AraDea

AraDea
Part 37 Kelebihan yang dimiliki Dea


__ADS_3

"Kami udah melakukan itu Pak, kami sudah melakukan otopsi. Tapi pihak rumah sakit tidak mengetahui hasilnya. Pihak rumah sakit mengatakan, kalau Putri kami nggak digigit oleh binatang buas. Lalu, apa yang telah menggigit putri kami hingga dia tewas karena kehabisan darah?"


"Itu sebabnya, kami harus tahu terlebih dahulu sebelum kami menyelidikinya."


"Jadi, Bapak menyuruh kami membongkar kuburan putri kami, hanya untuk dilakukan otopsi."


"Saya nggak ada menganjurkan hal itu, tapi pihak kepolisian tidak bisa menyelidiki tanpa ada barang bukti yang sah dan akurat."


"Baiklah, berarti pihak kepolisian lepas tangan dalam masalah ini. Kami nggak keberatan kok, biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi keluarga kami dan orang di desa kami. Tapi ingat, jika sekali lagi terjadi hal serupa, maka kami akan main hakim sendiri."


Mendengar jawaban dari Imron, polisi hanya diam saja. Tak sepatah kata pun yang terucap, untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Merasa sakit hati, Imron dan Pak Kades langsung pulang ke rumah. Mereka tak mau lagi menyelesaikan urusan itu dengan polisi.


Sementara itu, Ara yang berada di rumahnya, memandangi boneka darah miliknya. Ara merasa begitu bersalah dengan Yuni yang telah menjadi korban boneka darah tersebut.


"Apa yang telah kau lakukan jenny kau telah membunuh orang lain, demi aku. Kenapa kau lakukan itu jenny?" bisik Ara pelan.


Di saat itu, boneka darah langsung bicara, menjawab semua pertanyaan yang diajukan Ara kepadanya. Hal itu, membuat Ara terkejut dan melempar boneka itu dari tangannya.


"Kenapa Ara? kau marah kepadaku?" tanya boneka darah tersebut.


"Kenapa kau lakukan itu jenny? dia itu sahabatku mesti dia telah membuat aku kesal, tapi itu bukan karena kesalahannya. Aku sengaja melakukan itu kepadanya."


"Apapun alasan yang kau buat, aku tetap membunuh gadis itu mesti dia teman baikmu. Karena itu merupakan perjanjian antara aku dan Ayahmu. Siapa saja yang telah menyakitimu maka dia akan menjadi korban berikutnya."


"Cukup! aku nggak mau lagi mendengarnya. Kau nggak berhak membunuh teman-temanku."


"Siapa bilang aku nggak berhak membunuh teman-temanmu, aku mendapat perintah dari ayahmu dan perintah itu pasti aku lakukan walau kau mencegahnya."


"Mendengar jawaban dari boneka darah itu, hati Ara jadi marah, ingin sekali Ara membuang boneka itu jauh-jauh.


Di purnama berikutnya, boneka darah milik Ara meminta korban lagi. Saat itu yang menjadi korban berikutnya, adalah Pak Rizal.


Rizal ditemukan oleh keluarganya di dalam kamar mandi. Pria paruh baya itu terkapar di depan toilet, dengan tubuh membiru karena kehabisan darah.


Di saat korban- korban berjatuhan, akibat boneka darah milik Ara. Dea justru menjadi anak yang lembut dan baik hati. Dea memiliki aroma tubuh yang wangi seperti seperti Ara, dea juga memiliki kelebihan dan kekuatan dari matanya. mata Dea bisa bercahaya dan menembus dinding.


Dea juga bisa membaca pikiran orang dan menerawang masa depan. Selain baik hati dan ramah, Dea suka menolong orang lain kelebihan yang dia memiliki membuatnya disayangi banyak orang.

__ADS_1


Tak sama dengan ibunya Pandan wangi, Dea justru diberi leluasa oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas di lingkungannya. Dea bisa mengenyam pendidikan, mesti dia baru berusia enam tahun.


Pagi itu, seperti anak-anak lainnya Dea mohon pamit kepada Papa dan Mama nya untuk pergi ke sekolah. Bersama Yeni nenek yang selalu menyayanginya Dea selalu bermanja.


"Hai Dea!" siapa Mela teman sebangkunya.


"Hai juga,"jawab dia singkat.


"Tugasmu udah siap Mel?" tanya Dea.


