
Hingga Tito menghilang, dari balik pintu ruang operasi, Bondan dan Suminah dengan setia melihat dari kejauhan.
Hati Suminah sangat sedih sekali. Dia berdoa tiada henti, untuk keselamatan suaminya, yang berjuang di meja operasi.
"Apa menurutmu, Bapak akan sembuh Le?" tanya Suminah pada Bondan.
"Insya Allah Bu. Semoga saja Allah memberi kesembuhan untuk Bapak."
"O iya Le, kenapa kau nggak mengabari adikmu Dina? siapa tahu dia ingin melihat kondisi Bapak di sini."
"Baik Bu, nanti aku akan ke ke rumah Pak Kades, untuk memberitahu Dina tentang operasi Bapak."
"Kenapa harus nanti perginya Le, berangkatlah sekarang. Kasih tahu Dina secepatnya."
"Kalau itu yang Ibu inginkan, baiklah. Aku akan ke rumah Dina. Ibu tunggulah di sini, sebentar lagi aku akan datang menemani Ibu."
Atas izin Suminah, Bondan pun pergi menemui adiknya Dina di rumah Pak Kades. Saat Bondan sedang berdiri di luar rumah Bapaknya, tiba-tiba saja Dina datang menghampirinya dari belakang.
"Kau nyari siapa Mas?" tanya Dina ingin tahu.
"Dina, Abang lagi nyari mu. Bapak kita masuk rumah sakit dek."
"Kalau Bapak masuk rumah sakit, kenapa Mas masih di sini, pergi sana ke rumah sakit! temani Bapak dan Ibu di sana. Aku lagi banyak tugas.
Kenapa kamu bicara seperti itu Din, biasanya kau nggak kasar pada Bapak dan Ibu, lagian Mas nggak lihat sikap kasarmu selama ini?"
"Siapa yang kasar Mas, aku nggak kasar. Aku masih seperti dulu kok, Dina yang kau kenal."
"Astagfirullah Dina. Eling Din, kenapa kau bicara seperti itu Din?"
"Kenapa Mas, apa menurutmu aku salah, bicara seperti itu?"
"Iya Din, kau salah bicara seperti itu. tak pantas seorang anak bicara seperti itu pada Ibu dan Bapaknya.
"Lalu ke mana saja kau selama ini Mas, bukankah selama ini kau telah melupakan kami. Bahkan saat aku menikah pun, kau enggan untuk hadir. Kau bahkan mengusir Bapak dan Ibu dari rumahmu."
"Itu bukan kang Mas, Din."
"Kalau bukan kang Mas, lalu siapa orang yang serupa dengan kang Mas tersebut.
"Dia Bondan palsu, yang menyerupai diri Mas dan Kemuning."
"Apa maksud kang Mas, menyerupai gimana?"
"Sudahlah Dina, kang Mas nggak mau membahas itu lagi. Karena masalah ini sangat rumit. Jika kang Mas, bahas denganmu, nanti hal serupa akan terjadi pada dirimu, sama dengan Bapak."
"Maksud kang Mas apa. Aku nggak ngerti?"
"Kang Mas ke sini, hanya mengabari kepadamu, Bapak saat ini berada di rumah sakit, kalau kau punya hati, lihatlah mereka ke sana."
"Aku nggak bisa kang Mas, karena bang Rusli melarangku, untuk melalui Bapak dan Ibu."
"Melarang, melarang gimana maksudnya?"
__ADS_1
"Bang Rusli, nggak suka aku dekat dengan Bapak dan Ibu."
"Astagfirullah, benar begitu Din?"
"Iya kang Mas."
"Setan apa yang telah merasuki hati suamimu itu. Sampai dia tega melarang kau, berhubungan dengan Bapak dan Ibumu sendiri."
"Bang Rusli nggak mau, hasil usahanya kuberikan kepada Bapak dan Ibu. Karena menurutnya, Bapak masih sanggup mencari nafkah untuk Ibu dan aku nggak perlu membantu Bapak. Mesti mengeluarkan uang sepersen pun untuk mereka."
"Kurang ajar Rusli, beraninya dia melarang adikku, menemui orang tuanya sendiri," ujar Bondan, seraya berlalu meninggalkan Dina.
"Kang Mas! kang Mas mau ke mana!" teriak Dina ketika melihat Bondan berlalu begitu saja meninggalkannya.
Ketika Bondan pergi Dina merasa ketakutan, dia yakin Bondan pasti menghajar suaminya habis-habisan. Karena selama ini, Rusli telah mengajarkan hal buruk kepada adiknya.
Sementara itu, Bondan yang telah berlalu meninggalkan Dina, dia langsung menemui Rusli di rumah Ayahnya.
