
Setelah mendengar ucapan Dea, Bu Sinta langsung melihat tugas rumah yang dikerjakan oleh muridnya. Dengan keahlian yang dimiliki oleh Dea, seluruh tugas yang dilakukan oleh muridnya ternyata tak ada yang sama.
"Kamu benar Dea, ternyata tugasnya nggak ada yang sama. Hanya saja jawabannya yang hampir sama. Ya sudah, hari ini kita akan melanjutkan pelajaran kita!" ujar Bu Sinta seraya duduk di kursinya.
Ketika Bu Sinta melanjutkan pelajaran, Dea kembali merubah, seluruh tugas yang telah dikerjakan oleh teman-temannya.
Di saat konsentrasi Dea, tertuju pada pelajaran yang diterangkan oleh guru matematika tersebut. Tiba-tiba saja Dea merasakan, satu bisikan gaib terdengar jelas di telinganya.
"Ada tugas penting untukmu, Dea!"
"Siap yang mulia," jawab Dea pelan.
Setelah menerima pesan itu, Dea minta izin pada Bu Sinta untuk pergi keluar kelas.
"Permisi Bu, boleh saya ke kamar mandi sebentar," ujar Dea saat itu.
"Ngapain ke kamar mandi, bukankah kamu baru masuk. Kembali ke bangkumu, duduk yang tenang di sana!" bentak Bu Sinta.
"Tapi saya udah nggak tahan Bu, saya mau ke kamar mandi sebentar."
"Nggak! Ibu nggak mengizinkan kamu keluar. Cepat, kembali ke bangkumu."
"Baik Bu," jawab Dea mengikuti perintah Bu Sinta.
"Kenapa Bu Sinta pelit banget, kan cuma buang air kenapa dia nggak ngizinin ya?"
"Entahlah Mel, tapi aku punya ide untuk itu dan ini rahasia kita berdua. Nanti kalau aku sudah pergi kau jangan bilang pada siapa-siapa Mel. Kalau aku nggak berada di sini."
"Emangnya kau mau ke mana Dea?" tanya Mela heran.
"Aku mau pergi sebentar, ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan."
__ADS_1
"Urusan apa?" tanya Mela ingin tahu.
"Aku nggak bisa menjelaskannya kepadamu, tapi ini penting. Kau mau membantu aku kan?"
"Iya Dea, aku akan bantuin kamu, karena kau begitu baik kepadaku."
"Makasih Mel, Kau adalah teman sejatiku. Kita akan selalu berteman sampai nanti."
"Tentu Dea," jawab Mela singkat.
Lalu tanpa sepengetahuan Bu Sinta dan seluruh teman-temannya, Dea merubah tas miliknya persis menyerupai dirinya. Kemudian dia keluar dari ruangan itu secara pelan dan tenang.
"Wah, kamu memang pintar Dea," gumam Mela pelan.
Setelah beberapa saat kemudian, Bu Sinta kembali duduk ke bangkunya. dia pun mengeluarkan buku absen untuk siswanya. Satu persatu nama siswa dipanggil.
Ketika tiba giliran Dea disebut namanya, Mela merasa ketakutan. Karena saat itu, Dea sedang pergi. Akan tetapi, betapa kagetnya Mela, karena tas yang telah disulap menyerupai diri Dea, langsung bicara dan mengangkat tangan untuk mengatakan hadir.
Mela yang sudah mengetahui kelebihan Dea, dia tampak tenang saja, karena ide yang dibuat oleh Dea juga atas persetujuan Mela.
"Ampun beribu-ribu ampun yang mulia paduka raja, saat ini saya datang untuk menghadap, menerima titah dari yang mulia."
"Putriku Dea Chandra Maya, hari ini ada tugas berat untukmu. Bawalah seribu pasukan, hadang prajurit raja Dasamuka yang akan merebut perbatasan kita di sebelah utara."
"Baik yang mulia, tugas yang mulia akan saya emban dengan sebaik-baiknya."
Setelah menerima perintah dari raja Askara, Dea langsung berangkat bersama pasukannya. Dengan menggunakan dua pedang di punggungnya dia juga memiliki Sepuluh pisau terbang yang dia pergunakan untuk menghadapi para musuhnya.
Mesti bertubuh kecil, tapi kekuatan yang dimiliki oleh Dea sangat luar biasa. semua itu terlihat dalam permainan pedangnya, tak bisa dianggap remeh. Ilmu kanuragan yang dimilikinya, tak ada yang sanggup menandingi.
