadi bingung mesti menjawab apa."
"Kenapa kau diam Donggala! apapun yang terjadi di istana, itu juga suatu alasan bagiku untuk datang ke Nirwana ini."
"Maafkan hamba yang mulia, sebenarnya hamba terpaksa keluar dari istana. Karena seorang prajurit istana yang bernama Dupa, telah diangkat oleh yang mulia Raja, menjadi penasehat kerajaan."
"Bukan hanya aku, tapi seluruh para menteri, tidak menyukai keputusan raja tersebut."
"Apa yang membuat kalian tidak menyukai Dupa, menjadi penasihat kerajaan?"
"Karena selama ini, Dupa itu hanya bawahan para menteri yang mulia. Tugasnya, hanya disuruh bukan menyuruh."
"Bukankah hal itu sangat bagus?"
"Kami merasa direndahkan yang mulia, karena sejak Dupa diangkat menjadi penasihat kerajaan, lalu tugasnya
pemerintah dan memaksa kami untuk beralih tugas."
"Bukankah beralih tugas itu, hal yang sangat bagus Donggala,
"Itu benar yang Mulia. Tapi tugas dari seorang menteri, menjadi seorang prajurit, itu sama saja dengan penghinaan terhadap kami, para menteri yang mulia.
"Kalau kau nggak mau dihina, jangan buat kesalahan terhadap rakyat. Ingat Donggala, jika nanti terbukti seluruh para menteri bersalah aku yang akan memberantas kalian semua.
Mendengar ucapan Dea, nyali Donggala menjadi ciut. Karena selama ini, Donggala bersama menteri-menteri yang lain telah bekerjasama, menindas rakyat dan melakukan korupsi besar-besaran.
"Nah seluruh rakyatku, ayo kita lanjutkan perjalanan kita kembali ke Parahyangan. Karena Raja kalian, telah menunggu kalian di sana."
"Baik yang mulia!" jawab seluruh rakyat serentak.
Lalu Dea bersama rakyat lainnya, kembali ke Parahyangan dengan berjalan kaki. Mesti Dea bisa menghilang dan berlari secepat mungkin, tapi dia tidak ingin melakukan hal itu. Sebab, ada begitu banyak, rakyat yang dicintai berada bersamanya saat itu.
Bukan hanya sekedar berjalan dan mengiringi mereka, Dea juga memikul beban berat di atas kepalanya, barang para penduduk yang di bawah pindah sewaktu mereka tergiur dengan harta di kerajaan Buana.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Tibalah mereka di alun-alun kerajaan, semua rakyat tampak lelah ada yang terkapar di depan istana. Ada yang tak sadarkan diri dan adakah yang tertidur.
Bersambung..
__ADS_1
*Selamat membaca*