
"Tenanglah Bu, tak akan terjadi apa-apa dengan Bapak, yang penting Ibu bersabar dan terus do'ain Bapak agar dia nggak kenapa-napa."
"Iya Le," jawab Suminah pelan.
Di saat mereka sedang duduk, menunggu di ruang tunggu. Lalu seorang dokter keluar dari ruang UGD. Dengan cepat, Bondan menghampiri dokter tersebut.
"Keluarga Pak Tito! keluarga Pak Tito!" panggil dokter itu pada keluarga pasien.
"Iya saya sendiri dok," jawab Bondan seraya memegang tangan Ibunya.
"Bapak keluarganya, Pak Tito?"
"Iya dok, saya putranya dan ini Ibu saya."
"Bisa kita bicara sebentar, dengan Bapak?"
"Oh tentu dok, bisa."
"Kalau begitu, Bapak ikut saya ke ruangan."
"Baik dok," jawab Bondan seraya mengikuti langkah dokter itu menuju ruangannya.
"Maaf Pak, pasien harus segera di operasi, karena ada pembuluh saraf di bagian kepala nya yang mengalami kerusakan, jadi kami harus melakukan operasi secepatnya."
"Lakukanlah mana yang terbaik untuk orang tua saya, dok."
"Baik Pak. Tapi untuk administrasinya, Bapak harus bayar di muka. Setelah pembayaran selesai, baru kita lakukan operasi."
"Baik dok, saya akan pulang dulu untuk mengambil uang. ucap Bondan seraya menghampiri Ibunya.
"Ibu tunggulah di sini sebentar. Aku akan kembali lagi nanti."
"Kamu mau ke mana Le?" tanya Suminah ingin tahu.
"Aku mau pulang ke rumah sebentar, ada yang ingin aku ambil," ucapan Bondan seraya pergi menuju mobilnya.
Dengan kecepatan tinggi, Bondan pun mengendarai kendaraannya. Suasana hatinya saat itu sangat panik sekali, Bondan takut terjadi sesuatu pada Ayahnya. Untuk itu, dia memacu laju kendaraannya dengan begitu kencang.
Setibanya Bondan di rumah, dia langsung masuk ke dalam dan mengambil beberapa uang di dalam brankasnya. Kemuning yang melihat hal itu langsung menegur suaminya.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain kang Mas?" tanya Kemuning ingin tahu.
"Aku mau ke rumah sakit sayang, Ayah mengalami kecelakaan. Kepalanya kena pecahan kaca, sehingga dia mengalami pendarahan. Saat ini, Bapak tak sadarkan diri, di rumah sakit."
"Bapakmu yang sakit, kenapa uang kita yang kau ambil?" tanya Kemuning heran.
"Bapak butuh biaya sayang, dia harus menjalani operasi, untuk memperbaiki urat saraf di bagian kepalanya."
"Apapun alasannya Mas. Kau nggak boleh minta uangku. Uang ini milikku, aku yang mendapatkannya. Enak aja, kau membawanya pergi dari rumah ini!" bentak Kemuning dengan kasar.
"Sayang, ada apa denganmu?"
"Jangan kau panggil aku sayang Mas, jika uangku kau plorotin terus setiap hari."
Mendengar ucapan Kemuning, Bondan jadi terkejut. Karena selama ini, Kemuning tak pernah bicara sekasar itu pada suaminya.
"Kau bukan Kemuning. Kau pasti makhluk, yang selama ini berkuasa di rumah ini!" teriak Bondan seraya menarik Kemuning.
"Ah sakit Mas! apa-apaan kau ini, kasar banget sama istri!" teriak Kemuning seraya menepis tangan suaminya.
Melihat sikap istrinya yang seperti itu, Bondan langsung pergi keluar dari rumah. Namun, sebelum Bondan menjauh dari Kemuning, dengan cepat Kemuning merebut, uang kertas itu dari genggaman Bondan.
"Apa-apaan kau ini, kenapa kau begitu jahat. Iblis mana yang telah merasuki otakmu!"
"Astaghfirullah, ingat Kemuning! dia itu Bapakku, Bapakmu juga, kalau nggak ada dia, nggak akan ada aku di dunia ini. Aku ini suamimu, Kemuning!"
"Suami, suami macam apa kau Bondan?"
