
"Hai boleh aku duduk?" tanya Dina kepada Ara.
"Hm...!" melihat sikap Dina yang aneh itu, Ara hanya bisa menggarutkan keningnya.
"Boleh kagak?" tanya Dina sekali lagi.
"Siapa juga yang melarang, emangnya ini bangku Bapak gue," jawab Ara ketus.
"Kamu marah ya, sama aku," ujar Dina ingin tahu.
"Marah, marah sama siapa? emangnya kamu punya salah apa sama aku. Kok tiba-tiba aku jadi marah."
"Ya udah, syukurlah kalau begitu. Berarti aku boleh duduk di sini kan?"
"Terserah!" jawab Ara seraya memalingkan wajahnya.
Kalau bukan karena perintah Dea, Dina enggan untuk duduk di samping Ara. Namun mesti bagaimanapun, Dina harus melakukan hal tersebut, agar dia tidak menjadi tumbal berikutnya. itulah sebab kenapa Dina berusaha untuk mendekati Ara.
"Kamu nggak takut sama aku?" tanya Ara ingin tahu.
"Kenapa aku mesti takut, bukankah kita teman?"
"Nggak usah berpura-pura, aku tahu kau hanya manis di mulut saja, sementara kau takut melihat aku."
"Tadi itu, aku bukannya takut sama kamu Ara. Aku hanya kaget melihat bola matamu yang tiba-tiba berubah menjadi hitam. Apa kau selalu seperti itu pada teman-teman mu?"
"Nggak juga, kadang aku sedikit usil pada mereka. Tapi aku nggak berniat jahat kok."
"Ya udah, kalau gitu aku minta maaf, karena tadi aku benar-benar takut melihat matamu. Tapi sekarang, udah nggak lagi, ternyata kau baik."
"Lalu kenapa kau pindah kelas?"
"Itu perintah kepala sekolah."
"Pasti kau punya alasan, yang kau ajukan ke kepala sekolah. Sehingga kepala sekolah memindahkanmu ke kelas 1B."
"Maafkan aku Ara, sebenarnya aku sudah lama ingin pindah ke kelas 1B. Tapi kepala sekolah selalu mencari alasan untuk tidak memindahkan aku ke sana."
"Kenapa kau ingin pindah ke sana, bukankah di sini kau nyaman?"
Mendengar pertanyaan dari Ara, sebenarnya Dina begitu sulit untuk menjawabnya. Karena tak ada jawaban yang tepat untuk itu. Lama dia berpikir untuk mencari jawaban, agar Ara tak merasa tersinggung dengan jawabannya tersebut.
"Sebenarnya, otakku nggak mampu bila berlomba bersama kalian. kau dan Dea, sama-sama hebat. Kalian memiliki otak yang jenius. Aku tak mau berpacu dengan kalian, kalau aku pindah Kalau 1B, siapa tahu aku menjadi juara di sana."
"Benar, hanya Itu alasanmu pindah ke sana?"
"Benar Ara, buat apa aku bohong."
"Ya sudah, berarti kita teman kan," ujar Ara pada Dina.
__ADS_1
"Tentu Ara, kita teman."
Melihat Dina dan Ara bersenda gurau di bawah pohon di tengah sekolah, Dea menjadi sedikit tenang. Karena Dina tak akan menjadi korban berikutnya, oleh keganasan boneka milik Ara.
Di saat mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba bel sekolah berdering dan seluruh siswa-siswi kembali ke kelas masing-masing.
"Ya sudah, kita berpisah di sini ya. Besok kita duduk lagi di sini," pinta Ara sama Dina.
"Iya Ara, tentu!" jawab Dina seraya berlari menuju kelasnya.
Ketika seluruh murid telah masuk ke kelasnya masing-masing, Ara menatap wajah Dea. Ara tahu saat itu Dea pasti sudah mempengaruhi Dina, sehingga Dina meminta maaf kepadanya.
Lewat adu kekuatan supranatural mereka, kedua bola mata mereka mengeluarkan cahaya yang berbeda. Mesti tak ada yang tahu tentang kekuatan yang mereka miliki saat itu, Tapi hawa panas dan hawa dingin terasa berubah-ubah di dalam kelas tersebut.
Di saat semua siswa merasakan perubahan suhu tersebut, Dea segera menghentikannya. Agar tak ada korban jiwa, akibat pertarungan yang mereka lakukan secara diam-diam.