"Belum Dea, sepertinya aku kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari soal itu. Apakah kau sudah siap rupanya Dea?"


"Udah Mel, semuanya udah aku selesaikan. Kau mau aku bantu?"


"Tentu Dea, aku sangat senang sekali," jawab Mela.


Lalu, Dea mengerjakan tugas sekolah bersama dengan Mela. Mereka berdua saling membantu dalam segala hal. Dea memiliki pemikiran yang jenius, hal itu membuat Mela menjadi senang. Karena mendapat teman yang baik dan pintar seperti Dea.


Setelah tugas sekolah selesai mereka kerjakan, lalu bel sekolah pun berbunyi. Semua murid-murid masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran. Dari kejauhan Bu Lita tampak berjalan menuju ke kelas.


"Hari ini kita belajar bahasa Indonesia ya?" tanya Mela pada Dea.


"Aku lupa, aduh gimana ini ya? pasti Bu Lita marah, karena aku nggak membawa buku catatan.


"Kamu taruh di mana buku catatan itu?" tanya Dea ingin tahu.


"Aku lupa Dea," jawab Mela.


"Kau pikirkan dulu, nanti aku bantu untuk mengambilnya," ujar Dea setengah berbisik.


"Emangnya kau bisa mengambil buku ku di rumah?" tanya Mela ingin tahu.


"Kenapa nggak!"


"Benarkah kau bisa mengambil buku ku yang tertinggal di rumah?"


"Iya Mel, asalkan kau tunjukkan kepadaku di mana letak bukumu itu," jawab Dea.


"Baiklah, akan ku pikirkan dulu dimana aku menaruh buku itu semalam."

__ADS_1


Lalu dengan tenang dan sabar, Dea menunggu Mela untuk berpikir. Mengingat kembali, dimana Mela menaruh buku catatan bahasa Indonesia nya yang tertinggal di rumah.


Namun setelah berpikir begitu lama, Mela pun tak menemukan buku catatan nya itu.


"Aduh, kepalaku rasanya mau pecah kalau terus menerus memikirkan buku itu. Apa kau punya ide Dea?" tanya Mela seraya menyentuh tangan Dea.


"Nggak!" jawab Dea singkat.


"Apakah kau bisa mencari keberadaan bukuku di rumah?" tanya Mela ingin tahu.


"Baiklah, akan ku coba," jawab Dea Seraya menaruh kedua ujung telunjuknya di kening. Bola matanya yang indah dan bening, tampak berkonsentrasi penuh seperti sedang menuju ke satu tempat.


"Gimana Dea, apakah kau menemukan buku bahasa ku?"


"Nggak, aku nggak menemukan apa-apa. Apa perlu semua bukumu ku bawa ke sini?" tanya Dea Seraya tersenyum lebar.


"Jangan bercanda dong Dea, aku ketakutan nih, bantuin napa sih!"


"Baiklah, coba kau pegang tanganku. Berkonsentrasilah, saat ini kita menuju rumahmu."


Benar saja, seperti dalam khayalan, Mela telah berada di rumahnya bersama Dea. Saat itu, tanpa berpikir panjang lagi, Mela langsung mencari buku bahasa Indonesia yang tertinggal di kamarnya. Sementara Dea, hanya berdiri diam di dekat pintu.


Setelah Mela menemukan buku bahasa Indonesia miliknya, lalu Dia memegang tangan Dea. Hanya sekejap mata, mereka berdua kembali ke sekolah dan duduk di bangku itu, seperti tak terjadi apa-apa."


"Terima kasih Dea, kau telah menyelamatkan aku, dari amarah Ibu Lita."


"Iya, sama-sama Mel," jawab Dea sembari tersenyum.


"Oh iya Dea, ternyata kamu hebat juga ya. Kamu dapat kepandai dari mana sih, bisa kembali ke rumahku hanya dalam sekejap."


"Rahasia dong," jawab Dea singkat.


"Ah, masa ada rahasia sama aku. Bicara dong Dea, aku mau belajar juga kok, gimana cara menghilang."


"Untuk apa, kau tahu sendiri bukan, ilmu seperti itu nggak ada gunanya dituntut, hanya menyusahkan aja," jawab Dea sembari menyentuh tangan Mela.


"Tapi kenapa kau bisa mempelajari nya, sementara aku nggak?"


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2