"Mendengar ucapan Kemuning, Bondan merasa tersinggung sekali. Hatinya terasa begitu sakit, darahnya mendidih saat itu. Sehingga tangannya pun melayang menampar wajah Kemuning.
Kemuning pun langsung terhuyung, beberapa langkah ke belakang. Wajahnya yang putih bersih, tampak memerah. Disaat itu Ara pun datang menghampiri keduanya.
"Ada apa ini Ma, Pa. Kenapa kalian bertengkar?" tanya Ara heran.
"Itu Papamu, tanya sendiri padanya. kesalahan terbesar apa yang telah diperbuat malam ini?"
"Maksud Mama, Papa punya kesalahan besar?"
"Iya sayang, kesalahan terbesar Papamu malam ini, dia telah mencuri uang Mama. Untuk Bapaknya, yang sedang terbaring di rumah sakit saat ini."
__ADS_1
Seraya menarik nafas panjang, Ara pun menarik tangan Mamanya. Untuk duduk tenang, di sofa yang berada di dekatnya.
"Kenapa, Mama nggak boleh kan Papa mengambil uang untuk berobat Bapaknya? bukankah Papa itu, berkewajiban mengurus Bapaknya. Mama jangan gitu dong, harta yang Mama memiliki itu, nggak sepenuhnya punya Mama. Tapi ada harta Papa di dalamnya."
"Banyak cerita kamu Ara! kamu nggak tahu apa-apa sayang, jangan ikut campur urusan Mama."
"Mama sayang, jika terjadi sesuatu sama Kakek, Mama sendiri yang susah nantinya. Sebaiknya, Mama turuti saja beri Papa uang, biar Papa dapat mengobati kakek."
"Ah! Mama nggak mau sayang, jika kali ini Mama mengizinkan Papa, memberikan uang pada keluarganya. Maka untuk hari-hari berikutnya, dia akan leluasa memberikan uang kepada keluarganya."
Mesti Ara bersifat jahat dan keras, namun dia mengerti betapa sakit rasanya, jika kehilangan orang yang disayangi. Untuk itu, tanpa mempedulikan Kemuning, Bondan langsung membawa uang itu, untuk pengobatan Bapaknya.
"Biarkan saja Ma, biarkan Papa memberikan uang itu kepada Kakek."
"Kamu nggak tahu apa-apa Ara, uang ini nggak akan Mama berikan pada Kakek mu"
" Kenapa Ma?"
"Karena uang ini, hasil usaha Mama sendiri. Tanpa campur tangan Papamu sedikitpun."
"Masya Allah kemuning, kenapa kau begitu kejam dan serakah. Uang ini, juga hasil jerih payah ku dalam bekerja. Aku terima gaji dan langsung kuberikan kepadamu, tapi kenapa kau bicara seperti itu. Seolah-olah, aku ini hanya duduk diam di rumah."
"Papa bener Ma, kenapa Mama nggak menghargai, jerih payah Papa sedikitpun."
Disaat Ara bicara, kemuning hanya diam saja, dia mengambil uang dari tangan Bondan dan menyimpannya kembali ke dalam brankas kamarnya.
Melihat hal itu, Bondan merasa sakit hati. Dia langsung pergi tanpa bicara sepatah kata pun. Hati Bondan benar-benar sakit saat itu, karena istri yang selama ini dia sayangi, ternyata berubah drastis.
Karena tidak mendapatkan uang sepersen pun dari kemuning, untuk itu Bondan langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan kemuning dan Ara.
"Mama lihat sendiri kan, Papa sudah pergi meninggalkan kita berdua. Apakah Mama mau kembali, pada Ayah Danu?"
Mendengar ucapan Ara, kemuning hanya diam saja. Dia tak memikirkan jalan lain, selain bersikap keras hati kepada Bondan.
Setelah Bondan pergi, kemuning duduk termenung di atas tempat tidurnya. Mesti dia memiliki Ayah dan Ibu mertua. Tapi bagi kemuning, dia hanya milik Bondan seorang.
Seraya mengunci brankasnya, kemuning pergi keluar. Tak sedikitpun rasa penyesalan terlihat pada dirinya, seperti biasa kemuning mengerjakan tugas rumahnya.
"Sementara itu, Bondan langsung pergi meninggalkan rumah, keesokan harinya, Bondan bergegas menuju kantor tempat dia bertugas.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*