
Hal serupa juga tak di temukannya di sana, ruang kamar Ara tampak biasa-biasa saja, hanya saja Bondan melihat boneka kesayangan Ara tergeletak di lantai. Boneka darah itu di ambil Bondan dan diletakkannya di atas Kasur putri kecilnya itu.
Setelah itu, Bondan langsung keluar dari kamar tersebut dan masuk kedalam kamarnya. Setelah beberapa saat di tunggu Kemuning dan Ara belum juga turun dari balkon rumahnya. Hati Bondan semakin tak tenang.
Lalu dia pun kembali keatas, untuk melihat keadaan istri dan putrinya yang masih melakukan ritual.
“Udah! hentikan semua ritual gila ini, Kemuning!” teriak Bondan dengan suara keras.
Mendengar teriakan Bondan yang keras, membuat konsentrasi Kemuning dan Ara terganggu, mereka berduapun menoleh kearah Bondan yang tampak semakin mendekat.
“Kenapa sih, Mas! kamu telah mengganggu ritual ku, apa maksud semua ini!”
“Aku nggak suka dengan cara kalian seperti ini!” ujar Bondan sembari menendang semua peralatan ritual yang tersusun rapi di hadapan Kemuning dan Ara.
“Mas! Apa-apaan ini!” bentak Kemuning pada Bondan sembari memegang kaki suaminya.
“Lepaskan aku!”
“Aku nggak akan melepaskan mu, kau udah keterlaluan Mas.”
“Kau yang keterlaluan, apa yang kau lakukan selama ini udah nggak benar sayang.”
“Nggak benar apanya! apa menurut mu aku salah menari dan melakukan ritual bersama putri ku sendiri.”
“Ya jelas, salah! kau tahu nggak, kelakuan mu itu udah sama artinya menyekutukan Allah!”
“Ah! Sok tahu kamu Mas,” bantah Kemuning kesal.
“Heh, Mas perhatikan kamu ini semakin hari semakin berubah, kau seperti tak mau mengenal lingkungan ini lagi, kau bahkan nggak pernah mengunjungi Ibu dan keluarga aku, kamu itu kenapa sih hah?”
“Buat apa mengunjungi mereka Mas, semestinya mereka itu yang datang ke sini menemui kita, bukankah selama ini seperti itu.”
“Dia itu Ibu dan Ayah aku lho sayang, apakah kau nggak mau menghargai mereka sedikit pun.”
“Aku nggak perduli, sekarang kau turun Mas! silahkan turun kebawah, karena kau telah merusak semua nya!”
“Berhenti mendorong tubuh ku, kalian ini sudah gila ya!”
“Aku nggak gila Mas, bahkan aku akan semakin gila kalau kau selalu mengganggu ritual yang akan ku lakukan, sekarang turunlah kebawah,” ujar Kemuning seraya mendorong paksa tubuh suaminya.
Sementara itu, Ara hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran keduanya, namun sebelum turun kebawah, Bondan berusaha menjerit melarang Ara untuk melanjutkan ritual sesat tersebut.
Seperti Kemuning, Ara juga tak memperdulikan ajakan Bondan, setelah Bondan turun kebawan, Kemuning dan Ara melanjutkan kembali ritual yang terbengkalai.
__ADS_1
Di saat itu, Raja Dasamuka datang menghampiri mereka berdua. Dasamuka sepertinya marah sekali melihat ritual pemujaannya berantakan karena di hancurkan oleh Bondan.
“Suami mu udah keterlaluan Kemuning, dia harus di beri pelajaran agar nggak mengulangi lagi kelakuannya.”
“Nggak Bang, kau jangan pernah menyentuh suami ku, kalau kau marah kau lampiaskan saja pada ku.”
“Baiklah, untuk kali ini akan ku maafkan suami mu itu, tapi jika lainkali suami mu melakukan perusakan lagi pada ritual ku, maka aku akan menghancurkan suami mu itu.”
“Kau jangan pernah mengancam suami ku! Jika kau menyakitinya, maka aku nggak akan mengizinkan putrimu naik ke kayangan.”
“Baiklah, aku nggak akan mengganggu suami mu, tapi ingat kau beritahu Bondan, agar dia nggak boleh naik ke balkon ini.”
