
"Mesti benda pusaka pedang naga mampu mengobati Dea, namun kau tetap masih punya hutang kepadaku?"
"Hutang apa?" tanya Ratu kupu-kupu heran.
"Nanti akan aku beritahu, kapan aku membutuhkan nya darimu."
"Baiklah. Semoga hutang ku tidak memberatkan ku."
Di saat mereka sedang bicara, tiba-tiba saja Dea memuntahkan darah yang begitu banyak sekali. Darahnya berwarna hitam pekat.
"Darah apa itu?" tanya Ara ingin tahu.
"Itulah racun yang telah menyerang tubuh Putri Dea. Syukurlah, saat ini racunnya telah keluar dari tubuhnya."
"Benar itu racun?"
"Ya, benar."
"Awas! jika kau berbohong, akan ku musnahkan keturunanmu, di hutan larangan."
"Ampunkan hamba yang mulia, hamba berkata jujur. Hamba nggak mungkin, berbohong kepada yang mulia."
Setelah Ratu kupu-kupu mengakui, bahwa racun yang telah keluar dari tubuh Dea, adalah racun yang menyerang gadis itu.
Lalu Ara menghampiri Dea, yang terbaring di atas ranjang.
"Apakah kau sudah sadar Dea?" tanya Ara seraya menyentuh tubuh sahabatnya itu.
Lalu dengan pelan, Dea membuka matanya dan melihat Ara berdiri tepat di sebelahnya.
"Ara, kaukah!" ucap Dea dengan pelan.
"Benar, aku juga telah membawa Ratu kupu-kupu untuk mengobati luka dalam yang kau derita. Namun, dia tak sanggup melakukannya. Karena ilmu yang kau miliki, jauh lebih tinggi dari ilmunya."
"Lalu siapa yang menyembuhkan aku? siapa yang telah mengobati luka dalam ku ini?"
"Senjatamu sendiri, pedang naga. Senjatamu, telah menghisap luka dalam, yang kau derita. Lihatlah, racun Ratu kupu-kupu, telah keluar dari mulutmu."
"Oh syukurlah, berarti aku telah sembuh."
Melihat kondisi Dea membaik, Ratu kupu-kupu langsung minta izin untuk kembali ke hutan larangan. Ketika dia hendak pergi, Ara langsung memegang tangannya.
"Ingat janjimu, aku akan tagih kapan aku membutuhkannya."
"Baik, asalkan tidak membebankan pikiranku."
__ADS_1
Setelah bicara, Ratu kupu-kupu langsung menghilang, meninggalkan rumah Dea. Sementara itu, Askara yang melihat putrinya membaik, dia langsung menghampirinya dan memeluk tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang.
Rasa cemas di hatinya mulai memudar, saat putrinya tersenyum dengan bahagia.
"Papa..!" ujar Dea seraya memeluk tubuh Askara.
"Kau telah sembuh putriku."
"Iya Pa, aku udah sembuh."
"Syukurlah sayang, Papa dan Mama begitu mencemaskanmu."
Dea tak menjawab ucapan Papanya, tapi air matanya telah membuktikan, betapa bahagianya dia saat itu.
"Senjatamu yang telah menyelamatkanmu sayang. Mulai hari ini, akan Papa kembalikan kepadamu dan Papa berjanji, tak akan mengambilnya lagi darimu."
Mendengar ucapan Papanya, Dea hanya tersenyum manis. Dengan pelan, dia mengambil pedang pusaka miliknya, dari tangan Papanya.
Saat pedang itu dipegang oleh Dea, wajahnya tampak memerah. Dari telapak tangan Dea keluar asap berwarna putih.
"Terima kasih sayang, kau telah menyelamatkan nyawaku. Mulai hari ini kau nggak akan kulepaskan untuk selamanya."
Ara yang melihat sahabatnya tersenyum, dia pun merasa senang dan bahagia. Lalu raja Askara menghampiri Putri, Dasamuka tersebut.
"Terimakasih sayang, kau begitu perhatian kepada Dea, mesti kedua orang tua kalian, telah menjadi musuh bebuyutan selama ini. Namun kalian tetap bersahabat dan saling membantu.
"Ya silakan," jawab Askara pelan.
Di saat raja Askara selesai bicara, Ara langsung menghilang dari pandangannya.
Raja Askara yang melihat Ara menghilang, dia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Bersamaan dengan itu, Pandan wangi pun datang menghampiri suaminya, yang berdiri di depan kamar Putri nya, Dea.
