
"Hanya untuk sementara waktu Ma, sampai suasana kembali kondusif. Mama tinggallah di Nirwana."
"Apapun alasanmu, hantarkan lah Mama dan Nenek ke bumi, karena di bumi Mama merasa aman dan tenang."
"Baiklah, aku akan segera mengantarkan Mama dan Nenek ke bumi. Tapi untuk sementara waktu, kita mampir dulu di Nirwana, karena Papa telah menunggu kita di sana."
"Baik sayang, Mama akan ikut denganmu," jawab Pandan wangi seraya mengikuti putrinya.
"Belum sempat mereka melangkahkan kakinya, keluar dari hutan larangan. Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara ketawa seseorang, yang menggelegar dan membuat telinga menjadi sakit.
Mendengar suara tersebut, Pandan wangi terlihat menjerit kesakitan. Begitu juga dengan Yeni.
Melihat hal itu, Dea langsung menutup aliran darah, mereka berdua. Agar suara itu tidak merusak gendang telinga mereka. begitu juga dengan telik sandi lainnya. Mereka bergelimpangan karena telinga dan mulut mereka mengeluarkan darah.
"Kurang ajar kau Dasamuka! tampakkan wujud mu, jangan jadi pengecut!" teriak Dea dengan geram.
Benar saja dugaan Dea, kalau yang sedang tertawa saat itu adalah raja Dasamuka. Suaranya yang keras melengking, merusak gendang telinga. Dasamuka tertawa dengan menggunakan tenaga dalam yang cukup sempurna.
"Hahaha, huhaha, hahaha...!"
Suara ketawa Dasamuka, membuat telik sandi kerajaan Parahyangan tewas bergelimpangan. Meski Dea berusaha menolong mereka, namun hal itu sudah terlambat. Karena mereka tak tahan dengan suara menggelegar tersebut.
"Bocah! kau telah membuat hutan larangan ku menjadi rusak. Kau juga telah membunuh begitu banyak prajuritku. Kau akan menerima akibatnya sesudah ini. Kau juga telah mencuri putriku, kau keterlaluan!"
"Bukankah yang kulakukan itu benar Dasamuka! kau nggak tahu, saat ini putrimu aman bersama Ibunya, bukankah Kemuning itu adalah Ibu kandungnya, kenapa kau mesti memisahkan dia dari Ibunya!"
"Itu bukan urusanmu, kesalahan terbesarmu adalah, menculik putriku Ara dan mengantarkannya ke bumi."
"Maafkan aku yang mulia. Aku sengaja melakukan itu, karena semua itu atas permintaan istrimu Kemuning!"
"Apapun alasanmu, kelakuanmu sudah keterlaluan. Kau mengobrak-abrik kerajaanku, merusak segalanya! tunggulah sebentar lagi, prajuritku akan menghancurkan kerajaan Parahyangan, seperti yang kau inginkan."
"Hai Dasamuka! mesti aku anak kecil tapi aku takkan pernah gentar dengan ucapan mu."
"Prajurit! tangkap dan jebloskan ketiganya, ke penjara bawah tanah! jangan beri mereka makan, biar mereka mati kelaparan di dalam penjara bawah tanah!"
"Baik yang mulia!" jawab seluruh prajurit yang langsung berlari, menyerbu Dea dan keluarganya."
__ADS_1
Sebelum seluruh prajurit menyerbu, Dea melakukan pembicaraan dengan raja Askara. Kalau saat itu keadaannya sangat terdesak, dia memohon kepada raja Askara untuk menyelamatkan Mama dan Neneknya.
"Paduka yang mulia, paduka yang mulia! aku putrimu Dea chandra maya, memohon kepadamu. Jemput ratu dan Ibu suri. Bawa dia ke Nirwana secepatnya."
"Baik putriku, suruh lah mereka memejamkan matanya."
"Baik Paduka."
Setelah mendapat restu dari raja Askara, Dea pun menghampiri Mama dan Neneknya.
"Sekarang pejamkan mata Mama dan Nenek. Jangan pernah membukanya, sebelum Papa menegur kalian berdua."
"Baik sayang," jawaban dan Yeni serentak."
Sesuai perintah Dea, Pandan wangi dan Yeni langsung memejamkan matanya. Dengan berpegangan tangan, tanpa disadari oleh mereka berdua, raja Askara langsung memindahkan posisi mereka ke istana.
Disaat Mama dan Neneknya telah pergi, dia merasa aman untuk bertarung mesti kehilangan begitu banyak prajurit kesayangannya namun dia tetap berusaha untuk melawan Dasamuka.
