
“Maksud mu apa sayang?”
“Kau nggak akan mengerti kang Mas.”
“Nggak mengerti gimana?”
.
“Kau nggak akan tahu kang Mas, betapa besarnya tanggung jawabku sebagai seorang Ibu, untuk menjaga Ara.”
“Kalau kau punya tanggung jawab yang besar dalam mengurus Ara, lalu gimana dengan aku! apa kau meniadakan aku sebagai Bapaknya!”
Melihat Bondan dan Kemuning saling bersitegang, Ara langsung menyentuh keduanya, lalu tiba-tiba saja emosi keduanya mereda seperti tak terjadi apa-apa.
Dengan tenang Bondan keluar dari kamar itu, di iringi oleh Kemuning yang tampak santai. Dari dalam kamar, Ara memperhatikan keduanya dengan senyuman.
“kalian berdua nggak ku izinkan bertengkar di hadapan ku, karena aku nggak ingin kehilangan kalian berdua dalam hidup ku,” ujar Ara dengan suara pelan.
Setelah Papa dan Mama nya menghilang di balik pintu, lalu Ara duduk diam, matanya yang indah tiba-tiba saja berubah menjadi hitam legam, tak terlihat lagi warna putih di kedua sudut mata tersebut.
Lalu Ara menyeringai, sehingga kedua taringnya yang panjang tampak jelas menonjol keluar. Tak berapa lama kemudian semuanya kembali membaik seperti semula.
Sementara itu, Kemuning yang keluar mengantar suaminya kembali masuk kedalam, dan mendapatkan Ara sedang asik bermain sendiri di dalam kamarnya.
Di saat itu, Danu Ayah kandung Ara datang menghampirinya.
“Ayah!” seru Ara senang.”
“Kamu lagi ngapain sayang?” tanya Danu ingin tahu.
“Aku lagi bermain boneka Ayah.”
“Sini coba Ayah pegang,” ujar Danu seraya mengambil Boneka itu dari tangan putrinya.
“Boneka Ara mau di apain Ayah?” tanya Ara ingin tahu.
“Boneka ini akan ayah rasuki raga mu, karena besok malam kau harus minum darah seorang manusia, untuk menambah kekuatan mu sayang.”
“Darah, hmm…! wangi sekali Ayah!”
“Ingat Ara, setiap malam purnama, kau lepaskan boneka ini, maka dia akan mencarikan darah untuk mu, tapi ingat di saat dia keluar mencari darah, kau nggak boleh tidur sayang, kau tetap berada di ruang pemujaan.”
“Baik Ayah.”
__ADS_1
“Tapi ingat sayang, hal ini jangan sampai di ketahui oleh Mama dan Papa mu.”
“Kenapa Ayah?”
“Karena mereka berdua nggak boleh melihat kau meminum darah.”
“Baik Ayah.”
Di saat Ara berbicara dengan Ayahnya, Kemuning pun datang menghampiri putrinya dan melihat putrinya sedang bicara dengan seseorang.
“Kau sedang bicara dengan siapa sayang?” tanya Kemuning ingin tahu.
“Dengan Ayah, Ma.”
“Ayah, Ayah siapa nak?”
“Ayah Danu, Ma.”
Mendengar penjelasan Ara, Kemuning langsung menghampiri putrinya itu, dan memeluknya dengan erat sekali.
“Mana Ayah mu itu sayang?” tanya Kemuning ingin tahu.
“Mama nggak melihatnya?” tanya Ara pada kemuning.
“Nggak nak, Mama nggak melihat siapa-siapa di ruangan ini.”
“Nah bukalah mata Mama,” ujar Ara pelan.
Ketika mata Kemuning terbuka dengan lebar, di saat itu Kemuning bukan hanya melihat Danu suaminya. Akan tetapi Kemuning juga melihat alam ghaib yang berada di dekatnya.
“Wah, sekarang Mama bisa melihat semuanya sayang,” jawab Kemuning senang.
“Benarkah itu Ma?”
“Iya sayang,” jawab Kemuning yang dengan senang hati menghampiri Danu suaminya.
Danu tampak tersenyum manis menyambut tangan Kemuning, perasaan bahagia mewarnai pertemuan mereka pagi itu.
