
"Dea, apa benar Papa mu marah, karena kau begitu banyak membunuh rakyat di kerajaannya?" tanya Pandan wangi dengan suara lembut.
"Siapa yang bilang sama Mama?"
"Tadi Papamu yang cerita. Katanya, dia sedang menghukum mu saat ini, dengan menarik benda pusaka pedang kerajaan Parahyangan."
"Benar Ma!"
"Kenapa kau membunuh rakyat di kerajaan Parahyangan, nak?"
"Siapa yang ingin membunuh, nggak seorangpun yang ingin membunuh, kecuali jika dia terdesak atau nggak sengaja."
"Berapa orang yang telah kau bunuh nak?"
"Aku nggak tahu Ma, bahkan aku nggak tahu berapa orang telah meninggal ketika perang itu terjadi."
"Benarkah, kau telah mengabaikan amanah Papamu?"
"Aku nggak mengabaikannya Ma, waktu itu kami benar-benar terdesak. Posisi para prajurit sangat sulit sekali waktu itu, kami sedang menyamar, menyatukan diri dengan penduduk Desa. Lalu tiba-tiba saja, pasukan dari Angkara menyerang kami."
"Jadi, kau membunuh mereka semua?"
Bukan prajurit ku saja yang membunuh mereka semua, tapi kerajaan dari Angkara juga telah membunuh rakyat di kerajaan Parahyangan. Karena saat itu, prajurit dari Pancalaka menyatu dengan rakyat Parahyangan.
"Papa hanya menyuruh kami menyelidiki, bukan untuk membunuh. Tapi kerajaan Angkara telah menyerbu terlebih dahulu, sehingga kami semua kocar-kacir. Kami sendiri bingung, nggak tahu mana lawan dan mana kawan. Karena mereka semua menyatu dengan rakyat."
"Itu yang menyebabkan Papamu marah?"
"Iya Ma, bukan hanya sekedar marah, Papa juga membentakku dan menarik senjataku."
"Lalu apa yang harus kau lakukan sayang?"
"Aku nggak tahu Ma, tapi aku nggak mau pergi ke Nirwana untuk berperang."
"Bagaimana kalau Papamu tetap memaksa untuk berperang?"
"Entahlah Ma, sebenarnya aku sudah lelah untuk itu. Mesti aku sebagai seorang anak raja, tapi seluruh itu bukan tanggung jawabku. Apa gunanya para petinggi-petinggi kerajaan, yang selalu duduk tenang di istana tanpa berbuat sesuatu."
"Berperang itu bukan tanggung jawab petinggi kerajaan sayang, tapi tugas jenderal dan para prajuritnya lah. Untuk membela kerajaan dari musuh yang akan merongrongnya."
"Kenapa Mama bicara begitu, berarti Mama mendukung aku menjadi seorang jenderal?"
"Sebenarnya Mama nggak mendukung kau, menjadi seorang jenderal nak. Tapi demi kerajaan Papamu, kau harus punya kewajiban untuk membelanya."
__ADS_1
Mendengar nasehat dari Pandan wangi, Dea hanya diam saja. Dia tertunduk di sebelah Mamanya.
Sekarang tidurlah, jangan lupa baca doa, agar tidurmu tidak diganggu oleh makhluk halus yang berbuat jahat kepadamu."
"Baik Ma," jawab Dea dengan suara pelan.
Setelah Dea merebahkan badannya, Pandan wangi langsung menyelimuti gadisnya itu, dengan lembut dia pun mencium kening putrinya.
Malam itu Dea tidur dengan nyenyak, hingga pagi datang menghampirinya.
"Dea sayang, hari sudah pagi nak. Apakah kau nggak pergi sekolah?"
"Iya Ma, aku udah siap kok," jawab Dea seraya keluar dari kamarnya.
Seperti biasa, setelah selesai berkemas Dea langsung berangkat ke sekolah. dia pergi tanpa diantar oleh Mamanya. Dia berlari berkelebat, meliuk-liuk di antara perumahan para penduduk.
Di perjalanan Dea berpapasan dengan Ara. Tidak seperti biasanya, mereka pergi ke sekolah berdua berlari dan berpegangan tangan. Namun untuk kali ini, Ara justru berniat untuk membokong Dea dari belakang.
Saat Ara hendak mengeluarkan ilmunya, untuk menyerang Dea, tiba-tiba saja Dea langsung terkapar di tanah. Dea menggelepar-gelepar kesakitan, tubuhnya tampak membiru dan dari mulutnya mengeluarkan darah.