Karena dia masih kecil dia belum diizinkan oleh raja Askara untuk mengendarai kuda sendiri. bersama panglima perang mereka, Dea berada di depannya.
__ADS_1
Askara sengaja melakukan semua itu, agar dia terbiasa melawan musuh-musuhnya dengan berani, tanpa gentar dan takut sedikitpun.
Karena menurut raja Askara, untuk menggembleng pribadi dan jati diri seorang prajurit, haruslah dimulai sejak dini. Agar mental dan keberaniannya dapat diuji di medan perang.
Benar saja, kekuatan yang dimiliki Dea tak dapat ditandingi oleh prajurit dari Angkara. Kelincahan dan kepiawaian Dea, dalam memainkan pedangnya sangat luar biasa.
Ketika mereka tiba di medan perang, Dea langsung mengatur prajuritnya. Bersama panglima perang yang selalu mendampinginya, Dea mulai memberi semangat kepada pasukan yang dipimpinnya. Sementara itu dari sebelah utara pasukan dari raja Dasamuka telah berkumpul untuk menghadang pasukan dari Parahyangan.
"Prajurit ku sekalian! hari ini kesetiaan kalian akan ditentukan di sini. Apakah kau mampu membela kerajaanmu atau kau akan kembali ke istana membawa kekalahan! sebagai prajurit setia yang mulia raja Askara, saya menyarankan! kita akan basmi habis seluruh prajurit raja Dasamuka yang selalu membawa keonaran. Bagaimana, apa kalian setuju!"
"Setuju...!" jawab seluruh prajurit serentak.
Gemuruh suara seluruh prajurit menggema di jagat raya. Pasukan raja Dasamuka yang saat itu berada di kejauhan, mereka sedikit gentar. Karena mereka beranggapan, bahwa pasukan Askara lebih banyak dari mereka.
Padahal, pasukan raja Dasamuka dua kali lipat dibandingkan pasukan raja Askara. Namun, strategi perang yang disusun oleh Dea, membuat prajurit raja Dasamuka merasa, kalau prajurit Parahyangan lebih banyak dari mereka.
Di saat pasukan Angkara mulai menyerbu, sebagian kecil dari pasukan Dea membalas penyerbuan tersebut. Namun, di saat mereka sudah mulai mendekat, pasukan pemanah siap melancarkan serangannya.
Dari strategi yang dibuat oleh Dea saat itu, pasukan dari raja Dasamuka banyak yang berguguran. Ketika perang tetap berlanjut, sebagian pasukan dari Dea, datang menyerang dari dua penjuru timur dan barat.
Kedatangan pasukan yang secara tiba-tiba itu, membuat prajurit raja Dasamuka terdesak dan menjadi ciut. Mereka menjadi lemah dan panik. Di saat itu pula, dari arah Utara, pasukan Dea datang menyerbu sehingga pasukan Angkara terkepung dari segala penjuru arah.
Prajurit Angkara menjadi kewalahan, mereka tak menyangka sama sekali, kalau strategi perang saat itu, jauh berubah dibandingkan dari yang biasanya. mereka tak menyangka, pemimpin yang kecil yang mereka anggap remeh ternyata memiliki ilmu yang luar biasa.
sepak terjang Dea di Medan perang, membuat semua pasukan raja Dasamuka kewalahan. Pertempuran yang tak dapat dielakkan itu banyak menelan korban, di antara kedua belah pihak. Namun yang berjatuhan lebih banyak dari pihak kerajaan Angkara. Setelah beberapa jam mereka melakukan perlawanan akhirnya pasukan Angkara mengalami kekalahan.
Jenderal perang mereka yang saat itu masih berada di atas kuda, melancarkan serangan demi serangan ke arah pasukan Parahyangan.
Dengan kekuatan dan keberanian yang dimiliki Dea, gadis itu langsung mengejar jenderal perang dari Angkara. Dea pun berlari menembus pasukan perang tersebut hingga berada dihadapan jenderal dari Angkara.
Di atas mayat yang bergelimpangan Dea menantang jendral tersebut. Awal mulanya jenderal perang dari Angkara itu, merasa dipermainkan oleh pasukan Parahyangan. Namun ternyata, mereka salah menduga. Kekuatan yang dimiliki oleh Dea di luar dugaan mereka.
__ADS_1
Bersambung...
*selamat membaca*