
"Benarkah itu Bu?"
"Iya sayang, mimpi seperti yang kau alami itu adalah mimpi buruk. Mimpi buruk juga, bagi kehidupanmu. Rumah mu saat telah dikuasai oleh makhluk sakral."
"Maksud Ibu?"
"Rumahmu telah dikuasai oleh makhluk gaib nak. Makhluk halus yang kau sendiri tidak dapat melihatnya, atau pun menjamahnya."
"Jadi benar. Kalau hal-hal aneh yang kurasakan selama ini, adalah pengaruh makhluk itu?"
"Le, Ibu mohon tinggalkanlah rumah itu. Tinggalkanlah istri dan putrimu. Tinggallah kau di rumah bersama Ibu, suatu saat nanti perbuatan istrimu pasti terbongkar. Dengan siapa dia selama ini berhubungan, dengan manusia kah atau makhluk gaib."
"Jadi selama ini, Kemuning telah menipuku, Bu. Aku yakin, Ara bukanlah putriku dan darah daging ku sendiri."
"Nggak perlu keburu-buru mengambil keputusan nak, karena hal itu bukan cara yang bijak sebagai seorang suami."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan Bu?"
"Selidiki lah dahulu siapa kekasih istrimu itu sebenarnya. Karena Ibu yakin, pria yang ada bersamanya saat ini bukan orang sembarangan, bisa jadi dia itulah yang makhluk gaib seperti yang ada di dalam mimpimu."
"Baiklah Bu, aku akan selidiki kasus ini sampai aku tahu, apa yang dilakukan Kemuning di belakangku."
Saat mereka berdua asyik bercerita di malam itu, tak terasa pagi pun datang menyambangi. Suaraku kokok ayam, membangunkan seisi rumah sakit.
Tak berapa lama kemudian, suara adzan pun mulai berkumandang di masjid terdekat. Bondan mengajak Dina dan Ibunya untuk melaksanakan salat subuh di masjid.
Mereka bertiga melaksanakan salat dengan khusyuk dan tenang.
Sementara itu di rumah Kemuning. Pagi-pagi sekali ketika Ara telah bangun dan pergi ke kamar mandi, tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang duduk di ruang tengah.
"Ayah," ujar Ara kaget.
Untung saat itu, raja Dasamuka tidak melihat keberadaan Ara. Sehingga Ara lebih leluasa berjalan menuju kamar mandi. Ketika sedang melintasi dapur, Ara melihat Kemuning sedang memasak makanan."
"Mama lagi ngapain?" tanya Ara ingin tahu.
"Mama lagi memasak nak, membuat sarapan untuk Ayahmu," jawab Kemuning.
"Sarapan, Mama lagi bikin sarapan untuk Ayah. Mama serius?"
"Iya sayang, Mama lagi masak bikin sarapan untuk Ayahmu."
Mendengar ucapan Kemuning Ara hanya ketawa geli. Karena setahu Ara, Ayahnya tidak memakan apa-apa di bumi. Karena makhluk gondoruwo tidak sama makanannya dengan manusia.
Setelah Kemuning selesai membuat sarapan nasi goreng, kesukaan Bondan. Lalu sarapan itu disuguhkan Kemuning kepada Danu, sedangkan Ara hanya melihatnya dari balik pintu kamar.
"Ini Bang sarapannya, makanlah," ujar Kemuning seraya menyuguhkan sepiring nasi goreng dan segelas air putih kepada Danu.
"Melihat nasi goreng yang berada di hadapannya dengan segelas air putih. Bondan langsung berdiri dan menatap Kemuning dengan pandangan yang aneh.
__ADS_1
"Kenapa kau memandangiku Bang?" tanya Kemuning heran.
"Aku bukan manusia Kemuning, aku berasal dari kayangan aku tidak mengkonsumsi nasi seperti kalian di bumi."
Mendengar ucapan Danu, Kemuning baru sadar kalau suaminya itu bukan manusia. Dia pun tersenyum malu dan membawa makanan itu ke belakang.
Sementara itu Ara yang melihat mamanya membawa makanan itu kembali ke dapur, dia pun jadi tertawa melihat pemandangan pagi itu.
Mendengar suara gelak tawa Ara dari kamarnya, Kemuning merasa tersinggung, Dia langsung datang menghampiri Ara.
"Kamu kenapa diam Ara? padahal kau tahu sendiri kan, kalau Ayahmu nggak makan nasi sama dengan Mama."