"Rusli! Rusli keluar Kau!" teriak Bondan seraya memanggil-manggil nama Rusli.
"Mendengar suara ribut dari luar, Pak Kades langsung membuka pintu. Untuk melihat, siapa yang saat itu berteriak-teriak di luar rumahnya.
"Bondan!" ujar Pak Kades, seraya tersenyum lebar.
"Pak Kades, maafkan saya pak. Apa Rusli ada di rumah?"
"Rusli?"
"Ada di dalam, mungkin dia lagi tidur! masuklah dulu nak Bondan, kita minum dulu di dalam."
"Nggak usah Pak Kades, saya hanya ingin bertemu dengan Rusli, sekarang juga."
"Baik, biar saya bangunkan dulu Rusli, nak Bondan tunggulah di sini sebentar."
"Baik Pak Kades, terima kasih."
Setelah selesai bicara dengan Bondan, Pak Kades langsung masuk ke dalam, guna membangunkan Rusli yang saat itu masih tidur dengan pulas nya.
"Rusli, Rus...! bangun, ada nak Bondan di luar yang sedang mencarimu."
"Mas Bondan?" tanya Rusli heran.
"Iya, Bondan Abang iparmu."
"Aduh, ngapain dia mencariku Ayah?"
"Kalau masalah itu sih, Ayah nggak tahu. Sekarang Bondan ada di luar, bangunlah kau dan temui dia."
"Baik Ayah," jawab Rusli mematuhi perintah Ayahnya.
Setelah Pak Kades selesai membangunkan putranya, dia pun kembali keluar menemui Bondan yang masih berdiri di depan pintu rumah tersebut.
"Duduklah dulu nak, kita minum dulu. Bapak sudah bangunkan Rusli kok, sebentar lagi dia juga akan keluar."
__ADS_1
"Nggak usah Pak Kades, biar aku tunggu di sini saja!" jawab Bondan dengan tegas.
Tak berapa lama kemudian, Rusli pun keluar. Saat itu dia masih mengenakan, kain sarung.
"Siapa yang mencariku Ayah?" tanya Rusli saat dia keluar dari pintu depan rumahnya."
"Aku yang mencarimu!" ujar Bondan, seraya melayangkan tangannya ke wajah Rusli.
"Aaaaw...! sakitnya!" teriak Rusli, sembari mengusap wajah, bekas tamparan Bondan.
"Ada apa ini nak Bondan?" tanya Pak Kades heran.
"Bapak tanya sendiri pada dia! apa yang telah dia lakukan pada istrinya Dina, adikku."
"Emangnya kau melakukan apa pada Dina Rusli?" tanya Pak Kades ingin tahu.
"Aku nggak lakukan apa-apa kok Yah."
"Bohong, kau bohong Rusli, bukankah selama ini kau telah menghasut adikku, agar dia membenci Bapak dan Ibunya sendiri."
"Ah nggak kok," jawab Rusli mengelak.
"Kau mau membantahnya hah!" ujar Bondan seraya menggertaknya dengan pukulan.
"Cukup, cukup nak Bondan! jangan dilanjutkan lagi. Kalian nggak boleh main kekerasan," kata Pak Kades pada Bondan.
"Baik, sekarang coba Bapak tanya sendiri, apa yang telah dia lakukan pada adikku Dina."
"Benar kau telah menghasut istrimu, untuk menjauhi keluarganya?" tanya Pak Kades pada Rusli.
"Nggak Yah, aku nggak melakukannya."
"Bohong, dia bohong Pak Kades!"
"Sabar nak Bondan, sabar. Nggak usah main hakim sendiri, kita tanyakan baik-baik pada Rusli, apa benar dia melarang istrinya untuk menemui Ayah dan Ibunya atau enggak.
"Nggak Ayah, aku nggak pernah melarang Dina menjumpai Ayah dan Ibunya."
"Kau nggak bohong kan, Rusli?"
"Nggak Yah, untuk apa aku berbohong."
"Kau dengar sendiri kan Bondan, Rusli nggak melakukan hal itu. Dia nggak melarang Dina berjumpa dengan ayah dan ibunya."
"Dia bohong Yah, bang Rusli berbohong. Selama ini, Bang Rusli benar-benar melarang Dina untuk bertemu dengan Bapak dan Ibu. Itu sebabnya, semenjak kami menikah, aku nggak pernah menemui Bapak dan Ibu sama sekali."
Mendengar ucapan Dina, sontak Pak Kades terkejut. Matanya yang tajam melotot ke arah Rusli, yang tampak masih tertunduk.
"Benar begitu Rusli?"
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1