"Awas kau Dea!" ujar Ara.
"Kenapa, kau mau mengancamku?"
"Kau telah menggagalkan rencanaku!"
"Rencana apa?"
"Dina adalah korban berikutnya, boneka darahku."
"Berusahalah terus untuk melawanku. Aku akan hancurkan, kau!"
"Coba saja kalau kau berani. Aku juga bisa menghancurkanmu!"
"Huuuh...! dasar pecundang!" ujar Ara seraya menampar meja.
Melihat sikap Ara yang tiba-tiba, semua murid terkejut. Termasuk guru Agama yang saat itu berada di depan. Meja yang ditampar Ara patah dan jatuh ke bawah.
Pak Basuki langsung mendekati Ara, yang saat itu masih berdiri di dekat mejanya.
"Kamu kenapa Ara?" tanya Pak Basuki heran.
"Maaf Pak, aku nggak sengaja," jawab Ara seraya melirik ke arah Dea.
"Kau telah menghancurkan peralatan sekolah Ara. Untuk itu, nanti setelah usai jam pelajaran, datanglah ke kantor."
"Baik Pak," jawab Ara pelan.
Atas permintaan Pak Basuki, Ara pun pindah duduk ke sebelah Dea, rencana kelanjutan pertengkaran itu, semakin mudah mereka lakukan. Di tempat duduk yang sama di meja yang berbeda mereka bertengkar dan adu kekuatan ghaib.
Ara begitu keras hati, dia tak mau mengalah, mesti Dea telah berusaha untuk menolak pertengkaran tersebut. Namun Ara merasa kalau dirinya direndahkan oleh Dea.
"Kamu keras hati Ara!" ujar Dea dalam adu ilmu supranatural mereka.
__ADS_1
"Kau merendahkan aku, Dea!"
"Nggak ada yang merendahkanmu Ara, hanya saja aku tak ingin teman-teman kita menjadi korban nafsu angkara mu."
"Aku harus melakukan itu Dea, karena darah mereka begitu lezat dan nikmat," jawab Ara seraya menjulurkan lidahnya keluar, seperti orang yang sedang menikmati makanan yang lezat.
"Kau persis seperti makhluk yang mengerikan Ara!"
"Kau yang seperti itu, Dea!"
"Huuh...!" ujar mereka serentak.
Lalu mereka berdua sama-sama kesal dan sama-sama menghentikan pertengkaran itu.
"Ada apa lagi dengan kamu, Ara?" tanya Pak Basuki heran.
"Nggak ada apa-apa, Pak," jawab Ara berbohong.
Karena dirinya merasa dipermalukan oleh Pak Basuki, Ara langsung keluar meninggalkan Dea dan yang lainnya di dalam kelas.
"Kamu mau ke mana, Ara?" tanya Pak Basuki.
"Ke kamar mandi, Bapak mau ikut?" tanya Ara.
Ucapan Ara tersebut, membuat Pak Basuki marah, karena dia menilai Ara telah mempermalukan dirinya, di hadapan murid-murid yang lain.
"Ara, masuk kamu dan duduk kembali ke bangkumu!" bentak Pak Basuki, kepada Ara.
Mesti Pak Basuki marah, namun Ara tetap pergi meninggalkan kelas tersebut. Dia tak memperdulikan kemarahan yang dilakukan oleh Pak Basuki. Ara tetap berlalu meninggalkan kelas 1A.
Karena merasa diremehkan, Pak Basuki langsung mengejar Ara yang telah menjauh dari kelas tersebut. Saat itu, Dea berusaha untuk mencegah Pak Basuki mengejar Ara.
"Berhenti Pak, saya mohon jangan dikejar!" teriak Dea yang saat itu berdiri di dekat mejanya.
"Kenapa?" tanya Pak Basuki tak mengerti.
Setelah Dea melihat Ara begitu jauh dari kelasnya, lalu Dea berkata kepada seluruh teman-teman dan Pak Basuki.
"Memusuhi Ara, sama artinya meminta diri untuk dijadikan korban."
"Kenapa begitu Dea?" tanya Pak Basuki ingin tahu.
"Ara sengaja mencari masalah dengan kita, dia selalu saja mencari gara-gara, tapi akibat dari hal itu, kita yang akan menjadi korbannya."
"Jelaskan pada kami Dea, kenapa jika kita marah pada Ara kita akan menjadi korban berikutnya?"
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1