“Ingat Kemuning, besok malam adalah malam, dimana putri ku Ara, genap berusia tujuh tahun, dan mulai malam itu pula kalian berdua harus melakukan pemujaan.”
“Tapi aku nggak sanggup lagi melakukan semua itu, Bang.”
“Kenapa sayang?”
__ADS_1
“Karena aku selalu tak sadarkan diri jika melakukan hal itu terlalu lama.”
“Kau pasti bisa sayang. Lagian, aku hanya meminta mu, melakukan hal itu hanya satu kali dalam satu purnama.”
“Baiklah, akan ku coba.”
Ara yang melihat kemesraan kedua orang tuanya itu, dia tampak tersenyum senang, karena bagi Ara selain dia memiliki orang tua yang berbeda jenis, Ara juga memiliki dua alam yang berbeda pula.
Di alam dunia, Ara hanya punya Papa dan Mama yang sangat menyanyanginya, namun di alam asalnya, Ara memiliki begitu banyak dayang-dayang yang cantik dan tempat tinggal yang mewah dan megah.
Malam itu, ketika Ara duduk di depan rumahnya, lalu tiba-tiba saja, dia mendengar bisikan ghaib di telinganya.
“Kembalilah kekamar mu Ara, lakukan ritual seperti yang telah di perintahkan oleh Ayah mu. sampai aku kembali membawakan darah segar untuk mu, maka teruslah kau melakukan pemujaan itu."
“Baik,” jawab Ara seraya melepas boneka yang berada di dalam genggaman tangannya.
Setelah boneka itu terbang dan menjauh dari Ara, gadis kecil itu langsung masuk kedalam kamarnya. Dia langsung duduk di sebuah Altar yang terdapat di dalam kamarnya dan altar itu tak bisa di lihat oleh Bondan Papanya.
Setelah dia duduk, Ara langsung berkomat kamit membaca mantra, seperti orang dewasa Ara dengan tenang dan santai menunggu kedatangan boneka darah kesayangannya.
Tak perlu menunggu lama, boneka itu pun kembali dengan membawa darah segar di mulutnya. Setelah menghampiri Ara, Boneka itu membuka mulut Ara dan menuangkan darah yang berada di dalam rongga mulutnya ke mulut gadis kecil tersebut.
Anehnya setelah darah itu dituangkan kemulut Ara, boneka itu langsung kembali seperti semula dan tak setetes pun darah yang tercecer di kamar gadis cantik itu.
“Oh nikmatnya,” ujar Ara seraya mengeluarkan sendawa.
“Saat ini fisik mu sudah kuat Ara, pergilah ke balkon dan lakukan ritual pemujaan di sana bersama Mama mu.”
“Baiklah,” jawab Ara seraya keluar menuju balkon.
Sebelum dia menuju balkon, Ara menghampiri Papanya untuk meminta kembang. Dengan senang hati, Bondan langsung mengabulkan permintaan putri kecilnya itu dan mengambil mobil.
Mesti merasa terbebani, namun Bondan tak kuasa menolak permintaan putrinya itu, malam itu juga setelah Bondan kembali membeli kembang, Ara langsung mengambilnya dan membawanya ke balkon.
Di atas balkon rumah mewah itu, Bondan melihat Kemuning bersama Ara menari mengikuti irama gamelan yang terus mengalun merdu.
Bondan yang memperhatikannya, sempat meneteskan air mata, karena sedih melihat keduanya telah sepakat untuk melakukan ritual terlarang tersebut.
“Ya Allah, apa yang telah di lakukan istri dan putri ku ini, kenapa mereka berdua melakukan hal bodoh itu,” ujar Bondan dengan suara lirih.
Lama Bondan memperhatikan keduanya, mereka terus saja menari dengan memakai kebaya dan di ikat selendang di pinggang masing-masing.
Tak sanggup menahan rasa sedih, Bondan pun kembali kedalam kamarnya, dia mulai memeriksa kamar itu dengan teliti satu persatu, namun Bondan tak melihat ada hal yang mencurigakan. Tak menemukan apapun di kamarnya, Bondan langsung masuk kedalam kamar putrinya.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*