"Aku kira Mama udah tahu, makanya aku diam saja Ma," jawab Ara menyelamatkan diri.
"Alasan!" ujar Kemuning kesal.
Karena kesal pada Ara, lalu Kemuning pergi meninggalkannya, tak berapa lama kemudian Danu pun memanggil Kemuning.
"Ada apa Bang?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Mana Ara? kenapa aku nggak melihatnya dari tadi."
"Putrimu ada di kamar Bang, dia lagi ganti pakaian, mau sekolah."
"Suruh dia ke sini, aku ingin bicara dengannya."
"Panggil lah sendiri, bukankah kau Ayahnya?"
"Dasar genderuwo, selalu saja ingin menang sendiri," gerutu Kemuning seraya berlalu menuju kamar Ara.
Baru beberapa langkah Kemuning berjalan, tiba-tiba saja Danu menampar wajah istri, sehingga Kemuning terpental hingga tubuhnya membentur dinding rumah.
Wajahnya tampak meringis menahan rasa sakit. Dari mulut Kemuning, keluar darah mengalir menetas mengenai lantai.
Ara yang melihat kejadian itu, langsung berlari menghampiri Mamanya, matanya yang hitam langsung mengeluarkan hawa panas dan menatap ke arah Danu.
Danu merasa ketakutan, karena hawa panas yang dikeluarkan dari mata Ara dapat membakar tubuhnya. Dia pun mengelak dan berlari menjauhi Kemuning dan Ara.
"Kenapa Ayahmu lari Ara?" tanya Kemuning heran.
"Sepertinya Ayah ketakutan Ma. Tapi kenapa dia takut ya?" tanya Ara heran.
"Aneh, kenapa Ayahmu bisa takut menengok wajahmu?"
"Apa mungkin, Ayah takut ketika melihat mataku?"
"Kenapa dengan matamu nak?"
"Karena dari mataku akan mengeluarkan hawa panas, jika aku sedang marah."
__ADS_1
"Benarkah itu?"
"Iya Ma dan Ayah merasa ketakutan, karena hawa panas yang keluar dari mataku dapat membakar bulunya."
"Bulu maksudmu, bulu apa?"
"Bukankah Mama sudah tahu, asal usul aku dan Ayah?"
"Iya nak, nggak usah dibahas lagi, Mama udah tahu itu.
"Biarlah Ayah pergi Ma, ayo biar Ara bantu Mama berdiri."
"Baik sayang."
"Emangnya tadi Mama ngomong apa sama Ayah, sehingga Ayah marah dan menampar Mama?"
"Ayah menyuruh Mama memanggilmu, tapi Mama menolaknya, Ayahmu tetap memaksa, lalu Mama sebut Dia genderuwo."
"Kenapa Mama ucapkan itu?"
"Kenapa? emang bener kan Ayahmu itu genderuwo?"
"Ya sudah Ma. Nggak usah dibahas lagi, aku nggak mau membahasnya."
Lalu Ara pun pergi meninggalkan Kemuning, yang sedang duduk di ruang tamu.
Tak berapa lama kemudian, Ara pun keluar dengan memakai seragam sekolah. Kemuning melihatnya dengan pandangan hampa.
"Mama kenapa?" tanya Ara heran.
"Mama nggak apa-apa kok nak. Kamu mau ke mana Ara?"
"Aku mau ke sekolah Ma?"
"Apa perlu, Mama yang antarkan?"
"Kenapa, Mama keberatan?"
"Nggak sih, kalau kau ingin Mama antar, Mama akan bersiap dulu."
"Ya silakan Ma, aku akan menunggu di luar."
Di saat Ara sedang menunggu Mamanya di depan pintu, tiba-tiba saja Ara melihat seekor ayam sedang mencari makan di depan rumahnya.
Nafsu Ara pun datang seketika, ayam yang sedang makan tersebut pun ditangkap dan dikuliti serta dimakan dagingnya mentah-mentah.
Di saat Ara sedang memakan daging ayam itu, Kemuning pun keluar dari rumahnya. Akan tetapi, betapa terkejutnya Kemuning, ketika melihat putrinya sedang makan ayam mentah.
Kemuning terkejut dan langsung tak sadarkan diri. Sementara itu, Ara yang melihat Mamanya pingsan, langsung mengangkat tubuh Mamanya ke dalam rumah dan membaringkannya di atas kasur.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*