Mendengar ucapan Danu, Kemuning hanya diam saja, atas izin Danu malam itu ritual pemujaan di hentikan.”
Dengan pelan Kemuning dan Ara turun kebawah, Bondan yang sedang duduk di sofa tak memperdulikannya, dia terus diam tak berkomentar.
Sementara Kemuning dan Ara langsung masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Seperti Bondan, Kemuning dan Ara juga tak berkomentar sama sekali.
Bondan yang melihat keduanya masuk kedalam kamar, dia langsung pergi keluar meninggalkan rumahnya. Bondan berniat untuk pergi kerumah orang tuanya, hatinya begitu sedih sekali malam itu.
Di depan rumah kedua orang tuanya, Bondan tak langsung masuk kedalam, dia duduk merenung di pelataran rumah kayu itu.
Di depan rumah, tak sengaja Pak Kades melintas ketika dia hendak pulang kerumahnya, melihat Bondan duduk termenung, Pak kades langsung menghampirinya.
“Wa’alaikum salam. Eh, ada Pak kades, masuk Pak!”
“Iya, terimakasih nak Bondan.”
“Pak kades mau kemana?” tanya Bondan ingin tahu.
“Nggak ada, tadi Bapak dari warung beli anti nyamuk, nggak sengaja Bapak lihat nak Bondan sedang duduk sendiri,” ujar Pak kades pelan.
“Iya Pak, lagi cari angin,” jawab Bondan berbohong.
“Kenapa nak, kamu punya masalah?” tanya Pak kades seraya duduk di sebelah Bondan.
“Semakin hari hidupku semakin berat saja terasa Pak kades.”
“Maksud nak Bondan apa?”
“Sebenarnya, aku udah lama ingin kerumah Pak kades, tapi aku masih berfikir untuk mencari jalan yang terbaik.”
“Maksud nak Bondan apa ya, kok Bapak semakin nggak mengerti nak?”
__ADS_1
“Istri dan putri ku, selama ini melakukan pemujaan Pak kades.”
“Pemujaan apa?”
“Aku sendiri nggak tahu, tapi semenjak Kemuning hamil, aku telah mencium bau yang tak benar pada istri ku, Pak kades. Apa lagi setiap saat istri dan putri ku selalu memakan kembang tujuh rupa.”
“Kalau benar istrimu melakukan pemujaan, berarti dia itu melakukan pesugihan dong.”
“Sepertinya begitu Pak.”
“Baiklah, besok pagi, Bapak akan datang kerumah mu.”
“Jangan Pak kades,” bantah Bondan.
“Kenapa?”
“Kalau Bapak datang kerumah untuk mengusut masalah ini, maka Kemuning pasti marah pada ku, Pak.”
“kalau hal ini nggak di lakukan, maka istrimu akan semakin jauh dari ajaran agama Islam, nak Bondan.”
“Sebenarnya iya, Pak. Tapi aku nggak punya alasan yang tepat untuk mencegahnya.”
“Baiklah, kalau kau nggak mau mengusut tuntas masalah ini, Bapak juga nggak bisa berbuat apa-apa, tapi ingat Bondan, jika nanti kelakuan istrimu sampai terbongkar oleh penduduk, maka Bapak yang akan menjadi sasaran amarah para warga.”
Mendengar penjelasan Pak kades, Bondan hanya diam saja, karena saat itu Bondan juga tak ingin anak dan istrinya menjadi hujatan orang banyak.
“Lalu gimana nak Bondan, kau yakin kalau hal ini akan kau tutupi dari semua warga.”
“Iya Pak kades, aku akan mencoba menasehati istri dan putri ku dengan pelan.”
“Baiklah, berusahalah terus untuk memberi nasehat pada mereka, karena kalau mereka terlalu larut dalam hal ini, akan membahayakan keluarga mu sendiri.”
“Baik Pak kades, tapi aku mohon pada Pak kades, agar menyimpan rahasia ini baik-baik.”
“Baiklah, Bapak percaya pada mu nak Bondan.”
“Terimakasih Pak.”
“Ya sudah, Bapak pulang dulu, nanti kalau kau ada keperluan sama Bapak, datanglah ke kantor, atau kerumah.”
“Baik Pak,” jawab Bondan singkat.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*