"Ya Tuhan, Padahal aku belum menyerangnya. Tapi kenapa dia langsung terkapar, tak sadarkan diri? celaka pasti ada makhluk lain yang mengambil kesempatan di balik niatku ini," ujar Ara seraya bersembunyi di balik pepohonan.
"Benar saja dugaan Ara, seperti yang ada dalam pikirannya. Ara melihat seorang perempuan berwajah cantik datang menghampiri Dea.
"Hahaha..! kenapa Dea, apa kau nggak sanggup bicara di saat tubuhmu sedang lemah?"
"Kau siapa?" tanya Dea pelan.
"Aku gadis kupu-kupu. Aku bisa terbang ke mana aku mau. Bukankah selama ini kau jenderal perang dari kerajaan Parahyangan?"
"Benar, aku jenderal perang dari kerajaan Parahyangan. Kenapa? apa kau mengenalku?" tanya Dea pada perempuan itu.
"Tentu, aku sangat mengenalmu. karena kau telah membasmi begitu banyak benih kupu-kupu di hutan larangan."
"Tapi aku nggak merasa telah membasmi bibit mu."
"Tentu saja kau tak merasa, karena pedang naga mu lah, yang telah membakar benih kupu-kupu di hutan larangan."
"Kalau begitu, aku minta maaf. Aku tak sengaja melakukan semua itu. Karena saat itu, prajurit Dasamuka berusaha untuk menculik Ibu dan Nenekku."
"Apapun alasanmu, yang jelas kau telah berusaha membasmi semua keturunanku."
"Tolong bantu aku, dadaku terasa begitu sakit sekali."
__ADS_1
"Hahaha...! kau kira semudah itu, racunku yang berada di tubuhmu, saat ini sudah mulai menjalar. Memasuki setiap urat nadimu, sebentar lagi akan menjalar ke pembuluh darah dan pembuluh urat saraf mu.
"Kau jahat gadis kupu-kupu. Kenapa kau lakukan itu kepadaku, bukankah tadi aku sudah minta maaf kepadamu. Lagian, aku nggak sengaja melakukan semua itu."
"Sengaja atau tidak, semua bibit kupu-kupu di hutan larangan sudah habis dan punah. Tak ada lagi keceriaan di sana, hutan larangan sudah hangus terbakar karena senjatamu."
Mendengar ucapan gadis kupu-kupu itu, Dea tak dapat bicara apa-apa, Dea hanya bisa meringis menahan rasa sakit di dadanya.
"Hm...! ternyata Papa pernah menyekap orang tua Dea, di hutan larangan," gumam Ara pelan.
Di saat itu Ara pun keluar dari persembunyiannya, dia langsung menghampiri gadis kupu-kupu, yang berdiri di hadapan Dea.
"Kenapa kau lakukan itu kepadanya?" tanya Ara ingin tahu.
"Kenapa? bukankah niat kita sama, hanya saja kita beda tipis. Aku lebih cepat menyerang ketimbang kau," jawab gadis itu dengan suara lantang.
"Tapi aku nggak akan melukainya separah itu. Lihat ulahmu, kau bisa saja menewaskannya."
"Hahaha...! Dea Chandra Maya, sekarang rasakan pembalasanku. Tamat sudah riwayatmu hari ini."
"Uhuk.. uhuk.. uhuk!" Dea pun terbatuk-batuk, seraya mengeluarkan darah dari mulutnya.
Melihat kondisi Dea yang begitu parah, Ara mencoba menghampirinya. Namun saat itu, gadis kupu-kupu langsung pergi meninggalkannya."
"Heii...! kenapa kau pergi. Kau obati dia dulu, seenakmu saja meninggalkannya!" seru Ara dengan emosi.
"Biarkan saja Ara, yang penting dendamnya telah terbalaskan."
"Lalu bagaimana dengan luka dalammu, Dea?"
"Antarkan saja aku pulang Ara, biar aku yang merawatnya di rumah sendiri."
"Apakah kau sanggup mengobati lukamu?"
"Insya Allah, akan aku usahakan."
Melihat kondisi Dea yang sangat parah, Ara langsung membawa Dea ke tengah hutan, di sana Ara mencoba menyalurkan hawa murni tubuhnya ke tubuh Dea.
"Namun sayang, hawa murni itu selalu ditolak. Sepertinya tubuh Dea, tak mau menerima hawa murni dari tubuh Ara.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1