"Kau kira aku takut denganmu raja genderuwo!" teriak Dea dengan suara lantang.
"Huhaha... hahaha... huhaha...!"
Pertempuran sengit di antara mereka pun terjadi, raja Dasamuka yang bertubuh besar dan berbulu tebal mulai menyeringai. dia begitu geram melihat Dea yang lincah dan gesit dalam melakukan penyerangan terhadap dirinya.
"Kau mau bermain-main denganku bocah!" teriak raja Dasamuka, seraya mengepalkan kedua tinjunya.
Setelah beberapa jurus di lancarkan, Dea tak mampu juga menyentuh tubuh Dasamuka. Lalu, Dea mengeluarkan pedang naga miliknya.
Senjata andalan kerajaan Parahyangan ini, tak bisa dianggap main-main. Selain berfungsi sebagai pedang yang begitu tajam, pedang naga juga bisa menjadi sebuah cambuk yang memercikkan api setiap kali dilibaskan.
Pedang naga yang mirip dengan cahaya, memutuskan dan memisah kan anggota tubuh lawan, jika terkena sabetannya.
Tak tanggung-tanggung, Dea mencoba menyerang raja Dasamuka yang saat itu dengan lihai menghindar dan mengelak dari serangannya.
"Hiaaat....!"
Setelah sekian jurus berlalu, di antara mereka tak ada yang dapat dilumpuhkan, mereka sama-sama kuat dan tangguh. Sehingga sulit untuk mencari celah, agar dapat membunuh lawan secara cepat.
__ADS_1
"Ayo bocah. Kerahkan seluruh tenagamu untuk menyerangku, Huhuhu... hahaha...!"
"Kau kira aku bodoh raja genderuwo. Mana mungkin aku mengerahkan seluruh tenagaku, untuk membunuhmu. Karena aku yakin, aku takkan mampu bunuh mu!" teriak Dea, seraya duduk di atas sebuah gundukan batu.
"Kenapa kau berhenti menyerangku, bocah!"
"Karena saat ini, aku yakin kau bukan tandinganku. Tapi jika seluruh prajuritmu melawanku, baru itu lawan yang setimpal!"
"Ah banyak alasanmu!" bentak raja Dasamuka, seraya kembali menyerang Dea.
Pertarungan pun kembali berjalan. Beberapa jurus telah dikeluarkan, namun tak satupun di antara mereka yang sanggup dikalahkan.
Tubuh raja Dasamuka yang besar dan berbulu tebal itu, tampak sedikit kelelahan saat itu. Sementara Dea terus berusaha memancing, agar raja Dasamuka mengerahkan begitu banyak tenaga untuk melawannya.
Dengan cara melompat ke sana dan ke sini, hal itu dapat membuat raja Dasamuka kewalahan. Cara Dea berkelit seperti itulah yang memancing raja Dasamuka emosi.
"Kau ingin bermain-main, denganku bocah!" teriak raja Dasamuka, seraya memukul kan tangannya ke arah Dea.
"Siapa juga yang ingin mempermainkan orang sepertimu raja Dasamuka! jangankan kau marah, tersenyum pun, aku enggan untuk melihat mu," ejek Dea, sehingga raja Dasamuka semakin murka.
"Kau keterlaluan bocah!" teriak raja Dasamuka seraya mengejar dan menyerang Dea dengan pukulan-pukulan mautnya.
Pertarungan kembali dimulai, dentingan suara pedang yang beradu memekakkan, suasana pertarungan saat itu.
Sebenarnya pertarungan itu tidaklah seimbang menurut Dea, untuk itu Dea mesti mencari celah dan cara untuk dapat menguras seluruh tenaga raja Dasamuka.
Setelah tenaganya terkuras, maka di situlah kesempatan Dea untuk menyerangnya.
"Enyah kau bocah!" teriak Dasamuka, di saat Dea membuatnya semakin kesal.
"Kau nggak perlu berteriak raja genderuwo! karena kita tidak sepadan. Untuk itu, sebaiknya kau lepaskan aku. Karena lawanmu bukanlah aku, tapi raja Askara. Itulah lawan yang paling cocok untukmu!" seru Dea dengan suara lantang.
Karena merasa begitu lelah menghadapi Dea, raja Dasamuka pun duduk diam di bawah sebatang pohon. Di saat emosinya mulai mereda, tubuhnya pun berubah menjadi kecil seperti seorang manusia biasa.
Saat dia duduk, Dea datang sedikit menghampirinya. Mesti Dea menghampirinya, raja Dasamuka tak memperlihatkan kemarahannya pada Dea.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*