
Lalu mereka pun sepakat dengan cara berjabat tangan. Ara sangat senang sekali, karena Desi mau menjadi teman baiknya.
Setelah jam pelajaran selesai, mereka berdua langsung keluar untuk beristirahat. Saat itu, Ara menggandeng tangan Desi menuju kantin sekolah.
"Karena kau telah menjadi sahabat Ara, untuk kali ini biar Ara yang traktir." ujar Ara seraya tersenyum lebar.
"Benarkah," jawab Desi tak percaya.
"Iya, ayo kamu mau pesan apa?" tanya Ara pada sahabat baiknya itu.
"Aku pesan makanan yang serupa denganmu," jawab Desi.
"Kamu nggak usah bilang begitu, karena makanan kita nggak sama," jawab Ara setengah berbisik.
"Kenapa nggak sama, kita kan sama-sama manusia?" tanya Desi heran.
"Kita memang sama-sama manusia, tapi Ara nggak sama denganmu."
"Kenapa nggak sama, aku lihat kau juga punya tangan, sama kayak aku. Punya kaki, punya tubuh dan punya kepala sama seperti aku. Apa yang membuatmu berbeda dengan aku?"
"Tubuh kita memang sama Desi, tapi aku..!" seketika Ara langsung menghentikan ucapannya.
"Kenapa berhenti bicara, kau mau menjelaskan apa Ara?" tanya Desi ingin tahu.
"Nggak, aku nggak mau melanjutkannya Des, nanti kalau aku lanjutkan kau pasti takut mendengarnya."
"Aku nggak takut kok, ayolah katakan aja sebenarnya kau manusia sama seperti aku kan?" tanya Desi penasaran.
"O iya, kau mau pesan apa Des?" tanya Ara mengalihkan pertanyaan yang diajukan Desi padanya.
"Aku mau pesan lontong aja."
"Ibu! Desi mau pesan lontong satu!" ucap Ara, seraya mengacungkan telunjuknya.
"Lho, kok satu. kita kan berdua?" tanya Desi heran.
"Aku nggak lapar Des, aku mau pesan air putih aja."
"Kalau begitu, aku nggak jadi makan deh. Aku juga mau pesan air putih doang."
"Jangan gitu Des, lontongnya udah aku pesan loh."
"Benar kamu mau traktir aku?"
"Bener Des, aku serius."
"Baiklah, terima kasih," jawab Desi sembari mengambil lontong pesanannya dari tangan ibu kantin.
__ADS_1
Saat Desi memakan lontong sayur pesanannya, Ara tampak mengulurkan lidahnya seperti hendak menjilat sesuatu. Desi yang melihat langsung menutup mulut arah dengan telapak tangannya. Hal itu sengaja dia lakukan, agar tak ada orang lain yang melihatnya.
"Kamu mau lontong ini, Ara?"
"Aku nggak pernah memakannya, Desi."
"Kalau kamu mau, biar aku yang nyuapin!" ujar Desi, seraya mengangkat sendok yang di tangannya dan di arahkan ke mulut Ara.
"Cobalah Ara, rasanya sangat enak sekali," ujar Desi.
Ketika Ara hendak membuka mulutnya, tiba-tiba saja dia mendengar bisikan ghaib di telinganya.
"Jangan dimakan Ara. Itu bukan makananmu."
Mendengar suara itu, Ara langsung menutup mulutnya dan dia menggelengkan kepala ke arah Desi.
"Kenapa, kamu nggak mau?"
"Aku nggak biasa memakannya Desi."
"Lalu, kau makan apa selama ini?"
"Apa perlu ku katakan padamu, kalau aku selama ini, makan makanan yang tak pernah kau makan."
"Makanan apa itu?" tanya Desi penasaran.
"Kau udah selesai makannya Des?" tanya Ara.
"Udah," jawab Desi dengan singkat.
"Lalu mereka pun kembali ke kelas guna melanjutkan pelajaran. Mesti Ara baru berusia tujuh tahun, tapi dia tidak sama dengan teman-teman seusianya. Ara jauh lebih kuat dan lebih pintar dari yang lain. Ara juga bisa membaca pikiran orang lain, Ara tahu, siapa yang tulus kepadanya dan siapa pula yang tidak.