"Sekarang putrimu telah sembuh, apakah kau berencana ingin kembali ke Nirwana Bang?" tanya Pandan wangi dengan suara lembut.
"Tentu, karena aku tak bisa meninggalkan kerajaanku begitu lama. Sebab, musuh selalu datang di saat kita lengah, untuk itu aku harus segera kembali ke istana."
"Silahkan," jawab Pandan wangi.
"Selama aku tidak ada bersamamu, kau jaga Putri kita baik-baik. Karena hanya dia, yang mampu menjadi penerus kerajaan Parahyangan."
"Iya Bang, aku akan menjaganya."
Lalu Askara pun menghilang, dari pandangan Pandan wangi. Askara kembali ke istananya, yang saat itu dalam keadaan kacau.
__ADS_1
Ketika Askara duduk di atas tahtanya. Puluhan prajurit dan petinggi kerajaan, menghaturkan sujud kepada sang raja mereka. Semua berkumpul menyambut kedatangan raja Askara.
"Wahai rakyatku, sekarang aku telah kembali kepada kalian. Apakah selama kepergianku, telah terjadi masalah, yang kalian tak sanggup memecahkannya?" tanya raja Askara pada seluruh rakyatnya.
Tiba-tiba, seorang Patih kerajaan bicara dari sudut sebelah kanan sang raja.
"Ampun beribu-ribu ampun yang Mulia, ada hal penting yang ingin hamba sampaikan kepada yang mulia raja."
"Hal penting apa wahai patih ku?"
"Selama yang mulia pergi, meninggalkan kerajaan Parahyangan. Banyak rakyat Parahyangan, yang keluar dari kerajaan ini. Mereka semua menuju kerajaan Buana. Bukan hanya para penduduk yang melakukan hal itu, tapi para prajurit kita, juga melakukan hal yang sama."
Mendengar laporan Patih kerajaan, raja Askara langsung berdiri. Dia terkejut saat mendengar berita itu.
"Bicara yang jelas Patih, jangan berbelok-belot. Apa maksud katamu itu?" tanya raja Askara, seraya mengepalkan tangannya.
"Ampunkan hamba yang mulia, apa yang hamba katakan tadi itu yang sebenarnya."
"Berapa banyak prajurit kita, yang keluar dari kerajaan Parahyangan dan menyatukan diri di kerajaan Buana?"
"Banyak sekali yang mulia, sangat banyak. Bukan hanya para prajurit, tapi rakyat di perbatasan kerajaan Buana, mereka juga telah pergi meninggalkan kediaman mereka."
"Bedebah! Apa maksud prabu Panca buana itu sebenarnya?"
"Sebenarnya prabu Panca buana mencari begitu banyak prajurit, untuk kerajaan yang baru didirikannya."
"Baiklah, sekarang bagaimana pendapat kalian para menteri ku?" tanya raja Askara pada para menteri kerajaan.
"Ampunkan hamba yang mulia, kalau boleh hamba bicara, sebaiknya kita serang saja kerajaan Buana tersebut. Bukankah kerajaan itu baru berdiri, beberapa bulan terakhir ini."
"Maafkan hamba yang mulia, menurut pendapat dari menteri kerajaan, apakah hal itu tidak tergesa-gesa kita lakukan. Bukankah cara runding lebih baik, daripada harus mengorbankan banyak prajurit yang mulia."
"Itu benar menteri ku,"jawab raja Askara.
"Ampunkan hamba yang mulia raja, menurut pendapat hamba, jika kita melakukan perundingan terlebih dahulu hal itu akan memakan waktu yang cukup lama. Aku takut, prajurit kita yang telah berada di kerajaan Buana, mereka akan merasa betah tinggal di sana," jawab Donggala
"Tapi, kalau perang kita laksanakan, berarti kita akan mengorbankan para prajurit kita lagi yang mulia. Hamba hanya ingin, tak ada lagi korban yang berjatuhan di antara prajurit kita," ujar Dupa yang menginginkan perdamaian bukan peperangan.
"Kita harus tetap melakukan perang, yang mulia!" bantah Zola gopra.
"Zola jika perang dilakukan, maukah kau yang terlebih dahulu maju untuk menyerang mereka?" tanya Dupa pada Zola.
"Eh, kenapa aku pula yang harus maju duluan, aku bukan seorang prajurit. Aku ini menteri di kerajaan ini. Dupa! apakah kau sudah pikun dan lupa dengan statusmu sebagai bawahanku."
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*