Selama berteman dengan Desi, Ara rajin pergi ke sekolah. dia selalu mentraktir Desi saat jam istirahat. Mesti Kemuning telah melarangnya, namun Ara tetap mentraktir sahabat kecilnya itu.
Satu bulan sudah Ara belajar sama dengan anak-anak seusianya, tepat di malam purnama kedua, Ara kembali melakukan ritual seperti yang diperintahkan oleh ayahnya.
Malam itu, seperti yang telah lewat, Ara melepaskan boneka darah miliknya. Lalu dia masuk ke dalam kamar guna melakukan ritual, tak berapa lama kemudian Ara mulai membaca mantra yang telah diajarkan oleh ayahnya Dasamuka.
Di saat Ara sedang membaca mantra, Bondan masuk ke dalam kamar Putri kecilnya itu. Namun dia tidak melihat kalau saat itu Ara sedang melakukan ritual pemujaan, karena altar tempat pemujaan Ara, berada di alam gaib.
"Ara, Ara, Ara!" ke mana kau sayang, udah dari tadi Papa mencari keberadaanmu."
Karena tak mendapat jawaban Bondan langsung pergi menemui istrinya Kemuning dan menanyakan keberadaan Ara kepadanya.
"Perasaan Ara baru masuk loh Mas."
"Tapi kok nggak ada di kamarnya sayang?"
__ADS_1
"Ah kamu serius Mas?"
"Iya sayang, kang Mas nggak melihat Ara di kamarnya."
Mendengar penjelasan dari suaminya, Kemuning langsung bergegas menuju kamar Ara, rasa khawatir membuat wajahnya terlihat sedikit pucat. Benar saja, ketika Kemuning membuka pintu kamar Ara, dia tak melihat ada Ara di dalamnya.
Di saat itu, Dia teringat akan pesan Ara, kalau setiap bulan purnama malam, dia mengadakan ritual di alam gaib. Itu sebabnya wajah Kemuning yang tadinya pucat berubah menjadi sedikit tenang.
"Nggak ada kan, sayang?"
"Iya kang Mas Ara ke mana ya, kok nggak ada di kamarnya?"
Lalu mereka berdua memeriksa seluruh isi rumah, baik dapur kamar mandi dan ruang tamu untuk mencari keberadaan Ara.
Sementara itu, Ara yang melaksanakan ritual di alam gaib didatangi oleh boneka darah miliknya, seperti purnama yang telah lewat Ara mendapatkan seteguk darah dari bonekanya tersebut.
" Hmm, yummy," ucap Ara seraya menjilati bibirnya. Setelah darah itu ditelan Ara, lalu boneka darah tersebut kembali kaku seperti biasa dan tergeletak di lantai rumah kamarnya.
Ketika mendapat seteguk darah, Ara langsung berpakaian seperti seorang sinden. Dia mengenakan baju kebaya dengan selendang di pinggangnya, lalu dia menghampiri Bondan yang saat itu sedang berada di luar mencari keberadaannya.
"Papa lagi ngapain di sini?" tanya Ara heran.
"Oh sayang, kamu ke mana aja nak, tadi Papa dan Mama sudah panik loh, mencarimu ke mana-mana."
"Tadi Ara ke kamar mandi, Pa."
"Di kamar mandi, tapi Papa nggak lihat Ara di kamar mandi kok, Mama juga ke sana dia juga nggak melihat Ara di sana."
"Ah masa, Ara di sana Kok, Ara juga melihat kok Papa dan Mama manggil-manggil nama Ara."
"Tapi kenapa nggak Ara jawab?"
"Ara udah jawab kok, tapi Papa sama Mama nggak dengar itu, makanya Ara keluar menemui kalian berdua."
"Syukurlah, untung Ara segera kembali kalau nggak papa sama mama pasti udah panik."
"Kayaknya, Papa sama Mama berlebihan deh, Ara nggak kemana-mana kok."
"Ya udah, kalau begitu mari kita masuk ke dalam," ajak Bondan pada istri dan putrinya.
"Oh iya Pa. Ara lapar, Ara mau kembang. Ara mau mengadakan ritual malam ini," ujar Ara pelan.
"Kembang, untuk ritual sesaat itu lagi!"
"Papa jangan gitu dong Pak, Ara senang kok melakukannya."
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*